Sulitnya Orang Yahudi Ortodoks Indonesia Dapat Makanan Halal
Home > Detail

Sulitnya Orang Yahudi Ortodoks Indonesia Dapat Makanan Halal

Reza Gunadha | Erick Tanjung

Senin, 29 April 2019 | 08:05 WIB

Suara.com - Menjadi Yahudi saja di Indonesia sudah berat, karena harus merahasiakan identitasnya. Apalagi harus menganut agama Yudaisme ortodoks, karena untuk makan penganan halal atau kosher pun susah didapat. Namun, iman mereka menuntun pada “jalan sempit” tapi tak mustahil untuk dilewati.

AWAN hitam menyelimuti langit di Barat Jakarta petang itu. Jalanan macet setelah diguyur hujan sejak sore.

Seorang perempuan menunggu di sebuah apartemen, ia menjemput tamu di lobi dan membawa ke ruangan yang berada di lantai 26. 

Perempuan berambut hitam panjang bernama Elisheva Dinar Prasasti Wiriaatmadja itu ramah menyambut Erick Tanjung—jurnalis Suara.com. Eli memberitahu ruangan itu adalah basecamp komunitas Yahudi Ortodoks di Jakarta.

Dalam pantri terpajang berbagai macam bahan masakan kosher atau halal versi penganut Yudaisme. Ada bumbu-bumbu, minyak goreng, minyak zaitun, keju, coklat, roti, saos, kecap dan sebagainya.

Kemudian dalam peti es menumpuk sejumlah daging sapi, ikan dan ayam kosher. Bahan makanan kosher itu sengaja distok banyak untuk kebutuhannya dan komunitas.

Rata-rata makanan kosher itu ia datangkan dari luar. Ada yang dari Singapura, Thailand, Australia dan Amerika Serikat. Sebab, makanan kosher sulit mereka dapatkan di Indonesia.

Namun, ada beberapa produk Indonesia yang kosher ia peroleh di beberapa supermarket Jakarta. da minyak goreng, coklat, dan keju.

Seperti produk halal Islam, setiap produk makanan kosher juga ada label yaitu OU atau huruf U dalam lingkaran.

Eli lantas menjamu Erick untuk makan roti dibalut keju kosher. Sebelum makan, Eli mencuci tangan di wastafel menggunakan cawan dari logam.

Bagi seorang Yahudi Ortodoks, mencuci tangan sebagai simbol penyucian memunyai aturan khusus.

Tidak boleh dua telapak tangan bersentuhan, sehingga Eli membasuh telapak tangannya satu per satu secara bergantian memakai air dari cawan.

Saat mencuci tangan ia melafalkan doa. Kemudian sebelum makan roti, ia juga mengucapkan doa dalam bahasa Ibrani.

“Baruch atah Adonai, Eloheinu melech ha-olam, hamotzi lechem min ha-aretz (Kami memuji Engkau, Allah yang Kekal, yang berdaulat atas alam semesta, yang menghasilkan roti dari bumi),” rapal Eli.

Ruang utama berisi rak-rak berwarna putih yang menempel di dinding. Rak-rak itu tempat sejumlah peralatan yang biasa digunakan untuk ibadah Sabat dijejerkan.

Menorah—kandil lilin bercabang dari logam—yang digunakan saat makan-makan dan berdoa, Cawan Eliyahu buat memulai Sabat, Kipah—kopiah khas orang Yahudi—dan beberapa ornamen lain rapi dipajang pada rak tersebut.

Eli menuturkan, satu unit pada apartemen itu sudah bisa disebut sinagog, karena juga digunakan untuk berkumpul dan beribadah.

Unit apartemen ini sangat privat, tapi terbuka bagi penganut Yudaisme yang sedang berada di Jakarta kalau ingin sembahyang atau sekadar makan.

Tempat makan sangat penting bagi Yahudi ortodoks. Sebab, cukup sulit bagi mereka untuk mencari makanan kosher bila sedang berada di Jakarta.

“Kami bikin basecamp ini supaya nanti kalau ada Yahudi traveler datang ke Jakarta, dia kan susah mencari makanan kosher. Nah kami terbuka untuk mereka makan di sini,” kata Eli.

Tantangan Selain Anti-Yahudi

Tinggal di Indonesia pada zaman kiwari, cukup sulit bagi penganut Yudaisme yang taat. Salah satu kendala selain sentimen anti-Yahudi dari kelompok mayoritas adalah, langkanya makanan kosher.

Mereka sulit menemukan makanan kosher di swalayan atau pasar-pasar tradisional, sehingga harus impor.

“Kalau mau jadi Yahudi ortodoks yang taat hidup di Indonesia, susah. Soalnya makanan kami kan harus kosher, sementara di sini susah untuk mendapatkan makanan kosher. Jadi harus mengambil dari Singapura, ambil dari Bangkok Thailand,” terangnya.

