Suara.com - Rencana pengiriman ribuan pasukan TNI ke Gaza di bawah bendera International Stabilization Force (ISF) memicu perdebatant. Di balik niat menjaga stabilitas, tersimpan risiko besar yang menanti para prajurit di lapangan, terutama karena misi ini secara fundamental berbeda dari misi helm biru PBB yang selama ini dijalankan Indonesia.
Tugas utama yang dibebankan kepada TNI dan pasukan negara lain adalah demiliterisasi Hamas, sebuah perintah yang menempatkan mereka di jalur tabrakan langsung dengan faksi perlawanan utama Palestina tersebut.
Beda Misi, Beda Risiko: Ini Bukan Pasukan Helm Biru PBB
Penting untuk dipahami, pasukan ISF tidak berada di bawah kendali Dewan Keamanan PBB. Misi ini merupakan inisiatif dari Board of Peace (BoP), sebuah dewan yang dibentuk di era Presiden AS Donald Trump. Meskipun DK PBB telah memberikan dukungan, mandat dan aturan pelibatannya sangat berbeda.
Menurut pakar, misi ini bukanlah peacekeeping (menjaga perdamaian), melainkan lebih mendekati combat mission (misi tempur).
"Ini baru pertama kali kita ikut dalam 'combat mission', bukan 'peacekeeping forces'. Tentara Indonesia akan menghadapi Hamas," tegas Ketua Centra Initiative, Al Araf kepada Suara.com.
Perintah Melucuti Hamas: Titik Didih Konflik

Salah satu dari enam tugas utama ISF adalah terlibat dalam demiliterisasi Gaza, yang secara spesifik berarti menghancurkan infrastruktur militer dan melucuti persenjataan Hamas. Tugas ini sejalan dengan syarat yang berulang kali ditegaskan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Para ahli menilai tugas inilah yang menjadi sumber risiko terbesar bagi TNI.
"Selain pelucutan senjata, yang berisiko itu soal penghancuran terowongan. Itu bisa memicu perang kota yang merepotkan pasukan Indonesia," kata Muradi, pakar pertahanan dari Universitas Padjajaran sebagaimana disitat dari BBC Indonesia.
Sikap Hamas pun sudah jelas. Mereka tidak akan meletakkan senjata sebelum kemerdekaan Palestina terwujud dan telah memberi peringatan keras.
"Hamas menyatakan, 'Eh tentara Indonesia jangan masuk ke zona tengah, jangan ke sini. Akan berhadapan'," kata Al Araf, menggarisbawahi potensi bentrokan yang hampir tak terhindarkan.
Jebakan 'Rekonstruksi' dan Ancaman Perang Terowongan
Agenda lain yang diusung BoP adalah rekonstruksi Gaza. Namun, para pengamat melihat ini sebagai kamuflase untuk tugas yang lebih berbahaya, yakni menghancurkan jaringan terowongan Hamas yang kompleks di bawah tanah. Terowongan ini adalah basis strategi dan pertahanan utama Hamas.
Upaya menghancurkan terowongan dengan dalih rekonstruksi hampir pasti akan mendapat perlawanan sengit.
"Kata Hamas, 'Ini basis perlawanan gue, lu kemudian hancurkan untuk dalih rekonstruksi?' Ya pasti dilawan dong," jelas Al Araf.
Risiko Kehilangan Netralitas dan Posisi Sulit TNI
Dengan tugas yang secara eksplisit menargetkan Hamas, posisi netral Indonesia yang selama ini dijaga dalam politik luar negeri bebas aktif menjadi taruhannya.
Muradi menyatakan bahwa terlibat dalam demiliterisasi Hamas secara konsep akan menempatkan Indonesia pada posisi tidak netral dan tidak sejalan dengan konstitusi.
Selain itu, pasukan TNI juga berisiko terjebak di antara dua kekuatan. Saat ini, 80% wilayah Gaza sudah dikuasai militer Israel (IDF), sementara sisa 20% di Rafah menjadi basis penduduk Palestina dan Hamas. Kehadiran TNI di tengah zona konflik aktif ini sangat rentan.
"Jadi kalau tentara dibawa ke sana saya kasihan, nanti bisa mati konyol, lalu kemudian nggak ada aturan main, risikonya tinggi," ujar Al Araf.
Melihat kompleksitas dan bahaya yang ada, muncul seruan kuat agar pemerintah mempertimbangkan kembali keputusan ini secara matang, bahkan DPR didesak untuk meminta penjelasan langsung dari Presiden.
Namun, Dave mengingatkan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan agar tidak lengah.
Komarudin Watubun soroti keikutsertaan RI di Board of Peace tanpa persetujuan DPR dan dampak anggaran pengiriman pasukan.
Dalam video yang beredar, terlihat sejumlah anak laki-laki dikumpulkan di ruang terbuka dan diberi pembinaan oleh aparat.
"Indonesia secara gamblang menjadi bagian dari blok politik dagang aliansi Amerika," ujar Isnur.
185 bangunan lapangan padel di Jakarta ternyata berdiri tanpa izin resmi, beberapa bahkan mengganggu aktivitas warga
polemik
Ungkapan tersebut terasa seperti lelucon pahit nan satir yang lahir dari kelelahan warga negara
polemik
Mimpi pemuda 22 tahun yang baru lulus sekolah pelayaran itu terancam sirna di ujung palu hakim PN Batam
polemik
Lontaran isu ini berawal dari permintaan mantan Ketua KPK Abraham Samad kepada Presiden Prabowo Subianto
nonfiksi
Tak semua tahu, 15 kilometer jauhnya, di Gerbang Rumah Tahanan Negara Kelas I Pondok Bambu, Jakarta Timur, kebebasan itu tak langsung diberikan ke Laras.
nonfiksi
Ada hantu bergentayangan di Indonesiahantu Anarkisme! Polisi mencoba menggelar eksorsisme, kaumnya diburu, tapi ia tak mau pergi.
polemik
Salinan ijazah terlegalisir yang dipakai Calon Presiden di Pilpres 2014 dan 2019, tulis Bonatua