Bocah-bocah di Sarang Polisi: Asal Tangkap Perkara Aksi Agustus
Home > Detail

Bocah-bocah di Sarang Polisi: Asal Tangkap Perkara Aksi Agustus

Reza Gunadha | Hiskia Andika Weadcaksana

Selasa, 10 Februari 2026 | 16:26 WIB

Suara.com - Di balik dinginnya tembok Polres Magelang Kota, Dion dan Doni—dua remaja yang hanya ingin menyambung hidup lewat gerobak angkringan dan transaksi COD—harus menelan getirnya sabetan selang, hantaman sepatu lars, hingga pelecehan martabat yang menghancurkan jiwa. Tanpa bukti kuat, mereka diseret dalam pusaran amuk aparat, disiksa, lalu identitasnya dipamerkan di ruang digital sebagai "anarkis" yang patut dikutuk.

Artikel ini sebelumnya telah terbit dalam bentuk interaktif. Untuk melihatnya, klik di sini

MIMPI BURUK Dion tak luruh meski matahari terbit pada Sabtu 30 Agustus 2025. Matanya belum sedetik pun terpejam. Nyeri masih bersemayam di sekujur tubuh. Polisi menggedor pintu ruangan sejak pukul tujuh, menyuruh semua penghuninya berdiri dan berhitung. Lalu mereka dipukuli.

Siksaan tak mengenal jam. Hari beranjak siang, Dion dan tahanan lain terus dipukuli. Seluruh tubuhnya—dari kepala hingga rusuk—menjadi penanda kekerasan yang bahkan tak sempat ia rasakan sebagai sakit.

Ketakutan terus menebal, membuat dirinya baal pada setiap pukulan. Namun, tubuh punya batas yang tak bisa disembunyikan. Asam lambungnya kambuh di tengah pukulan, memaksanya meringkuk.

“Ampun pak… ampun… asam lambung pak,” ia mengerang. 

“Duduk kamu!” kata polisi.

Perintah itu menjadi satu-satunya jeda yang menyelamatkan Dion dari pukulan berikutnya. 

Asal Seret ke Markas

SIANG, Jumat 29 Agustus, Dion memulai hidup seperti biasa: menjerang air, menata gelas, teko, gorengan, dan arang yang harus dijaga tetap menyala.

Sudah tiga bulan terakhir bocah berusia 17 tahun itu menggantungkan hidup pada gerobak angkringan, yang mangkal persis di seberang gerbang markas Polres Magelang Kota. Tak jarang pelanggannya adalah polisi.

Ia tak pernah menamatkan SD, karena abon jualan ayahnya tak cukup untuk membiayai sekolah. Sebelum menjaga angkringan, sempat dia bekerja di bengkel, tapi penghasilannya tak banyak untuk menyekolahkan sang adik—dia tak ingin si bungsu seperti dirinya.

Langit Magelang mulai meredup. Sore menjadi penanda baginya untuk menjemput rezeki. Pelanggan lebih ramai berdatangan hingga malam. 

Tapi, ini kali berbeda. Massa mahasiswa hingga pengojek online sedang menggelar aksi massa di depan polres. Mereka bersimpati atas kematian Affan Kurniawan—driver ojol—yang sehari sebelumnya tewas dilindas kendaraan taktis Brimob Polri di Jakarta.

Dion hanya melihat kerumunan demonstran dari titik aman, angkringannya. Polisi mulai menembakkan gas air mata, seketika udara berubah pedih. 

Nalurinya sederhana: pulang dan selamat. Rumahnya tidak jauh. Hanya lima belas meter dari mapolres. 

Sebelum beranjak, ia merogoh gawai dari saku, merekam beberapa detik fragmen aksi yang mulai kaos. Tujuannya sederhana, untuk diunggah sebagai status WhatsApp, tanpa tahu nantinya justru menjadi petaka.

Setibanya di rumah, Dion menghabiskan waktu menggulir TikTok, menonton siaran langsung yang merekam sisa-sisa aksi massa. Satu video milik orang lain merekam angkringan tempatnya bekerja masih terbuka.

Dion memang tak sempat membereskan dagangan dan menutup gerobak. Ia resah, tapi tetap menunggu situasi aman untuk kembali ke sana.

Dion benar-benar kembali ke angkringan pada pukul 21.00 WIB memakai sepeda motor. Suasana sudah lengang. Tapi ia melihat kejanggalan di lapaknya.

Sejumlah laki-laki yang tak dikenalnya berada di bawah tenda angkringan. Mereka menuangkan kopi dan teh dagangan Dion, seolah sedang berada di ruang tamu rumah sendiri.

Dion yang masih memakai helm, menghampiri dan melontarkan sapaan santun seperti biasa ke pembeli.

“Mau ngunjuk napa pak? Kulo damelke (mau minum apa pak? Saya buatkan).”

Tawaran itu justru berbalas pitingan yang mendarat telak di lehernya. Dion merasakan dunia berubah arah. 

Ia mencoba berbicara, menjelaskan, tapi kata-kata tak lagi punya fungsi. Seorang lainnya menghantam kepala Dion. 

Bukan pukulan biasa. Sebab, ada bunyi logam, keling, yang memecahkan kaca helm hingga berhamburan. 

Helm yang sebenarnya milik kakaknya, dilepas paksa dan dibuang, seolah bukan milik siapa pun.

Gawainya diambil, diperiksa isinya. Video pendek aksi yang sempat ia rekam sebelum pulang sore tadi, berubah menjadi vonis.

“Saya yang jaga di sini pak,” kata Dion setengah putus asa. 