Elisheva Dinar Prasasti Wiriaatmadja, menunjukkan salah satu bahan makanan khoser atau halal bagi kaum Yudaisme. [Suara.com/Erick Tanjung]
Elisheva Dinar Prasasti Wiriaatmadja, menunjukkan salah satu bahan makanan khoser atau halal bagi kaum Yudaisme. [Suara.com/Erick Tanjung]

Elisheva menjelaskan, makanan sangat penting bagi Yudaisme. Setiap perayaan hari raya Yahudi identik dengan makan-makan.

Agama yang paling banyak peringatan hari rayanya adalah Yahudi. Setiap bulan selalu ada peringatan hari raya.

Seperti hari raya Purim, mereka rayakan dengan pesta pora, makan-makan dan minum-minum sampai mabuk.

Meminum minuman beralkohol sampai mabuk saat hari raya Purim itu bagian dari ritual ibadah Yahudi.

Elisheva Dinar Prasasti Wiriaatmadja, menunjukkan salah satu bahan makanan khoser atau halal bagi kaum Yudaisme. [Suara.com/Erick Tanjung]
Elisheva Dinar Prasasti Wiriaatmadja, menunjukkan salah satu bahan makanan khoser atau halal bagi kaum Yudaisme. [Suara.com/Erick Tanjung]

Hal itu untuk memperingati sejarah bangsa Yahudi yang hendak dibantai oleh suatu kaum yang menghasut raja Mesir kala itu.

Kaum yang menghasut raja untuk membunuh orang-orang Yahudi ketika itu  melakukan pesta pora dengan minum-minum sampai mabuk. Atas peristiwa bersejarah itu, Yahudi memperingati hari raya Purim.  

“Hari raya yang tidak ada makan-makan saat bulan Tisha b’av, itu saat puasa,” tuturnya.

Rabbi Singapura 3 Bulan Sekali Datang Potong Ayam

Penganut Yudaisme makan daging juga harus kosher. Untuk mendapatkan daging kosher, seperti ayam harus dipotong oleh rabi atau tokoh agamanya.

Sekitar tiga bulan sekali, mereka mendatangkan enam rabi dari Singapura ke Indonesia khusus untuk memotong ayam. Jumlahnya tidak sedikit, biasanya sampai sebanyak 2.000 ekor ayam yangg dipotong.

Setelah ayam-ayam itu dipotong, baru dikirim ke orang-orang pemeluk Yudaisme yang tersebar di beberapa daerah, seperti Medan, Jepara, Surabaya, Bali dan lainnya. 

“Kami ada beberapa rabi dari Singapura yang diundang untuk memotong ayam. Ada kepala rabi dan rabi yang masih junior. Karena memotong ayam itu untuk menjadi kosher ada doa-doa dan tata caranya,” ujar Eli.

Ia menuturkan, kaum Yudaisme di Indonesia terpaksa harus mendatangkan rabi dari Singapura hanya untuk memotong ayam, karena belum ada pemuka agama dari Indonesia.

Seseorang untuk menjadi rabi harus lebih dulu bersekolah di Yeshiva sejak usia 6 tahun. Yeshiva, atau sekolah untuk menjdi rabi, hanya ada di Israel atau di New York, Amerika Serikat.

“Belum orang Yahudi Indonesia penganut Yudaisme lulusan Yeshiva yang dididik menjadi rabi sejak kanak-kanak,” tuturnya.

Selain itu, untuk memotong ayam, tata cara Yahudi harus menggunakan pisau khusus. Jadi sekali gesekan leher ayam langsung putus. Dalam kepercayaan Yudaisme, binatang yang disembelih jangan sampai merasakan sakit.

Hampir sama seperti hukum Islam, dalam menyembelih binatang tidak boleh sampai kesakitan, maka penyembelihan memakai  pisau paling tajam.

“Jadi pisaunya juga khusus, harus yang paling tajam. Memotongnya harus memakai pisau yang sekali gesekan leher ayam putus, sehingga ayam yang dipotong tidak merasa kesakitan,” tutur dia.

Selain itu, untuk daging sapi kosher, mereka mendatangkan dari Singapura. Daging-daging sapi kosher itu juga bukan dipotong di Singapura, namun di Australia.

“Untuk daging sapi kami mengambil dari Singapura. Tapi Singapura tidak memotong sendiri, mereka mengimpor dari Australia,” ucapnya.

Bahkan untuk ikan pun tidak semuanya kosher. Khusus untuk ikan, yang bisa menilai kosher atau tidak hanya rabi mereka.

Elisheva Dinar Prasasti Wiriaatmadja, menunjukkan salah satu bahan makanan khoser atau halal bagi kaum Yudaisme. [Suara.com/Erick Tanjung]
Salah satu bahan makanan khoser atau halal bagi kaum Yudaisme. [Suara.com/Erick Tanjung]

Kaum Yudaisme tidak mengonsumsi daging babi dan anjing. Sama halnya Islam, dalam kepercayaan Yudaisme, daging babi dan anjing haram untuk dimakan.

Namun, makanan yang berasal langsung dari tanah seperti sayur-sayuran dan buah-buahan dianggap kosher.

Karenanya, kalau tidak bisa mendapatkan makanan kosher di Indonesia, yang paling aman bagi mereka adalah mengonsumsi makanan lokal, seperti gado-gado, pecal, rujak atau makanan vegetarian.

