ABK Fandi Ramadhan Terancam Hukuman Mati, Skenario Mafia atau Kejahatan Sadar?
Home > Detail

ABK Fandi Ramadhan Terancam Hukuman Mati, Skenario Mafia atau Kejahatan Sadar?

Bangun Santoso | Faqih Fathurrahman

Selasa, 24 Februari 2026 | 18:54 WIB

Suara.com - Sebuah tuntutan hukuman mati mengguncang Pengadilan Negeri Batam. Di kursi pesakitan, duduk Fandi Ramadhan, seorang pemuda 22 tahun yang baru lulus sekolah pelayaran.

Nasibnya kini di ujung tanduk, dituduh terlibat dalam penyelundupan narkotika kolosal seberat hampir dua ton di atas Kapal Sea Dragon.

Kasus ini membuka kotak pandora yang lebih besar, Apakah Fandi adalah penjahat sadar yang tergiur upah besar, atau sekadar korban dari skenario licik mafia narkoba internasional yang memangsa para pencari kerja?

Versi Jaksa: Pelaku Sadar, Tahu Muatan Haram

Di mata jaksa penuntut umum, kasus ini jelas. Fandi dan lima terdakwa lainnya (termasuk dua warga Thailand) dianggap sepenuhnya sadar akan perbuatan mereka. Kejaksaan Agung menegaskan bahwa para ABK ini mengetahui muatan yang mereka bawa adalah barang terlarang.

"Mereka menyadari menerima barang kurang lebih 67 paket atau sekitar dua ton sabu di tengah laut,” kata Kapuspenkum Kejagung, Anang Supriatna belum lama ini.

Fakta persidangan yang memberatkan adalah adanya pembayaran uang sebesar Rp8,2 juta kepada Fandi. Jaksa meyakini ini adalah bagian dari upah kejahatan. Lokasi penyimpanan sabu yang berada di haluan dan dekat mesin kapal juga dianggap mustahil tidak diketahui oleh para kru.

"Dia menerima pembayaran, dia mengangkut barang, dan mengetahui bahwa barang itu barang haram," tegas Anang, membenarkan tuntutan mati sebagai komitmen negara melindungi warganya dari bahaya narkotika.

Versi Pengacara: Jebakan Maut Berkedok Lowongan Kerja

Namun, tim kuasa hukum Fandi, Salman Sirait dan Bachtiar Batubara, melukiskan gambaran yang sama sekali berbeda. Menurut mereka, Fandi adalah korban penipuan, seorang pemuda lugu dengan pengalaman minim yang hanya ingin bekerja.

Fandi, yang baru lulus pada 2022, melamar kerja melalui jalur informal lewat perantara bernama Iwan. Ia bahkan harus membayar Rp 500.000 sebagai biaya awal. Ibunya, Nirwana, sempat menitipkan Fandi kepada kapten kapal, berharap anaknya dijaga baik-baik.

Kejanggalan terbesar muncul saat Fandi tiba di Thailand. Kontrak kerjanya menyebut ia akan bekerja di kapal kargo MP North Star, namun ia justru dipindahkan ke kapal tanker minyak Sea Dragon.

“Dia sempat bertanya, kok bukan kapal kargo seperti di kontrak. Dijawab sementara saja, masih satu grup,” ungkap Bachtiar.

Uang Rp8,2 juta yang diterima Fandi pun diklaim bukan upah kejahatan, melainkan pinjaman yang akan dipotong dari gajinya.

"Itu pinjaman yang akan dipotong dari gaji. Tidak ada hubungannya dengan dugaan upah," ucap Salman.

Keadilan untuk 'Kroco', Bandar Besar Lolos?

ABK Fandi Ramadhan terancam hukuman mati buntut kasus 2 ton sabu di Kapal Sea Dragon. (Dok. Suara.com)
ABK Fandi Ramadhan terancam hukuman mati buntut kasus 2 ton sabu di Kapal Sea Dragon. (Dok. Suara.com)

Kasus ini memicu kritik tajam dari berbagai pihak, termasuk parlemen. Ketua Komisi XIII DPR RI, Willy Aditya, mempertanyakan fokus penegak hukum yang seolah hanya menyasar "ikan-ikan kecil".

"Lihat daftar terdakwanya, ada yang hanya buruh rendahan. Ini perlu diuji perannya dan dikejar aktor besarnya sampai tuntas," kata Willy.

Menurutnya, menjatuhkan hukuman mati pada pelaku lapangan tidak akan pernah efektif memberantas narkoba jika otak atau bandar besarnya tidak tersentuh. Lapas di Indonesia sudah penuh sesak oleh pengguna dan kurir, bukan oleh para gembong.

"Sulit dicerna akal sehat kalau semua dituntut hukuman mati tanpa ada kejelasan peran," tegasnya.

Dilema Hukum: Antara Efek Jera dan Kemanusiaan

Pakar Hukum Pidana, Hery Firmansyah, menjelaskan bahwa dengan barang bukti sebesar dua ton, ancaman pidana maksimal memang terbuka. Namun, pengadilan harus menggali lebih dalam niat dan pengetahuan para terdakwa.

"Apakah dari awal mengetahui sindikasi dan perumufakatan jahat, atau dia mendapatkan misinformasi mengenai barang yang diangkut?" ujar Hery kepada Suara.com, Selasa (24/2/2026).