“Halah, halah, halaah.”

“Benar pak, saya yang jaga angkringan, kerja.”

“Halah, aku mau weruh dek’e—aku tadi melihat dia,” bantah salah satu penyerang.

“Ngomongo sing bener! Ngaku! Ngopo melu demo!”

Jaket berkerudung serta baju berkelir hitam yang melekat di badan Dion, sudah cukup menjadi alasan orang-orang tadi menyeretnya ke markas: kaum anarkis!

‘Ruang Penyiksaan’

Begitu sampai di markas polisi, martabatnya dilucuti seiring pakaian yang dipaksa lepas. Setengah telanjang, hanya tersisa celana jins gombrong, ia belajar arti rasa sakit yang tak memerlukan alasan.

Dua petugas merangkulnya, bukan untuk menenangkan, melainkan memelintir puting payudaranya hingga tubuh mengeras menahan nyeri.

Ancaman datang pelan seperti bisikan yang tak memberi pilihan.

“Ojo mbengok, nek mbengok malah soyo sero—jangan teriak, kalau teriak nanti makin kencang cubitannya.” 

Lalu polisi menyuruhnya duduk. Tapi itu hanya tipu daya. Saat tubuhnya baru saja merendah, satu kaki bersepatu lars menghantam wajahnya tepat di bawah mata kanan.

“Siapa nama kamu? Jawab yang benar!”

Interogasi berjalan seperti ritual tanpa pertanyaan yang benar-benar butuh jawaban. Dion menjawab apa adanya, berusaha tenang. Namun setiap jawaban tak pernah menjadi akhir.

Pertanyaan tentang nama, alamat, atau riwayat pendidikan, semua hanyalah jeda antara tamparan dan tendangan.

Tubuhnya kemudian dipindahkan, diseret keluar, dimasukkan ke ruangan lain, lalu ke ruangan berikutnya. Empat kali. Setiap perpindahan bukan untuk memperjelas perkara, melainkan mengikis daya tahannya.

"Kamu kenapa ikut demo?”

Duugg, satu tendangan ke kepala.

“Saya tidak ikut pak,”

Buukk, terjangan ke pelipis kiri.

“Anak kecil ikut demo!”

Braaakk, sepakan ke pelipis kiri.

“Sumpah, saya tidak ikut pak,”

Plaaak, depakan ke pelipis kanan hingga bagian atas. Akhirnya Dion terpental, beberapa kali kepalanya membentur tembok.

Foto bekas sabetan selang yang mulai memudar di tubuh Dion setelah mendapat penganiayaan di Polres Magelang Kota. [dokumentasi]
Foto bekas sabetan selang yang mulai memudar di tubuh Dion setelah mendapat penganiayaan di Polres Magelang Kota. [dokumentasi]

Di ruangan lain, penganiayaan mengambil bentuk lebih teratur. Selang plastik warna biru, agak kaku, mendarat di punggungnya tanpa aba-aba. Sekali. Dua kali. Lalu lagi dan lagi.

Hantaman polisi kemudian berpindah ke ulu hati dan dada. Tidak lagi menggunakan selang, hanya bogem mentah tanpa ada pertanyaan yang mendahului dan tidak pula penjelasan yang menyusul.

Air minum baru datang menjelang dini hari. Tapi, hanya ada sebotol air berukuran 600 mililiter untuk 50 orang tahanan dalam satu ruangan.

“Dibagi rata!” instruksi polisi penjaga.

Salah satu bekas luka di dada Dion, yang diduga akibat kekerasan oleh personel Polres Magelang Kota. [Dokumentasi]
Salah satu bekas luka di dada Dion, yang diduga akibat kekerasan oleh personel Polres Magelang Kota. [Dokumentasi]

Bila komandan menganggap pembagian air tak terlihat, hukuman datang lagi. Para tahanan dipaksa push-up puluhan kali.

Sampai Sabtu dini hari, tubuh para tahanan dibiarkan tetap setengah telanjang. Dari lantai yang dingin, Dion hanya bisa menatap bajunya di sudut ruangan. 

Tak satu pun dari mereka berani bergerak. “Kehangatan” menggantung di sana, tapi bayang-bayang aparat masih berjaga, membuat setiap niat terasa berisiko.

Baru ketika fajar datang dan penjagaan mengendur, Dion memberanikan diri meraih pakaiannya. 

Geraknya diikuti yang lain, sunyi dan hati-hati, seperti takut membangunkan sesuatu yang bisa memulai semuanya kembali.

Infografis metode penyiksaan yang diduga dilakukan personel Polres Magelang Kota kepada anak-anak yang ditangkap. [Suara.com]
Infografis metode penyiksaan yang diduga dilakukan personel Polres Magelang Kota kepada anak-anak yang ditangkap. [Suara.com]

Berawal dari COD

SORE, Jumat 29 Agustus 2025, Doni yang sudah tampil perlente, pergi bersama temannya ke kawasan Rindam, Magelang, untuk memenuhi satu janji.

Mereka hendak memenuhi akad membeli jaket dengan seseorang memakai cara cash on delivery di daerah itu.

Namun, setelah lama menunggu, orang yang ditunggu tak kunjung datang. Rencana kecil itu buyar, Doni mengajak temannya untuk pergi.

Aksi massa solidaritas terhadap Affan sudah dibubarkan.Tapi jalan-jalan utama kota masih banyak yang diblokade. Doni dan temannya tak kehabisan akal. Mereka hanya perlu berbelok ke rute alternatif.

Keduanya sempat berhenti sebentar di pom mini untuk mengisi bensin sepeda motor. Saat itulah ia merasakan tangan-tangan yang mengeras datang dari arah belakang.

