Suara.com - Enam pekan berlalu setelah banjir bandang menghanyutkan rumah-rumah di Aceh Tamiang, warga masih hidup di bawah tenda pengungsian. Sebagian dari mereka kehilangan griya, mata pencaharian, dan kini menggantungkan hidup pada bantuan.
ALI RASYID duduk mematung dalam tenda kecil di Gampong Sukajadi, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang.
Orang-orang lebih sering memanggilnya sebagai Wujud. Usianya 50 tahun. Sama dengan istrinya, Salma.
Pada umur yang bagi banyak orang menjadi pintu ketenangan, Wujud justru memulai hidup dari kehancuran.
Tangannya terangkat, menunjuk sebidang tanah di hadapan kami. Di sanalah rumah mereka berdiri selama puluhan tahun.
Sekarang, yang tersisa hanya hamparan rata, seperti ingatan yang dihapus begitu saja.
Tenda tempat ia duduk tak ubahnya lantai rumah yang diselubungi plastik tipis.
“Kami ini ada empat kartu keluarga,” kata Wujud pelan kepada saya,Rabu 31 Desember 2025.
Namun dari empat keluarga, hanya satu tenda yang mereka dapatkan. Tenda itu pun baru diterima pagi hari.
Anak-anak terpaksa dipisahkan. Sebagian diungsikan ke rumah kakaknya karena tenda tak cukup menampung semua.
“Hari-hari kami ya seperti ini,” katanya. “Tenda ini pun tidak bisa untuk tidur.”
![[Suara.com/Aldie]](https://media.suara.com/pictures/original/2026/01/02/54751-infografis-korban-banjir-aceh-aceh-tamiang.jpg)
Malam hari, mereka harus kembali ke tenda darurat yang dibuat seadanya di samping Kantor Bawaslu Aceh Tamiang.
Bantuan datang seperti hujan rintik: tak pasti, tidak merata. Siapa yang kebetulan hadir saat tenda dibagikan, dialah yang beruntung.
Banyak warga lain yang hingga kini belum kebagian.
Dapur umum yang semula menyelamatkan kini mulai sepi. Salma menyebut persediaan makin menipis.
“Makanan tidak lagi sebanyak saat awal-awal mengungsi,” kata Salma.
Yang paling membuat Wujud cemas adalah soal rumah bantuan.
Ia mendengar informasi bahwa bantuan rumah akan diberikan per kartu keluarga. Masalahnya, satu keluarga belum sempat mengurus administrasi kartu keluarga.
“Takutnya nanti tidak dapat rumah. Kalau memang prosedur pemerintah begitu, ya apa boleh buat.”
Ia tak menuntut. Jika dibantu, syukur. Bila tidak, pasrah. Baginya, pemerintah tak punya utang apa pun kepada mereka.
![Ali Rasyid—atau yang lebih dikenal warga dengan sapaan Wujud (kiri) bersama istri Salma (kanan), di tenda kecil di Gampong Sukajadi. [Suara.com/Iskandar]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/02/66114-ali-rasyid-warga-aceh-tamiang-pengungsian-aceh-tamiang.jpg)
Kenangan saat banjir datang, masih terpatri. Air bah tiba tanpa memberi waktu Wujud dan keluarga untuk berpikir.
Mereka lari ke masjid di dataran tinggi. Tiga hari terkurung lapar. Ada cucu-cucu kecil, ada menantu yang tengah mengandung.
“Makan cuma satu orang satu sendok,” kenangnya.
Nasi dimasak bersama mi, lalu dibagi sedikit demi sedikit.
“Saya tak tega makan. Saya pikir cucu ini bagaimana, menantu bagaimana.”
Lebih dari satu bulan berlalu sejak bencana. Trauma belum hilang. Kampung mereka berdiri di tengah aliran sungai. Setiap mendung datang, ketakutan pun kembali.
“Saya ini sudah tidak ada tenaga lagi,” kata Wujud. “Hati pun sudah takut.”
Salma menimpali lirih, “Rasanya tidak mau lagi di sini.”
