Suara.com - Anak muda pemilik akun Tiktok (nama akun disamarkan -Red) yang suka mengunggah video-video permainan game itu, Minggu, 11 Mei 2025, tampaknya tidak sedang sibuk. Ia punya waktu banyak melihat video-video pendek di Tiktok.
Salah satu yang menarik perhatiannya adalah sebuah video baru yang mulai viral. Konten dari akun content creator Indonesia itu berisikan informasi pesawat China yang dikabarkan baru saja menembus blokade udara Israel, menerjunkan bantuan kemanusiaan untuk warga Gaza, Palestina.
“I love u China,” tulisnya segera di kolom komentar video unggahan akun @revans.maulana itu.
![Kolase unggahan di media sosial Tiktok glorifikasi bantuan China ke Gaza. [Kolase Tiktok]](https://media.suara.com/pictures/original/2026/02/28/69333-kolase-unggahan-di-media-sosial-tiktok.jpg)
Entah sadar atau tidak, anak muda Indonesia di atas, faktanya adalah salah satu dari warga Indonesia “korban” konten hoaks atau disinformasi.
Dia tidak sendiri, karena pada video yang sama unggahan akun @revans.maulana itu, dalam rentang tidak begitu lama, ada belasan ribu komentar maupun tanda suka yang diberikan pengguna Tiktok, mayoritas dari Indonesia.
Data per akhir Oktober 2025 saja mencatat, video dari Revans Maulana itu sudah dilihat (di-play) lebih dari 7 juta kali, menuai lebih dari 500 ribu likes, mengundang lebih dari 15 ribu komentar, serta telah dibagikan lebih dari 16 ribu kali. Catatan angka yang masif untuk sebuah konten, hingga layak disebut viral.
Video itu sendiri memasang caption antara lain bertuliskan: "Sejak 2 Maret 2025, Israel menutup seluruh jalur penyeberangan ke Gaza bagi bantuan makanan, obat-obatan, dan bantuan kemanusiaan lainnya... hanya Cina satu-satunya yang bisa menembus blokade Israel tersebut."
Tulisan sticker yang dipasang juga tak kalah 'menggugah', antara lain berisikan: "Satu-satunya negara di dunia yang berani menerobos blokade Israel hanyalah China, demi memberi bantuan kemanusiaan di Palestina. Trimakasi China telah membuat sodara di Gaza tidak menahan sakit dari kelaparan."
Hasil riset di Tiktok pada akhir Oktober 2025, untuk periode Mei hingga Oktober tahun yang sama, memastikan bahwa video tersebut yang kebetulan memang salah satu yang terviral, ternyata bukanlah satu-satunya.
Dengan tema pencarian utama 'bantuan China ke Gaza', ditemukan tidak kurang dari 269 video dengan isi yang kurang lebih sama, serta sebagian besar di antaranya merupakan video daur ulang, bahkan terkategori disinformasi (hoaks).
Khusus terkait hoaks, contoh video viral di atas juga sejatinya bukanlah yang pertama di Tiktok. Dalam periode riset ini saja, salah satu yang termasuk paling awal menayangkan konten bernarasi sejenis "bantuan udara China menembus blokade Israel" itu adalah akun @shakira.xiaohei, yaitu pada 6 Mei 2025. Di videonya terpasang sticker menyolok yang sekaligus muncul sebagai thumbnail, bertuliskan: "Salurkan bantuan ke Gaza, Tiongkok terobos blokade Israel."
Video-video Bantuan Udara China ke Gaza Sudah Di-debunk: Terbukti Hoaks
Sebenarnya, tak lama sejak unggahan serupa di awal Mei 2025, yang antara lain saat itu juga banyak ditemukan di platform milik Meta, seperti Facebook dan Instagram, bahkan sudah ada konten debunking atau hasil verifikasi yang dipublikasikan oleh media dan lembaga-lembaga cek fakta.
Tempo misalnya, pada 9 Mei 2025, sudah memastikan bahwa salah satu video serupa yang ditemukan beredar di Instagram terkategori hoaks.