Sekelompok polisi merenggut lehernya dalam pitingan yang membungkam segala penjelasan. Ia tak berhasil kabur seperti temannya yang langsung lari terbirit-birit.

Motor ditinggalkan, martabatnya diabaikan. Doni dibawa pergi layaknya barang rampasan menuju markas polisi. Di sana, kesalahan tak perlu dibuktikan, ia cukup ada.

Sidik jarinya diambil. Pertanyaan dilontarkan berulang. Ia duduk di satu ruangan bersama dua orang lain yang tak dikenalnya. Tiga polisi mengisi ruang itu. Semua pertanyaan mengarah pada satu tuduhan yang sama.

“Kamu tadi ikut demo kan?”

“Tidak pak. Saya baru keluar rumah.”

“Tadi saya lihat.”

“Enggak pak, saya keluar mau COD.”

“Wah enggak mungkin COD. Kamu pasti ikut demo!”

Lalu, Doni diseret ke beberapa ruangan, berpindah-pindah. Pada salah satunya, ia menyaksikan sejumlah tahanan—yang juga terdapat anak-anak seperti dirinya—dipaksa memakai kardus di kepala dan berjoget serta bernyanyi.

Sabetan selang biru turut menghiasi punggungnya. Hantaman tangan kosong pun mendarat dua-tiga kali tepat di dadanya.

Puncak keganjilan tiba dengan instruksi yang merendahkan nalar. Setelah tubuh mereka dihajar habis-habisan, kencur dibagikan. 

Puluhan tahanan—termasuk Doni dan Dion— yang tak saling mengenal, di ruangan itu dipaksa mengunyah bergantian. Pedas campur pahit rasanya. 

Dari satu mulut ke mulut lain kencur itu berpindah. Rasa getirnya tertinggal di lidah, lebih lama dari perih di tubuh.

Kesaksian-kesaksian anak-anak yang ditangkap dan diduga dianiaya di Polres Magelang Kota. [Suara.com]
Kesaksian-kesaksian anak-anak yang ditangkap dan diduga dianiaya di Polres Magelang Kota. [Suara.com]

Disuruh berbohong

SETELAH berbagai penganiayaan dan penghinaan, aturan lain menyusul, tak tertulis namun dipahami bersama: luka boleh ada, sebabnya tidak.

Sejak saat itu, setiap cerita harus seragam. Apa pun yang lebam atau berdarah, jawabannya hanya satu: salah sendiri, entah jatuh atau terpeleset.

Doni menyaksikan satu pemuda kepalanya bocor, dan terpaksa diperban akibat hantaman senjata keling polisi.

Namun, saat petugas lain datang bertanya, pemuda itu sudah ‘didikte’ untuk mengkhianati kenyataan.

“Ngopo kok diperban ngono? Bocor-bocor ngono?” tanya petugas.

“Jatuh pak.”

Ancaman itu bergaung pekak di setiap sudut ruangan, dari ruang awal hingga sel tempat mereka dikumpulkan bersama puluhan orang lain. 

“Koe nek ditakoni ngopo-ngopo, ngakune ojo ngasi diantemi polisi, mbangane tak antemi meneh—kamu kalau ditanya apa-apa, jangan sampai mengaku dipukuli polisi. Daripada nanti saya pukuli lagi.”

Lain waktu, di ruangan berikutnya, seorang polisi yang menginterogasi Doni menanamkan ketakutan sistematis tentang “jejak hitam”. 

Bila ia berani mengungkap apa yang terjadi saat ditahan, “jangan pernah bermimpi punya KTP atau dapat SKCK buat kerja!”

Sempat juga polisi memberikan pesan kepadanya, “Ojo cerita-cerita neng njobo. Nek ngasi konangan, parani omahmu tak gowo meneh—jangan cerita-cerita di luar. Kalau sampai ketahuan, saya datangi rumahmu, saya bawa lagi.” 

Doni hanya mengangguk.

[Suara.com]
[Suara.com]

Sebungkus Nasi untuk Puluhan Orang

SIANG, SABTU 30 Agustus, perih semakin menjalar dalam perut Dion. Sejak penangkapan Jumat malam, tak ada makanan yang menyentuh lambungnya. 

Dia ingat, terakhir kali makan nasi adalah seusai salat Jumat. Setelah itu, hanya ada dua potong gorengan dari bawah tenda angkringannya untuk mengisi perut.

Di tengah kengerian yang menyesakkan, bau nasi dan ayam goreng menyebar sebentar di ruangan.

Nasi itu dibawa oleh ibunda Dion. Perempuan yang sejak Jumat malam menyusuri kecemasan, mencari anaknya yang tak pulang. 

Namun dinding kekuasaan menjaga jarak antarkeduanya. Mereka belum dipertemukan. Bungkus nasi berpindah tangan tanpa wajah, hanya dititipkan petugas.

Polisi yang datang mengantar nasi, kembali menaruh pesan yang sama seperti saat membagikan satu botol air mineral, harus dibagi.

Puluhan tubuh lain duduk di lantai dingin yang merayap sampai tulang. Kertas nasi dibuka, dimakan sesuap, lalu ditutup lagi, dioper ke yang lain, bergiliran.

Dion memilih cara paling sederhana untuk bertahan. Ketika giliran tiba, ia menyuap nasi putih sebanyak mungkin. Tanpa lauk. 

Ia tak mengecap rasa, hanya memastikan ada sesuatu yang masuk, mengganjal perutnya yang semakin perih.

