Terpenjara karena Berita, Apa Artinya Merdeka Kalau Masih Ada UU ITE?
Home > Detail

Terpenjara karena Berita, Apa Artinya Merdeka Kalau Masih Ada UU ITE?

Reza Gunadha | Muhammad Yasir

Rabu, 18 Agustus 2021 | 18:48 WIB

Suara.com - “Sedikitpun saya tidak pernah merasa takut atau ragu untuk kembali menulis hanya karena saya dipenjara. Saya justru lebih bersemangat lagi untuk menulis, khususnya untuk sebuah liputan mendalam.”

"SAYA tidak semestinya di sini. Saya bukan pelaku kriminal” itu yang terbesit dalam pikiran Muhammad Asrul saat pertama kali berada di dalam sel Rumah Tahanan Polda Sulawesi Selatan.

Jurnalis media daring berita.news ini dipenjara seusai menulis tiga artikel terkait kasus dugaan korupsi yang diduga melibatkan anak Wali Kota Palopo sekaligus Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPKSDM) Palopo, Farid Karim Judas.

Ketiga artikel itu masing-masing berjudul ‘Putra Mahkota Palopo Diduga Dalang Korupsi PLTMH dan Keripik Zaro Rp11 M’; ‘Aroma Korupsi Revitalisasi Lapangan Pancasila Palopo Diduga Seret Farid Judas’; dan ‘Jilid II Korupsi Jalan Lingkar Barat Rp5 M, Sinyal Penyidik untuk Farid Judas?’

Farid Judas melaporkan Asrul ke Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sulawesi Selatan pada 17 Desember 2019. Laporan tersebut teregistrasi dengan Nomor: LPB/465/XII/2019/SPKT Polda Sulsel.

Menerima laporan dari Putra Mahkota Palopo, aparat kepolisian bergerak cepat. Asrul dijemput penyidik di kediamannya Jalan Deppasawi Dalam, Kelurahan Maccini Sombala, Kecamatan Tamalate, Makassar, 29 Januari 2020.

***

“TOK.. tok.. tok..” suara itu tiba-tiba terdengar dari balik pintu kediaman Asrul saat dia tengah meriung bersama dua anak dan istri sekitar pukul 13.00 WITA.

Andi Hasrianti, adik ipar Asrul, bergegas membukakan pintu. Tiga pria berbadan tegap berdiri di hadapan Andi. Mereka mengaku dari Polda Sulawesi Selatan.

“Ada Muhammad Asrul?” tanyanya.

Andi  berjalan menemui Asrul. Mendinginkan kehangatan yang sebelumnya terjalin di tengah keriangan Asrul, istri dan dua anaknya.

“Ada orang mengaku dari Polda mencari abang,” bisik Andi kepada Asrul.

Asrul bergegas berdiri, lalu berjalan menuju pintu. Dalam pikirannya, dia sudah mengetahui kehadiran ketiga penyidik berkaitan dengan laporan yang dilayangkan Farid Judas.

“Ini surat panggilan pemeriksaan,” kata penyidik seraya menunjukan surat tersebut kepada Asrul. Pada surat tersebut tertera keterangan Asrul sedianya dipanggil untuk diperiksa sebagai saksi.

Suasana persidangan Muhammad Asrul, jurnalis yang dijerat memakai UU ITE karena menulis berita tentang dugaan korupsi. [dokumentasi]
Suasana persidangan Muhammad Asrul, jurnalis yang dijerat memakai UU ITE karena menulis berita tentang dugaan korupsi. [dokumentasi]

Asrul kemudian meminta izin kepada penyidik untuk sejenak menemui istrinya. Dia berjalan kembali menemui istrinya. Mencoba menenangkan, seakan tak ada masalah.

“Abang sebentar mau ke Polda. Ada urusan,” ucapnya.

Perlahan Asrul dan ketiga penyidik berjalan menuju mobil. Di tengah perjalanan dia melihat Kasubdit Siber Ditreskrimsus Polda Sulawesi Selatan. Dia mengenal sosok tersebut karena beberapa kali bertemu tatkala meliput di Polda Sulawesi Selatan.

“Tapi ternyata saya dibawa dengan mobil yang berbeda dengan Kasubdit Siber itu,” ujar Asrul.

Sekitar pukul 15.30 WITA Asrul tiba di Polda Sulawesi Selatan. Dia langsung menjalani pemeriksaan. Waktu berjalan menujuk pukul 20.30 WITA. Lima jam Asrul diperiksa tanpa didampingi pengacara.