![Tangkapan layar akun IG Cek Fakta Bantuan China ke Gaza. [Tangkapan layar]](https://media.suara.com/pictures/original/2026/02/28/48019-tangkapan-layar-akun-ig-cek-fakta.jpg)
Dalam artikel cek faktanya, Tempo dengan tegas men-debunk sekaligus melabeli konten video yang dipublikasi pada 6 Mei 2025 itu sebagai hoaks.
Penelusuran menunjukkan bahwa konten yang terdiri dari tiga potongan video berbeda itu, pada dasarnya adalah video lama yang antara lain telah tayang sejak April dan Juni 2024, serta satunya lagi video bantuan UNRWA (Agensi PBB untuk Palestina) dan bukannya pembagian bantuan China.
Tidak hanya Tempo, yang dalam hal ini lebih dari sekali melakukan cek fakta terhadap konten serupa, banyak media atau lembaga lain juga sudah melakukannya. Kompas misalnya, menerbitkan salah satu cek fakta pada 15 Mei 2025. Begitu juga dengan lembaga seperti Mafindo melalui laman Turnbackhoax-nya.
Melalui artikel debunking-nya, Kompas antara lain mengulas soal klaim adanya pesawat Xian Y-20 milik China yang disebut mendarat di Bandara Beirut, Lebanon, pada 29 April 2025, namun diragukan kebenarannya.
Justru yang terkonfirmasi adalah bahwa ada agenda latihan angkatan udara gabungan di Mesir yang diikuti China pada akhir April 2025, yang melibatkan pesawat serupa. Sementara itu konten Mafindo menyajikan tulis ulang dari artikel debunking Tempo, sebagai bagian dari jejaring Kolaborasi Cek Fakta Indonesia.
Sementara dari luar negeri, karena tampaknya konten serupa juga sudah beredar secara global dan memerlukan respon cek fakta, hasil verifikasi atau debunking pun sudah dilakukan oleh sejumlah lembaga/media, antara lain seperti France24 dan juga Snopes.
France24 yang membuat konten cek fakta berformat video, memverifikasi beberapa video sekaligus yang dipastikan hoaks, dengan hasil penelusuran serupa bahwa beberapa adalah video-video lama (2024), serta salah satunya adalah video latihan udara gabungan di Mesir.
Snopes yang mencatat munculnya beberapa video hoaks sekaligus di berbagai platform sejak 10 Mei, juga memastikan bahwa itu hanyalah kolase video-video lama, atau justru tidak terkait dengan bantuan China ke Gaza.
Membongkar Operasi Informasi: Analisis Dataset Tiktok
Sebuah analisis berbasis data yang dilakukan terhadap 269 unggahan TikTok pada periode Mei hingga Oktober 2025 yang kami kumpulkan, mengungkap pola kuat penyebaran konten bertema geopolitik, khususnya terkait China, Gaza, Palestina, dan Israel ini.
Hasil temuan dapat disimpulkan telah menunjukkan indikasi adanya amplifikasi narasi yang terstruktur, dengan pola distribusi, akun, dan tema yang relatif konsisten.
![Dataset unggahan di media sosial Douyin terkait bantuan China ke Gaza. [Tangkapan layar]](https://media.suara.com/pictures/original/2026/02/28/86750-dataset-unggahan-di-media-sosial-douyin.jpg)
Berdasarkan analisis hashtag dari kolom teks dan metadata unggahan, hashtag yang paling sering muncul antara lain: #china (97 kali), #gaza (90 kali), #palestine (60 kali), #freepalestine (34 kali), serta #israel (24 kali). Selain itu, hashtag seperti #fyp, #viral, dan #foryou juga banyak digunakan, yang mengindikasikan strategi optimasi jangkauan algoritmik agar konten lebih mudah masuk ke halaman rekomendasi pengguna.
“Pola ini menunjukkan bahwa konten tidak hanya berorientasi pada ekspresi opini, tetapi juga didesain agar memiliki daya sebar maksimal,” jelas peneliti data independen yang tidak dapat disebutkan namanya, yang juga terlibat dalam analisis ini.