Setelah itu, siang terasa macet. Waktu seperti berhenti di antara dinding dan tubuh-tubuh yang menunduk. Jeda hanya diisi oleh suara detak jam yang memburu.

Ketenangan itu tak lama. Suara lain muncul, seorang aparat datang, berdiri di tengah mereka, memberikan “pembinaan” dengan kata-kata yang mengalir panjang. Tentang aturan, kesalahan, dan ketertiban.

Di telinga Dion, semua terdengar jauh. Kepalanya terlalu penuh oleh lelah untuk menampung makna. Kelopak mata Dion jatuh perlahan. 

Tubuhnya sudah melewati Jumat malam tanpa tidur, diseret hingga Sabtu pagi, lalu dibiarkan duduk menunggu hingga siang.

Tapi, polisi melihatnya terlelap sekejap. Satu pukulan pun mendarat, keras dan singkat, cukup untuk memaksa tubuhnya tersentak bangun.

Pembinaan berhenti sekejap. Tanpa penjelasan, suara itu berjalan lagi. Kalimat-kalimat dilanjutkan dari titik yang sama, seolah pukulan barusan tak pernah terjadi.

Sore, harapan untuk pulang sedikit menyala ketika pintu komunikasi akhirnya dibuka. Namun, gawai Dion telah mati kehabisan daya, memaksanya untuk meminjam telepon milik petugas. Begitu pula tahanan lain.

Di balik “kemurahan hati” itu, terselip syarat yang penting untuk dilakukan. Antrean dibentuk untuk memakai pesawat telepon polisi.

Mereka diminta jongkok satu kaki. Lantai dingin menekan telapak, otot menegang perlahan. Menit merayap, kaki berganti, kanan dan kiri.

Tubuh gemetar tetapi tak boleh jatuh. Terjatuh berarti memberi isyarat bagi petugas untuk memberi pukulan.

Ketika panggilan selesai, ia tak diizinkan berdiri. Ia kembali ke barisan. Jongkok lagi, menunggu lagi sampai semua yang hendak meminjam telepon petugas selesai.

Ambang Cemas dan Pintu yang Tertutup

DI LUAR tembok tahanan, malam bekerja dengan cara lain. Bukan melalui pukulan tanpa alasan, tapi melalui kecemasan kaum ibu. 

Pada Jumat malam, jam-jam ketika Doni, Dion dan puluhan anak lain disiksa, para ibu justru mulai kehilangan bahasa.

Rasa khawatir menjalar dalam benak Dumila—ibu Doni—karena putranya tak pulang. Anaknya itu hanya pamit main sebentar, tapi hingga subuh menyapa di lain hari, pintu rumah tetap tak diketuk.

Ia menghubungi teman-teman anaknya, tapi tak satu pun memberi jawaban. Tak ada telepon dari pihak berwenang. Kabar dari perangkat desa juga nihil. Seolah anaknya lenyap tanpa jejak ditelan malam.

Kabar baru datang keesokan harinya, Sabtu menjelang sore. Nomor asing muncul pada layar gawainya. Suaranya singkat.

“Bu, aku di polres, alun-alun,”

“Loh?”

“Ibu jemput jam empat, enggak boleh telat.”

Dalam satu tarikan napas panjang, beban yang semalaman menekan dadanya runtuh. Bukan karena semuanya selesai, melainkan satu hal paling penting terjawab: anaknya masih hidup.

Di sudut lain Magelang, Sunarti, ibunda Dion, sedang menelan pil pahit pengabaian yang tak termaafkan. 

Absennya pemberitahuan resmi dari aparat membuatnya kehilangan bahasa, terjebak dalam pencarian buntu dari satu rumah kerabat ke pesan-pesan singkat yang berbalas hampa.

“Anakku nginep kono ra lik?”

“Ora neng kene.”

Sunarti baru mendapat titik terang ketika informasi soal penangkapan massal di kotanya singgah di ponsel. 

Tanpa menunggu siapa pun, naluri sebagai ibu membawanya melangkah menuju Polres Magelang Kota.

Setibanya di sana, ia hanya disuguhi beberapa lembar foto oleh petugas yang berjaga. Dia segera mengenali satu dari sekian banyak foto, Dion, anaknya. Namun keinginannya untuk bertemu langsung, ditolak mentah-mentah.

“Sampai jam berapa pak, kira-kira anak saya bisa pulang?”

“Belum tahu bu,” jawab petugas singkat.

Saat perasaannya berkecamuk, satu kesadaran lain menghantamnya: anak-anak di dalam sana belum makan. 

Ia mencari nasi rames dengan lauk sederhana.Nasi itu tak bisa diserahkan langsung, hanya bisa dititipkan lewat tangan petugas yang tadi berjaga.

Di Balik Topeng ‘Parenting’

SABTU sore, Pukul 15.00 WIB. Para orang tua diminta polisi datang menjemput. Syaratnya, mereka dan anak-anak harus mengikuti acara yang disebut “parenting”, sebelum boleh pulang bersama.

Saat itulah, Sunarti dan puluhan orang tua lain baru bisa melihat dan bertemu secara langsung dengan anaknya. 

Ia menyaksikan barisan anak-anak maupun pemuda dewasa keluar menemui mereka dalam kondisi menghancurkan hati: wajah-wajah kucel tak karuan, raga yang layu, hingga kepala terbungkus perban.

Kendati anaknya tak separah yang lain, luka batin Sunarti sebagai ibu tetap menganga. Menyadari di balik sekilas foto yang ditunjukkan tadi siang, ada penderitaan yang disembunyikan rapat-rapat.

