Cinta dan Jari yang Patah di Utara Jakarta
Home > Detail

Cinta dan Jari yang Patah di Utara Jakarta

Reza Gunadha | Faqih Fathurrahman

Kamis, 12 Februari 2026 | 12:13 WIB

Suara.com - Niatnya sederhana: Ardi ingin melepas rindu pada kekasihnya. Sementara Anto cuma mau pulang ke pelukan ibunya. Namun, mereka justru berakhir di ruang interogasi dengan tubuh yang remuk dan mimpi yang dipatahkan.

Artikel ini sebelumnya telah terbit dalam bentuk interaktif. Untuk melihatnya, klik di sini

RINDU ITU semakin menghujam. Sudah 12 bulan purnama. Tak lagi tertahankan. Malam ini, harus dibayar lunas. Jadilah! Ardi berdandan necis. Mesin motor ia panaskan ketika malam belum sepenuhnya turun. 

Sabtu, 30 Agustus 2025, utara Jakarta masih menyisakan panas siang.

“Bu, aku mau ke PIK ya,” katanya sambil meraih helm.

“Ke rumah pacar?” tanya Maimunah, setengah memastikan.

“Iya,” jawab Ardi singkat, sambil tersenyum kecil.

Sementara layar televisi di rumahnya, kawasan Sunter, sejak sore memutar gambar yang sama: asap putih, barisan aparat, suara reporter yang terputus-putus oleh riuh kerumunan.

Jakarta membara. Warga dari berbagai kalangan tumpah ruah ke jalanan. Mereka berdemonstrasi di sekitaran gedung DPR, ruas-ruas jalan protokol, hingga kantor-kantor polisi. 

Semua bermula dari dua hari sebelumnya, Kamis 28 Agustus, pengojek daring Affan Kurniawan tewas dilindas mobil rantis Brimob Polri. Dia menjadi martir, memantik aksi lebih besar. Semula, hanya mengkritik perilaku sombong dan pamer harta anggota dewan. Setelahnya, meluas, ikut mengecam brutalitas polisi.

Ardi tahu itu semua. Tapi pikirannya sedang membuncah hanya karena cinta—tak ada yang lain. 

Dia baru lima hari berada di Indonesia. Selasa 26 Agustus, ia tiba dari Thailand. Pemuda berusia 24 tahun itu disambut meriah oleh keluarga, langsung di bandara. 

Setahun menjadi buruh migran, membuat tubuhnya akrab dengan lelah, tapi juga memberikan sesuatu yang ia simpan sebagai tanda pulang: skuter matik. Masih gres, mulus, dibeli dari upahnya sendiri.

Lengkap sudah. Gaya perlente, motor anyar, rindu yang menumpuk. Ardi tancap gas, memacu kuda besinya ke Pantai Indah Kapuk.

Lampu kuning motor memantul di aspal, cahayanya bias oleh lampu jalan. Ardi berhati-hati.

Namun, ia tidak pernah sampai.

Foto salah satu korban penganiayaan dalam Polres Jakarta Utara. [dokumentasi]
Foto salah satu korban penganiayaan dalam Polres Jakarta Utara. [dokumentasi]

Tak ada kabar

PAGI datang tanpa kabar. Maimunah risau. Ardi semalaman tidak pulang. 

Ia berkali-kali menghubungi nomor seluler putranya, tapi hingga subuh, Minggu 31 Agustus, tidak diangkat.

Pesan-pesan pendek terkirim satu per satu, berbaris rapi di layar ponsel Ardi tanpa balasan. Ia menelepon lagi. Sunyi.

Ponsel Maimunah justru berdering dari nomor lain—kekasih Ardi. Nada suaranya sama-sama cemas.

Loh semalam bukan ke rumah kamu?”

“Enggak Mah. Semalam Ardi gak jadi ke rumah.”

Jika Ardi tidak sampai ke rumah kekasihnya, lalu ke mana ia pergi?

Pertanyaan itu menggantung sepanjang hari. Matahari bergerak. Maimunah menjalani siang dengan tubuh yang hadir, pikiran yang tertinggal.

Menjelang sore, anak sulungnya pulang membawa kabar yang lain. Ardi anak tengah dari tiga bersaudara.

“Banyak ibu-ibu yang nyari anaknya di Polres Jakarta Utara. Coba cari Ardi di sana Mah.”

Kalimat itu membuat Maimunah terdiam. Ia tidak bertanya lebih jauh.

“Mah, telepon dulu pengacara. Kata temanku, kalau mau ke polres harus didampingi,” kata kakak Ardi.

