Memoar Aktivis 98 yang Diculik (2): Hendrawan dan Cerita Secangkir Kopi
Home > Detail

Memoar Aktivis 98 yang Diculik (2): Hendrawan dan Cerita Secangkir Kopi

Reza Gunadha

Rabu, 22 Mei 2019 | 08:10 WIB

Suara.com - Semua orang, jahat ataupun baik, kini bisa meneguk kebebasan yang dijanjikan oleh demokrasi. Namun, 21 tahun sebelumnya, sekelompok pemuda mahasiswa harus bersusah payah, mengorbankan nyawa, hingga tak diketahui rimbanya untuk merebut kebebasan tersebut.

Ketika rezim Soeharto berusaha mempertahankan kekuasaannya medio 90-an, 13 aktivis prodemokrasi yang rata-rata masih berusia awal 20 tahun hilang diculik. Hingga kekinian, mereka belum ditemukan.

Salah satu aktivis yang hingga kekinian dinyatakan hilang setelah diculik aparat pada medio 1990-an adalah mahasiswa universitas Airlangga bernama Herman Hendrawan.

Herman Hendrawan, hilang pada 12 Maret 1998. Ia terakhir terlihat di gedung Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).

Adalah Lilik Hastuti Setyowatiningsih, seorang perempuan yang aktif menjadi aktivis Prodemokrasi pada era 1990-an, menceritakan sejumput kisah kenang-kenangannya dengan Hendrawan. Berikut kisahnya.

SOSOKNYA unik. Berkacamata tebal. Hem panjang dilipat di pergelangan. Rapi, tapi tak pernah ganti. Bajunya itu-itu saja. Kadang sampai tercetak hitam di lipatan tengkuknya.

Ia menjabat erat tanganku waktu aku pertama datang ke Surabaya. Kami bertemu di kontrakan buruh, mendiskusikan rencana pemogokan.

Logat Herman sangat khas, logat Bangka dengan cengkok Surabaya. Kadang terdengar aneh dan lucu, tapi ia pede saja. Ya, pede, itu nama tengah Herman.

Herman pernah menjadi ketua SMPT Unair, pengurus HMI, lalu menjadi salah satu pendiri SMID (Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi—ormas mahasiswa progresif yang dilarang Orde Baru) Surabaya.

Herman teman diskusi yang asyik. Teman berantem yang menarik. Saling mengolok, adalah hiburan kami kala lelah di Surabaya.

Tapi, ada satu yang tak kami suka, Herman joroknya minta ampun. Aku pernah kesal minta ampun. Pagi bangun tidur membuat kopi, itu satu kemewahan, apalagi sambil baca buku atau koran pagi.

Suatu hari, bangun tidur di sekretariat, aku cuma menemukan kopi setengah sendok di dapur. Aku menjerang air, untuk membuat kopi setengah gelas.

Kopinya cuma cukup untuk setengah. Kuseruput, ah, panasnya kurang ajar! Tukang koran melempar koran di depan pintu.

Aku bergegas menghampiri. Baca koran, sambil minum kopi. Kemewahan mana lagi bisa kaurasa pada zaman sedurjana sulitnya seperti saat itu?

Herman Hendrawan, hilang pada 12 Maret 1998. Ia terakhir terlihat di gedung Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).
Herman Hendrawan, hilang pada 12 Maret 1998. Ia terakhir terlihat di gedung Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).

Tapi eh, di salah satu sudut sekretariat, kulihat Herman cengar-cengir sambil memegang gelas kopiku. Sudah tandas. Ya tandas! Dan aku menatap nanar.

“Man, jancok koennnnn!!!” dan Herman cuma cengar-cengir.

Lha enak. Bangun tidur, eh ada kopi panas!”

Aku gondok seubun-ubun. Koran kulempar dan tepat kena mukanya. Sedih sesedih-sedihnya.

Beli kopi lagi? Ha-ha-ha mana bisa. Uang seratus perak pun mendingan buat ongkos naik bemo ke basis buruh.

Berhari-hari kemudian, Herman datang dengan motor butut entah pinjaman siapa.

“Ayok mangan!”, ayo makan katanya.

Aku tertegun, “Wis talah. Onok sego bebek enak...”, baiklah ada nasi bebek yang enak.

Herman Hendrawan, hilang pada 12 Maret 1998. Ia terakhir terlihat di gedung Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).
Herman Hendrawan, hilang pada 12 Maret 1998. Ia terakhir terlihat di gedung Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).