Sementara Dumila, memilih tidak ikut dengan suami untuk menjemput Doni. Ia memilih tetap di rumah, menyiapkan air hangat untuk mandi, nasi dan lauk buat makan anaknya saat pulang.

Para orang tua yang menjemput, belum tahu apa yang sesungguhnya terjadi dan menimpa anak-anak mereka. Di kantor polisi, mereka hanya menerima kata-kata rapi: pembinaan, nasihat, peringatan agar lebih hati-hati.

Tak ada cerita pukulan. Apalagi keterangan tentang malam panjang yang dilalui tubuh-tubuh remaja itu.

Doni tidak langsung bercerita malam itu. Ia dan sang ayah baru benar-benar sampai di rumah, Sabtu malam sekitar jam 20.00 WIB. 

Wajahnya capek, badannya kelihatan lelah. Dumila tak banyak tanya. Takut salah waktu dan justru membuatnya makin terbenam.

Air panas sudah disiapkan.

“Sudah, sana mandi, habis itu tidur. Istirahat.”

Anaknya mengangguk. Justru kalimat keheranan muncul dari sang suami.

“Kok dia babak belur ya bu. Bonyok-bonyok bibirnya,” kata ayah Doni kepada sang istri, menceritakan apa yang dilihatnya saat menjemput tadi sore.

Selubung misteri itu baru benar-benar tersingkap keesokan paginya, Minggu 31 Agustus 2025. Ketika rumah kembali menjadi ruang aman, tatkala anak-anak itu duduk tanpa harus siaga.

Dumila memberanikan diri membuka percakapan dengan hati-hati.

“Kamu kok bisa masuk ke polres itu kenapa?”

“Enggak tahu bu. Saya keluar rumah cuma buat COD.”

“Kamu ikut demo? kok bisa?”

Anaknya menggeleng.

“Saya ini enggak ikut demo bu,” ucap Doni.

Ia mengulanginya berkali-kali. Nada suaranya datar, tapi matanya tidak, seperti orang yang sedang berusaha meyakinkan.

Dumila kaget tak kepalang saat sang anak menceritakan apa pun yang dialami saat menginap di kantor polisi. Kata “diamankan”, tak lagi dimaknai sebagai bahasa halus atau sebuah tempat yang akan memberikan perlindungan.

Pada ruang tamu hari Minggu itu, ia justru mendapati kenyataan dingin bahwa sang anak tidak pernah merasa aman.

“Di sana aku disabet bu, punggungku,” kata Doni.

Dia menarik napas panjang, sebelum perlahan-lahan membuka baju yang menutupi tubuhnya.

“Itu diapain kamu mas?”

“Dipukul selang,”

“Selang apa?”

“Selang plastik itu, selang biasa itu, untuk keran, disabetke,”

Mata Dumila seketika memanas saat melihat bilur-bilur merah melintang di punggung dan dada Doni. Ada bekas sabetan tampak begitu perih, serupa kerokan yang dipaksakan.

Ia terperangah, rasa janggal merayapi pikiran. Awalnya, ia sempat berpikir untuk visum. 

Tapi akhirnya urung, karena khawatir biayanya selangit. Dia hanya mengambil ponsel, lalu memotret luka pada tubuh sosok yang dulu ia lahirkan susah payah itu.

Tim Advokasi saat menemui Dion di kediamannya. [Dokumentasi]
Tim Advokasi saat menemui Dion di kediamannya. [Dokumentasi]

Beda dengan Doni. Dion lebih banyak mengurung diri dalam kamar, sepulang dari kantor polisi Sabtu malam. 

Hari pertama berlalu, Dion diam. Hari kedua, masih belum mau cerita. Pun hari ketiga. Sunarti hanya bisa mondar-mandir di rumah dengan pikiran yang tak pernah benar-benar sampai ke mana pun.

Dion hanya meringkuk dalam diam, tenggelam dalam trauma yang membuatnya enggan untuk sekadar bangkit atau memeriksakan luka-luka di tubuhnya.

“Ah rasah,” rintih Dion saat sang ibu mencoba membujuk untuk berobat.

Batin Sunarti berkecamuk, sama seperti Dumila yang ingin membawa anaknya melakukan visum sebagai bukti otentik sebuah kekejaman. 

Namun, niat itu layu sebelum berkembang. Ia terbentur pada tembok ketidaktahuan yang menyesakkan. Sebagai orang kecil di desa, ia merasa buta akan arah dan prosedur hukum.

Kebingungan itu menjelma menjadi kebisuan bagi kedua ibu.

Dumila tak tahu harus melangkah ke mana setelah mendapati luka-luka itu. Sunarti menggambarkan betapa tipisnya harapan bagi orang kecil di desa ketika berhadapan dengan tembok kekuasaan yang kokoh.

Mereka seolah sedang berteriak di dalam ruang kedap suara. Sunarti meratap tentang betapa buntu jalan yang harus ditempuh.

Ketakutan dan kebingungan mulai mencair, ketika pintu rumah mereka diketuk oleh para aktivis Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta.

Tim advokasi saat menemui Doni di rumahnya. [Dokumentasi]
Tim advokasi saat menemui Doni di rumahnya. [Dokumentasi]

Tekanan Berdatangan

DUMILA dan SUNARTI yang ingin mencarikan anaknya keadilan, harus melewati jalan penuh onak. 

Intimidasi datang tak selalu dalam rupa gertakan, tapi hadir melalui ketukan pintu perangkat desa, orang asing mengambil foto rumah tanpa permisi, hingga pesan singkat yang menawarkan ‘tali asih’ sebagai penukar diam.