“Pengacara?”

“Telepon LBH Jakarta saja, gratis,” kata putranya, sembari memberikan nomor ponsel yang diberikan temannya.

Lalu, Maimunah memesan ojek online. Ia berangkat dengan perasaan setengah percaya, setengah menolak kemungkinan terburuk.

Pukul 13.00 WIB, ia sampai di polres. Maimunah sempat bertanya kepada polisi yang berjaga. Tapi dia diminta segera naik ke lantai 4 gedung.

Di lantai empat Polres Metro Jakarta Utara—ruang penyelidikan dan penyidikan—waktu berjalan dengan cara yang berbeda. 

Orang-orang tua berdiri dan duduk di lorong. Ada yang menggenggam map, ada yang hanya memeluk tas kecil. Wajah mereka serupa: tegang, cemas, menunggu kepastian yang tak kunjung datang.

“Pak, saya mau cari anak saya, Ardi.”

“Coba lihat di kertas itu. Yang ditangkap ada di situ,” jawab polisi yang berjaga.

Maimunah memerhatikan identitas orang-orang yang ada pada kertas. Ia mendapati nama anaknya.

Foto salah satu korban penganiayaan dalam Polres Jakarta Utara. [dokumentasi]
Foto salah satu korban penganiayaan dalam Polres Jakarta Utara. [dokumentasi]

“Ada pak, ini anak saya. Di mana dia? Saya mau ketemu.”

“Tidak bisa. Lagi diproses. Tinggalin nomor HP saja, nanti dikontak.”

“Saya tidak mau pulang sebelum ketemu Ardi. Ini saya bawa pengacara,” suara Maimunah mengeras.

“Kenapa ibu bawa pengacara dari luar. Kami sudah siapkan pengacara dari negara, gratis,” gerutu polisi tadi.

Pukul 22.00 WIB, ia baru dipertemukan oleh Ardi. Sang ibu syok. Wajah anaknya bonyok. Darah masih mengucur dari hidung. Ada pula bercak merah mengering di pelipis dan sudut bibir. 

Lantai ruangan dipenuhi bercak darah—jejak tubuh-tubuh lain yang telah lebih dulu melewati ruang itu.

Ardi ingin bicara. Ia ingin menjelaskan dirinya hanya ingin pulang. Namun ada petugas berdiri mengawasi. Kata-kata berhenti di tenggorokan.

“Ibu, besok kalau mau jenguk, anaknya dipindah ke lantai dasar,” kata seorang petugas.

Pertemuan itu singkat. Waktu sudah larut.

Lini masa salah tangkap di Polres Jakarta Utara terkait Aksi Agustus 2025. [Suara.com]
Lini masa salah tangkap di Polres Jakarta Utara terkait Aksi Agustus 2025. [Suara.com]

Terkepung di jembatan

SABTU 30 Agustus di sekitar Polres Metro Jakarta Utara, malam meninggi, menjadi sesuatu yang lain.

Asap gas air mata menggantung di udara, baunya menusuk hidung dan menggatalkan tenggorokan. 

Orang-orang berlarian tanpa arah yang jelas. Polisi mendorong massa ke satu titik, menggiring mereka menuju jembatan layang.

Ardi menghentikan motor. Situasi terlalu kacau untuk diterobos. Ia memarkirkan kendaraannya di dekat gedung BNI. 

Ia mengeluarkan ponsel, mencari nama temannya di aplikasi WhatsApp.

Bro, bisa jemput gue gak?”

“Di mana?”

“Dekat Polres Jakut.”

“Waduh. Coba nanti gue usahain ya.”

Setelah lama menunggu, temannya tak kunjung datang. Situasi semakin rusuh. Ardi memasukkan kunci motor ke saku celana. 

Dalam pikirannya, rencananya sederhana: menjauh sebentar dari kerumunan, lalu kembali mengambil motor.

Namun malam itu tidak memberi ruang bagi rencana sederhana.

Ia berlari ke jembatan penyeberangan halte TransJakarta dekat mapolres. Dia berpikir aman di atas, bersama yang lain. 

Tapi Ardi salah perhitungan. Di atas jembatan, mereka justru terkepung. Ke halte atau turun lagi ke bawah, sama saja, polisi menyeruak.

Orang-orang juga kebingungan, berlari ke arahnya. Saat itulah Ardi merasakan ada tangan yang memiting lehernya dari belakang. Ia sempat menoleh. Orang itu tak berseragam. 

