OTT Beruntun Pejabat Pajak-Bea Cukai hingga Hakim: Mengapa Korupsi di RI Jadi Penyakit Menahun?
Home > Detail

OTT Beruntun Pejabat Pajak-Bea Cukai hingga Hakim: Mengapa Korupsi di RI Jadi Penyakit Menahun?

Bangun Santoso | Dea Hardiningsih Irianto

Senin, 09 Februari 2026 | 17:02 WIB

Suara.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan rentetan Operasi Tangkap Tangan (OTT) dalam waktu bersamaan pada Februari 2026. Operasi ini menyasar sektor vital, mulai pendapatan negara perpajakan dan kepabeanan hingga kehakiman.

Fenomena ini memicu pertanyaan besar mengenai efektivitas pemberantasan korupsi di tanah air.

Skandal Restitusi Pajak KPP Madya Banjarmasin

KPK menetapkan Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Madya Banjarmasin, Mulyono (MLY), sebagai tersangka dugaan korupsi restitusi pajak PT Buana Karya Bhakti (BKB). Selain Mulyono, fiskus Dian Jaya Demega (DJD) dan Manajer Keuangan PT BKB, Venasius Jemarus Genggor (VNZ), juga ditahan.

Kasus bermula saat PT BKB mengajukan restitusi PPN lebih bayar sebesar Rp48,3 miliar. Mulyono diduga meminta "uang apresiasi" sebesar Rp1,5 miliar agar permohonan tersebut dikabulkan.

"Penahanan dilakukan di Rumah Tahanan Negara Cabang Gedung Merah Putih KPK," ujar Plt Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu.

Dalam pembagiannya, Mulyono diduga menerima Rp800 juta yang digunakan untuk uang muka (DP) rumah, sementara Dian Jaya menerima Rp180 juta, dan Venzo mendapatkan jatah Rp500 juta.

Para tersangka dijerat Pasal 12 a dan b UU Nomor 31 Tahun 1999 serta UU Nomor 1 Tahun 2026.

Mafia Jalur Merah di Direktorat Jenderal Bea Cukai

Hampir bersamaan, KPK menahan lima pejabat dan pihak swasta terkait korupsi importasi barang di Ditjen Bea Cukai. Tersangka utama meliputi Rizal (Direktur P2 DJBC periode 2024-2026), Sisprian Subiaksono (Kasubdit Intel P2), dan Orlando Hamonangan (Kasi Intel DJBC).

Modus yang digunakan adalah memanipulasi parameter "jalur merah" (pemeriksaan fisik) menjadi jalur hijau agar barang ilegal milik PT Blueray (BR) bisa masuk tanpa pengecekan. Sebagai imbalannya, para oknum menerima "jatah" rutin bulanan.

"Penerimaan uang ini dilakukan secara rutin setiap bulan sebagai jatah," ungkap Asep Guntur Rahayu. Pemilik PT BR, John Field, saat ini masih dalam pengejaran (DPO).

Mengapa Korupsi Terus Berulang?

Mantan penyidik KPK, Praswad Nugraha, menilai OTT ini adalah alarm keras bagi pemerintah yang menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,4 persen.

Menurutnya, korupsi di sektor pajak dan bea cukai bersifat struktural. "Kasus-kasus yang terungkap sejauh ini hanyalah fenomena gunung es," tegas Praswad Nugraha.

Peneliti Pukat UGM, Zaenur, menyoroti penggunaan istilah halus seperti "uang apresiasi" atau "atensi" dalam praktik suap. Hal ini dilakukan untuk mengaburkan deteksi aparat dan mengurangi rasa bersalah pelaku.

"Eufemisme menunjukkan sebenarnya mereka tahu itu perbuatan dosa," kata Zaenur.

Ia juga menekankan adanya masalah kewenangan yang menumpuk tanpa kontrol (abuse of power) di birokrasi.

Kendala Kultural dan Mentalitas

Penyakit korupsi di Indonesia. (Dok. Suara.com)
Penyakit korupsi di Indonesia. (Dok. Suara.com)

Analisis dari akademisi Universitas Airlangga (Listiyono Santoso dkk) menyebutkan bahwa kultur patrimonial dalam birokrasi menjadi penghambat utama. Kekuasaan sering dianggap sebagai sarana menguntungkan diri sendiri dan keluarga.

"Kultur patrimonial cenderung menempatkan kekuasaan sebagai sarana menguntungkan kepentingan sendiri," tulis mereka dalam jurnalnya.

Selain itu, masyarakat seringkali tidak merasa menjadi korban saat uang negara dikorupsi. Rendahnya partisipasi publik ini membuat perilaku koruptif terus mendapat pembiaran.

Teori Segitiga Kecurangan (Fraud Triangle)

Akademisi Universitas Negeri Surabaya (Achmad Azharditya Susanto & Felix Fernando) membedah praktik gratifikasi melalui tiga faktor:

  • Tekanan: Kebutuhan ekonomi atau gaya hidup.
  • Kesempatan: Jabatan tinggi yang memungkinkan manipulasi.
  • Rasionalisasi: Pembenaran atas tindakan korup.

"Rasionalisasi merupakan sebagai suatu pembenaran, pembelaan maupun penolakan dari tindakan yang telah dilakukannya," tulis mereka dalam jurnalnya.

Rekomendasi Reformasi dari ICW

Indonesia Corruption Watch (ICW) mendorong penguatan Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) dan standarisasi SOP penanganan aduan.