Dengan menggunakan pendekatan network analysis, dapat dipetakan hubungan antar akun berdasarkan kesamaan penggunaan hashtag. Hasilnya menunjukkan bahwa sejumlah akun saling terhubung dalam satu jaringan yang menggunakan kombinasi hashtag serupa secara konsisten.
Pola seperti ini kerap ditemukan dalam kampanye digital terkoordinasi, di mana beberapa akun berfungsi sebagai simpul distribusi untuk memperkuat visibilitas narasi tertentu.
Lebih jauh, melalui analisis Natural Language Processing (NLP), konten dalam dataset dapat dibagi ke dalam beberapa klaster tema utama. Setiap klaster memperlihatkan pola narasi yang konsisten, antara lain:
Pola narasi yang berulang ini memperkuat indikasi bahwa sebagian konten tidak muncul secara acak.
Lantas, mengapa hasil analisis atau temuan ini penting? Setidaknya, studi ini memperlihatkan bagaimana platform media sosial dapat menjadi arena penyebaran narasi geopolitik yang masif, terstruktur, dan sulit dibedakan antara opini organik dan kampanye terkoordinasi.
Fenomena ini memiliki implikasi luas, antara lain: membentuk opini publik, memengaruhi persepsi generasi muda, hingga berpotensi dimanfaatkan untuk operasi informasi lintas negara.
![Perbandingan unggahan postingan terkait bantuan China ke Gaza periode Mei 2025 hingga Oktober 2025 di media sosial Douyin. [Tangkapan layar]](https://media.suara.com/pictures/original/2026/02/28/15113-perbandingan-unggahan-postingan.jpg)
Secara frekuensi, sebagaimana terlihat pada grafik dataset, dapat dilihat jumlah unggahan konten TikTok berdasarkan bulan publikasi selama periode Mei hingga Oktober 2025. Dari sini, dapat disimpulkan antara lain bahwa:
Pertama, ada lonjakan aktivitas yang signifikan pada Mei 2025, yang dapat mengindikasikan: adanya aktivitas yang tidak wajar dibanding periode setelahnya; atau kemungkinan terjadinya peristiwa tertentu yang memicu produksi konten secara masif; atau aktivitas kampanye narasi yang lebih terfokus pada periode tersebut.
Dalam konteks analisis OSINT dan perilaku terkoordinasi, lonjakan seperti ini sering disebut sebagai temporal spike, yaitu peningkatan aktivitas dalam waktu singkat yang dapat mengindikasikan adanya dorongan eksternal (misalnya agenda tertentu, isu viral, atau kampanye naratif).
Kedua, terjadi kenaikan kembali pada September–Oktober 2025, di mana jumlah postingan kembali meningkat secara bertahap dari sekitar 29 pada September, menjadi 42 postingan pada Oktober. Pola ini menunjukkan adanya gelombang kedua aktivitas, meskipun intensitasnya masih lebih rendah dibandingkan Mei.
Sebagai latar belakang, di balik kedua periode lonjakan kemunculan video-video hoaks “bantuan udara China ke Gaza” tersebut, nyatanya ada momentum politik yang berkaitan dengan China.
Pada gelombang awal masifnya peredaran video hoaks di Mei 2025, ada momen Perwakilan Tetap China untuk PBB, Fu Cong, yang pada 13 Mei 2025 berpidato tegas mendesak Israel mencabut blokade bantuan ke Gaza.
Sosok yang sama, pada 4 April 2025, juga sudah tampil dengan pernyataan kerasnya di forum yang sama yaitu di pertemuan Dewan Keamanan PBB.
Sedangkan untuk grafik peredaran yang kembali mulai naik pada September dan makin ramai di Oktober 2025, ada beberapa momen saling berkaitan. Pertama adalah pernyataan tegas Menlu China Wang Yi dalam pertemuan dengan Menlu Maroko Nasser Bourita di Beijing pada 19 September.
