Review Film Rangga & Cinta: Bikin Nostalgia Masa Remaja, Tapi Agak Nanggung
Home > Detail

Review Film Rangga & Cinta: Bikin Nostalgia Masa Remaja, Tapi Agak Nanggung

Yohanes Endra

Sabtu, 11 Oktober 2025 | 09:00 WIB

Suara.com - Film Rangga & Cinta menunjukkan peningkatan jumlah penonton yang mewakili istilah 'perlahan tapi pasti' sejak penayangannya di bioskop pada 2 Oktober 2025.

Rangga & Cinta diketahui tayang bersamaan dengan dua film Indonesia lainnya, yaitu Tukar Takdir dan Rest Area.

Di hari pertama penayangan, Rangga & Cinta memperoleh 44 ribu penonton, sementara Tukar Takdir mencapai 57 ribu.

Namun setelah seminggu penayangan, Rangga & Cinta berhasil menyalip Tukar Takdir meski masih beda tipis, masing-masing 283 ribu dan 232 ribu penonton.

Dua film ini dibanding-bandingkan lantaran Nicholas Saputra membintangi Tukar Takdir sekaligus Ada Apa dengan Cinta? yang 'lahir kembali' sebagai Rangga & Cinta.

Peran ikonik Rangga oleh Nicholas Saputra digantikan El Putra Sarira, sementara Leya Princy sebagai Cinta yang sebelumnya diperankan Dian Sastrowardoyo.

Apa yang membuat film Rangga & Cinta perlahan mulai banyak ditonton? Simak ulasannya berikut ini.

1. Perlukah Nonton Ada Apa dengan Cinta?

Proyek film Rangga & Cinta sejak awal diumumkan sebagai The Rebirth of Ada Apa dengan Cinta? yang tayang tahun 2002.

Kisah dalam film Rangga & Cinta masih berpusat kepada Cinta sebagai siswa SMA dengan berbagai masalah hidupnya, dari persahabatan hingga cinta.

Rangga mulai masuk dalam hidup Cinta setelah mengalahkannya di sebuah kompetisi membuat puisi di sekolah mereka.

Cinta yang mengurus mading sekolah lantas diharuskan mewawancarai Rangga sebagai pemenang.

Kesan awal Cinta saat pertama kali bertemu Rangga kurang baik. Karena tak merasa mengikuti lomba membuat puisi, Rangga pun menolak diwawancara.

Hubungan mereka berubah menjadi akrab gara-gara buku "Aku" karya Sjuman Djaya yang mengisahkan perjalanan hidup dan karya-karya Chairil Anwar.

Sayangnya hubungan Cinta dengan Rangga juga mengancam persahabatannya dengan geng mading: Alya, Maura, Milly, dan Karmen.

Untuk menyaksikan film Rangga & Cinta, sebenarnya tak perlu menyaksikan Ada Apa dengan Cinta? yang kini dapat ditonton ulang alias rewatch di platform Vidio. Sebab ceritanya hampir 100 persen mirip.

Namun menonton Ada Apa dengan Cinta? setelah menyaksikan Rangga & Cinta di bioskop akan menghasilkan sensasi tersendiri.

Meski jalan ceritanya sama, keduanya punya perbedaan mencolok, yaitu Rangga & Cinta dibuat dengan format musikal.

2. Film Musikal yang Bikin Merinding

Film Indonesia dengan format musikal bisa dibilang masih sedikit.

Terakhir kali saya menonton film musikal pun produksi Miles Films pula, yaitu Petualangan Sherina 2 (2023).

Saya yakin orang-orang Indonesia belum familier dengan format ini. Sebab saya sempat mendengar celetukan: Ini film kok dikit-dikit nyanyi?

Rangga & Cinta dibuka dengan nyanyian sekelompok anak SMA yang berhasil membuat saya merinding.

Tarian dan nyanyian memang selalu berhasil membuat saya merinding tanpa alasan. Musiknya terdengar megah dengan sound bioskop

Walau mungkin akan dikritik beberapa pihak seperti Marion Jola akhir tahun 2024 lalu, saya tetap lantang menyatakan: masih jarang sekali karya musikal di Indonesia.

Ilustrasi review Film Rangga & Cinta. [Suara.com/Ema]
Ilustrasi review Film Rangga & Cinta. [Suara.com/Ema]

Semoga semakin banyak karya musikal, terutama yang bisa dijangkau di seluruh pelosok Indonesia, bukan hanya di Jakarta, misalnya melalui film seperti Rangga & Cinta ini.

Film Rangga & Cinta juga berhasil membuat saya bernostalgia mengurus mading sekolah.

Apa sampai saat ini mading sekolah masih aktif ya? Dulu, kami setiap minggu harus mengganti isi dan hiasannya. Menyenangkan sekali.

Kisah cinta anak SMA yang zaman dulu alias jadul di Rangga & Cinta pun bikin penonton mengenang masa lalu.

Bahwa jatuh cinta dulu tidak semudah sekarang. Harus menelepon, bukan mengirim pesan teks. Kalau tidak ada di rumah, ya tidak bisa tersambung dan tak mendapat kabar apa pun.

Nuansa nostalgia itu berhasil disuguhkan dengan baik dalam film Rangga & Cinta.

Generasi 90-an akan bernostalgia, sementara remaja saat ini bisa mengetahui betapa mudahnya komunikasi era sekarang, yang sayangnya, kadang justru mengurangi rasa deg-degan ketika jatuh cinta.

Akting para pemain Rangga & Cinta pun terbilang keren meski mereka masih baru di dunia akting.

Di masa depan, saya paling menunggu Jasmine Nadya yang berperan sebagai Alya di film-film lain.

Juga El Putra Sarira, meski kurang tengil sebagai Rangga, saya berharap ia akan terus berakting.

3. Konsep yang Serba Nanggung

Hanya saja, nuansa nostalgia dalam film Rangga & Cinta kurang totalitas. Serba nanggung.

Saya beberapa kali lupa bahwa film Rangga & Cinta mengisahkan cerita masa SMA tahun 2000-an.

Yang berkali-kali mengingatkan bahwa penonton dibawa ke masa lalu hanya ketika mereka berkomunikasi dengan telepon di rumah. Taksinya pun cukup jadul, tetapi masih banyak ditemui saat ini.

Sementara penokohannya tidak terasa seperti geng mading di masa lalu. Cinta dan kawan-kawan dalam Rangga & Cinta rasanya malah merepresentasikan remaja zaman now.

Salah satu yang paling terasa 'bukan di tahun 2000-an' adalah kamar Cinta, apalagi jika dibandingkan dengan kamarnya di Ada Apa dengan Cinta? (AADC).

Belum lagi adegan Cinta akan kencan dengan Rangga, rol rambut Cinta di AADC terasa krusial menggambarkan tahun 2000-an. Sayang sekali Leya Princy tak memakainya.

Susah untuk tidak membandingkan Rangga & Cinta dengan AADC, apalagi ceritanya memang sama persis.

Setelah menonton Rangga & Cinta, saya akhirnya memutuskan rewatch AADC dan menemukan cukup banyak adegan yang hilang atau diganti.

Sebenarnya menghilangkan atau mengganti adegan sah-sah saja.

Hanya saja, menurut saya pribadi, adegan-adegan yang hilang cukup krusial sehingga menghilangkan 'nyawa' cerita.

Saya jadi berangan, bagaimana jika Rangga & Cinta dibuat dengan setting masa kini yang gen-z abis?

Sebab nuansa nostalgianya serba nanggung, sehingga rasanya lebih cocok dibuat se-masa kini mungkin.

Sekali lagi, ini hanya angan-angan saya saja ya, karena sulit rasanya untuk tidak membandingkan. Jiwa saya seperti masih tertinggal di AADC.

Terlepas dari itu semua, Rangga & Cinta menjadi tontonan yang segar untuk penonton film Indonesia saat ini.

Para remaja pasti akan menyukai film Rangga & Cinta karena relate dengan kisah mereka.

Sementara bagi orang dewasa, mungkin, akan merasa film Rangga & Cinta menyuguhkan kisah cinta remaja yang toxic dan labil.

Namanya saja masih remaja, Bapak-bapak, Ibu-ibu. Dulu kita pas masih remaja ya mungkin begitu. He he.

Kesimpulannya, film Rangga & Cinta berhasil menghadirkan format musikal yang menyenangkan untuk ditonton.

Semoga semakin banyak film Indonesia, terutama yang mengangkat kisah remaja, dengan format musikal di masa depan.

Cerita yang baru, bukan remake lagi, juga diharapkan untuk film musikal mendatang agar terhindar dari dibanding-bandingkan dengan pendahulunya.

