Review Tukar Takdir, Bukan Film yang Bikin Penonton Trauma Naik Pesawat!
Home > Detail

Review Tukar Takdir, Bukan Film yang Bikin Penonton Trauma Naik Pesawat!

Yohanes Endra

Sabtu, 04 Oktober 2025 | 12:33 WIB

Suara.com - Tukar Takdir menjadi film kedua garapan Mouly Surya yang dirilis tahun 2025 ini.

Sayangnya film Perang Kota yang tayang di bioskop pada 30 April 2025 turun layar dalam waktu dua minggu dengan hanya 126.200 penonton.

Lantas bagaimana dengan Tukar Takdir? Dibintangi Nicholas Saputra, Marsha Timothy, dan Adhisty Zara, film Tukar Takdir terlihat lebih menjanjikan.

Dilihat dari trailer pun, ceritanya tergolong ringan apabila dibandingkan dengan Perang Kota yang berlatar tahun 1946.

Kisah Survivor Kecelakaan Pesawat

Tukar Takdir merupakan film adaptasi novel berjudul sama karya Valiant Budi Yogi yang skenarionya ditulis Mouly Surya sendiri selaku sutradara.

Film Tukar Takdir mengisahkan satu-satunya penumpang yang selamat saat pesawat Jakarta Airways 79 jatuh di Gunung Halau-halau, Kalimantan Selatan.

Penumpang itu bernama Rawa Budiarso. Hanya Rawa yang selamat, sedangkan 132 penumpang lainnya meninggal dunia.

Rawa selanjutnya dikenal sebagai si '38D' yang merupakan nomor kursinya di pesawat Jakarta Airways 79.

Suara ledakan terdengar sesaat setelah pramugari menuangkan jus jeruk di gelas untuk Rawa.

Review Tukar Takdir: Bukan Film yang Bikin Penonton Trauma Naik Pesawat!. [X]
Review Tukar Takdir. [X]

Bagi Rawa yang sering naik pesawat dari Jakarta ke Palu maupun sebaliknya, turbulence Jakarta Airways 79 yang paling kencang seumur hidupnya.

Menjadi satu-satunya yang selamat dalam kecelakaan pesawat tidak membuat hidup Rawa menjadi tenang.

Rawa dihantui rasa bersalah lantaran bertukar kursi dengan penumpang bernama Raldi. Rawa seharusnya duduk di kursi 38C.

Rawa juga masih harus membantu Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyelidiki penyebab kecelakaan pesawat. Sementara Rawa sendiri masih harus menyembuhkan luka fisik maupun traumanya.

Belum lagi tudingan bahwa Rawa sebagai sole survivor (satu-satunya yang selamat) kemungkinan adalah teroris.

Fokus pada Emosi Penonton

Film Tukar Takdir rupanya tidak menyajikan cerita yang mengejutkan, atau plot twist yang disukai banyak penonton Indonesia.

Kisahnya sudah cukup banyak di-spill melalui teaser maupun trailer yang tayang di YouTube StarvisionPlus.

Selain penyelidikan KNKT, konflik dalam film Tukar Takdir lebih fokus kepada keluarga korban kecelakaan pesawat.

Kita sudah beberapa kali mengikuti berita pesawat jatuh yang pernah terjadi di Indonesia.

Apa yang kita ketahui hanya dari informasi yang disajikan media, bagaimana korban berduka maupun kompensasi yang didapat dari pihak maskapai penerbangan.

Namun film Tukar Takdir menyuguhkan lebih dari itu. Penonton diajak menyelami emosi penumpang yang selamat maupun keluarga penumpang yang tewas.

Rawa yang diperankan Nicholas Saputra merasa hidup kembali setelah mati.

Ketika menunggu bantuan datang, Rawa mengira ia akan mati. Ia terus menunggu kematian datang menjemputnya, tetapi tak terjadi.

Sedangkan Dita (Marsha Timothy) sangat berduka karena sang suami, Raldi (Teddy Syah), tidak selamat.

Review Tukar Takdir: Bukan Film yang Bikin Penonton Trauma Naik Pesawat!. [X]
Review Tukar Takdir. [X]

Yang bikin Dita tak terima, Raldi seharusnya duduk di kursi 38D. Dita merasa Rawa telah menukar takdirnya dengan sang suami.

Belum lagi fakta bahwa Rawa mendapat kompensasi Rp2 miliar dari maskapai penerbangan, sementara keluarga korban yang tewas hanya Rp1,25 miliar.