Selain menggarisbawahi bencana kemanusiaan yang telah ditimbulkan oleh konflik berkepanjangan itu, Wang Yi juga menyesalkan pelanggaran norma hukum internasional yang masih diperbuat Israel dengan agresi-agresinya. Dia sekaligus menegaskan kembali komitmen China untuk terwujudnya gencatan senjata dan berakhirnya perang di Gaza.
Momentum terkait kedua, terjadi pada 9 Oktober 2025, ketika Donald Trump tampil sebagai "broker" kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas (pejuang Palestina). Gencatan senjata nyatanya memang terjadi dalam kurang dari 2x24 jam kemudian, diikuti pembebasan tawanan oleh kedua belah pihak.
Ini menjadi salah satu momentum penting, yang kemudian kembali terkait dengan China setelah Israel selang beberapa hari nyatanya masih melakukan aksi-aksi militer agresif, termasuk saat membombardir Gaza Selatan pada 19 Oktober.
China pun bereaksi keras, dengan Fu Cong kembali menyampaikan pernyataan tegas mengecam pelanggaran oleh Israel itu di pertemuan Dewan Keamanan PBB.
Selain menggarisbawahi bencana kemanusiaan yang telah ditimbulkan oleh konflik berkepanjangan itu, Wang Yi juga menyesalkan pelanggaran norma hukum internasional yang masih diperbuat Israel dengan agresi-agresinya. Dia sekaligus menegaskan kembali komitmen China untuk terwujudnya gencatan senjata dan berakhirnya perang di Gaza.
Kembali ke grafik penyebaran konten video hoaks, secara keseluruhan dari periode Mei sampai Oktober, secara temporal dapat terlihat: adanya lonjakan ekstrem pada satu periode (Mei 2025); ada fase penurunan aktivitas; dan ada fase reaktivasi bertahap pada bulan berikutnya.
Berdasarkan analisis, pola seperti ini dalam kajian komunikasi digital sering diinterpretasikan sebagai indikasi adanya distribusi narasi yang bersifat terstruktur per periode; aktivitas kampanye berbasis momentum isu; serta bukan sekadar merupakan aktivitas pengguna acak yang stabil sepanjang waktu.
Sementara itu, analisis terhadap jaringan akun pengunggah postingan (author), juga menemukan hal lain yang menguatkan. Yaitu bahwa ini tampaknya bukan network sosial biasa, tetapi bisa disimpulkan sebagai 'narrative similarity network' atau 'coordination via content patterns'.
![Social Network Analysist berdasarkan dataset Tiktok. [Tangkapan layar]](https://media.suara.com/pictures/original/2026/02/28/72009-social-network-analysist.jpg)
Dalam dunia OSINT atau influence research, ini sering dipakai antara lain untuk: mendeteksi coordinated campaigns; memetakan echo chambers; memetakan amplifier network; serta mengidentifikasi "hub accounts". Sederhananya, bisa diyakini bahwa memang ada operasi informasi yang terkoordinasi dari dataset konten Tiktok yang diteliti ini.
Analisis Tambahan dari Gelombang Konten Serupa di Platform Lain
"Pesawat angkut China Y-20 menjatuhkan bantuan melalui udara kepada rakyat Gaza, pesawat itu menjatuhkan harapan, bukan bom," bunyi salah satu narasi yang viral di platform Douyin beberapa bulan lalu, yang kemudian segera bermigrasi ke TikTok Indonesia.
Dari dataset postingan di Douyin --platform serupa Tiktok versi China-- yang juga kami kumpulkan pada Oktober 2025, terdapat setidaknya 159 sampel unggahan terkait 'bantuan Gaza'.
Namun menariknya, melalui kata kunci di pencarian tersebut, bisa terlihat ada cukup banyak konten video 'bantuan udara China ke Gaza' yang justru sudah dipublikasikan lebih lama, setidaknya sejak Juni 2024. Ini membuktikan adanya 'daur ulang' konten.
Dua konten, masing-masing dari akun @XiaoNiZi pada 2 Juni 2024, dan dari akun @Love020 pada 3 Juni 2024 misalnya, menunjukkan video yang berisikan klip-klip serupa dengan yang kemudian banyak bermunculan dan viral pada Mei 2025 lalu.