Asrul sedikit lega, dalam pikirannya, mengira bisa kembali pulang, menemui anak dan istrin. Melanjutkan kembali kehangatan yang sempat didinginkan oleh kehadiran ketiga penyidik.

Namun, kenyataan berkata lain. Asrul tak diperkenankan pulang. Dia langsung ditetapkan sebagai tersangka dan digelandang ke Rutan Polda Sulawesi Selatan tanpa pemberitahuan kepada pihak keluarga.

Keesokan harinya, pada 31 Januari 2020 penyidik baru memberikan kabar lewat Surat Pemberitahuan Penahanan Nomor: B/70/I/2020/Ditreskrimsus Polda Sumsel.

“Sepuluh tahun saya berprofesi sebagai jurnalis, baru kali ini merasakan bui karena sebuah pemberitaan,” ungkapnya.

Suasana persidangan Muhammad Asrul, jurnalis yang dijerat memakai UU ITE karena menulis berita tentang dugaan korupsi. [dokumentasi]
Suasana persidangan Muhammad Asrul, jurnalis yang dijerat memakai UU ITE karena menulis berita tentang dugaan korupsi. [dokumentasi]

Butuh tiga hari tubuh Asrul menyesuaikan dengan keadaan di sel Rutan Polda Sulawesi Selatan.

Dinginnya lantai, lembabnya udara, dan sulitnya air. Tubuhnya meringkuk di antara penghuni tahanan lain. Mulutnya menolak setiap makanan yang masuk. Dalam hati dan pikirannya hanya tertuju pada anak dan istri.

“Tiga hari saya enggak bisa makan. Tidur ya hanya tidur ayam,” katanya.

Tiga puluh enam hari sejak Asrul ditahan, dia akhirnya dibebaskan. Tepat pada 5 Maret 2020 Asrul dibebaskan setelah penangguhan penahanannya dikabulkan.

Permohonan itu dikabulkan setelah Dewan Pers melayangkan surat ke Polda Sulawesi Selatan.

Surat tersebut salah satunya berisi pernyataan yang menegaskan tulisan Asrul merupakan karya jurnalistik.

Jadi, segala sengketa yang muncul karena karya itu, harus diselesaikan memakai mekanisme yang berlaku sesuai dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Meski penangguhan penahanan itu dikabulkan, perkara yang menjerat Asrul tetap lanjut. Hingga kekinian, perkara ini masih berlangsung di Pengadilan Negeri Palopo. Jaksa Penuntut Umum (JPU) mendakwa Asrul dengan pasal berlapis.

Dia didakwa menyebarkan berita bohong sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946.

Kemudian menyebarkan ujaran kebencian dalam Pasal 28 Ayat 2 dan pencemaran nama baik Pasal 27 Ayat 3 sebagaimana termaktub dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik atau ITE. Asrul diancam dengan hukuman maksimal 10 tahun penjara.

Digugat cerai

Perkara tudingan pencemaran nama baik yang dilayangkan Farid Judas berdampak panjang bagi kehidupan Asrul.

Semenjak berkasus di Polda Sulawesi Selatan, Asrul tidak lagi bekerja. Dia bahkan sempat dilarang menulis dan bermedia sosial selama proses hukum yang menjeratnya ditangani penyidik Ditreskrimsus Polda Sulawesi Selatan.

Belakangan Asrul sempat ditawarkan perkerjan di salah satu media lokal di Makassar. Tawaran itu datang seusai kasusnya dilimpahkan ke Kejaksaan.

Namun, Asrul menolak. Dia ingin terlebih dahulu fokus menghadapi perkara yang tengah dihadapinya ini.

Proses persidangan atas kasus dugaan pencemaran nama baik yang dihadapi Asrul di Pengadilan Negeri Palolo belum juga selesai.

Kini Asrul dihadapi satu perkara lainnya di Pengadilan Agama. Dia digugat cerai oleh istrinya. Dalih sang istri menggugat cerai karena faktor ekonomi.

“Saya tidak mau terlalu dalam membahas ini,” tutur Asrul.

Sejak digugat cerai sang istri, Asrul kembali ke kediaman orang tuanya. Sehari-harinya, Asrul kembali terpangku kepada orang tua.