Ardi tidak membawa spanduk. Tidak berteriak. Tidak melempar apa pun ke arah polres. Tetapi tubuh yang berada di tempat yang salah, pada waktu yang salah, sudah cukup untuk ditafsirkan.

Seperti binatang

“KAMU lempar batu kan ke mapolres?”

“Tidak pak.”

“Jangan bohong. Berapa banyak?”

“Saya cuma lewat pak.”

Buukk, pukulan mendarat di mukanya. 

“Saya mau ke rumah pacar pak.”

Ardi didudukkan di lantai sebuah ruangan dalam mapolres setelah ditangkap di jembatan.

Celaka. Dia duduk di dekat pintu masuk ruangan, sehingga semua polisi yang keluar masuk, menyempatkan diri memukuli dirinya memakai pentungan, baakk, buukk, baakk, buukk.

Siapa Angkut Motor?

MAIMUNAH tak kuasa menahan tangis saat kali pertama dipertemukan dengan anaknya di kantor polisi, Minggu malam, 31 Agustus.

Ia tak berani bertanya, kenapa wajah anaknya berdarah-darah. Dia juga tahu anaknya hanya ingin pulang.

“Kamu ditangkap di mana?”

“Di JPO bu.”

“Motor kamu di mana?”

“Di parkiran BNI.”

Ardi seketika teringat. Ia lalu merogoh kantong celananya, hendak menyerahkan kunci motor ke ibu. 

Tapi, petugas yang berjaga di dekatnya bergerak cepat, mengambil kuncinya.

“Barang bukti,” katanya singkat.

Maimunah berpikir, tak apalah, ada kunci serep di rumah. 

Senin 1 September, Maimunah pergi ke gedung perkantoran sekitar polres, mencari motor milik Ardi. Tapi dia tak menemukannya.

Ia sempat celingak-celinguk, dan memutuskan bertanya kepada petugas parkir yang sedang mangkal di depan rumah makan nasi padang.

“Semalam, semua motor yang ada di parkiran diangkut semua bu.”

“Diangkut ke mana? Sama siapa?”

“Saya tidak tahu. Pokoknya kacau waktu malam demo itu. Semua yang ada dekat polres ditangkap. Saya selamat karena pura-pura makan di warung.”

Motor itu tidak pernah kembali.

Membeli blok rutan

SENIN 8 September 2025. Ponsel Maimunah berdering. Satu pesan masuk, dan ia membacanya. 

Seketika perempuan itu semringah. Pesan datang dari polisi, disuruh datang ke mapolres. Penahanan Ardi bisa ditangguhkan. 

Tapi ada syaratnya. Dia harus mengganti pengacara, dari LBH Jakarta ke yang sudah ditunjuk negara.

Sudah sepuluh hari ia tak melihat putranya. Maimunah lantas datang ke mapolres, melihat anaknya, dan menyanggupi permintaan polisi.

Tapi, penangguhan itu tidak pernah datang. Meski sudah tak lagi didampingi pengacara LBH Jakarta, Ardi tetap di balik jeruji.

Berselang sebulan, awal November, Maimunah kembali mendapat pesan dari polisi. Ardi akan dipindahkan ke Rutan Cipinang.

Perpindahan itu tidak gratis. Ia diminta “membeli blok” di Rutan Cipinang seharga Rp 1,5 juta. 

Bila tidak, Ardi masuk ke sel tikus, sampai keluarga mampu membeli blok.

Foto korban salah tangkap di Polres Jakarta Utara terkait Aksi Agustus 2025. [Suara.com]
Foto korban salah tangkap di Polres Jakarta Utara terkait Aksi Agustus 2025. [Suara.com]

Jemari yang Patah

MALAM Minggu selalu ditunggu-tunggu oleh Anto, yang masih berusia 18 tahun. Ia kerap menghabiskan waktu nongkrong sembari bermain gim daring atau sekadar bercengkerama bersama teman.

Begitu pula pada Sabtu 30 Agustus 2025, sekitar Pukul 19.00 WIB. Ia berpamitan kepada sang ibu, Rina, untuk keluar rumah. Tadi, temannya datang menjemput memakai motor.

“Kamu mau ke mana?”

 “Mau nongkrong Mah, ke warkop.”

“Kalau mau nongkrong di sini saja, lagi banyak demo.”

“Sebentar doang Mah.”

Pukul 22.00 WIB, massa semakin berkerumun, mengepung Polres Jakarta Utara. Di rumah, Rina gelisah. Ia menyuruh anaknya yang lain untuk mengontak Anto agar segera pulang.