Terlihat antara lain di dalam video-video tersebut pesawat yang diindikasikan terbang di udara jazirah Arab, penerjunan paket-paket bantuan, juga suasana warga berebut mendapatkan bantuan yang dijatuhkan.
Dari temuan itu, dapat disimpulkan bahwa ada 'peran' Douyin atau setidaknya para pembuat konten di platform itu, sebagai 'dapur produksi' atau sumber utama konten-konten hoaks bantuan udara China ke Gaza' yang kemudian viral.
Bahkan ditemukan dalam platform tersebut bahwa konten tidak saja digerakkan oleh pengguna acak, melainkan oleh juga entitas media mapan seperti Phoenix TV dan Beijing Time, atau akun nasionalis seperti "Talia Loves China".
Phoenix TV adalah media swasta yang masih terafiliasi kuat dengan pemerintah China, antara lain lewat sejarah dan kedekatan pendirinya, Liu Changle, dengan Partai Komunis China (CCP). Belakangan grup media ini juga mayoritas sahamnya akhirnya dimiliki oleh Bauhinia Culture, perusahaan milik pemerintah.
Pun dengan Beijing Times, merupakan nama dari dua media yang sekilas tampak tidak terkait. Pertama adalah Beijing Times yang merupakan surat kabar harian milik People's Daily, koran resminya CCP, namun dikabarkan sudah tidak terbit lagi sejak akhir 2016.
Kedua adalah Beijing Times era digital yang punya akun sosmed seperti disebutkan di atas, situs berita yang online sejak 2023 dan sepertinya tidak terkait dengan surat kabar itu.
Namun seperti ditulis Shannon van Sant di Jamestown.org, situs ini sendiri selain pro-narasi pemerintah (Partai Komunis), juga 'mencurigakan' karena banyak jurnalisnya tidak bisa ditemukan sosok aslinya, sehingga diduga dioperasikan terutama oleh 'mesin' (AI).
Kembali ke data video hoaks yang ditemukan di Douyin, dapat disimpulkan bahwa teknik utama dalam peredaran masif konten-konten viral ini adalah daur ulang konten.
Banyak video yang diklaim sebagai bantuan terbaru pada Mei 2025, sejatinya merupakan rekaman lama dari tahun 2024. Strategi ini dikenal sebagai 'event-driven burst' atau ledakan narasi yang diciptakan secara artifisial tanpa menunggu peristiwa faktual, demi menciptakan momentum psikologis bagi audiens.
Dengan kata lain, dimulai dari sumbernya di Douyin, video-video ini telah dipotong ulang, diberi teks emosional, serta dipadukan dengan audio heroik yang kebanyakan seragam.
Seperti dijelaskan sebelumnya, penyebaran setelah dari Douyin kemudian tidak hanya menggunakan platform serupa yang populer di Indonesia yaitu Tiktok, tetapi juga di platform lain seperti Facebook dan Instagram, begitu juga saluran Youtube.
Di Youtube, melalui pencarian singkat pada periode yang sama misalnya, pada bulan Mei 2025 saja dapat ditemukan sedikitnya publikasi 20 video yang total berhasil mengumpulkan lebih dari 18 juta penayangan (per akhir Oktober 2025).
Bahkan, bisa disimpulkan adanya pola penyebaran yang janggal dan terkoordinasi secara ketat dalam rentang waktu yang sempit, karena ramai khususnya di antara periode 12-24 Mei 2025.
Dalam dataset mini pencarian yang menghasilkan 20 postingan Youtube itu, tercatat setidaknya tiga akun utama sebagai 'mesin penggerak'.
Pertama, akun @warmachine99-n3d, yang mengunggah video pendek pada 20 Mei 2025 berjudul "China Bantu Gaza, Melalui Jalur Udara Terobos Pertahanan Israel", yang kemudian mencatatkan lebih dari 10,7 juta penayangan.
Ada juga akun @Sobatmajelisgabut, yang menjadi salah satu pemicu awal di platform ini pada 12 Mei 2025, yang kemudian sempat mengumpulkan 1,5 juta penayangan (namun konten ini setelah Oktober tampaknya telah diturunkan -Red).