Akhirnya, siang itu, gondok seubun-ubun yang kurasakan gara-gara kopi itu musnah dibayar sepiring besar nasi bebek pinggiran kali Kedung Tarukan.

Aku tak pernah lupa, Herman memegang toa, memimpin barisan ketika aksi pemogokan buruh Tandes 8-9 Juli 1996. Suaranya menggelegar. Keringat berlelehan. Mukanya merah padam ditimpa panas matahari.

Lalu aksi diserang. Dibubarkan. Puluhan kami ditangkapi. Menginap di polres, polda, dan kami masih tertawa-tawa.

Tahu apa asyiknya digelandang ke polda beramai-ramai? Karena kami bisa makan sebungkus nasi Padang!

Tanggal 22 Juli 1996 Partai Rakyat Demokratik dideklarasikan di Jakarta. Kami mendengar kabar dengan hati girang.

Partai yang kami bangun bertahun-tahun, di tengah situasi represif, di tengah undang-undang organisasi massa yang tidak memungkinkan partai lain selain Golkar, PDI dan PPP, akhirnya bisa berdiri dan deklarasi.

Manifesto politik dibacakan. “Tidak ada demokrasi di Indonesia...”, begitu pada alinea pertama manifesto kami. Dada kami menggembung bangga. Meski hanya membaca lewat kabar semata. Tapi itu pun tak lama. Pecah peristiwa 27 Juli 1996. Teror menyapu penjuru kota.

Setelahnya, Herman diinstruksikan ke Jakarta. Dari sekretariat kami di Surabaya, aku masih persis mengingat adegan itu.

Surat laporan bawan tanah yang ditulis oleh Herman Hendrawan.
Surat laporan bawah tanah yang ditulis oleh Herman Hendrawan.

Herman dan Rendro pergi, hendak naik kereta ke Jakarta. Herman mengenakan hem panjang warna merah. Menyandang tas hitam besar berisi pakaian. Dua bungkus nasi—isi telor dadar, udang goreng dan sambal—jadi bekal mereka.

Aku masih mengenang ketika badannya yang besar melangkah menuju jalan besar. Bahunya kukuh. Langkahnya lebar.

Ia menengok, tertawa-tawa kecil, sambil membenarkan letak kacamata tebal yang melorot ke hidungnya. Ia meninggalkan Surabaya dalam situasi genting. Ia berpesan untuk menjaga kawan-kawan.

Aku tak pernah lupa adegan itu. Menjaga kawan, itu doktrin kami nomor satu. Hingga kini, doktrin itu masih menndarah daging. Merasuk hingga tulang sumsum dan barangkali akan kupegang hingga mati.

Tanggal 12 Maret 1998, Komite Nasional Perjuang Demokrasi (organisasi yang juga dinyatakan terlarang oleh Soeharto) menggelar konferensi pers di kantor YLBHI. Konferensi pers KNPD itu sebagai respons pidato pertanggungjawaban Soeharto di hadapan sidang MPR.

Kala itu, aku bertemu Herman di Lorong kecil depan toilet di YLBHI. Menyapa sebentar. Situasi tak cukup aman.

Lalu kami tak lagi bertemu, hingga hari ini. Ia hilang diculik!

Seusai acara di YLBHI, bersama Raharja Waluya Jati dan Faisol Riza, Hendrawan diculik. Jati dan Riza dipulangkan. Mereka mengakui sempat bertemu Herman di kamp penyiksaan. Tapi Herman tetap tak pulang.

Man, aku kangen senandung lagu Widurimu. Aku kangen umpatan jancok-mu yang agak ganjil dan aneh dengan logat Bangka-mu itu.

Jika hari ini kau masih bersama-sama kami, berapa gelas kopi milikku yang kauhabiskan pun, aku ikhlas, Man. Aku tak akan gondok dan menimpukmu dengan koran lagi!

Sehat dan bahagia kamu, ya Man, di mana pun kamu berada.


Terkait

Sehari Puasa Ramadan Bersama Jemaah Ahmadiyah
Jum'at, 17 Mei 2019 | 08:10 WIB

Sehari Puasa Ramadan Bersama Jemaah Ahmadiyah

Kami syariatnya sama, Alqurannya sama, Rasulullahnya Nabi Muhammad SAW. Haji, kami juga sama ke Mekah, bukan ke London. Kakek nenek saya Ahmadiyah juga haji.