Namun ke mana mereka harus pergi? Wujud dulu berdagang kecil-kecilan dan menarik becak. Kini tak ada modal, begitu juga tenaga. Buntu.
“Mana ada modal jatuh dari langit.”
Yang bisa mereka selamatkan saat banjir hanya nyawa. Tak ada harta. Pakaian semua hanyut. Tidak ada lagi barang berharga.
Kini, untuk makan pun mereka bergantung pada pemberian orang.
Ketika saya datang, mereka hanya mendapat bubur kacang hijau.
“Tidak ada nasi hari ini, ya tidak apa-apa,” ucap Wujud.
“Kemarin saja makan satu sendok.”
Ia menghela napas panjang. “Kami ini ibarat benda. Mau dibawa ke mana pun tidak ada masalah. Kalau mati, ya sama-sama.”
Di gampong itu ada sekitar sepuluh keluarga yang sebelumnya tinggal di rumah sewa. Mereka cemas akan terlewat dalam pendataan.
“Saya harap mereka tidak dilupakan,” ujarnya.
Wujud berharap pembagian bantuan dilakukan secara merata.
“Rata-rata, warga gampong ini orang susah. Mulai dari nol, ya dibagi rata saja.”
Berharap bantuan rumah
Tak jauh dari tenda Wujud, Edo memilih duduk di luar rungkup dengan celana pendek.
Cuaca siang itu terik. Panas di dalam membuatnya serasa terperangkap sauna.
Rumah Edo hancur. Becaknya—alat utama untuk mencari nafkah—terendam banjir.
Dia dan keluarganya sempat mengungsi selama lima hari ke rumah sakit di dataran tinggi.
“Tidak ada yang tersisa,” katanya. “Sudah satu bulan lebih saya tidak kerja.”
Ia menatap sayuran yang datang bersama bantuan.
“Kalau sayur datang, kami cuma bisa lihat,” ujarnya.
![Edo, saat di temui di Gampong Sukajadi Aceh Tamiang. [Suara.com/Iskandar]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/02/68154-warga-pengungsi-banjir-aceh-aceh-tamiang.jpg)
“Alat masak tidak ada. Kalau kami paksa makan mentah, nanti seperti kambing.”
Sanitasi mulai membaik. Toilet sudah tersedia. Namun kebutuhan dasar lainnya masih belum terpenuhi.
Edo baru empat hari menempati lokasi pengungsian. Bekas rumahnya belum disentuh perbaikan apa pun, kecuali jalan yang mulai dibersihkan.
“Rumah keangkat sampai pondasi.”. Bahkan mushala pun ikut terseret banjir.
Edo tinggal di rumah sewa sebelum bencana. Itu sebabnya ia tak terlalu berharap rumah bantuan.
Nasibnya kini tak jelas. Ia hanya berharap ada kompensasi.
“Kalau ada rumah, syukur,” katanya singkat.
![Anak-anak pengungsi di Gampong Sukajadi, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang. [Suara.com/Iskandar]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/02/71569-anak-anak-aceh-tamiang-di-lokasi-pengungsian-banjir-sumatera-banjir-aceh.jpg)
Dari mana datangnya kayu besar?
Rabu sore, bau anyir lumpur banjir masih membekas di Gampong Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang.
Sudah sejak satu pekan terakhir, batang-batang kayu besar yang terbawa arus baru mulai dipindahkan dari kawasan permukiman.
Sejak pagi, warga hanya menyaksikan aktivitas anggota TNI dan relawan yang membersihkan puing-puing kayu raksasa dari sekitar rumah mereka.
Mesin berat belum terlihat, pekerjaan masih mengandalkan tenaga manusia.
Di antara puing, Aji Saputra menyapa saya. Ia bercerita tentang detik-detik bencana yang melanda gampongnya.
“Hari itu air datang deras sekali. Gelombang pertama masih tenang, seperti air biasa. Tapi hantaman berikutnya membawa balok-balok kayu besar. Setelah itu, rumah-rumah kami mulai dihantam.”