“Mbok enggak usah diperpanjang. Anak sudah di rumah, sudah sekolah lagi,” ucap seorang perangkat desa.

“Oh enggak bisa!” tegas Dumila.

“Soalnya nanti kan saya juga kebawa-bawa.”

“Kebawa-bawa apa? Saya juga enggak minta tolong jenengan. Saya minta tolong LBH. Saya juga enggak minta surat keterangan tidak mampu. Saya juga enggak minta ambulans, tidak minta apa-apa. Saya sama kelurahan enggak minta apa-apa toh? Ngerepotin apa nanti, kenapa? Kenapa kok kelurahan keberatan kayak begitu?”

“Soalnya ini kan nanti jadi kegowo-gowo gitu lho,”

“Ya enggak apa-apa kegowo-gowo, ngono. Memang kami ini warga. Kegowo-gowo juga bukan yang memalukan to. Anak saya bukan mencuri, bukan yang miras atau narkoba.”

Ada pula tawaran ‘tali asih’ dari kepolisian. Namun Dumila cepat menolaknya mentah-mentah.

Sunarti mendapat perlakuan serupa. Pegawai kelurahan menyuruhnya menyerah, demi reputasi kampung.

Tak ada basa-basi menanyakan kondisi sang anak seusai sederet penganiayaan, justru langsung membujuk agar laporan dihentikan. 

Mereka bilang, langkah hukum yang ia tempuh hanya “proyek” bentukan LBH, sembari menyisipkan peringatan suatu saat keluarganya pasti akan kembali membutuhkan bantuan polisi.

“Wes ra usah, ra usah lanjut (laporan),” kata seorang perangkat desa.

“Iku pancen gaweane LBH ngono kuwi, golek-golek proyek,”

Mendadak cabut laporan

ROYAN Juliazka Chandrajaya adalah lulusan Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin. 

Empat tahun silam ia lulus menjadi sarjana. Berbekal ijazah, ia bisa saja merintis karier di firma-firma hukum kenamaan, menangani kasus-kasus “mentereng”, dan mendapat bayaran mahal. 

Tapi, jiwa aktivisme yang terpupuk ketika masih menjadi mahasiswa, membawanya berpetualang menjadi penasihat hukum di LBH Yogyakarta.

Royan lah yang kali pertama menerima kedatangan orang tua Doni, Senin 15 September 2025. Keduanya mengadukan kabar pedih tentang anak mereka yang tak ikut demonstrasi, tapi pulang membawa luka penganiayaan.

Keesokan hari, Selasa 16 September, Royan bersama orang tua Doni mendatangi Polda Jawa Tengah untuk membuat laporan resmi.

Laporan itu ditujukan kepada Direktorat Reserse Kriminal Umum (Krimum) Polda Jateng, atas dugaan pidana penyiksaan anak di bawah umur. Tak hanya itu, polisi juga diduga menyebar data pribadi Doni. Mereka minta para pelaku diberikan sanksi etik.

Selasa sore, tiga personel Propam Polda Jateng mendatangi rumah Doni untuk melakukan pemeriksaan awal.

Selang sepekan, Selasa 23 September, pemeriksaan lanjutan digelar. LBH Yogya bersikeras menolak pemeriksaan di kantor polisi, demi menjaga psikologis Doni. 

Agenda pengambilan kesaksian dari Doni akhirnya dilakukan Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Magelang.

Royan tak berhenti pada satu kasus itu saja. Sampai Oktober 2025, ia menemui 14 anak-anak yang menjadi korban asal tangkap polisi ketika aksi Agustus.

“Ada 13 dari 14 anak yang mengatakan tidak ikut demonstrasi. Hanya kebetulan ada di sekitar lokasi. Ada yang cuma lewat mau beli rokok. Juga ada yang lagi nongkrong di alun-alun. Satunya lagi mengakui memang mengikuti demonstrasi,” kata Royan. 

Infografis data salah tangkap setelah aksi Agustus oleh Polres Magelang Kota. [Suara.com]
Infografis data salah tangkap setelah aksi Agustus oleh Polres Magelang Kota. [Suara.com]

Kamis 9 Oktober 2025, suara perlawanan bergema dari Kantor LBH Yogyakarta. Lima orang tua korban asal tangkap serta penganiayaan polisi bersepakat mencari keadilan bagi anaknya.

Namun, Rabu 15 Oktober, sehari sebelum laporan massal dilakukan, satu orang tua mencabut kuasa dari LBH Yogyakarta. 

Kata Royan, mereka diintimidasi oleh orang yang mengaku dari Polres Magelang untuk tidak melanjutkan pelaporan. 

“Akhirnya dicabut kuasanya, enggak jadi melaporkan.”

Kamis 16 Oktober, LBH Yogyakarta bersama empat orang tua korban tersisa, berangkat ke Polda Jateng untuk pelaporan.

Sehari setelahnya, gelombang pencabutan kuasa kembali terjadi. Satu per satu orang tua korban mundur. Mereka mengakui intimidasi dan tekanan semakin sering terjadi.

“Rumahnya didatangi, diintimidasi, bahkan ada rumah orang tua korban yang didatangi preman. Sampai tengah malam didatangi preman rumahnya, diancam supaya mencabut laporan.”

Satu per satu nyali dipatahkan. Tak hanya preman yang datang ke rumah, ada pula petugas berbaju rapi, bahkan mereka mengaku sebagai staf bupati.

Hingga akhirnya, hanya tersisa dua keluarga yang teguh berdiri: keluarga Doni dan Dion.

