Motif di Balik Riset Fiktif Peneliti WNI di Denmark
Home > Detail

Motif di Balik Riset Fiktif Peneliti WNI di Denmark

Bangun Santoso | Lilis Varwati

Kamis, 28 Mei 2026 | 20:51 WIB

Suara.com - Sebuah forum ilmiah internasional di Kopenhagen, Denmark, yang semestinya menjadi ruang bertemunya para peneliti dunia untuk membahas pneumonia dan penyakit pneumokokus, mendadak berubah menjadi sumber polemik.

Bukan karena hasil riset terobosan, melainkan dugaan pemalsuan penelitian yang menyeret sejumlah nama asal Indonesia.

Kasus itu mula-mula bergerak senyap di lingkaran akademik. Namun percikannya cepat membesar setelah sejumlah akademisi Indonesia membahas dugaan kejanggalan presentasi ilmiah dalam forum International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026.

Satu unggahan di platform Threads kemudian membuat isu tersebut melompat keluar dari ruang kampus dan masuk ke linimasa publik.

Nama-nama yang disebut dan diduga lakukan pemalsuan itu di antaranya Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti. Nama Prihantini bahkan terkonfirmasi sebagai penerima beasiswa LPDP.

Dugaan yang muncul berlapis, mulai dari validitas data penelitian, penggunaan afiliasi akademik yang dipertanyakan, hingga dugaan penggunaan abstrak ilmiah demi memperoleh travel grant konferensi internasional.

Dalam hitungan hari, kasus itu berkembang menjadi perdebatan yang lebih besar soal integritas akademik Indonesia.

Yang membuat kasus ini sensitif bukan semata dugaan riset palsu itu sendiri, melainkan tempat kejadiannya. Forum ilmiah internasional selama ini dipandang sebagai etalase kredibilitas peneliti dan institusi akademik sebuah negara.

Karena itu, ketika dugaan manipulasi muncul di ruang semacam itu, kekhawatiran yang ikut muncul bukan hanya soal individu yang terlibat, tetapi juga reputasi komunitas ilmiah Indonesia secara keseluruhan.

Di tengah maraknya penggunaan kecerdasan buatan atau AI dalam dunia akademik, kasus ini juga memunculkan diskusi lama yang kembali relevan yakni tentang budaya publikasi instan, obsesi sertifikat konferensi, hingga lemahnya pengawasan terhadap integritas penelitian.

Sejumlah akademisi menilai kasus ini menjadi alarm bahwa etika riset tidak lagi bisa diperlakukan sekadar formalitas administrasi kampus.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengatakan pemerintah ikut memantau dugaan pemalsuan riset yang dilakukan peneliti Indonesia di konferensi ilmiah di Kopenhagen tersebut.

Menurut Brian, berdasarkan informasi awal yang diperoleh pemerintah, pihak-pihak yang ramai disebut dalam kasus itu tidak tercatat sebagai dosen atau peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia.

Berdasarkan informasi awal yang kami peroleh, pihak-pihak yang disebut dalam kasus ini tidak terindikasi sebagai dosen atau peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia,” kata Brian.

Brian menegaskan bahwa pemalsuan riset merupakan bentuk pelanggaran serius terhadap integritas akademik dan etika penelitian.

Simbol Status dan Penyalahgunaan AI

Kasus dugaan pemalsuan riset oleh sejumlah WNI di Denmark juga memunculkan perdebatan lebih luas soal budaya akademik dan penggunaan kecerdasan buatan atau AI dalam dunia penelitian.

Peneliti kesehatan global dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, menyebut persoalan tersebut bukan lagi sekadar pelanggaran biasa, melainkan sudah masuk kategori scientific misconduct atau pelanggaran integritas ilmiah berat.

Menurut Dicky, salah satu akar masalahnya adalah berubahnya orientasi publikasi ilmiah.

Forum internasional, travel grant, hingga status pembicara disebut mulai dipandang sebagai simbol prestise sosial, bukan lagi bagian dari proses ilmiah yang sehat.

Kondisi itu kemudian memicu maraknya praktik paper mill, ghost writing, jurnal predator, hingga manipulasi sitasi.

Ia juga menyoroti penggunaan AI yang dinilai makin memperumit persoalan. Dicky menegaskan AI pada dasarnya hanya alat bantu dan masih bisa digunakan secara etis untuk grammar, coding statistik, brainstorming, maupun visualisasi data.