Kayu-kayu dari hulu sungai berubah menjadi senjata penghancur. Dinding roboh. Perabot hanyut. Warga berlarian menyelamatkan diri.
![Kayu-kayu besar diduga milik korporasi bergelimpangan setelah terbawa banjjir di Gampong Sukajadi, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang. [Suara.com/Iskandar]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/02/83046-kayu-kayu-besar-banjir-aceh-tamiang.jpg)
Hingga kini, Aji Saputra bersama warga lain masih bertahan dalam kondisi serba terbatas.
Untuk makan, mereka mengandalkan dapur umum. Sesekali, warga memasak sendiri menggunakan kayu bakar yang tersisa.
“Alat masak hampir tidak ada sama sekali,” kata Aji.
Aktivitas ekonomi lumpuh total. Warga kehilangan pekerjaan, dan tidak memiliki sumber penghasilan.
Aji berharap pemerintah menetapkan banjir ini sebagai bencana nasional. Menurutnya, status tersebut akan mempercepat penanganan dan pemulihan.
“Kalau bencana nasional, penanganannya bisa lebih cepat.”
Dengan status itu, bantuan dari luar negeri dapat masuk dan proses pemulihan tidak berlarut-larut.
“Kalau begini rasanya lambat.”
Ia mengenang hari-hari awal pascabencana, ketika relawan justru datang lebih cepat dibanding pemerintah.
Relawan pula yang pertama kali membantu warga menyelamatkan diri dan bertahan hidup.
![Kondisi Gampong Sukajadi, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, setelah diterjang banjir bandang, Rabu (31/12/2025). [Suara.com/Iskandar]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/02/71176-banjir-aceh-kondisi-gampong-sukajadi-kecamatan-karang-baru-aceh-tamiang.jpg)
Langit kian meredup saat saya melangkah meninggalkan Gampong Tanjung Karang. Kuala Simpang tak lagi seperti kota yang biasa saya kenal.
Ia menjelma menjadi kota debu—sisa-sisa lumpur yang sejak pagi menempel kini mengering, hancur halus, dan beterbangan di udara, menutup jarak pandang mata.
Sepanjang jalan, tampak warga, relawan, hingga prajurit TNI. Wajah-wajah lelah perlahan membersihkan diri dari lumpur yang membalut tubuh mereka seharian.
Air seadanya mengalir, menghapus jejak kerja keras sejak fajar. Satu per satu, mereka kembali ke tenda-tenda pengungsian. Malam menjadi jeda singkat untuk memulihkan tenaga. [Iskandar]
Bupati Aceh Utara, Ismail A Jalil curhat kepada Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad. Apa saja yang dibicarakan?
"Kondisi itu berbahaya karena risiko kecelakaan dan paparan debu," kata Dena.
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mempercepat pemulihan infrastruktur sanitasi yang terdampak bencana di Kabupaten Aceh Tamiang.
BSI menegaskan komitmennya dalam mendukung pemulihan pasca-bencana hidrometeorologi di Aceh dengan berpartisipasi aktif dalam pembangunan Rumah Hunian Danantara (Huntara).
Bagaimana politik simbol dan populisme kanan membentuk narasi kepemimpinan yang memikat publik namun menyisakan rapor merah bagi kualitas demokrasi substantif Indonesia?
polemik
KPK kala itu menaksir kerugian negara mencapai angka fantastis: Rp2,7 triliun.
polemik
Kemungkinan besar UMP Aceh tetap menggunakan angka tahun 2025.
polemik
Jakarta darurat lahan makam. Dengan rata-rata 100 jenazah per hari, 69 dari 80 TPU telah penuh
nonfiksi
Warga Gampong Kubu, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Kabupaten Bireuen, Aceh, kesulitan air bersih. Mereka bingung untuk BAB. Air lumpur pun dikonsumsi.
polemik
Sinar kebintangan Ridwan Kamil benar-benar sirna, terjerat pusaran korupsi BJB, dihantam isu perselingkuhan, hingga kini menghadapi gugatan cerai dari Atalia Praratya
polemik
Permintaan tempat duduk yang berujung makian.