Satu-satunya sepeda motor matik Yamaha Soul milik Asrul telah dijual. Uang senilai Rp 7 juta hasil penjualannya digunakan untuk biaya oprasional selama masa persidangan.

Dari Makassar ke Pengadilan Negeri Palopo, Asrul biasa menggunakan bus dengan ongkos sekitar Rp500 ribu pulang-pergi berikut makan dan biaya lainnya.

Perjalanan dia tempuh selama hampir delapan jam. Asrul selalu berangkat satu hari sebelum agenda persidangan berlangsung.

Saat ini satu-satunya yang terus terpikiran oleh Asrul ialah kabar kedua anaknya. Sejak Ramadhan tahun lalu hingga kekinian dia belum pernah bertemu dengan kedua anaknya.

Dia dikaruniai anak laki-laki yang kekinian masih berusia 11 tahun. Sedangkan yang terkecil, perempuan dengan usia 6 tahun.

“Sejujurnya sampai saat ini saya belum menceritakan tentang kasus yang sedang saya hadapi. Mungkin mereka mengetahui saya sibuk bekerja,” tutur Asrul dengan nada berat.

Waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB atau sekitar pukul 21.00 WITA saat Asrul menghubungi saya lewat pesan singkat.

Dia berkirim pesan sedang bersiap berangkat ke Pengadilan Negeri Palopo pada Minggu (15/8/2021).

Keesokan harinya dia akan menghadapi sidang lanjutan dengan agenda mendengarkan keterangan ahli Dewan Pers dan Bahasa yang dihadirkan oleh JPU.

“Doakan ya semoga lancar sidangnya,” singkat Asrul.

Pers belum merdeka

PERKARA yang dihadapi Asrul menambah daftar panjang kasus kekerasan terhadap profesi jurnalis di Indonesia.

Padahal, kemerdekaan pers merupakan syarat mutlak untuk mendorong pemerintahan yang bersih dan bebas dari korupsi.

Bagaimana mungkin pemerintahan yang bersih ini bisa tercipta, jika produk-produk jurnalisme dikriminalisasi semacam ini.

“Pada peringatan HUT ke-76 kemerdekaan RI ini, kami sebenarnya ingin menyampaikan ke pemerintah, ke presiden dan aparat penegak hukum bahwa teman-teman jurnalis masih belum merdeka dari kekerasan,” kata Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Sasmito Madrim.

Sasmito menilai,  pemidanaan terhadap Asrul menjadi preseden buruk bagi kebebasan pers di Indonesia.

Ketua Umum AJI Indonesia, Sasmito saat ditemui Suara.com di Komnas HAM. (Suara.com/Yaumal)
Ketua Umum AJI Indonesia, Sasmito saat ditemui Suara.com di Komnas HAM. (Suara.com/Yaumal)

Sengketa pers sudah semestinya diselesaikan dengan mekanisme sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang Pers.

Di lain sisi, apa yang dialami oleh Asrul menurut Sasmito juga semakin memperpanjang daftar penyalahgunaan Undang-Undang ITE untuk menjerat jurnalis dalam karyanya. Sekaligus, mengancam sikap kritis warga terhadap dugaan kasus korupsi.

“AJI Indonesia dalam kurun waktu tiga hari kedepan ini mulai tanggal 16,17, dan 18 Agustus kita ingin mengkampanyekan tentang merdeka dari kekerasan. Ada beberapa hal yang ingin kita coba ingatkan ke pemerintah dan presiden terkait kasus-kasus yang menjadi perhatian AJI. Seperti kasus kekerasan terhadap jurnalis Tempo, Nurhadi dan beberapa teror yang dialami jurnalis di Papua,” katanya.

Sekitar pukul 15.30 WIB sehari sebelum Indonesia genap merdeka diusia ke-76, ponsel di saku saya kembali bergetar.

Pesan singkat datang dari Asrul. Dia mengabarkan persidangan telah selesai. Saat mengirim pesan, dia tengah dalam bus perjalanan kembali menuju rumahnya di Makassar.

“Doakan semoga perkara saya cepat selesai dan hati nurani majelis hakim terbuka untuk memvonis bebas. Setidaknya ini akan menjadi kado kemerdekaan, bukan untuk saya semata. Tapi untuk profesi jurnalis dan kebebasan pers di Indonesia."


