Pengakuan Anggota Ormas di Balik Horor Perlintasan Rel Bekasi Timur, Benarkah Demi Cuan?
Home > Detail

Pengakuan Anggota Ormas di Balik Horor Perlintasan Rel Bekasi Timur, Benarkah Demi Cuan?

Bangun Santoso | Faqih Fathurrahman

Rabu, 29 April 2026 | 18:21 WIB

Suara.com - Tragedi memilukan kembali terjadi di jalur perkeretaapian nasional. Kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur menjadi sorotan publik setelah 16 nyawa melayang dalam insiden maut yang terjadi pada Senin (27/4/2026) malam.

Peristiwa memilukan ini tidak hanya menyisakan duka mendalam, tetapi juga membuka kotak pandora mengenai karut-marut pengelolaan perlintasan sebidang di wilayah penyangga ibu kota.

Penyebab pasti kecelakaan ini masih dalam penyelidikan intensif oleh pihak berwenang.

Namun, rangkaian peristiwa menunjukkan ada bahaya yang luar biasa. Sebelum kereta Argo Bromo Anggrek menghantam rangkaian gerbong belakang KRL, sempat terjadi kecelakaan antara KRL dengan sebuah taksi listrik.

Saat itu, taksi listrik terjebak di tengah perlintasan karena mengalami mati mesin, hingga akhirnya tertemper oleh KRL yang melintas.

Kondisi semakin kacau ketika dari arah berlawanan, terdapat KRL lain yang berhenti karena melihat para penumpang dari rangkaian kereta yang menabrak taksi listrik keluar dari gerbong untuk menyelamatkan diri.

Nahas, dari arah belakang, kereta api eksekutif Argo Bromo Anggrek melaju kencang dengan kecepatan 100 kilometer perjam lebih dan braakkk! tumburan tak terelakan.

Tak ayal insiden itu memicu jatuhnya belasan korban jiwa.

Horor Perlintasan Tanpa Palang Pintu

Pasca-kejadian, gelombang kritik dari warganet membanjiri media sosial, terutama menyoroti ketiadaan palang pintu resmi di lokasi kecelakaan.

Absennya infrastruktur keselamatan dasar ini dinilai sebagai kelalaian fatal yang terus berulang.

Menanggapi situasi darurat ini, Presiden Prabowo Subianto turun langsung meninjau kondisi korban dan lokasi kejadian.

Presiden menegaskan bahwa pemerintah akan segera mengambil langkah konkret untuk memutus rantai kecelakaan di perlintasan sebidang dengan membangun jembatan layang atau flyover.

"Kita segera akan mengadakan investigasi, kejadiannya bagaimana," kata Prabowo usai menjenguk warga korban kecelakaan di RSUD Bekasi.

Prabowo juga menyoroti banyaknya titik perlintasan yang tidak terjaga dan membahayakan masyarakat.

"Tapi secara garis besar, kita perhatikan lintasan kereta api ini banyak yang tidak di jaga. Kita akan segera atasi, pemerintah daerah Bekasi telah mengajukan dibuat fly over karena bekasi juga padat dan keperluan kereta api sangat penting, sangat mendesak, jadi saya sudah setuju segera dibangun fly over langsung oleh bantuan presiden," ujarnya.

Ada 'Cuan' dan Peran Ormas di Balik Rel?

Horor perlintasan kereta api di Bekasi Timur. (Dok. Suara.com)
Horor perlintasan kereta api di Bekasi Timur. (Dok. Suara.com)

Di balik ketiadaan palang pintu resmi, muncul isu miring mengenai adanya resistensi dari kelompok tertentu terhadap pembangunan fasilitas keselamatan.

Sudah sejak lama perlintasan di lokasi kejadian hanya dijaga oleh warga sekitar atau yang akrab disebut warga kampung sini (Akamsi).

Tanpa aturan baku atau pelatihan resmi, warga hanya mengandalkan penglihatan manual untuk mengatur laju kendaraan yang melintas.