"Karena saya masih bisa bicara, Mbak," kata Rawa soal kompensasinya lebih besar dari penumpang yang tewas.

Sementara, Zahra (Adhisty Zara) tampak lebih tegar. Ia terus mendampingi Damianti (Marcella Zalianty) sang ibu yang amat berduka.

Suami Damianti, Dirga (Tora Sudiro), merupakan pilot pesawat Jakarta Airways 79.

Zahra mengaku tegar lantaran Dirga sudah memberikan gambaran bahwa pilot pasti meninggal dalam kecelakaan.

Kalaupun pilot berhasil selamat, ia akan menanggung beban yang lebih besar dari Damianti maupun Rawa.

Emosi-emosi tersebut yang membuat film Tukar Takdir menarik, apalagi belum ada film Indonesia yang mengangkat tema semacam ini.

Pertanyaan-pertanyaan yang Menggelitik di Hati

Yang terasa 'sangat Mouly Surya' dalam film Tukar Takdir adalah bagaimana ia bisa menyampaikan cerita seperti benar-benar nyata.

Scoring film Tukar Takdir pun mengingatkan saya kepada film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak.

Film Tukar Takdir juga cukup 'hening' yang membuat saya lagi-lagi berpikir bahwa karya ini 'sangat Mouly Surya'.

Dipilihnya lagu "Temani Aku" Sheila On 7 sebagai OST film Tukar Takdir juga cukup mengejutkan saya.

Akhir-akhir ini lagu-lagu lawas Sheila On 7 cukup sering menggema di bioskop. Sebelumnya, ada lagu "Hingga Ujung Waktu" di film Sore: Istri dari Masa Depan.

Adegan kecelakaan pesawat tentu tidak akan lepas dari CGI. Kendati tidak sempurna, CGI di film Tukar Takdir sama sekali tidak mengganggu lantaran tidak mendominasi.

Bahkan adegan Rawa dan ratusan penumpang lain jatuh dari pesawat berhasil terlihat real dan bikin merinding.

Kalaupun ada kritik, saya menyayangkan tidak ada jawaban untuk pertanyaan Rawa: "Kenapa saya selamat?"

Sebenarnya memang tidak perlu ada jawaban karena judulnya saja 'Tukar Takdir', ini hanya kegelisahan saya saja.

Jawaban Rawa saat Dita bertanya "Sempat ngobrol dengan suami saya (Raldi) nggak?" juga kurang memuaskan saya.

Rawa mengaku hanya sesekali tersenyum dan mengangguk saat tak sengaja berpapasan mata dengan Raldi.

Padahal di trailer, Raldi sempat memegangi tangan pramugari yang terpental saat pesawat jatuh.

Harusnya peristiwa itu cukup heroik dan sedikit bisa menenangkan hati Dita yang berduka apabila Rawa menceritakannya.

Ini pun masih bisa dipahami karena mental Rawa pun masih terguncang sehingga mungkin tidak melihat atau mengingatnya.

Jangan Takut Ke-trigger atau Trauma!

Setelah menonton film Tukar Takdir, saya masih memercayai film-film garapan Mouly Surya tak akan mengecewakan.

Saya mengagumi beliau setelah menonton Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak yang, meski jumlah penontonnya sedikit saat tayang di bioskop, tetapi dianugerahi berbagai penghargaan.

Film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak diketahui meraih 10 Piala Citra dan 5 Piala Maya pada 2017.

Di Busan International Film Festival (BIFF) 2025 baru-baru ini pun, Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak masuk dalam Asian Cinema 100.

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak menjadi satu-satunya film Indonesia yang masuk daftar tersebut.

Tukar Takdir bisa dikatakan film Mouly Surya yang paling komersial, sedangkan Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak lebih sering disebut film festival.

Menjawab komentar warganet yang mengaku takut ke-trigger atau jadi trauma naik pesawat setelah nonton Tukar Takdir, saya dengan yakin menyatakan film Tukar Takdir tidak akan menimbulkan efek demikian.

Film Tukar Takdir lebih mengajak penonton menyelami emosi para korban maupun keluarganya, serta bagaimana kita menghadapi informasi tentang kecelakaan pesawat dari berbagai media.

Ditambah lagi akting Marsha Timothy yang menurut saya paling sukses menyampaikan emosi sebagai istri penumpang pesawat yang tewas.

Tak salah Mouly Surya mengajak Marsha Timothy lagi setelah sebelumnya dihargai sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik di Festival Film Indonesia 2018 atas perannya dalam film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak.