Kontributor : Neressa Prahastiwi


Terkait

Review Tukar Takdir, Bukan Film yang Bikin Penonton Trauma Naik Pesawat!
Sabtu, 04 Oktober 2025 | 12:33 WIB

Review Tukar Takdir, Bukan Film yang Bikin Penonton Trauma Naik Pesawat!

Mouly Surya dan Marsha Timothy kembali menunjukkan kerja sama yang memukau di film Tukar Takdir.

Isu Fatherless Makin Marak, Film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah Tayang di saat yang Tepat!
Sabtu, 13 September 2025 | 09:00 WIB

Isu Fatherless Makin Marak, Film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah Tayang di saat yang Tepat!

Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah berhasil meraih 420 ribu penonton meski berhadapan dengan film The Conjuring.

Review Film Tinggal Meninggal: Bukan Adaptasi Kisah Nyata tapi Nyata di Sekitar Kita
Sabtu, 23 Agustus 2025 | 09:00 WIB

Review Film Tinggal Meninggal: Bukan Adaptasi Kisah Nyata tapi Nyata di Sekitar Kita

Film Tinggal Meninggal lebih banyak mengajak penonton merenungi hidup ketimbang tertawa?

Review Weapons, Horor Intelektual yang Mengguncang Pikiran
Sabtu, 09 Agustus 2025 | 09:05 WIB

Review Weapons, Horor Intelektual yang Mengguncang Pikiran

Weapons adalah film horor yang berani, cerdas, dan penuh emosi.

Terbaru
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
polemik

Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:59 WIB

Di balik narasi hijau menyelamatkan Taman Nasional Tesso Nilo, ribuan warga kecil kini kehilangan segalanyamulai dari rumah, kebun, hingga anggota keluarga dipenjara.

Ramai-ramai Berburu Anggaran di Senayan, Efisiensi Prabowo Cuma Omon-omon? polemik

Ramai-ramai Berburu Anggaran di Senayan, Efisiensi Prabowo Cuma Omon-omon?

Jum'at, 19 Juni 2026 | 21:10 WIB

Sejumlah kementerian dan lembaga berbondong-bondong mengajukan tambahan anggaran kepada DPR RI. Nilainya tidak kecil, mulai dari ratusan miliar hingga puluhan triliun rupiah

Siapa di Balik BEM Bersatu? Mengaku Kelompok Mahasiswa, Tapi Dicap Gaib Oleh Kampus polemik

Siapa di Balik BEM Bersatu? Mengaku Kelompok Mahasiswa, Tapi Dicap Gaib Oleh Kampus

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:38 WIB

Semua diawali saat sekelompok muda mengatasnamakan diri BEM Bersatu secara tiba-tiba menggelar konferensi pers pada Selasa, 16 Juni 2026

Kedok Pemulihan Hutan: Benarkah Satgas PKH Hanya Membuka Jalan Bisnis Sawit Agrinas? polemik

Kedok Pemulihan Hutan: Benarkah Satgas PKH Hanya Membuka Jalan Bisnis Sawit Agrinas?

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41 WIB

Barita Simanjuntak membantah anggapan bahwa lahan hasil penertiban otomatis akan dialihkan menjadi perkebunan sawit.

Geger Isu '98 Jilid 2', Benarkah Situasi Politik Saat Ini Mirip Era Reformasi? polemik

Geger Isu '98 Jilid 2', Benarkah Situasi Politik Saat Ini Mirip Era Reformasi?

Senin, 08 Juni 2026 | 20:04 WIB

Noel memberikan penekanan khusus bahwa situasi saat ini berisiko menyerupai peristiwaReformasi 1998jika tidak segera diantisipasi oleh Kepala Negara

Nyawa Lebih Murah dari Harga Ikan? Kisah Pahit Awak Kapal di Balik Perjuangan Ratifikasi ILO K-188 polemik

Nyawa Lebih Murah dari Harga Ikan? Kisah Pahit Awak Kapal di Balik Perjuangan Ratifikasi ILO K-188

Senin, 08 Juni 2026 | 10:26 WIB

Trauma puluhan tahun itu mengkristal menjadi sebuah ketegasan: laut bukan tempat untuk masa depan anaknya.

Motif di Balik Riset Fiktif Peneliti WNI di Denmark polemik

Motif di Balik Riset Fiktif Peneliti WNI di Denmark

Kamis, 28 Mei 2026 | 20:51 WIB

Nama-nama yang disebut dan diduga lakukan pemalsuan itu di antaranya Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti

×
Zoomed