“Abang pulang. Gak inget makan, mandi. Abang juga belum salat.”

“Iya. Bilangin mama, abang nanti pulang. Masih di warkop.”

Karena tak sabar, Rina akhirnya mengontak langsung Anto. Anaknya bilang, mungkin tidak bisa segera pulang karena sudah tak memungkinkan. 

Anto meminta izin ke rumah temannya yang menjemput tadi, menunggu situasi reda. Paling tidak, ia berjanji pulang pada Minggu subuh.

Ia menepati janjinya kepada ibu. Keesokan hari, Pukul 06.00 WIB, Anto berboncengan dengan temannya untuk pulang. Tapi, ia tak pernah benar-benar pulang.

Mereka diadang rombongan polisi di tengah jalan. Anto turun dari motor, temannya justru tancap gas meninggalkannya. Ia lantas dibawa polisi, sendirian.

Minggu 31 Agustus, Pukul 10.00 WIB, ponsel Rina berdering. Ia sempat mengira Anto menghubunginya. Ternyata pesan dari nomor tak dikenal, menyebutkan Anto ada di mapolres. Ia diminta datang ke sana.

Hari itu juga Rina langsung berangkat ke mapolres. Di sana, sudah banyak orang tua yang mengantre untuk bertemu anak mereka yang ditangkap dan dituduh ikut demonstrasi.

Rina baru bisa bertemu Anto pada jam 10 malam. Ia yang sejak pagi syak wasanga, sedikit lega, karena melihat sang anak tidak sedikit pun terluka. 

Senin 1 September, Rina kembali ke mapolres untuk menjenguk dan berusaha membawa pulang Anto. Tapi semuanya tak terpenuhi.

“Anak ibu sedang menjalani pemeriksaan intensif. Tidak bisa ditemui,” kata polisi.

Esoknya, ia kembali datang, tapi mendapat jawaban yang sama. Rina hanya meminta polisi mengantarkan makanan yang ia bawa untuk Anto.

Berselang dua pekan, polisi baru menghubungi Rina untuk datang. Mereka bilang, Anto sudah bisa ditemui. Betapa riang hati perempuan itu. Sudah lama ia merindukan sang putra yang baginya tidak pernah macam-macam, dan bercita-cita jadi anggota TNI.  

Namun, sukaria Rina seketika berubah jadi dukacita ketika melihat anaknya dihadirkan polisi dengan telapak tangan sebelah kiri dibalut perban.

“Tangan kamu kenapa?”

“Jatuh Mah.”

“Jatuh? Kok bisa. Di mana?”

“Waktu di JPO Mah, terinjak-injak.”

Rina tahu, saat Mapolres Jakut dikepung, polisi menekan massa ke arah jembatan pengeberangan Halte TransJakarta depan Ramayana.

“Benar itu jatuh di JPO?” Rina kembali bertanya, karena hatinya sebagai ibu merasa janggal. “Iya Mah,” jawab anaknya.

Bulan beranjak, awal November, Anto dikirim polisi ke sel Rutan Cipinang. Di sana, Rina lebih leluasa untuk bertemu dan menyuapi makanan ke putranya. Saat itu pula, keberan baru terungkap.

“Mah, waktu masih di polres, aku dirawat tahu, dua minggu.”

“Hah, dua minggu. Kok Mama gak dikasih tau?”

“Di RS Polri Mah. Jari tengah dan jari manis abang, patah. Abang dioperasi, pasang pen.”

Rina kaget setengah mati, sembari melihat tangan kiri anaknya yang masih diperban.

“Itu benar jatuh di JPO?”

Tapi kali ini, jawaban yang diberikan Anto sangat berbeda saat ia masih di kantor polisi.

“Kepala Anto dipukuli polisi. Pakai pentungan. Abang takut mati, jadi abang tangkis, jadi patah jarinya.”

Rina langsung lemas. Menangis. Ia teringat, sebelum Anto dibawa ke Rutan Cipinang, sempat dibawa ke RS Polri untuk kontrol terakhir. Tapi saat itu, polisi tak membolehkan dirinya bertemu dokter.

Anto tidak benar-benar sembuh. Suatu ketika, dalam pertemuan dengan Rina, ia mengeluhkan rasa sakit yang masih sering muncul.

“Linu banget Mah, tangan abang. Apalagi kalau lagi hujan, pas ada petir, nyeri banget.”

“Abang tutupin pakai selimut ya tangannya biar agak enakan,” kata Rina.

