Suara.com - Di balik helm yang mulai kusam dan jaket hijau yang warnanya tak lagi seterang dulu, Sari (37) menyalakan motornya setiap pagi. Jalanan belum sepenuhnya ramai, tapi baginya hari sudah dimulai sejak mesin pertama kali bergetar.
Sudah lima tahun ia menjadi pengemudi ojek online. Bukan sekadar pekerjaan, melainkan cara bertahan. Di rumah, anak laki-lakinya yang masih duduk di bangku sekolah dasar selalu menunggu.
“Kalau bukan saya yang kerja, ya siapa lagi?” kata Sari saat berbincang dengan Suara.com akhir April 2026.
Status sebagai ibu tunggal membuat pilihan hidupnya menjadi sempit. Jalanan, dengan segala risikonya, menjadi satu-satunya ruang yang ia miliki untuk memastikan dapur tetap ngebul dan sekolah anaknya tetap berjalan.
Namun, menjadi driver ojol perempuan bukan hanya soal macet atau hujan. Ada hal lain yang tidak terlihat orang lain, meski sering berulang, yakni penolakan.
“Sering banget di-cancel. Apalagi kalau yang pesan laki-laki. Mungkin mereka lihat profil saya perempuan,” ujarnya.
![Ilustrasi Ojol. [Ist]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/07/05/87674-ilustrasi-ojol-ist.jpg)
Pembatalan itu mungkin terlihat sepele. Tapi bagi Sari, setiap order yang hilang adalah bensin yang terbuang, waktu yang sia-sia, dan penghasilan yang tak jadi masuk.
Pagi yang lain dimulai bahkan lebih dini bagi Ira Puspita Rahayu. Ketika sebagian besar kota masih tertidur, ia sudah berada di pool, menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum duduk di balik kemudi bus. Pukul tiga pagi bukan waktu yang lazim untuk bekerja. Tapi bagi Ira, itu rutinitas.
Dari kursi pengemudi bus Transjakarta, ia membawa lebih dari sekadar kendaraan besar. Ada ratusan nyawa yang ia tanggung setiap hari, melintasi rute Kampung Rambutan–Ciputat yang padat dan tak pernah benar-benar ramah.
Di jalanan, ia tidak hanya berhadapan dengan kemacetan. Ada stigma yang tak kasat mata, tapi terasa nyata.
“Kalau perempuan itu dianggapnya ‘emak-emak’ yang bawa kendaraan sembarangan,” kata Ira.
Ia tidak melawan dengan kemarahan. Ia memilih mengalah. Bukan karena tidak mampu, tapi karena ia tahu, satu keputusan emosional bisa berujung pada risiko yang lebih besar.
Perjalanan Ira menuju kursi pengemudi bukan jalur yang lurus. Ia pernah menjadi perawat, kasir bank, hingga guru taman kanak-kanak. Hingga suatu hari, ia melihat seorang perempuan mengemudikan bus, seorang ibu tunggal yang tetap berdiri di tengah kerasnya jalanan.
“Sepertinya saya harus bisa seperti beliau,” kenangnya.
Keputusan itu sempat ditolak keluarga. Tapi waktu membuktikan. Kini, dari balik setir, ia tidak hanya mengantar penumpang, tapi juga membuka jalan bagi perempuan lain untuk masuk ke ruang yang selama ini didominasi laki-laki.

Cerita lain datang dari balik kemudi taksi. Ivany Rosaline (45) memulai harinya saat langit belum sepenuhnya terang. Jalanan mungkin masih lengang, tapi pikirannya sudah penuh.
Target setoran, kebutuhan rumah, hingga kondisi anak yang menunggu di rumah menjadi beban yang berjalan bersamanya.
“Intinya, cuma saya yang bisa diandalkan,” ujarnya.
Sebagai ibu tunggal dengan dua anak, Ivany tidak punya kemewahan untuk memilih pekerjaan yang nyaman.
Ia pernah mencoba berbagai usaha, berjualan baju bekas, membuka laundry, hingga usaha makanan. Tak ada yang bertahan. Jalanan menjadi jawabannya. Atau mungkin satu-satunya pilihan yang tersisa.
Namun, seperti Sari dan Ira, ia juga menghadapi keraguan yang sama, datang dari penumpang.
“Cobain dulu sini, saya setirin,” katanya setiap kali ada yang meremehkan.
Kalimat itu sederhana, tapi di jalanan, itu adalah bentuk perlawanan.
Penghasilannya tidak pernah pasti. Dalam kondisi baik, ia bisa membawa pulang Rp7–8 juta per bulan. Tapi di bulan sepi, angka itu bisa turun jauh. Setiap hari adalah ketidakpastian. Setiap perjalanan adalah harapan.
Potret Pekerja Informal Indonesia
Apa yang dialami Sari, Ira, dan Ivany bukanlah cerita yang berdiri sendiri. Mereka adalah potongan kecil dari gambaran besar dunia kerja di Indonesia, terutama bagi perempuan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) perempuan masih tertinggal dibanding laki-laki. Pada Agustus 2024, TPAK laki-laki tercatat sebesar 84,66 persen, sementara perempuan hanya 56,42 persen. Artinya, dari setiap 100 perempuan usia kerja, hanya sekitar 57 orang yang benar-benar masuk ke dunia kerja.
Angka itu bergerak tipis. Pada Februari 2025, TPAK perempuan naik menjadi 56,7 persen, dan pada Agustus 2025 berada di angka 56,63 persen. Sementara laki-laki tetap stabil di kisaran 84 persen.
Di sisi lain, kesenjangan juga terlihat pada sektor formal. Per 2025, hanya 36,66 persen perempuan yang bekerja di sektor formal, dibandingkan laki-laki yang mencapai 45,88 persen.
Sebagian besar lainnya berada di sektor informal, ruang kerja yang minim perlindungan dan penuh ketidakpastian.
Lebih dari 59 persen tenaga kerja Indonesia, atau sekitar 86 juta orang, bekerja di sektor ini. Dan dari jumlah tersebut, sekitar 64 persen adalah perempuan.
Di tengah kondisi itu, sektor transportasi menjadi salah satu ruang yang perlahan mulai berubah. Perusahaan taksi Bluebird jumlah pengemudi perempuan tercatat meningkat signifikan, naik 66,7 persen pada 2024 dibandingkan tahun sebelumnya, dan melonjak hingga 208,9 persen pada 2025.
Namun, pertumbuhan angka tidak selalu sejalan dengan perubahan cara pandang.

Suara Pekerja Perempuan di Hari Buruh
Hari Buruh yang diperingati setiap 1 Mei menjadi pengingat bahwa di balik statistik dan angka-angka itu, ada wajah-wajah seperti Sari, Ira, dan Ivany.
Mereka bekerja di ruang yang sama, tapi dengan beban yang berbeda. Tidak hanya soal mencari nafkah, tapi juga melawan stigma, menghadapi ketidakpastian, dan membuktikan bahwa mereka mampu berdiri setara.
“Saya cuma berharap ada perlindungan lebih, apalagi untuk driver perempuan,” kata Sari.
Ira punya harapan lain, yang sederhana namun dalam, yakni ingin perempuan tidak lagi dibatasi melalui anggapan dan stigma.
Sementara Ivany, seperti hari-hari sebelumnya, hanya akan kembali ke jalan. Menyetir, menunggu, dan berharap.
Di tengah hiruk-pikuk kota dan kerasnya aspal jalanan, mereka tetap melaju. Bukan hanya untuk bertahan, tapi untuk memastikan bahwa hidup tetap berjalan, meski sadar tak selalu mudah.
Wathoni hanya menegaskan bahwa esensi dari peringatan May Day adalah perlawanan terhadap penindasan, bukan berpesta pora.
Wathoni mengatalan dalam menyikapi peringatan Hari Buruh Internasional, Perisai menyepakati untuk menggelar kampanye aksi massa yang akan terkoordinasi secara nasional.
Truk tronton mengalami kecelakaan tunggal di flyover Slipi akibat rem blong. Truk menabrak separator busway dan berhenti di taman. Tidak ada korban jiwa dalam insiden ini.
Peringatan 33 tahun Marsinah tekankan urgensi melawan impunitas dan militerisme. Aktivis kritik penjinakan gerakan buruh yang abai pada akar persoalan eksploitasi dan HAM.
Andi mengakui perlintasan kereta di Bekasi memang dijaga oleh warga dan beberapa di antaranya anggota ormas
polemik
Usulan tersebut tertuang dalam 20 kajian strategis, policy brief, dan corruption risk assessment (CRA) sektor prioritas nasional sepanjang 2025
polemik
Pengesahan UU PPRT ini menandai babak baru dalam relasi kerja domestik di Indonesia. Apalagi selama ini, PRT seringkali berada di area abu-abu
polemik
Munculnya nama Wakil Presiden ke-10 dan ke-13 RI tersebut bermula dari potongan video bergambar Rismon Hasiholan Sianipar yang menuding JK berada di balik layar
nonfiksi
Kisah Ira, pramudi Transjakarta yang mulai kerja pukul 3 pagi, menghadapi stigma di jalan, dan menjaga keselamatan ratusan penumpang setiap hari.
nonfiksi
Kisah inspiratif Ivany, seorang perempuan sopir taksi yang melawan stereotip dan tantangan di sektor informal.
polemik
Hery Susanto baru saja dilantik sebagai Ketua Ombudsman periode 2026-2031 oleh Presiden Prabowo Subianto pada 10 April 2026 lalu