Kesimpulannya, Tukar Takdir bisa banget jadi pilihan untuk menghabiskan weekend bersama keluarga.

Rating usianya 13+, jadi jangan khawatir soal kabar Nicholas Saputra dan Adhisty Zara beradegan intim karena bukan adegan yang tidak senonoh kok!

Kontributor : Neressa Prahastiwi


Terkait

Bintangi Tukar Takdir, Ini 8 Film Nicholas Saputra di Netflix
Jum'at, 03 Oktober 2025 | 20:00 WIB

Bintangi Tukar Takdir, Ini 8 Film Nicholas Saputra di Netflix

Film terbaru Nicholas Saputra berjudul Tukar Takdir tayang di bioskop mulai 2 Oktober 2025.

Review Film Tinggal Meninggal: Bukan Adaptasi Kisah Nyata tapi Nyata di Sekitar Kita
Sabtu, 23 Agustus 2025 | 09:00 WIB

Review Film Tinggal Meninggal: Bukan Adaptasi Kisah Nyata tapi Nyata di Sekitar Kita

Film Tinggal Meninggal lebih banyak mengajak penonton merenungi hidup ketimbang tertawa?

Review Weapons, Horor Intelektual yang Mengguncang Pikiran
Sabtu, 09 Agustus 2025 | 09:05 WIB

Review Weapons, Horor Intelektual yang Mengguncang Pikiran

Weapons adalah film horor yang berani, cerdas, dan penuh emosi.

Terbaru
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
polemik

Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:59 WIB

Di balik narasi hijau menyelamatkan Taman Nasional Tesso Nilo, ribuan warga kecil kini kehilangan segalanyamulai dari rumah, kebun, hingga anggota keluarga dipenjara.

Ramai-ramai Berburu Anggaran di Senayan, Efisiensi Prabowo Cuma Omon-omon? polemik

Ramai-ramai Berburu Anggaran di Senayan, Efisiensi Prabowo Cuma Omon-omon?

Jum'at, 19 Juni 2026 | 21:10 WIB

Sejumlah kementerian dan lembaga berbondong-bondong mengajukan tambahan anggaran kepada DPR RI. Nilainya tidak kecil, mulai dari ratusan miliar hingga puluhan triliun rupiah

Siapa di Balik BEM Bersatu? Mengaku Kelompok Mahasiswa, Tapi Dicap Gaib Oleh Kampus polemik

Siapa di Balik BEM Bersatu? Mengaku Kelompok Mahasiswa, Tapi Dicap Gaib Oleh Kampus

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:38 WIB

Semua diawali saat sekelompok muda mengatasnamakan diri BEM Bersatu secara tiba-tiba menggelar konferensi pers pada Selasa, 16 Juni 2026

Kedok Pemulihan Hutan: Benarkah Satgas PKH Hanya Membuka Jalan Bisnis Sawit Agrinas? polemik

Kedok Pemulihan Hutan: Benarkah Satgas PKH Hanya Membuka Jalan Bisnis Sawit Agrinas?

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41 WIB

Barita Simanjuntak membantah anggapan bahwa lahan hasil penertiban otomatis akan dialihkan menjadi perkebunan sawit.

Geger Isu '98 Jilid 2', Benarkah Situasi Politik Saat Ini Mirip Era Reformasi? polemik

Geger Isu '98 Jilid 2', Benarkah Situasi Politik Saat Ini Mirip Era Reformasi?

Senin, 08 Juni 2026 | 20:04 WIB

Noel memberikan penekanan khusus bahwa situasi saat ini berisiko menyerupai peristiwaReformasi 1998jika tidak segera diantisipasi oleh Kepala Negara

Nyawa Lebih Murah dari Harga Ikan? Kisah Pahit Awak Kapal di Balik Perjuangan Ratifikasi ILO K-188 polemik

Nyawa Lebih Murah dari Harga Ikan? Kisah Pahit Awak Kapal di Balik Perjuangan Ratifikasi ILO K-188

Senin, 08 Juni 2026 | 10:26 WIB

Trauma puluhan tahun itu mengkristal menjadi sebuah ketegasan: laut bukan tempat untuk masa depan anaknya.

Motif di Balik Riset Fiktif Peneliti WNI di Denmark polemik

Motif di Balik Riset Fiktif Peneliti WNI di Denmark

Kamis, 28 Mei 2026 | 20:51 WIB

Nama-nama yang disebut dan diduga lakukan pemalsuan itu di antaranya Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti

×
Zoomed