Tradisi Puasa Bahai, Agama Persia yang Tumbuh di Indonesia
Rabu, 15 Mei 2019 | 08:10 WIB

Tradisi Puasa Bahai, Agama Persia yang Tumbuh di Indonesia

Dalam agama Bahai, juga diwajibkan berpuasa. Namun, berpuasa penganut Bahai hanya 19 hari, berbeda dengan puasa Ramadan bagi umat Islam.

Membongkar Mitos, Mereka Ingin Ganja Dilegalkan di Indonesia
Senin, 06 Mei 2019 | 08:15 WIB

Membongkar Mitos, Mereka Ingin Ganja Dilegalkan di Indonesia

"Anak ini duduk di kursi roda sudah 14 tahun. Tiga hari pertama setelah memakai ekstrak ganja, tiba-tiba dia bisa menggerakkan jari, katanya.

Sulitnya Orang Yahudi Ortodoks Indonesia Dapat Makanan Halal
Senin, 29 April 2019 | 08:05 WIB

Sulitnya Orang Yahudi Ortodoks Indonesia Dapat Makanan Halal

Kaum Yudaisme tidak mengonsumsi daging babi dan anjing. Sama halnya Islam, dalam kepercayaan Yudaisme, daging babi dan anjing haram untuk dimakan.

Terbaru
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
polemik

Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:59 WIB

Di balik narasi hijau menyelamatkan Taman Nasional Tesso Nilo, ribuan warga kecil kini kehilangan segalanyamulai dari rumah, kebun, hingga anggota keluarga dipenjara.

Ramai-ramai Berburu Anggaran di Senayan, Efisiensi Prabowo Cuma Omon-omon? polemik

Ramai-ramai Berburu Anggaran di Senayan, Efisiensi Prabowo Cuma Omon-omon?

Jum'at, 19 Juni 2026 | 21:10 WIB

Sejumlah kementerian dan lembaga berbondong-bondong mengajukan tambahan anggaran kepada DPR RI. Nilainya tidak kecil, mulai dari ratusan miliar hingga puluhan triliun rupiah

Siapa di Balik BEM Bersatu? Mengaku Kelompok Mahasiswa, Tapi Dicap Gaib Oleh Kampus polemik

Siapa di Balik BEM Bersatu? Mengaku Kelompok Mahasiswa, Tapi Dicap Gaib Oleh Kampus

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:38 WIB

Semua diawali saat sekelompok muda mengatasnamakan diri BEM Bersatu secara tiba-tiba menggelar konferensi pers pada Selasa, 16 Juni 2026

Kedok Pemulihan Hutan: Benarkah Satgas PKH Hanya Membuka Jalan Bisnis Sawit Agrinas? polemik

Kedok Pemulihan Hutan: Benarkah Satgas PKH Hanya Membuka Jalan Bisnis Sawit Agrinas?

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41 WIB

Barita Simanjuntak membantah anggapan bahwa lahan hasil penertiban otomatis akan dialihkan menjadi perkebunan sawit.

Geger Isu '98 Jilid 2', Benarkah Situasi Politik Saat Ini Mirip Era Reformasi? polemik

Geger Isu '98 Jilid 2', Benarkah Situasi Politik Saat Ini Mirip Era Reformasi?

Senin, 08 Juni 2026 | 20:04 WIB

Noel memberikan penekanan khusus bahwa situasi saat ini berisiko menyerupai peristiwaReformasi 1998jika tidak segera diantisipasi oleh Kepala Negara

Nyawa Lebih Murah dari Harga Ikan? Kisah Pahit Awak Kapal di Balik Perjuangan Ratifikasi ILO K-188 polemik

Nyawa Lebih Murah dari Harga Ikan? Kisah Pahit Awak Kapal di Balik Perjuangan Ratifikasi ILO K-188

Senin, 08 Juni 2026 | 10:26 WIB

Trauma puluhan tahun itu mengkristal menjadi sebuah ketegasan: laut bukan tempat untuk masa depan anaknya.

Motif di Balik Riset Fiktif Peneliti WNI di Denmark polemik

Motif di Balik Riset Fiktif Peneliti WNI di Denmark

Kamis, 28 Mei 2026 | 20:51 WIB

Nama-nama yang disebut dan diduga lakukan pemalsuan itu di antaranya Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti

×
Zoomed