Namun praktik itu berubah menjadi fraud ketika AI dipakai untuk membuat data palsu atau penelitian fiktif.

“Yang penting viral, bisa jalan-jalan keluar negeri, jadi orientasi ilmunya berubah jadi pencitraan,” kata Dicky.

Dicky mengingatkan reputasi akademik dibangun dalam waktu panjang dan bisa runtuh bila kasus-kasus semacam itu tidak direspons serius lewat investigasi maupun sanksi tegas.

Reputasi Akademik Indonesia Dipertaruhkan

Ilustrasi dugaan riset fiktif peneliti RI. (Dok. Suara.com)
Ilustrasi dugaan riset fiktif peneliti RI. (Dok. Suara.com)

Di tengah ramainya perbincangan soal dugaan riset palsu itu, muncul kekhawatiran lain yang lebih besar, bagaimana dunia akademik internasional melihat kredibilitas peneliti Indonesia?

Polemik yang awalnya ramai di media sosial Indonesia ternyata ikut dibahas di lingkungan akademik luar negeri, termasuk di Australia.

Dicky mengatakan kasus tersebut memang menjadi bahan pembicaraan karena pihak-pihak yang disebut sebelumnya dipandang sebagai representasi peneliti muda Indonesia di forum internasional.

"Kalau diperbincangkan ya ada beberapa ya, karena tentu, karena harapannya ya sebagai peneliti muda, apalagi dari lembaga yang kredibel begitu,” ujarnya.

Meski begitu, Dicky menegaskan akademisi luar negeri tidak serta-merta menggeneralisasi kasus tersebut kepada seluruh peneliti Indonesia.

Menurutnya, komunitas riset internasional memiliki mekanisme verifikasi dan jejaring kolaborasi yang jauh lebih ketat, terutama di kalangan peneliti senior yang sudah lama membangun reputasi ilmiah lintas negara.

“Mereka juga punya mekanisme yang lebih ketat, juga punya networking yang jauh lebih lama, khususnya untuk para peneliti yang sudah senior,” ujarnya.

Dicky mengaku kasus tersebut tetap menimbulkan rasa malu sebagai bagian dari komunitas peneliti global Indonesia.

Namun ia menilai rekam jejak kolaborasi internasional yang selama ini dibangun para akademisi Indonesia masih menjadi faktor penting yang membuat dunia ilmiah tidak langsung memukul rata seluruh peneliti dari Indonesia.

Menurutnya, riset dengan standar tinggi umumnya dilakukan secara multi center dengan keterlibatan peneliti dari berbagai universitas dan negara yang sudah memiliki reputasi global.

Ancaman Sanksi dan Pencabutan Gelar

Di tengah polemik yang terus bergulir, pemerintah mulai menyinggung kemungkinan sanksi terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat dalam pemalsuan riset di konferensi ilmiah di Denmark.

Menteri Diktisaintek Brian Yuliarto mengatakan dugaan pelanggaran tersebut tidak bisa dipandang ringan karena berkaitan dengan integritas akademik dan etika penelitian.

Brian menjelaskan pemerintah tidak dapat langsung menjatuhkan sanksi pencabutan gelar tanpa proses pemeriksaan lebih dulu.

Menurutnya, status penelitian, tujuan riset, hingga posisi akademik pihak yang terlibat harus ditelusuri secara mendalam sebelum ada keputusan lebih lanjut.

“Hal ini perlu dilihat terlebih dahulu berdasarkan status penelitian yang dilakukan, tujuan penelitian tersebut, serta status subjek yang bersangkutan,” kata Brian.

Ia mengingatkan aturan mengenai pencabutan gelar sebenarnya sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi.

Dalam aturan tersebut, gelar akademik, vokasi, maupun profesi dapat dicabut apabila karya ilmiah yang digunakan untuk memperoleh gelar terbukti merupakan hasil plagiat atau jiplakan.

Namun, menurut Brian, ketentuan itu tidak otomatis bisa diterapkan pada semua kasus dugaan fraud penelitian.

Pemerintah tetap harus berkoordinasi dengan kampus atau lembaga asal untuk memastikan apakah riset yang dipermasalahkan memang berkaitan langsung dengan proses memperoleh ijazah atau gelar akademik.

“Apabila penelitian tersebut ternyata tidak dilakukan dalam rangka memenuhi kewajiban akademik untuk memperoleh ijazah atau gelar, maka ketentuan dalam UU Pendidikan Tinggi tidak serta-merta dapat digunakan sebagai dasar pencabutan ijazah atau gelar,” ujarnya.

