Suara.com - Laut China Selatan (LCS). Kawasan strategis seluas 3,5 juta kilometer persegi ini belakangan bukan lagi sekadar arena konflik fisik antarnegara. Saat ini, perairan yang menjadi jalur bagi sekitar 30% perdagangan global ini telah berubah menjadi medan tempur baru, yaitu perang informasi digital.
Mulai dari layar bioskop, hingga aplikasi di ponsel, ada narasi-narasi halus yang diduga coba disisipkan untuk melegitimasi klaim kedaulatan --dalam hal ini klaim China terkait 9 atau 10 garis putus-putus (nine-dash atau ten-dash line) batas wilayahnya. Seperti apa? Simak paparan selengkapnya dalam video di atas.
Data/naskah: Tim Liputan Khusus Suara. Olah video: NotebookLM.
Sumber data: riset kolaborasi lintas negara (Suara, Kompas, Cilisos/Malaysia, PressOne/Filipina)
Rombongan Donald Trump membuang barang pemberian China sebelum naik pesawat.Apa yang terjadi?
Bukan lagi sekadar arena adu otot kapal perang atau saling klaim wilayah, polemik Laut China Selatan (LCS) belakangan sudah memasuki medan perang digital. Seperti apa?
Presiden Donald Trump menyelesaikan kunjungan tiga hari ke Beijing setelah melakukan pembicaraan tingkat tinggi dengan Presiden Xi Jinping.
Donald Trump dan Xi Jinping sepakat Selat Hormuz harus tetap terbuka demi menjaga arus energi global saat bertemu di Beijing.
Di balik narasi hijau menyelamatkan Taman Nasional Tesso Nilo, ribuan warga kecil kini kehilangan segalanyamulai dari rumah, kebun, hingga anggota keluarga dipenjara.
polemik
Sejumlah kementerian dan lembaga berbondong-bondong mengajukan tambahan anggaran kepada DPR RI. Nilainya tidak kecil, mulai dari ratusan miliar hingga puluhan triliun rupiah
polemik
Semua diawali saat sekelompok muda mengatasnamakan diri BEM Bersatu secara tiba-tiba menggelar konferensi pers pada Selasa, 16 Juni 2026
polemik
Barita Simanjuntak membantah anggapan bahwa lahan hasil penertiban otomatis akan dialihkan menjadi perkebunan sawit.
polemik
Noel memberikan penekanan khusus bahwa situasi saat ini berisiko menyerupai peristiwaReformasi 1998jika tidak segera diantisipasi oleh Kepala Negara
polemik
Trauma puluhan tahun itu mengkristal menjadi sebuah ketegasan: laut bukan tempat untuk masa depan anaknya.
polemik
Nama-nama yang disebut dan diduga lakukan pemalsuan itu di antaranya Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti