TNI Dikirim ke Gaza, Misi Damai atau Jebakan Perang Maut Lawan Hamas?
Home > Detail

TNI Dikirim ke Gaza, Misi Damai atau Jebakan Perang Maut Lawan Hamas?

Bangun Santoso | Novian Ardiansyah

Jum'at, 27 Februari 2026 | 19:16 WIB

Suara.com - Rencana pengiriman ribuan pasukan TNI ke Gaza di bawah bendera International Stabilization Force (ISF) memicu perdebatant. Di balik niat menjaga stabilitas, tersimpan risiko besar yang menanti para prajurit di lapangan, terutama karena misi ini secara fundamental berbeda dari misi helm biru PBB yang selama ini dijalankan Indonesia.

Tugas utama yang dibebankan kepada TNI dan pasukan negara lain adalah demiliterisasi Hamas, sebuah perintah yang menempatkan mereka di jalur tabrakan langsung dengan faksi perlawanan utama Palestina tersebut.

Beda Misi, Beda Risiko: Ini Bukan Pasukan Helm Biru PBB

Penting untuk dipahami, pasukan ISF tidak berada di bawah kendali Dewan Keamanan PBB. Misi ini merupakan inisiatif dari Board of Peace (BoP), sebuah dewan yang dibentuk di era Presiden AS Donald Trump. Meskipun DK PBB telah memberikan dukungan, mandat dan aturan pelibatannya sangat berbeda.

Menurut pakar, misi ini bukanlah peacekeeping (menjaga perdamaian), melainkan lebih mendekati combat mission (misi tempur).

"Ini baru pertama kali kita ikut dalam 'combat mission', bukan 'peacekeeping forces'. Tentara Indonesia akan menghadapi Hamas," tegas Ketua Centra Initiative, Al Araf kepada Suara.com.

Perintah Melucuti Hamas: Titik Didih Konflik

Ribuan TNI disiapkan untuk dikirim ke Gaza dalam misi perdamaian program BoP. (Dok. Suara.com)
Ribuan TNI disiapkan untuk dikirim ke Gaza dalam misi perdamaian program BoP. (Dok. Suara.com)

Salah satu dari enam tugas utama ISF adalah terlibat dalam demiliterisasi Gaza, yang secara spesifik berarti menghancurkan infrastruktur militer dan melucuti persenjataan Hamas. Tugas ini sejalan dengan syarat yang berulang kali ditegaskan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

Para ahli menilai tugas inilah yang menjadi sumber risiko terbesar bagi TNI.

"Selain pelucutan senjata, yang berisiko itu soal penghancuran terowongan. Itu bisa memicu perang kota yang merepotkan pasukan Indonesia," kata Muradi, pakar pertahanan dari Universitas Padjajaran sebagaimana disitat dari BBC Indonesia.

Sikap Hamas pun sudah jelas. Mereka tidak akan meletakkan senjata sebelum kemerdekaan Palestina terwujud dan telah memberi peringatan keras.

"Hamas menyatakan, 'Eh tentara Indonesia jangan masuk ke zona tengah, jangan ke sini. Akan berhadapan'," kata Al Araf, menggarisbawahi potensi bentrokan yang hampir tak terhindarkan.

Jebakan 'Rekonstruksi' dan Ancaman Perang Terowongan

Agenda lain yang diusung BoP adalah rekonstruksi Gaza. Namun, para pengamat melihat ini sebagai kamuflase untuk tugas yang lebih berbahaya, yakni menghancurkan jaringan terowongan Hamas yang kompleks di bawah tanah. Terowongan ini adalah basis strategi dan pertahanan utama Hamas.

Upaya menghancurkan terowongan dengan dalih rekonstruksi hampir pasti akan mendapat perlawanan sengit.

"Kata Hamas, 'Ini basis perlawanan gue, lu kemudian hancurkan untuk dalih rekonstruksi?' Ya pasti dilawan dong," jelas Al Araf.

Risiko Kehilangan Netralitas dan Posisi Sulit TNI

Dengan tugas yang secara eksplisit menargetkan Hamas, posisi netral Indonesia yang selama ini dijaga dalam politik luar negeri bebas aktif menjadi taruhannya.

Muradi menyatakan bahwa terlibat dalam demiliterisasi Hamas secara konsep akan menempatkan Indonesia pada posisi tidak netral dan tidak sejalan dengan konstitusi.

Selain itu, pasukan TNI juga berisiko terjebak di antara dua kekuatan. Saat ini, 80% wilayah Gaza sudah dikuasai militer Israel (IDF), sementara sisa 20% di Rafah menjadi basis penduduk Palestina dan Hamas. Kehadiran TNI di tengah zona konflik aktif ini sangat rentan.

"Jadi kalau tentara dibawa ke sana saya kasihan, nanti bisa mati konyol, lalu kemudian nggak ada aturan main, risikonya tinggi," ujar Al Araf.

Melihat kompleksitas dan bahaya yang ada, muncul seruan kuat agar pemerintah mempertimbangkan kembali keputusan ini secara matang, bahkan DPR didesak untuk meminta penjelasan langsung dari Presiden.


Terkait

Ancaman Nyata dari AS hingga AI: Bagaimana RI Menjaga 'Benteng' Pembangunan Nasional di 2026?
Kamis, 26 Februari 2026 | 20:28 WIB

Ancaman Nyata dari AS hingga AI: Bagaimana RI Menjaga 'Benteng' Pembangunan Nasional di 2026?

Namun, Dave mengingatkan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan agar tidak lengah.

PDIP Kritik RI Gabung Board of Peace Tanpa Persetujuan DPR, Singgung Biaya 8.000 Pasukan
Kamis, 26 Februari 2026 | 12:10 WIB

PDIP Kritik RI Gabung Board of Peace Tanpa Persetujuan DPR, Singgung Biaya 8.000 Pasukan

Komarudin Watubun soroti keikutsertaan RI di Board of Peace tanpa persetujuan DPR dan dampak anggaran pengiriman pasukan.

Viral Anak Perang Sarung di Kebumen Kena 'Binaan' Aparat TNI, KemenPPPA: Hindari Hukuman Fisik
Kamis, 26 Februari 2026 | 10:16 WIB

Viral Anak Perang Sarung di Kebumen Kena 'Binaan' Aparat TNI, KemenPPPA: Hindari Hukuman Fisik

Dalam video yang beredar, terlihat sejumlah anak laki-laki dikumpulkan di ruang terbuka dan diberi pembinaan oleh aparat.

Dari Gerakan Non Blok ke Aliansi Amerika, Indonesia Tak Lagi Bebas Aktif Gegara ART dan BoP?
Kamis, 26 Februari 2026 | 03:31 WIB

Dari Gerakan Non Blok ke Aliansi Amerika, Indonesia Tak Lagi Bebas Aktif Gegara ART dan BoP?

"Indonesia secara gamblang menjadi bagian dari blok politik dagang aliansi Amerika," ujar Isnur.

Terbaru
Song Wat, Sisi Lain Bangkok yang Bikin Teringat Blok M
polemik

Song Wat, Sisi Lain Bangkok yang Bikin Teringat Blok M

Rabu, 26 Agustus 2026 | 12:28 WIB

Menyusuri Song Wat di Bangkok, dengan suasana yang mengingatkan pada Blok M, tempat masa lalu dan gaya hidup baru bertemu.

Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo polemik

Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo

Kamis, 30 Juli 2026 | 16:00 WIB

Mengungkap kejanggalan di balik kematian Sutrimo, Karumga eks Jampidsus Febrie Adriansyah di Desa Wlahar, Banyumas. Dari pengawasan CCTV mendadak hingga pengintai misterius.

Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman polemik

Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman

Kamis, 30 Juli 2026 | 15:38 WIB

Tidak seorang pun dari rombongan pengantar jenzah Sutrimo memperkenalkan identitas ataupun menjelaskan dari instansi mana.

Kami Ireng Tapi Bukan Londo, Menjawab Cap Antek Asing dari Podium Kekuasaan polemik

Kami Ireng Tapi Bukan Londo, Menjawab Cap Antek Asing dari Podium Kekuasaan

Senin, 27 Juli 2026 | 18:33 WIB

MTI menilai persoalan mendasar dari pernyataan Prabowo bukan semata pada legalitas ucapan, melainkan implikasinya yang sangat destruktif bagi kualitas demokrasi

Gratis Tapi Mahal, Mengapa RI Nekat Terima Hibah Kapal Induk Tua Italia? polemik

Gratis Tapi Mahal, Mengapa RI Nekat Terima Hibah Kapal Induk Tua Italia?

Jum'at, 24 Juli 2026 | 18:36 WIB

Meski keputusan ini diambil secara bulat, proses persetujuan sebelumnya sempat diwarnai kritik tajam terkait prosedur yang mendadak serta kekhawatiran akan beban anggaran

Misteri Emas 74 Kg di Rumah Eks Jampidsus, Benarkah Barang Titipan? polemik

Misteri Emas 74 Kg di Rumah Eks Jampidsus, Benarkah Barang Titipan?

Rabu, 15 Juli 2026 | 17:20 WIB

Pernyataan Febrie Adriansyah yang menyebut emas tersebut sudah ada pemiliknya justru menjadi titik penting dalam proses pembuktian

Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo polemik

Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:59 WIB

Di balik narasi hijau menyelamatkan Taman Nasional Tesso Nilo, ribuan warga kecil kini kehilangan segalanyamulai dari rumah, kebun, hingga anggota keluarga dipenjara.

×
Zoomed