Suara.com - Matahari belum terbit, tapi Ira Puspita Rahayu sudah memulai harinya. Pukul 3 pagi, ia tiba di pool Transjakarta, lebih awal dari kebanyakan orang memulai aktivitas.
Rutinitasnya dimulai dari pemeriksaan kesehatan, dilanjutkan dengan pengecekan kendaraan. Semua harus dipastikan aman sebelum ia duduk di balik kemudi bus besar yang akan membawanya menyusuri jalanan Jakarta.
Di balik setir itu, ada tanggung jawab besar dan cerita panjang yang jarang diketahui penumpang.
Melawan Stigma di Jalanan
Ira bertugas di rute Kampung Rambutan–Ciputat, jalur non-BRT yang menyatu dengan lalu lintas umum. Artinya, ia harus menghadapi kemacetan, kendaraan yang saling berebut jalan, hingga pengendara motor yang kerap menyalip dari berbagai arah.
Di tengah kondisi itu, bukan kecepatan yang jadi kunci, melainkan kesabaran.
Namun tantangannya bukan hanya soal jalanan. Ira juga masih harus menghadapi stigma sebagai perempuan pengemudi bus.
“Karena saya perempuan, anggapannya ‘emak-emak’ itu bawa kendaraan sembarangan. Kadang mereka memperlakukan kita tidak baik di jalan,” ujarnya saat ditemui di kantor pusat Transjakarta, Selasa (21/4/2026).
Alih-alih terpancing emosi, Ira memilih mengalah. Bukan karena tak mampu melawan, tapi karena ia sadar apa yang ia bawa bukan sekadar kendaraan.
Ada ratusan nyawa di dalamnya.
Pengalaman dan pelatihan yang ia terima sebelumnya membantunya tetap tenang menghadapi situasi tak terduga di jalan.
Perjalanan Panjang di Balik Kemudi
Perjalanan Ira menjadi pramudi bukan hal instan. Sejak 2017, ia sudah mengemudikan bus tronton di salah satu mitra Transjakarta, kendaraan yang lebih panjang dan menantang.
Selama tujuh tahun, jalanan menjadi ruang belajarnya. Hingga akhirnya pada 2024, ia resmi bergabung sebagai pramudi Transjakarta.
Untuk sampai di titik itu, Ira harus melewati berbagai tahapan seleksi, mulai dari tes tertulis, psikotes, hingga uji kemampuan mengemudi. Semua menguji fisik dan mentalnya.
Sebab di balik kemudi, keterampilan saja tidak cukup. Ketahanan adalah kunci.
“Ada ratusan nyawa yang harus kita jaga,” katanya.

Dari Perawat ke Pengemudi Bus
Yang menarik, Ira tidak berasal dari dunia transportasi. Ia adalah lulusan D3 Keperawatan dan sempat bekerja sebagai perawat K3 di sebuah perusahaan.
Sebelumnya, ia juga pernah menjadi kasir bank dan guru taman kanak-kanak.
Hingga suatu hari, ia melihat sosok yang mengubah arah hidupnya: seorang ibu tunggal yang bekerja sebagai pengemudi bus.
“Sepertinya saya harus bisa seperti beliau,” kenangnya.
Keputusan itu tidak mudah. Ia harus meninggalkan jalur pendidikan yang telah ia tempuh. Orang tuanya pun sempat menolak karena khawatir dengan risiko pekerjaan di jalanan.
Namun Ira memilih membuktikan lewat tindakan.
Seiring waktu, dukungan justru datang dari keluarga kecilnya. Suami dan anak-anaknya menjadi penyemangat terbesar.
“Mereka bangga dan sangat mendukung saya,” ujarnya.
Hidup dalam Dua Peran
Menjadi pramudi berarti hidup dengan ritme berbeda. Ira memulai hari saat sebagian besar orang masih terlelap.
Bus mulai beroperasi pukul 5 pagi, dan ia menyelesaikan shift sekitar pukul 1 siang.
Setelah itu, perannya berganti. Ia kembali menjadi ibu bagi tiga anaknya.
Tak selalu mudah menjalani dua peran sekaligus. Ada saat-saat ia harus tetap bekerja meski anaknya sedang sakit di rumah.
“Itu yang paling terasa,” katanya pelan.
Namun justru dari situ, ia menemukan alasan untuk terus bertahan.

Perempuan Juga Bisa
Bagi Ira, menjadi perempuan bukan berarti harus selalu terlihat kuat di ruang publik. Tapi setiap peran yang dijalani perempuan adalah bentuk perjuangan.
“Semua perempuan di Indonesia itu Kartini, buat keluarganya dan bangsanya,” ujarnya.
Kini, ruang bagi perempuan di dunia transportasi mulai terbuka. Transjakarta memberikan kesempatan melalui pelatihan seperti Transjakarta Academy, yang melatih perempuan dari nol hingga siap menjadi pramudi.
Jumlahnya memang belum banyak, tapi langkah itu sudah dimulai.
Di balik kemudi, Ira bukan hanya mengantar penumpang dari satu titik ke titik lain. Ia juga membawa pesan bahwa batasan sering kali hanya ada di pikiran.
Selama ada kemauan, jalan akan selalu terbuka.
“Teruslah berusaha,” pesannya.
Dan esok pagi, saat banyak orang masih terlelap, Ira akan kembali memulai harinya—duduk di balik kemudi, menghadapi jalanan yang sama, dengan tekad yang tak pernah berubah.
Kepraktisan sepeda lipat yang bisa masuk angkutan umum menjadi alasan kenapa publik suka jenis sepeda satu ini.
HUT ke-12 Transjakarta, layanan capai 92,5% wilayah Jakarta dan angkut 1,4 juta penumpang per hari.
Kebijakan ini berlaku selama 24 jam, mulai pukul 00.00 hingga 23.59 WIB dan hanya bisa diperoleh jika pembayaran dilakukan melalui aplikasi resmi TJ:Transjakarta.
Lonjakan ini terjadi seiring kebijakan tarif khusus Rp1 yang diberlakukan Pemprov DKI Jakarta pada 2122 Maret 2026.
Nama-nama yang disebut dan diduga lakukan pemalsuan itu di antaranya Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti
polemik
Kondisi ekonomi yang sulit dan ketimpangan yang tajam di wilayah aglomerasi menciptakan lahan subur bagi tindak kejahatan
polemik
Prabowo menegaskan arah kebijakan fiskal ke depan akan berlandaskan pada mazhab Ekonomi Pancasila
polemik
Pernyataan sang Kepala Negara itu disampaikan pertama kali di momen pidato sambutannya saat peresmian Museum dan Rumah Singgah Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur
polemik
Peristiwa besar nasional dikaitkan dengan "peran" asing di baliknya, mungkin bukan hal baru. Tapi ini soal operasi FIMI di balik demonstrasi Agustus-September 2025 lalu.
video
Laut China Selatan yang adalah kawasan strategis jalur dagang itu belakangan tidak lagi sekadar jadi lahan pertikaian fisik, tapi juga perang informasi digital.
polemik
Bukan lagi sekadar arena adu otot kapal perang atau saling klaim wilayah, polemik Laut China Selatan (LCS) belakangan sudah memasuki medan perang digital. Seperti apa?