Karena itu, pemerintah kini masih fokus melakukan pendalaman terhadap status akademik para pihak yang disebut dalam kasus tersebut serta kaitan penelitian yang dipersoalkan dengan sistem pendidikan formal di Indonesia.


Terkait

Dugaan Riset Palsu WNI di Denmark Ikut Jadi Perbincangan di Australia
Kamis, 28 Mei 2026 | 16:30 WIB

Dugaan Riset Palsu WNI di Denmark Ikut Jadi Perbincangan di Australia

Kasus dugaan riset palsu peneliti Indonesia di forum ilmiah Denmark disebut ikut diperbincangkan akademisi luar negeri, termasuk di Australia.

Ada Penipuan Berkedok Nonton Dracin, Ini Modusnya
Kamis, 28 Mei 2026 | 10:57 WIB

Ada Penipuan Berkedok Nonton Dracin, Ini Modusnya

Satgas PASTI kembali menindak tegas praktik investasi ilegal dan penipuan online yang meresahkan masyarakat.

Terbaru
Negara Tak Boleh Jadi Algojo, Mengapa Menteri Pigai Larang Polisi Tembak Mati Begundal?
polemik

Negara Tak Boleh Jadi Algojo, Mengapa Menteri Pigai Larang Polisi Tembak Mati Begundal?

Senin, 25 Mei 2026 | 22:02 WIB

Kondisi ekonomi yang sulit dan ketimpangan yang tajam di wilayah aglomerasi menciptakan lahan subur bagi tindak kejahatan

Ekonomi Pancasila Prabowo, Kemandirian Bangsa atau Monopoli? polemik

Ekonomi Pancasila Prabowo, Kemandirian Bangsa atau Monopoli?

Jum'at, 22 Mei 2026 | 16:35 WIB

Prabowo menegaskan arah kebijakan fiskal ke depan akan berlandaskan pada mazhab Ekonomi Pancasila

Heboh Pernyataan Prabowo 'Rakyat Desa Tak Pakai Dolar', Strategi Tenangkan Warga atau Gaslighting? polemik

Heboh Pernyataan Prabowo 'Rakyat Desa Tak Pakai Dolar', Strategi Tenangkan Warga atau Gaslighting?

Rabu, 20 Mei 2026 | 13:26 WIB

Pernyataan sang Kepala Negara itu disampaikan pertama kali di momen pidato sambutannya saat peresmian Museum dan Rumah Singgah Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur

Ketika Aktor Asing Bermain di Narasi "Antek Asing" polemik

Ketika Aktor Asing Bermain di Narasi "Antek Asing"

Senin, 18 Mei 2026 | 22:10 WIB

Peristiwa besar nasional dikaitkan dengan "peran" asing di baliknya, mungkin bukan hal baru. Tapi ini soal operasi FIMI di balik demonstrasi Agustus-September 2025 lalu.

Polemik Laut China Selatan Kini Jadi Perang Dingin Digital, Bagaimana Nasib Natuna? video

Polemik Laut China Selatan Kini Jadi Perang Dingin Digital, Bagaimana Nasib Natuna?

Sabtu, 16 Mei 2026 | 17:27 WIB

Laut China Selatan yang adalah kawasan strategis jalur dagang itu belakangan tidak lagi sekadar jadi lahan pertikaian fisik, tapi juga perang informasi digital.

Polemik Laut China Selatan Masuki Babak Baru Lewat Perang Propaganda Digital, Bagaimana Indonesia? polemik

Polemik Laut China Selatan Masuki Babak Baru Lewat Perang Propaganda Digital, Bagaimana Indonesia?

Jum'at, 15 Mei 2026 | 23:55 WIB

Bukan lagi sekadar arena adu otot kapal perang atau saling klaim wilayah, polemik Laut China Selatan (LCS) belakangan sudah memasuki medan perang digital. Seperti apa?

Operasi Plastik Digital: Bagaimana AI dan Citra 'Gemoy' Kini Juga Merambah Asia Tenggara polemik

Operasi Plastik Digital: Bagaimana AI dan Citra 'Gemoy' Kini Juga Merambah Asia Tenggara

Jum'at, 15 Mei 2026 | 22:05 WIB

Inilah realitas baru demokrasi di sekitar kita, tidak saja seperti yang telah berlangsung di Indonesia, tapi kini juga dipraktikkan di negara Asia Tenggara seperti Filipina.

×
Zoomed