Ia juga menyoroti modus operandi yang sering digunakan sindikat, yaitu tawaran pekerjaan dengan upah menggiurkan untuk menjerat korban.

Fakta bahwa Fandi dipindahkan dari kapal yang tertera di kontrak ke kapal lain menjadi titik krusial yang harus dibuktikan di persidangan.

"Tidak mungkin seorang ABK bahkan kapten kapal mampu melakukannya sendiri. Perlu diungkap semua, siapa pelaku intelektualnya," pungkas Hery.


Terkait

ABK Dituntut Hukuman Mati terkait Sabu 2 Ton, DPR Ingatkan Hakim: Itu Opsi Terakhir
Senin, 23 Februari 2026 | 13:49 WIB

ABK Dituntut Hukuman Mati terkait Sabu 2 Ton, DPR Ingatkan Hakim: Itu Opsi Terakhir

Ketua Komisi III DPR RI: Pidana mati bukan lagi pokok, tapi alternatif terakhir. Hakim harus patuhi KUHP baru pada kasus tuntutan mati ABK Sea Dragon.

Hotman Paris Siap Bela ABK Terancam Hukuman Mati dalam Kasus Narkoba
Minggu, 22 Februari 2026 | 17:00 WIB

Hotman Paris Siap Bela ABK Terancam Hukuman Mati dalam Kasus Narkoba

Pengacara Hotman Paris Hutapea menyatakan kesiapannya memberikan bantuan hukum kepada Fandi, yang kini menghadapi ancaman hukuman mati.

Pasca Kasus AKBP Didik, Seluruh Personel Polri Wajib Ikuti Tes Urine
Minggu, 22 Februari 2026 | 13:05 WIB

Pasca Kasus AKBP Didik, Seluruh Personel Polri Wajib Ikuti Tes Urine

Pemeriksaan ini mencakup personel dari tingkat Mabes Polri hingga polda dan satuan kewilayahan.

Terbaru
Negara Tak Boleh Jadi Algojo, Mengapa Menteri Pigai Larang Polisi Tembak Mati Begundal?
polemik

Negara Tak Boleh Jadi Algojo, Mengapa Menteri Pigai Larang Polisi Tembak Mati Begundal?

Senin, 25 Mei 2026 | 22:02 WIB

Kondisi ekonomi yang sulit dan ketimpangan yang tajam di wilayah aglomerasi menciptakan lahan subur bagi tindak kejahatan

Ekonomi Pancasila Prabowo, Kemandirian Bangsa atau Monopoli? polemik

Ekonomi Pancasila Prabowo, Kemandirian Bangsa atau Monopoli?

Jum'at, 22 Mei 2026 | 16:35 WIB

Prabowo menegaskan arah kebijakan fiskal ke depan akan berlandaskan pada mazhab Ekonomi Pancasila

Heboh Pernyataan Prabowo 'Rakyat Desa Tak Pakai Dolar', Strategi Tenangkan Warga atau Gaslighting? polemik

Heboh Pernyataan Prabowo 'Rakyat Desa Tak Pakai Dolar', Strategi Tenangkan Warga atau Gaslighting?

Rabu, 20 Mei 2026 | 13:26 WIB

Pernyataan sang Kepala Negara itu disampaikan pertama kali di momen pidato sambutannya saat peresmian Museum dan Rumah Singgah Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur

Ketika Aktor Asing Bermain di Narasi "Antek Asing" polemik

Ketika Aktor Asing Bermain di Narasi "Antek Asing"

Senin, 18 Mei 2026 | 22:10 WIB

Peristiwa besar nasional dikaitkan dengan "peran" asing di baliknya, mungkin bukan hal baru. Tapi ini soal operasi FIMI di balik demonstrasi Agustus-September 2025 lalu.

Polemik Laut China Selatan Kini Jadi Perang Dingin Digital, Bagaimana Nasib Natuna? video

Polemik Laut China Selatan Kini Jadi Perang Dingin Digital, Bagaimana Nasib Natuna?

Sabtu, 16 Mei 2026 | 17:27 WIB

Laut China Selatan yang adalah kawasan strategis jalur dagang itu belakangan tidak lagi sekadar jadi lahan pertikaian fisik, tapi juga perang informasi digital.

Polemik Laut China Selatan Masuki Babak Baru Lewat Perang Propaganda Digital, Bagaimana Indonesia? polemik

Polemik Laut China Selatan Masuki Babak Baru Lewat Perang Propaganda Digital, Bagaimana Indonesia?

Jum'at, 15 Mei 2026 | 23:55 WIB

Bukan lagi sekadar arena adu otot kapal perang atau saling klaim wilayah, polemik Laut China Selatan (LCS) belakangan sudah memasuki medan perang digital. Seperti apa?

Operasi Plastik Digital: Bagaimana AI dan Citra 'Gemoy' Kini Juga Merambah Asia Tenggara polemik

Operasi Plastik Digital: Bagaimana AI dan Citra 'Gemoy' Kini Juga Merambah Asia Tenggara

Jum'at, 15 Mei 2026 | 22:05 WIB

Inilah realitas baru demokrasi di sekitar kita, tidak saja seperti yang telah berlangsung di Indonesia, tapi kini juga dipraktikkan di negara Asia Tenggara seperti Filipina.

×
Zoomed