Saat 'Banteng' Melunak di Retret Kepala Daearah: Ada Apa Di Baliknya?
Home > Detail

Saat 'Banteng' Melunak di Retret Kepala Daearah: Ada Apa Di Baliknya?

Bimo Aria Fundrika | Muhammad Yasir

Selasa, 25 Februari 2025 | 08:28 WIB

Suara.com - Sembilan belas kepala daerah dari PDIP tiba di Kompleks Akademi Militer (Akmil), Magelang, Jawa Tengah, untuk mengikuti retret pada Senin, 24 Februari 2025. Salah satunya Gubernur Jakarta, Pramono Anung.

Kedatangan mereka disambut Wakil Menteri Dalam Negeri sekaligus Kepala Sekolah Magelang Retret, Bima Arya Sugiarto.

“Hari ini kita mulai mengikuti retret,” ujar Pramono. Ia dan rombongan baru hadir di hari keempat acara.

Gubernur Jakarta Pramono Anung menyampaikan pidatonya usai melakukan Serah Terima Jabatan di Jakarta, Kamis (20/2/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]
Gubernur Jakarta Pramono Anung menyampaikan pidatonya usai melakukan Serah Terima Jabatan di Jakarta, Kamis (20/2/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]

Keterlambatan ini berkaitan dengan instruksi Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Lewat Surat Nomor: 7294/IN/DPP/II/2025, Megawati meminta seluruh kepala daerah PDIP menunda perjalanan.

Surat itu terbit Kamis, 20 Februari 2025, beberapa jam setelah KPK menahan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto dalam kasus suap komisioner KPU Wahyu Setiawan yang melibatkan buronan Harun Masiku.

Sejumlah pihak menilai surat itu sebagai bentuk perlawanan politik.

Surat Instruksi Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri. [Dok]
Surat Instruksi Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri. [Dok]

Sebelum berangkat ke Magelang, Pramono dikabarkan menemui Megawati di Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, pada Jumat, 21 Februari 2025. Ia mengonfirmasi kehadirannya di retret telah dikomunikasikan dengan Megawati dan DPP PDIP.

“Kenapa hari ini, tentunya tidak perlu dijelaskan. Apapun, saya tetap berkomunikasi dengan Ibu Megawati dan DPP partai,” ujarnya.

Mengapa PDIP Melunak?

Ada dua kemungkinan. Pertama, negosiasi politik. Dosen Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno, menduga ada kesepakatan antara PDIP dan ‘penguasa’ di balik keputusan ini.

“Sikap lunak partai biasanya menandakan ada negosiasi di belakang panggung,” katanya kepada Suara.com, Senin (24/2/2025).

Kedua, kesadaran pragmatis. PDIP mungkin menyadari boikot retret bisa merugikan kadernya. Sikap pembangkangan berisiko mempengaruhi perhatian pemerintah pusat terhadap kepala daerah PDIP.

Ketum PDIP Megawati Soekarnoputeri saat memberikan arahan kepada 177 kepala daerah di Sekolah Partai, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, pada Rabu (19/2/2025). [DOK tim media PDIP]
Ketum PDIP Megawati Soekarnoputeri saat memberikan arahan kepada 177 kepala daerah di Sekolah Partai, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, pada Rabu (19/2/2025). [DOK tim media PDIP]

“Bisa jadi ini keputusan politik tanpa konsesi apa pun, hanya koreksi sikap,” ujar Adi.

Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis, Agung Baskoro, menilai keputusan Megawati menunda kehadiran kepala daerah di retret itu wajar.

“Penahanan Hasto adalah pukulan telak bagi PDIP. Sekjen adalah perpanjangan tangan ketua umum,” katanya.

Menurut Agung, PDIP butuh waktu untuk menguatkan konsolidasi internal. Pramono dan para kepala daerah akhirnya hadir setelah komunikasi intens di partai. “Ada win-win solution yang membuat semua hadir,” ujarnya.

Namun, sikap PDIP ini bisa mempengaruhi hubungan Megawati dan Prabowo. Agung memperkirakan pertemuan mereka akan tertunda. “Butuh momen yang tepat agar hubungan kembali normal,” jelasnya.

Di sisi lain, peneliti SMRC, Saidiman Ahmad, berpendapat sebaliknya. Menurutnya, hubungan Megawati dan Prabowo tetap stabil. PDIP menunda kehadiran di retret lebih untuk memperkuat soliditas internal. “Surat instruksi Megawati yang ditaati kepala daerah menunjukkan PDIP masih solid. Ini juga sinyal bagi lawan politik,” katanya.

Sekjen Partai Gerindra, Ahmad Muzani, juga menegaskan bahwa hubungan Prabowo dan Megawati tetap baik. “Saya kira nggak akan berpengaruh. Setahu saya hubungannya baik-baik saja,” ujarnya usai acara di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin (24/2/2025).

Tak Ada Dasar Hukum

Para kepala daerah PDIP akhirnya mengikuti retret, tetapi terlambat. Mereka baru hadir di hari keempat dan tidak akan mendapat sertifikat "lulus." Retret ini berlangsung selama delapan hari, dari 21 hingga 28 Februari 2025.

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menegaskan bahwa sertifikat "lulus" hanya untuk peserta yang mengikuti 90 persen acara. Sementara yang datang di tengah jalan hanya akan menerima sertifikat "telah mengikuti."

"Nggak ada kata-kata lulusnya. Ini hanya apresiasi," ujar Tito di Kompleks Akmil, Magelang, Minggu (23/2).

Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu, tak mempermasalahkan hal ini. Menurutnya, kelulusan kepala daerah ditentukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), bukan sertifikat retret.

"Cukup itu saja. Mengurus masyarakat bukan soal lulus atau tidak," kata Masinton, Senin (24/2/2025). "Lagian ini juga bukan sekolah."

Sementara itu, pakar hukum tata negara dari Universitas Mulawarman, Herdiansyah Hamzah Castro, menilai retret kepala daerah tidak punya dasar hukum. Maka, tidak ada konsekuensi bagi mereka yang tidak ikut.

Menurutnya, sejak awal PDIP sudah tepat jika memilih untuk absen. Selain tak berdasar hukum, retret ini dinilai sebagai pemborosan yang bertentangan dengan janji efisiensi Prabowo.

"Pendekatan militeristik dalam retret ini juga bertentangan dengan hakikat jabatan sipil," jelas Hamzah kepada Suara.com.


Terkait

Rayu Sukatani Jadi Duta Polri, Pendisiplinan Halus Ala Orde Baru
Senin, 24 Februari 2025 | 17:49 WIB

Rayu Sukatani Jadi Duta Polri, Pendisiplinan Halus Ala Orde Baru

Meminta seniman untuk menjadi duta Polri adalah hal yang tidak perlu, dan bentuk pendisiplinan halus ala Orde Baru, kata Ratri.

Megawati Tugasi Ahmad Basarah dan Ronny Talapessy Jadi Jubir PDIP
Senin, 24 Februari 2025 | 16:15 WIB

Megawati Tugasi Ahmad Basarah dan Ronny Talapessy Jadi Jubir PDIP

Keputusan itu tertuang dalam Surat Tugas dengan nomor 3429/ST/DPP/II/2025 dan ditandatangani langsung oleh Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnputri

Megawati Bilang Mau Datang jika Hasto Ditahan, KPK: Silakan
Senin, 24 Februari 2025 | 15:42 WIB

Megawati Bilang Mau Datang jika Hasto Ditahan, KPK: Silakan

Penahanan terhadap Hasto dilakukan untuk 20 hari ke depan sampai 11 Maret 2025.

Terbaru
Ramai-ramai Berburu Anggaran di Senayan, Efisiensi Prabowo Cuma Omon-omon?
polemik

Ramai-ramai Berburu Anggaran di Senayan, Efisiensi Prabowo Cuma Omon-omon?

Jum'at, 19 Juni 2026 | 21:10 WIB

Sejumlah kementerian dan lembaga berbondong-bondong mengajukan tambahan anggaran kepada DPR RI. Nilainya tidak kecil, mulai dari ratusan miliar hingga puluhan triliun rupiah

Siapa di Balik BEM Bersatu? Mengaku Kelompok Mahasiswa, Tapi Dicap Gaib Oleh Kampus polemik

Siapa di Balik BEM Bersatu? Mengaku Kelompok Mahasiswa, Tapi Dicap Gaib Oleh Kampus

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:38 WIB

Semua diawali saat sekelompok muda mengatasnamakan diri BEM Bersatu secara tiba-tiba menggelar konferensi pers pada Selasa, 16 Juni 2026

Kedok Pemulihan Hutan: Benarkah Satgas PKH Hanya Membuka Jalan Bisnis Sawit Agrinas? polemik

Kedok Pemulihan Hutan: Benarkah Satgas PKH Hanya Membuka Jalan Bisnis Sawit Agrinas?

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41 WIB

Barita Simanjuntak membantah anggapan bahwa lahan hasil penertiban otomatis akan dialihkan menjadi perkebunan sawit.

Geger Isu '98 Jilid 2', Benarkah Situasi Politik Saat Ini Mirip Era Reformasi? polemik

Geger Isu '98 Jilid 2', Benarkah Situasi Politik Saat Ini Mirip Era Reformasi?

Senin, 08 Juni 2026 | 20:04 WIB

Noel memberikan penekanan khusus bahwa situasi saat ini berisiko menyerupai peristiwaReformasi 1998jika tidak segera diantisipasi oleh Kepala Negara

Nyawa Lebih Murah dari Harga Ikan? Kisah Pahit Awak Kapal di Balik Perjuangan Ratifikasi ILO K-188 polemik

Nyawa Lebih Murah dari Harga Ikan? Kisah Pahit Awak Kapal di Balik Perjuangan Ratifikasi ILO K-188

Senin, 08 Juni 2026 | 10:26 WIB

Trauma puluhan tahun itu mengkristal menjadi sebuah ketegasan: laut bukan tempat untuk masa depan anaknya.

Motif di Balik Riset Fiktif Peneliti WNI di Denmark polemik

Motif di Balik Riset Fiktif Peneliti WNI di Denmark

Kamis, 28 Mei 2026 | 20:51 WIB

Nama-nama yang disebut dan diduga lakukan pemalsuan itu di antaranya Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti

Negara Tak Boleh Jadi Algojo, Mengapa Menteri Pigai Larang Polisi Tembak Mati Begundal? polemik

Negara Tak Boleh Jadi Algojo, Mengapa Menteri Pigai Larang Polisi Tembak Mati Begundal?

Senin, 25 Mei 2026 | 22:02 WIB

Kondisi ekonomi yang sulit dan ketimpangan yang tajam di wilayah aglomerasi menciptakan lahan subur bagi tindak kejahatan

×
Zoomed