Kemudian, juga ada akun @jettempurindonesia yang menyajikan video berdurasi panjang mengenai strategi militer China menembus pertahanan Israel, yang telah ditonton setidaknya sebanyak 1,2 juta kali.
![Tangkapan layar hoax bantuan china ke Gaza. [Tangkapan layar]](https://media.suara.com/pictures/original/2026/02/28/92044-tangkapan-layar-hoax-bantuan-china-ke-gaza.jpg)
Peristiwa dan Posisi Politik China sebagai Latar Belakang
"Saya kira, jika melihat polanya yang sistematis dan mengandalkan algoritma, besar kemungkinan ada desain. Tetapi (soal) siapa di balik itu, perlu diverifikasi," ungkap pengamat kajian Timur Tengah dari Universitas Indonesia, Syaroni Rofi’i, ketika ditanyakan pendapatnya terkait gelombang video viral tersebut.
Seperti dijelaskan di bagian sebelumnya, waktu kemunculan dari gelombang video yang membanjiri ruang digital di Indonesia itu sendiri, bisa dikaitkan dengan peristiwa di mana Perwakilan Tetap China untuk PBB, Fu Cong, menyampaikan pidato tegas pada 13 Mei 2025. Di situ, Fu Cong melalui pernyataannya, kembali mendesak Israel mencabut blokade bantuan ke Gaza.
Fu Cong sendiri sebelumnya juga sudah tampil di forum yang sama yaitu di depan Dewan Keamanan PBB, pada 4 April 2025. Pada kesempatan itu, ia juga mengungkapkan pernyataan serupa.
“Sejak 2 Maret, ketika Israel memutus aliran pasokan ke Gaza, tidak ada bantuan yang tiba di Gaza selama sebulan penuh. Lebih dari dua juta warga Palestina, yang sudah menderita di Gaza, kini menghadapi krisis kemanusiaan yang mengerikan lainnya,” katanya.
“Pencabutan blokade di Gaza dan pemulihan penuh akses kemanusiaan adalah kewajiban berdasarkan hukum humaniter internasional yang harus dipenuhi Israel sebagai kekuatan pendudukan,” tambah Fu Cong, dalam pernyataan resmi yang secara baik dibuka dengan kalimat menggugah: “Tak lama setelah berakhirnya Ramadan, bulan paling suci bagi umat Muslim di seluruh dunia, Gaza sekali lagi diselimuti kematian dan pembunuhan.”
Pernyataan resmi China di dua momen itulah yang kemungkinan menjadi titik awal latar belakang munculnya gelombang video hoaks 'bantuan udara China ke Gaza' pada Mei 2025.
Selain itu, adanya operasi pengiriman bantuan oleh China lewat Yordania pada Februari 2025, juga dapat menjadi latar belakang peristiwa. Tentunya, termasuk belakangan dengan adanya momentum kebijakan blokade total udara Gaza oleh Israel sendiri, mulai bulan Maret 2025.
Jika ditarik lebih jauh, bukan baru-baru ini saja, tapi China memang dikenal sudah cukup lama berada dalam posisi mendukung Palestina. China misalnya, sejak awal berpegang pada solusi dua negara (two-state solution) dalam konteks masalah Palestina-Israel. China sendiri juga sudah sering mengirimkan bantuan bagi Palestina, bahkan sejak tahun-tahun sebelumnya.
Apa pun itu latar belakangnya, yang jelas dampak dari gelombang video hoaks viral 'bantuan China ke Gaza' dapat terekam jelas di kolom komentar video sejenis di berbagai platform.
Komentar yang berubah menjadi semacam "medan gema" sentimen anti-Barat dan glorifikasi total terhadap China. Narasi ini bisa dikatakan berhasil menciptakan kerangka berpikir baru yang paradoks di benak sebagian penonton Indonesia.
Salah satu akun Indonesia di Tiktok misalnya, pada salah satu video viral tersebut berkomentar: "Heran negara2 yg lain pada takut sama Amerika... Saya salud dan respek sama China..." Sementara akun lainnya menulis: "Sumpah terharu banget aku lihatnya, China sangat peduli dengan Palestina."
"Jika dia bukan saudaramu dalam agama, maka dia adalah saudaramu dalam kemanusiaan," tulis pemilik akun lain berkomentar, dengan menyantumkan nama khalifah Ali Bin Abi Thalib sebagai sumber kutipannya.
![Tangkapan layar komentar di salah satu akun Tiktok yang menuliskan kata-kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib. [Tangkapan layar TikTok]](https://media.suara.com/pictures/original/2026/02/28/72279-tangkapan-layar-komentar-di-salah-satu-akun-tiktok.jpg)
Persepsi senada, jika benar ada di benak jutaan rakyat Indonesia yang notabene tercatat sebagai salah satu pengakses terbesar Tiktok maupun platform media sosial lainnya, otomatis memberi nilai dan citra positif khususnya bagi China.
Baik itu dalam posisi politik globalnya terhadap Palestina atau Timur Tengah secara keseluruhan, maupun dalam memposisikan diri sebagai 'sahabat dekat' warga Indonesia yang dominan Muslim dan dikenal sebagai pendukung setia Palestina.
Sehubungan Tiktok sendiri, warga Indonesia memang adalah pengguna aktif terbesar kedua di dunia, setelah Amerika Serikat.
Total pengguna aktif di Indonesia adalah 108 juta, di mana pengguna aktif Tiktok dari Amerika berjumlah 136 juta, per data awal tahun lalu seperti dirilis DataReportal pada Maret 2025.
Indonesia memang rata-rata masuk 'papan atas' dalam hal pengguna medsos, dengan 122 juta di Facebook (terbesar ketiga), 103 juta di Instagram (keempat), dan 143 juta pengguna aktif Youtube (juga terbesar keempat dunia).
"China tentu melihat Indonesia sebagai salah satu mitra strategis yang perlu digandeng. Isu Palestina (dalam hal ini) sangat dekat dengan komunitas Muslim di Indonesia," komentar Syaroni pula, terkait posisi China dan kemungkinan nilai positif yang didapat negeri itu dari perkembangan tersebut.
"Di era saat ini, propaganda melalui sosial media menjadi elemen penting diplomasi dan propaganda banyak negara," kata Syaroni lagi.
"Perang informasi saat ini menjadi salah satu kunci memenangkan pengaruh global," tambahnya.
(Arsito Hidayatullah)
Posisi pasukan TNI disebut berbahaya karena berpotensi ikut terlibat konflik dengan kelompok Hamas
No free lunch. Pasti akan ada yang dikorbankan untuk mendapatkan bantuan tersebut, mulai dari politik hingga sumber daya alam, ungkap Huda.
Suara.com diserang siber massif, terutama kanal LiKS dalam 72 jam terakhir. Serangan DDoS juga terjadi, mencapai 285 juta dalam 1,5 jam, berasal dari berbagai negara.
Posisi pasukan TNI disebut berbahaya karena berpotensi ikut terlibat konflik dengan kelompok Hamas
polemik
185 bangunan lapangan padel di Jakarta ternyata berdiri tanpa izin resmi, beberapa bahkan mengganggu aktivitas warga
polemik
Ungkapan tersebut terasa seperti lelucon pahit nan satir yang lahir dari kelelahan warga negara
polemik
Mimpi pemuda 22 tahun yang baru lulus sekolah pelayaran itu terancam sirna di ujung palu hakim PN Batam
polemik
Lontaran isu ini berawal dari permintaan mantan Ketua KPK Abraham Samad kepada Presiden Prabowo Subianto
nonfiksi
Tak semua tahu, 15 kilometer jauhnya, di Gerbang Rumah Tahanan Negara Kelas I Pondok Bambu, Jakarta Timur, kebebasan itu tak langsung diberikan ke Laras.
nonfiksi
Ada hantu bergentayangan di Indonesiahantu Anarkisme! Polisi mencoba menggelar eksorsisme, kaumnya diburu, tapi ia tak mau pergi.