Tak cukup laporan ke Polda Jateng, LBH Yogyakarta turut mengetuk pintu-pintu lembaga negara demi memastikan kasus ini tidak dibiarkan menguap begitu saja. Komnas HAM, KPAI, LPSK, hingga Ombudsman sudah dicolek untuk bisa ikut mengawal kasus ini. 

Royan yakin haqulyakin, rentetan penangkapan anak itu tak memenuhi prosedur hukum. Alih-alih bertindak saat kericuhan pecah, polisi justru melakukan penyisiran saat situasi mulai kondusif dan massa sudah mencair.

Selain kekerasan fisik, pelanggaran paling krusial yang hanya ditemukan di kasus Magelang adalah penyebaran data pribadi secara masif.

Royan menjelaskan, dalam pelaporan, ada dua orang yang harus bertanggungjawab, yakni Kapolres Magelang Kota AKBP Anita Indah Setyaningrum, Kasat Reskrim Polres Magelang Kota Iptu Iwan Kristiana, dan tiga orang polisi lainnya yang namanya sempat disebut beberapa korban anak.

Senin 12 Januari 2026, AKBP Anita Indah baru saja dimutasi menjadi Kapolres Purbalingga. Kini jabatan Kapolres Magelang Kota diemban AKBP Dikri Olfandi.

Infografis data profile korban dan pelaku dalam kasus dugaan penganiayaan di Polres Magelang Kota. [Suara.com]
Infografis data profile korban dan pelaku dalam kasus dugaan penganiayaan di Polres Magelang Kota. [Suara.com]

Martabat Dikuliti di Ruang Digital

RABU sore, 7 Januari 2026. Saya duduk bersila di ruang tamu rumah Ibu Dumila, mencoba menyelami sisa-sisa badai yang belum benar-benar berlalu. 

Ia bercerita, kepedihan sang anak dan juga dirinya tidak terhenti pada sabetan selang, tapi juga stigmatisasi terhadap mereka.

Martabat anak dan keluarganya hancur saat data pribadi disebar tanpa sensor. Identitas lengkap, nama, alamat, hingga foto wajah Doni, beredar luas di grup-grup WhatsApp serta berbagai sosial media lain.

“Apa yang terjadi setelah identitas Doni disebar bu?” tanya saya, dengan sangat berhati-hati.

“Di kampung ini dia terkenal sebagai pendemo anarkis,” jawab Dumila dengan nada sarkastis.

Bisik-bisik tetangga mulai terdengar olehnya, bahwa Doni adalah contoh yang tak baik untuk ditiru.

“Mereka tak pernah melihat Doni saat pulang dari kantor polisi dengan badan penuh luka.”

Sunarti juga mengeluhkan hal yang sama ketika saya datang ke rumahnya, Kamis 7 Januari.

“Persepsine tiyang-tiyang niku bocah sampe kecekel mbuh perkoro opo tetep wis elek. Dicap abang ngoten, dicap elek. Nek tiyang ndusun kan ngoten,” kata Sunarti.

Dia menggerutu, warga menganggap Dion anak nakal sehingga ditangkap polisi—tak peduli bahwa putranya itu tidak mempunyai kesalahan apa pun. 

"Bahkan saya sendiri pasti mengira orang yang ditangkap polisi itu semua penjahat. Benar kan begitu? Mereka pasti orang jahat. Warga tidak mengerti mengapa mereka ditangkap secara salah.”

Label buruk itu seperti noda membandel yang tak mau hilang meski dicuci berulang kali. Segala pembelaan yang para ibu ucapkan hingga mulutnya berbusa sekali pun, tidak akan pernah cukup untuk menghilangkannya.

Karena itulah, Dumila dan Sunarti memilih jalan terjal untuk tidak mencabut laporan dan meneruskan prosesnya.

Mereka tidak sedang memburu materi, melainkan menagih klarifikasi resmi dari aparat soal asal tangkap dan penganiayaan terhadap putra-putranya.

“Selama belum ada klarifikasi dari polres bahwa anak saya enggak bersalah, semua orang masih menganggap anak saya penjahat,” kata Dumila.

Infografis lini masa salah tangkap setelah aksi Agustus oleh Polres Magelang Kota. [Suara.com]
Infografis lini masa salah tangkap setelah aksi Agustus oleh Polres Magelang Kota. [Suara.com]

Yang Tersisa Setelah Kekerasan

Doni tak banyak berbicara saat saya temui di rumahnya, setelah 4 bulan 9 hari mengalami penyiksaan.

“Habis COD ini tadi di sekitar sini mas,” katanya.

“COD apa?”

“Topi. Sering begini. Saya beli, terus dijual lagi. Muter-muter begitu.”

Berbeda dengan Dion. Ketika bertemu, ia bercerita masih menyimpan kecemasan yang muncul tiap kali berpapasan dengan polisi di jalanan atau dalam situasi apa pun.

“Masih sering lewat mapolres?” tanya saya.

“Sanggup sih mas. Tapi saya masih ingat soal interogasi itu.”

Ada rasa was-was, bahwa salah berucap sedikit saja akan membuat tangan-tangan itu kembali melayang ke wajah dan tubuhnya.

“Nek semisal ditakon-takoni polisi isih rada kelingan wae. Samar salah omong terus dikamplengi meneh.”

Ia ingin menuntut keadilan, tapi ada kekhawatiran pula pertemuan dengan petugas berujung ke sel tahanan lagi.

“Khawatir juga kalau membuat nama [keluarga] jelek. Nama saya jelek tidak apa-apa, asal jangan keluarga. Nek kecekel meneh, mengko tambah elek jenenge,” ucapnya.