Berdasarkan pantauan ICW, keterlibatan publik yang didampingi mampu meningkatkan validitas laporan hingga 100 persen.

ICW merekomendasikan LKPP untuk memastikan transparansi sistem e-pengaduan dan meminta Kementerian Dalam Negeri memantau anggaran pengawasan di daerah.

"Adanya SOP penanganan aduan publik harus diikuti dengan komitmen pimpinan pemerintah daerah," tulis laporan ICW 2025.

Tanpa political will yang kuat, sistem pengawasan hanya akan menjadi formalitas di atas kertas.


Terkait

Usai Kesaksian Pimpinan LKPP, Nadiem Klaim Tak Ada Kerugian Negara di Kasus Laptop
Senin, 09 Februari 2026 | 15:54 WIB

Usai Kesaksian Pimpinan LKPP, Nadiem Klaim Tak Ada Kerugian Negara di Kasus Laptop

Nadiem menyebut kesaksian pimpinan LKPP membuktikan harga laptop e-katalog sesuai pasar, sehingga unsur kerugian negara dalam kasusnya dinilai tak terpenuhi.

Noel Cibir OTT Ketua PN Depok: Operasi Tipu-tipu, KPK Itu Bocil!
Senin, 09 Februari 2026 | 14:28 WIB

Noel Cibir OTT Ketua PN Depok: Operasi Tipu-tipu, KPK Itu Bocil!

Noel menuding, jika yang dilakukan oleh KPK semua berbasis kebohongan

Kecewanya Ketua MA Sunarto Pimpinan PN Depok Kena OTT KPK, Padahal Tunjangan Hakim Baru Naik
Senin, 09 Februari 2026 | 13:42 WIB

Kecewanya Ketua MA Sunarto Pimpinan PN Depok Kena OTT KPK, Padahal Tunjangan Hakim Baru Naik

Ketua MA menyatakan kecewa dan sangat menyesalkan peristiwa yang telah mencederai keluhuran harkat dan martabat Hakim,"

Sidang Korupsi Kemenaker: Noel Sebut Partai Politik 'Tiga Huruf' Terlibat Kasus Pemerasan K3
Senin, 09 Februari 2026 | 13:38 WIB

Sidang Korupsi Kemenaker: Noel Sebut Partai Politik 'Tiga Huruf' Terlibat Kasus Pemerasan K3

"Partai. Saya kerucutkan ya. Kemarin kan K, sekarang tiga huruf. Untuk sementara itu dulu," ujar Noel.

Terbaru
Keren di Instagram, Ilegal di Mata Hukum: Sisi Gelap Bisnis Padel Ibu Kota
polemik

Keren di Instagram, Ilegal di Mata Hukum: Sisi Gelap Bisnis Padel Ibu Kota

Kamis, 26 Februari 2026 | 18:11 WIB

185 bangunan lapangan padel di Jakarta ternyata berdiri tanpa izin resmi, beberapa bahkan mengganggu aktivitas warga

'Cukup Aku WNI', Saat Pesimisme Kolektif Jadi Bahasa Generasi polemik

'Cukup Aku WNI', Saat Pesimisme Kolektif Jadi Bahasa Generasi

Rabu, 25 Februari 2026 | 18:52 WIB

Ungkapan tersebut terasa seperti lelucon pahit nan satir yang lahir dari kelelahan warga negara

ABK Fandi Ramadhan Terancam Hukuman Mati, Skenario Mafia atau Kejahatan Sadar? polemik

ABK Fandi Ramadhan Terancam Hukuman Mati, Skenario Mafia atau Kejahatan Sadar?

Selasa, 24 Februari 2026 | 18:54 WIB

Mimpi pemuda 22 tahun yang baru lulus sekolah pelayaran itu terancam sirna di ujung palu hakim PN Batam

Jokowi Lempar Bola Panas, Mungkinkah KPK Kembali Sakti? polemik

Jokowi Lempar Bola Panas, Mungkinkah KPK Kembali Sakti?

Senin, 23 Februari 2026 | 19:55 WIB

Lontaran isu ini berawal dari permintaan mantan Ketua KPK Abraham Samad kepada Presiden Prabowo Subianto

Tikungan Terakhir! 30 Kilometer Kebebasan Laras nonfiksi

Tikungan Terakhir! 30 Kilometer Kebebasan Laras

Kamis, 19 Februari 2026 | 16:42 WIB

Tak semua tahu, 15 kilometer jauhnya, di Gerbang Rumah Tahanan Negara Kelas I Pondok Bambu, Jakarta Timur, kebebasan itu tak langsung diberikan ke Laras.

'Buku Putih' Kaum Anarkis nonfiksi

'Buku Putih' Kaum Anarkis

Rabu, 18 Februari 2026 | 14:15 WIB

Ada hantu bergentayangan di Indonesiahantu Anarkisme! Polisi mencoba menggelar eksorsisme, kaumnya diburu, tapi ia tak mau pergi.

Ijazah Jokowi Tanpa Sensor Akhirnya Dirilis, Drama Berjilid-jilid Segera Berakhir? polemik

Ijazah Jokowi Tanpa Sensor Akhirnya Dirilis, Drama Berjilid-jilid Segera Berakhir?

Jum'at, 13 Februari 2026 | 13:03 WIB

Salinan ijazah terlegalisir yang dipakai Calon Presiden di Pilpres 2014 dan 2019, tulis Bonatua

×
Zoomed