Isu mengenai keterlibatan Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) pun mencuat. Sejumlah warganet menuding bahwa ada oknum ormas yang sengaja menolak kehadiran palang pintu otomatis demi menjaga aliran uang receh dari para pengendara yang melintas.

Namun, tudingan ini dibantah oleh Andi, seorang warga Bekasi yang juga tergabung dalam salah satu ormas.

Menurut Andi, perlintasan kereta di Bekasi memang dijaga oleh warga, yang beberapa di antaranya mungkin anggota ormas, namun motif utamanya bukanlah keuntungan finansial besar.

Ia menyatakan, bahwa sektor perlintasan kereta bukanlah lahan 'basah' jika dibandingkan dengan sektor lain.

“Karena kalau ormas-ormas biasanya mainnya itu pegang parkiran, entah di pasar, entah di minimarket. Kalau buat perlintasan gitu mah putaran duitnya juga nggak kenceng,” jelasnya.

Berdasarkan pengakuannya, warga yang menjaga perlintasan biasanya hanya mengantongi uang receh berkisar Rp20-100 ribu per hari, itu pun tidak menentu tergantung belas kasih pengendara.

Andi berdalih bahwa kehadiran anggota ormas di titik-titik tersebut lebih kepada upaya membangun citra positif di masyarakat.

“Ya, ibaratnya dia cuma pengen nunjukin sisi baik di mata warga, ngebantu orang yang lewat rel, mobil gitu. Buat lingkungan, peduli lingkungan lah ibarat bahasanya,” ujarnya.

Tantangan dan Harapan Flyover

Meskipun penjagaan swadaya telah dilakukan, faktor perilaku pengendara tetap menjadi ancaman nyata.

Andi mengungkapkan bahwa seringkali upaya penjaga perlintasan untuk menghentikan kendaraan diabaikan oleh pengemudi yang tidak sabar.

“Upaya si penjaga pintu kereta mah udah ada, udah ada upaya untuk jangan lewat. Bahkan mereka kadang suka pasang badan biar mobil nggak lewat,” katanya.

Rencana pembangunan flyover sebenarnya bukan isu baru bagi warga Bekasi. Wacana pembangunan jembatan layang di titik Bulak Kapal, yang lokasinya berdekatan dengan tempat kejadian perkara (TKP), sudah lama terdengar namun realisasinya terus dipertanyakan.

“Terakhir isunya sih wali kota mau bikin flyover yang di Bulak Kapal. Itu kan nggak tahu realisasinya kapan. Udah lama itu program,” kata Andi.

Kini, dengan adanya dukungan langsung dari Presiden, harapan akan transformasi infrastruktur di Bekasi Timur kembali membumbung.

Warga berharap janji pembangunan flyover bukan sekadar respons sesaat atas tragedi, melainkan solusi permanen untuk mengakhiri horor di perlintasan sebidang.

“Kalau secara pribadi sih setuju, karena kan tujuan akhirnya buat keselamatanya, buat keselamatan para pengguna jalan yang melintas,” tandas Andi.


Terkait

Jasa Raharja Bergerak: Korban Kecelakaan Kereta Bekasi Timur Dapat Perlindungan dan Santunan
Rabu, 29 April 2026 | 16:55 WIB

Jasa Raharja Bergerak: Korban Kecelakaan Kereta Bekasi Timur Dapat Perlindungan dan Santunan

Jasa Raharja menyalurkan perlindungan bagi korban kecelakaan kereta api di Bekasi Timur.

Potret Haru Pejuang Kemanusiaan, Petugas Evakuasi Korban Kecelakaan KRL Terkapar di Lantai
Rabu, 29 April 2026 | 18:15 WIB

Potret Haru Pejuang Kemanusiaan, Petugas Evakuasi Korban Kecelakaan KRL Terkapar di Lantai

Petugas berjibaku selama belasan jam mengevakuasi korban kecelakaan maut KRL di Stasiun Bekasi Timur.