Kini, Dion tak lagi berada di balik tenda angkringan depan polres. Ibunya telah melarang kembali ke sana demi menjaga sisa-sisa ketenangan yang mereka punya.

Hari-harinya kini dihabiskan untuk membantu keluarga memproduksi abon. Dion kebagian tugas membungkus hingga mengantar pesanan abon ke pelanggan.

Ia tak menuntut banyak hal, tidak berbicara balas dendam, hanya meminta keadilan.

“Nama baik keluarga saya harus dikembalikan.”

-----------------------------

Catatan Redaksi: Nama-nama narasumber dalam artikel ini telah diganti memakai nama samaran. Hal itu atas permintaan narasumber karena alasan keselamatan.


Terkait

Polres Magelang Kota Bantah Tudingan Salah Tangkap dan Penganiayaan Remaja Saat Demo Agustus
Selasa, 10 Februari 2026 | 14:17 WIB

Polres Magelang Kota Bantah Tudingan Salah Tangkap dan Penganiayaan Remaja Saat Demo Agustus

"Kami tidak ada penganiayaan," kata Kasatreskrim Polres Magelang Kota Iptu Iwan Kristiana

Viral Drama Tetangga di Jakbar: Tegur Drummer Berisik, Pria Ini Dicekik, Kini Saling Lapor Polisi
Senin, 09 Februari 2026 | 20:29 WIB

Viral Drama Tetangga di Jakbar: Tegur Drummer Berisik, Pria Ini Dicekik, Kini Saling Lapor Polisi

Peristiwa yang terekam dalam video dan menyebar luas di media sosial ini menyorot konflik antar tetangga yang berujung kekerasan fisik

Bersenjata Celurit, Polisi Tangkap Wali Murid dan Keponakan Usai Aniaya Guru MI di Sampang
Senin, 09 Februari 2026 | 13:29 WIB

Bersenjata Celurit, Polisi Tangkap Wali Murid dan Keponakan Usai Aniaya Guru MI di Sampang

AKP Eko Puji Waluyo menyebut korban berinisial AR, seorang guru MI sekaligus guru bantu di salah satu pondok pesantren

Terbaru
OTT Beruntun Pejabat Pajak-Bea Cukai hingga Hakim: Mengapa Korupsi di RI Jadi Penyakit Menahun?
polemik

OTT Beruntun Pejabat Pajak-Bea Cukai hingga Hakim: Mengapa Korupsi di RI Jadi Penyakit Menahun?

Senin, 09 Februari 2026 | 17:02 WIB

Analisis dari akademisi Universitas Airlangga (Listiyono Santoso dkk) menyebutkan bahwa kultur patrimonial dalam birokrasi menjadi penghambat utama

Gentengisasi Prabowo, Solusi Adem untuk Indonesia atau Mimpi yang Terlalu Berat? polemik

Gentengisasi Prabowo, Solusi Adem untuk Indonesia atau Mimpi yang Terlalu Berat?

Kamis, 05 Februari 2026 | 18:54 WIB

Gentengisasi, di satu sisi menjanjikan estetika dan ekonomi kerakyatan, di sisi lain terbentur masalah teknis, budaya, dan anggaran

Ada Apa di Balik Ngototnya Jokowi Suarakan Prabowo-Gibran Dua Periode? polemik

Ada Apa di Balik Ngototnya Jokowi Suarakan Prabowo-Gibran Dua Periode?

Kamis, 05 Februari 2026 | 12:47 WIB

Pernyataan tegas Jokowi ini ditegaskan kala menanggapi isu Gibran disebut-sebut berpotensi besar jadi calon presiden (capres) 2029.

Nyawa Seharga Buku: Tragedi Siswa SD di NTT, Sesuram Itukah Pendidikan Indonesia? polemik

Nyawa Seharga Buku: Tragedi Siswa SD di NTT, Sesuram Itukah Pendidikan Indonesia?

Rabu, 04 Februari 2026 | 18:24 WIB

Sebelum ditemukan meninggal, sang ibu mengaku telah menasihati YBS agar tetap rajin sekolah meski kondisi ekonomi keluarga sedang sulit

Siasat Jokowi Mati-matian untuk PSI, Ambisi Tiga Periode atau Sekoci Politik Keluarga? polemik

Siasat Jokowi Mati-matian untuk PSI, Ambisi Tiga Periode atau Sekoci Politik Keluarga?

Selasa, 03 Februari 2026 | 18:41 WIB

Di hadapan ratusan kader PSI di Makassar, retorika Jokowi terdengar bak proklamasi. Tak hanya memberi motivasi, tetapi juga janji keterlibatan luar biasa dari seorang presiden

Menyingkap Tabir Pertemuan Jumat Malam Prabowo Jamu 'Tamu Oposisi' di Kertanegara polemik

Menyingkap Tabir Pertemuan Jumat Malam Prabowo Jamu 'Tamu Oposisi' di Kertanegara

Senin, 02 Februari 2026 | 15:59 WIB

Kabar pertemuan Prabowo dengan tokoh oposisi pertama kali diembuskan oleh Menhan Sjafrie Sjamsoeddin

Belajar dari Kasus Hogi, Bagaimana Aturan Membela Diri dari Penjahat Dalam Hukum RI? polemik

Belajar dari Kasus Hogi, Bagaimana Aturan Membela Diri dari Penjahat Dalam Hukum RI?

Jum'at, 30 Januari 2026 | 21:44 WIB

Ada batasan tipis antara menjadi pahlawan dan pelaku kriminal di mata hukum Indonesia

×
Zoomed