“Bahan makanan dari tanah seperti sayur-sayuran itu pasti kosher,” kata dia.


Terkait

TBC Menghantui Pengguna Kereta Komuter di Ibu Kota?
Rabu, 24 April 2019 | 08:05 WIB

TBC Menghantui Pengguna Kereta Komuter di Ibu Kota?

Jadi ada kemungkinan saya tertular dari kereta komuter itu. Sebab, setelah dari itu saya mulai batuk, kondisi badan benar-benar ngedrop, berat badan turun, ucapnya.

Kaum Yahudi Ortodoks di Jakarta: Melawan Stigma, Meretas Jalan Pengakuan
Rabu, 10 April 2019 | 08:05 WIB

Kaum Yahudi Ortodoks di Jakarta: Melawan Stigma, Meretas Jalan Pengakuan

"Artis-artis Indonesia yang keturunan Yahudi di Indonesia sebenarnya banyak," tuturnya.

Doa dan Lara Tersemat di Guratan Jamari, Pelukis Terakhir Bak Truk
Rabu, 03 April 2019 | 08:05 WIB

Doa dan Lara Tersemat di Guratan Jamari, Pelukis Terakhir Bak Truk

Mau ngapain lagi hidup mas, buat apa dipaksa. Kalau yang kuasa belum berkehendak, sudah, mengalir saja, tutur Jamari.

Aksi Lelaki Misterius di Sekitar Lokasi Debat Keempat Pilpres 2019
Sabtu, 30 Maret 2019 | 18:18 WIB

Aksi Lelaki Misterius di Sekitar Lokasi Debat Keempat Pilpres 2019

"Kupikir, Indonesia butuh Pemimpin yang bisa membawa bangsa ini melampaui bangsa Yahudi."

Terbaru
Polemik Laut China Selatan Kini Jadi Perang Dingin Digital, Bagaimana Nasib Natuna?
video

Polemik Laut China Selatan Kini Jadi Perang Dingin Digital, Bagaimana Nasib Natuna?

Sabtu, 16 Mei 2026 | 17:27 WIB

Laut China Selatan yang adalah kawasan strategis jalur dagang itu belakangan tidak lagi sekadar jadi lahan pertikaian fisik, tapi juga perang informasi digital.

Polemik Laut China Selatan Masuki Babak Baru Lewat Perang Propaganda Digital, Bagaimana Indonesia? polemik

Polemik Laut China Selatan Masuki Babak Baru Lewat Perang Propaganda Digital, Bagaimana Indonesia?

Jum'at, 15 Mei 2026 | 23:55 WIB

Bukan lagi sekadar arena adu otot kapal perang atau saling klaim wilayah, polemik Laut China Selatan (LCS) belakangan sudah memasuki medan perang digital. Seperti apa?

Operasi Plastik Digital: Bagaimana AI dan Citra 'Gemoy' Kini Juga Merambah Asia Tenggara polemik

Operasi Plastik Digital: Bagaimana AI dan Citra 'Gemoy' Kini Juga Merambah Asia Tenggara

Jum'at, 15 Mei 2026 | 22:05 WIB

Inilah realitas baru demokrasi di sekitar kita, tidak saja seperti yang telah berlangsung di Indonesia, tapi kini juga dipraktikkan di negara Asia Tenggara seperti Filipina.

Siapa Aktor Di Balik Pembubaran Nobar Film Pesta Babi? polemik

Siapa Aktor Di Balik Pembubaran Nobar Film Pesta Babi?

Jum'at, 15 Mei 2026 | 17:33 WIB

Padahal, Menko Kumham dan Imipas Yusril Ihza Mahendra menegaskan pemerintah tidak pernah mengeluarkan larangan nobar film Pesta Babi

Nalar yang Hilang di Kamar Kos, Menguak Tabir Tragedi 11 Bayi di Sleman polemik

Nalar yang Hilang di Kamar Kos, Menguak Tabir Tragedi 11 Bayi di Sleman

Selasa, 12 Mei 2026 | 21:25 WIB

Ada 11 bayi yang ditemukan tengah dititipkan. Sebagian besar lahir dari orang tua yang memilih menjauh dari peran pengasuhan sejak awal

Geger Guru Honorer Dilarang Mengajar 2027, Dihapus atau Diangkat? polemik

Geger Guru Honorer Dilarang Mengajar 2027, Dihapus atau Diangkat?

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:32 WIB

Isu guru honorer tak bisa lagi mengajar setelah 31 Desember 2026 sama juga ke telinga Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti

Srikandi Jalanan: Melawan Lelah dan Stigma Demi Masa Depan Buah Hati nonfiksi

Srikandi Jalanan: Melawan Lelah dan Stigma Demi Masa Depan Buah Hati

Jum'at, 01 Mei 2026 | 11:15 WIB

Hari Buruh yang diperingati setiap 1 Mei menjadi pengingat bahwa di balik statistik dan angka-angka itu, ada wajah-wajah seperti Sari, Ira, dan Ivany.

×
Zoomed