Tapi, yang benar-benar membuat hati Rina terasa sakit adalah saat Anto meminta maaf.

“Maaf ya Mah, karena masuk penjara dan jari pakai pen, Anto gak bisa jadi TNI.”

Kamis 29 Januari 2026. Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara menyatakan Ardi, Anto, dan 58 orang lainnya bersalah karena ikut kerusuhan Agustus. Mereka divonis dipenjara selama 6 bulan.

---------------------------

Catatan Redaksi: Nama-nama narasumber dalam artikel ini telah diganti memakai nama samaran. Hal itu atas permintaan narasumber karena alasan keselamatan.


Terkait

Bocah-bocah di Sarang Polisi: Asal Tangkap Perkara Aksi Agustus
Selasa, 10 Februari 2026 | 16:26 WIB

Bocah-bocah di Sarang Polisi: Asal Tangkap Perkara Aksi Agustus

Polres Magelang Kota diduga melakukan asal tangkap terhadap banyak bocah setelah aksi Agustus 2025. Banyak di antara anak-anak itu mengaku disiksa selama dalam tahanan.

Terbaru
Dilema WNI Bermasalah di Kamboja, Korban Perdagangan Orang atau Operator Penipuan?
polemik

Dilema WNI Bermasalah di Kamboja, Korban Perdagangan Orang atau Operator Penipuan?

Selasa, 10 Februari 2026 | 18:33 WIB

Jangan sebut mereka korban jika mereka berangkat secara sadar untuk menipu orang lain demi gaji dolar,

Bocah-bocah di Sarang Polisi: Asal Tangkap Perkara Aksi Agustus nonfiksi

Bocah-bocah di Sarang Polisi: Asal Tangkap Perkara Aksi Agustus

Selasa, 10 Februari 2026 | 16:26 WIB

Polres Magelang Kota diduga melakukan asal tangkap terhadap banyak bocah setelah aksi Agustus 2025. Banyak di antara anak-anak itu mengaku disiksa selama dalam tahanan.

OTT Beruntun Pejabat Pajak-Bea Cukai hingga Hakim: Mengapa Korupsi di RI Jadi Penyakit Menahun? polemik

OTT Beruntun Pejabat Pajak-Bea Cukai hingga Hakim: Mengapa Korupsi di RI Jadi Penyakit Menahun?

Senin, 09 Februari 2026 | 17:02 WIB

Analisis dari akademisi Universitas Airlangga (Listiyono Santoso dkk) menyebutkan bahwa kultur patrimonial dalam birokrasi menjadi penghambat utama

Gentengisasi Prabowo, Solusi Adem untuk Indonesia atau Mimpi yang Terlalu Berat? polemik

Gentengisasi Prabowo, Solusi Adem untuk Indonesia atau Mimpi yang Terlalu Berat?

Kamis, 05 Februari 2026 | 18:54 WIB

Gentengisasi, di satu sisi menjanjikan estetika dan ekonomi kerakyatan, di sisi lain terbentur masalah teknis, budaya, dan anggaran

Ada Apa di Balik Ngototnya Jokowi Suarakan Prabowo-Gibran Dua Periode? polemik

Ada Apa di Balik Ngototnya Jokowi Suarakan Prabowo-Gibran Dua Periode?

Kamis, 05 Februari 2026 | 12:47 WIB

Pernyataan tegas Jokowi ini ditegaskan kala menanggapi isu Gibran disebut-sebut berpotensi besar jadi calon presiden (capres) 2029.

Nyawa Seharga Buku: Tragedi Siswa SD di NTT, Sesuram Itukah Pendidikan Indonesia? polemik

Nyawa Seharga Buku: Tragedi Siswa SD di NTT, Sesuram Itukah Pendidikan Indonesia?

Rabu, 04 Februari 2026 | 18:24 WIB

Sebelum ditemukan meninggal, sang ibu mengaku telah menasihati YBS agar tetap rajin sekolah meski kondisi ekonomi keluarga sedang sulit

Siasat Jokowi Mati-matian untuk PSI, Ambisi Tiga Periode atau Sekoci Politik Keluarga? polemik

Siasat Jokowi Mati-matian untuk PSI, Ambisi Tiga Periode atau Sekoci Politik Keluarga?

Selasa, 03 Februari 2026 | 18:41 WIB

Di hadapan ratusan kader PSI di Makassar, retorika Jokowi terdengar bak proklamasi. Tak hanya memberi motivasi, tetapi juga janji keterlibatan luar biasa dari seorang presiden

×
Zoomed