Kecelakaan Maut Bekasi Timur: Mengapa Sistem Keamanan Kereta Gagal Mengadang Tragedi?
Rabu, 29 April 2026 | 18:00 WIB

Kecelakaan Maut Bekasi Timur: Mengapa Sistem Keamanan Kereta Gagal Mengadang Tragedi?

Tragedi ini bukan sekadar kecelakaan biasa, melainkan efek domino dari satu pelanggaran di perlintasan sebidang.

KAI Akan Tutup Perlintasan Tak Penuhi Syarat Keselamatan, Termasuk yang Dibuka Warga
Rabu, 29 April 2026 | 17:46 WIB

KAI Akan Tutup Perlintasan Tak Penuhi Syarat Keselamatan, Termasuk yang Dibuka Warga

KAI telah mengidentifikasi sekitar 1.800 perlintasan yang akan ditata ulang, baik melalui peningkatan fasilitas maupun penutupan jika tidak layak.

Terbaru
Kami Ireng Tapi Bukan Londo, Menjawab Cap Antek Asing dari Podium Kekuasaan
polemik

Kami Ireng Tapi Bukan Londo, Menjawab Cap Antek Asing dari Podium Kekuasaan

Senin, 27 Juli 2026 | 18:33 WIB

MTI menilai persoalan mendasar dari pernyataan Prabowo bukan semata pada legalitas ucapan, melainkan implikasinya yang sangat destruktif bagi kualitas demokrasi

Gratis Tapi Mahal, Mengapa RI Nekat Terima Hibah Kapal Induk Tua Italia? polemik

Gratis Tapi Mahal, Mengapa RI Nekat Terima Hibah Kapal Induk Tua Italia?

Jum'at, 24 Juli 2026 | 18:36 WIB

Meski keputusan ini diambil secara bulat, proses persetujuan sebelumnya sempat diwarnai kritik tajam terkait prosedur yang mendadak serta kekhawatiran akan beban anggaran

Misteri Emas 74 Kg di Rumah Eks Jampidsus, Benarkah Barang Titipan? polemik

Misteri Emas 74 Kg di Rumah Eks Jampidsus, Benarkah Barang Titipan?

Rabu, 15 Juli 2026 | 17:20 WIB

Pernyataan Febrie Adriansyah yang menyebut emas tersebut sudah ada pemiliknya justru menjadi titik penting dalam proses pembuktian

Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo polemik

Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:59 WIB

Di balik narasi hijau menyelamatkan Taman Nasional Tesso Nilo, ribuan warga kecil kini kehilangan segalanyamulai dari rumah, kebun, hingga anggota keluarga dipenjara.

Ramai-ramai Berburu Anggaran di Senayan, Efisiensi Prabowo Cuma Omon-omon? polemik

Ramai-ramai Berburu Anggaran di Senayan, Efisiensi Prabowo Cuma Omon-omon?

Jum'at, 19 Juni 2026 | 21:10 WIB

Sejumlah kementerian dan lembaga berbondong-bondong mengajukan tambahan anggaran kepada DPR RI. Nilainya tidak kecil, mulai dari ratusan miliar hingga puluhan triliun rupiah

Siapa di Balik BEM Bersatu? Mengaku Kelompok Mahasiswa, Tapi Dicap Gaib Oleh Kampus polemik

Siapa di Balik BEM Bersatu? Mengaku Kelompok Mahasiswa, Tapi Dicap Gaib Oleh Kampus

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:38 WIB

Semua diawali saat sekelompok muda mengatasnamakan diri BEM Bersatu secara tiba-tiba menggelar konferensi pers pada Selasa, 16 Juni 2026

Kedok Pemulihan Hutan: Benarkah Satgas PKH Hanya Membuka Jalan Bisnis Sawit Agrinas? polemik

Kedok Pemulihan Hutan: Benarkah Satgas PKH Hanya Membuka Jalan Bisnis Sawit Agrinas?

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41 WIB

Barita Simanjuntak membantah anggapan bahwa lahan hasil penertiban otomatis akan dialihkan menjadi perkebunan sawit.

×
Zoomed