Terkait

Kematian Lebih Cepat dari Ambulans, Misi Patwal Berpacu dalam Kemacetan
Selasa, 17 Agustus 2021 | 09:10 WIB

Kematian Lebih Cepat dari Ambulans, Misi Patwal Berpacu dalam Kemacetan

Bagi Syahrul, mengawal ambulans dalam membelah kemacetan Jakarta adalah misi. Jika gagal, akan ada air mata yang keluar.

Kisah Sopir Bajaj Perempuan: Berani Lawan Pelecehan, Berteman dengan Preman
Senin, 16 Agustus 2021 | 07:00 WIB

Kisah Sopir Bajaj Perempuan: Berani Lawan Pelecehan, Berteman dengan Preman

Dia dengan tetap hati mengemudikan si roda tiga bersaing dengan berbagai alat transportasi berbasis aplikasi online yang menjamur di Ibu Kota.

Kondisi Terkini Dokter Richard Lee Dibebaskan: Saya Mau Bicara di Media Tentang Edukasi
Jum'at, 13 Agustus 2021 | 09:59 WIB

Kondisi Terkini Dokter Richard Lee Dibebaskan: Saya Mau Bicara di Media Tentang Edukasi

Dokter Richard Lee dibebaskan, Kamis (12/8/2021) sekitar pukul 20.00 WIB, setelah sempat ditahan di Polda Metro Jaya.

Bintang Emon soal Richard Lee: Berkat UU ITE, Produk Jelek Bisa Aman dari Review Jujur
Kamis, 12 Agustus 2021 | 18:52 WIB

Bintang Emon soal Richard Lee: Berkat UU ITE, Produk Jelek Bisa Aman dari Review Jujur

Bintang Emon menyampaikan sindiran dengan mengucapkan terima kasih kepada UU ITE.

Terbaru
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
polemik

Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo

Kamis, 30 Juli 2026 | 16:00 WIB

Mengungkap kejanggalan di balik kematian Sutrimo, Karumga eks Jampidsus Febrie Adriansyah di Desa Wlahar, Banyumas. Dari pengawasan CCTV mendadak hingga pengintai misterius.

Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman polemik

Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman

Kamis, 30 Juli 2026 | 15:38 WIB

Tidak seorang pun dari rombongan pengantar jenzah Sutrimo memperkenalkan identitas ataupun menjelaskan dari instansi mana.

Kami Ireng Tapi Bukan Londo, Menjawab Cap Antek Asing dari Podium Kekuasaan polemik

Kami Ireng Tapi Bukan Londo, Menjawab Cap Antek Asing dari Podium Kekuasaan

Senin, 27 Juli 2026 | 18:33 WIB

MTI menilai persoalan mendasar dari pernyataan Prabowo bukan semata pada legalitas ucapan, melainkan implikasinya yang sangat destruktif bagi kualitas demokrasi

Gratis Tapi Mahal, Mengapa RI Nekat Terima Hibah Kapal Induk Tua Italia? polemik

Gratis Tapi Mahal, Mengapa RI Nekat Terima Hibah Kapal Induk Tua Italia?

Jum'at, 24 Juli 2026 | 18:36 WIB

Meski keputusan ini diambil secara bulat, proses persetujuan sebelumnya sempat diwarnai kritik tajam terkait prosedur yang mendadak serta kekhawatiran akan beban anggaran

Misteri Emas 74 Kg di Rumah Eks Jampidsus, Benarkah Barang Titipan? polemik

Misteri Emas 74 Kg di Rumah Eks Jampidsus, Benarkah Barang Titipan?

Rabu, 15 Juli 2026 | 17:20 WIB

Pernyataan Febrie Adriansyah yang menyebut emas tersebut sudah ada pemiliknya justru menjadi titik penting dalam proses pembuktian

Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo polemik

Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:59 WIB

Di balik narasi hijau menyelamatkan Taman Nasional Tesso Nilo, ribuan warga kecil kini kehilangan segalanyamulai dari rumah, kebun, hingga anggota keluarga dipenjara.

Ramai-ramai Berburu Anggaran di Senayan, Efisiensi Prabowo Cuma Omon-omon? polemik

Ramai-ramai Berburu Anggaran di Senayan, Efisiensi Prabowo Cuma Omon-omon?

Jum'at, 19 Juni 2026 | 21:10 WIB

Sejumlah kementerian dan lembaga berbondong-bondong mengajukan tambahan anggaran kepada DPR RI. Nilainya tidak kecil, mulai dari ratusan miliar hingga puluhan triliun rupiah

×
Zoomed