Skandal Rp2,7 Triliun Menguap! Misteri di Balik SP3 'Diam-diam' Kasus Tambang Konawe Utara
Home > Detail

Skandal Rp2,7 Triliun Menguap! Misteri di Balik SP3 'Diam-diam' Kasus Tambang Konawe Utara

Dwi Bowo Raharjo | Dea Hardiningsih Irianto

Selasa, 30 Desember 2025 | 07:29 WIB

Suara.com - Sebuah skandal besar di sektor sumber daya alam berakhir antiklimaks. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menghentikan penyidikan kasus dugaan korupsi izin tambang nikel di Konawe Utara, Sulawesi Tenggara (Sultra).

Namun, bukan hanya penghentian kasusnya yang memicu polemik, melainkan "keheningan" KPK yang baru mengungkap keputusan ini setahun setelah surat perintah diterbitkan.

Drama 8 Tahun yang Berujung Buntu

Kasus yang menyeret mantan Bupati Konawe Utara, Aswad Sulaiman (ASW), ini sejatinya telah dibuka sejak 2017. Aswad dituding menerima suap Rp13 miliar dari 17 perusahaan tambang sebagai imbalan izin eksploitasi nikel.

Tak main-main, KPK kala itu menaksir kerugian negara mencapai angka fantastis: Rp2,7 triliun.

Namun 'gajah' di pelupuk mata itu kini raib. Pada Desember 2024, KPK diam-diam menerbitkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3).

Anehnya, publik baru diberi tahu pada akhir Desember 2025—tepat satu tahun setelah keputusan itu diambil.

Dalih KPK Bukti Tak Cukup dan Daluwarsa

Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, pasang badan mengenai keputusan tersebut. Ia berdalih bahwa langkah ini sudah sesuai prosedur karena sulitnya membuktikan pelanggaran Pasal 2 dan Pasal 3 UU Tipikor.

Masalah utama terletak pada penghitungan kerugian negara yang menemui jalan buntu.

“Terkendala dalam penghitungan kerugian keuangan negara,” kata Budi kepada wartawan, Senin (29/12/2025).

Infografis kasus yang menjerat Mantan Bupati Konawe Utara Aswad Sulaiman. (Suara.com/Syahda)
Infografis kasus yang menjerat Mantan Bupati Konawe Utara Aswad Sulaiman. (Suara.com/Syahda)

Selain itu, faktor usia perkara yang sudah mencapai 16 tahun (kejadian tahun 2009) membuat kasus suap ini dianggap kedaluwarsa secara hukum.

Budi menegaskan keputusan ini murni masalah teknis, bukan tekanan luar.

“KPK pastikan tidak ada intervensi dari pihak manapun. Penerbitan SP3 ini murni pertimbangan teknis dalam proses penyidikannya, yakni penghitungan kerugian keuangan negara yang tidak bisa dilakukan oleh auditor,” ujar Budi kepada Suara.com.

Ia pun menambahkan, “Namun tentu dalam proses hukumnya, harus tetap berdasarkan alat bukti.”

Aroma Intervensi dan Kritik Tajam Eks Penyidik

Langkah "menyerah" KPK ini langsung dihujani kritik pedas dari para mantan punggawa lembaga antirasuah tersebut.

Novel Baswedan, mantan penyidik senior KPK, menilai kewenangan SP3 yang diberikan UU Nomor 19 Tahun 2019 justru menjadi celah bagi kekuatan luar untuk masuk.

“Dengan adanya kewenangan SP3, maka KPK mudah terintervensi dalam penanganan perkaranya,” kritik Novel.

Ia juga menambahkan kekhawatirannya, “Belum lagi dengan kewenangan SP3, KPK bisa saja tidak berhati-hati dalam menetapkan seseorang menjadi tersangka.”

Nada serupa datang dari Yudi Purnomo Harahap. Ia mempertanyakan mengapa kasus yang sudah memiliki tersangka dan alat bukti kuat di awal justru tidak diperjuangkan di meja hijau.

“Lah waktu itu naik dari penyelidikan ke penyidikan bagaimana? Apalagi kan sudah ada tersangka juga dan tentu dua alat bukti sudah ditemukan. Jadi kenapa nggak bertarung saja di pengadilan dibanding mengeluarkan SP3,” cecar Yudi.

Ia menuntut transparansi penuh, “Tanpa transparansi dan akuntabilitas terkait SP3 tersebut, maka kecurigaan dari masyarakat kepada KPK akan meninggi.”

Dokumentasi - Tersangka mantan Bupati Konawe Utara Aswad Sulaiman (tengah), bersiap meninggalkan gedung KPK usai diperiksa di Jakarta, Selasa (17/10/2017). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/pri.
Dokumentasi - Tersangka mantan Bupati Konawe Utara Aswad Sulaiman (tengah), bersiap meninggalkan gedung KPK usai diperiksa di Jakarta, Selasa (17/10/2017). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/pri.

Pelemasan Sistemik dan Pertanyaan Besar

Peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW), Wana Alamsyah, melihat fenomena ini sebagai bukti nyata pelemahan KPK pasca-revisi UU.

ICW menyoroti keganjilan waktu pengumuman SP3 yang molor satu tahun, padahal aturan mewajibkan pelaporan ke Dewas maksimal 14 hari.

“ICW sejak awal mengkritisi kewenangan KPK menerbitkan SP3 karena rawan disalahgunakan. Penghentian perkara berpotensi tidak lagi berbasis penilaian objektif, tetapi subjektif, dan sulit ditagih akuntabilitasnya oleh publik,” tegas Wana.

Wana pun mendesak KPK menjelaskan detail perkara mana yang dihentikan.

“SP3 ini untuk perkara yang mana? Apakah terkait kerugian keuangan negara atau perkara suap? KPK wajib menjelaskan secara terang,” pungkasnya.

Kini, publik hanya bisa bertanya-tanya: apakah dugaan kerugian Rp2,7 triliun dan kerusakan lingkungan di Konawe Utara akan benar-benar berlalu tanpa pertanggungjawaban hukum?


Terkait

KPK Bantah Ada Intervensi untuk Hentikan Penyidikan Kasus Tambang Nikel Konawe Utara
Senin, 29 Desember 2025 | 17:45 WIB

KPK Bantah Ada Intervensi untuk Hentikan Penyidikan Kasus Tambang Nikel Konawe Utara

KPK memberi penjelasan soal penghentian kasus dugaan korupsi terkait pemberian izin pengelolaan pertambangan nikel di Konawe Utara.

Kasus Izin Tambang Nikel Konawe Utara Dihentikan, Ini Penjelasan KPK
Senin, 29 Desember 2025 | 13:26 WIB

Kasus Izin Tambang Nikel Konawe Utara Dihentikan, Ini Penjelasan KPK

KPK hentikan kasus korupsi nikel Konawe Utara (2009) karena bukti tak cukup, sulit hitung kerugian negara, & daluwarsa suap. SP3 terbitkan demi kepastian hukum.

Eks Pimpinan KPK 'Semprot' Keputusan SP3 Kasus Korupsi Tambang Rp2,7 Triliun: Sangat Aneh!
Minggu, 28 Desember 2025 | 14:00 WIB

Eks Pimpinan KPK 'Semprot' Keputusan SP3 Kasus Korupsi Tambang Rp2,7 Triliun: Sangat Aneh!

Saat itu, koordinasi dengan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pun sudah berjalan untuk memfinalisasi angka kerugian negara.

KPK SP3 Perkara Eks Bupati Konawe Utara, ICW Tagih Penjelasan Kasus Korupsi Tambang
Minggu, 28 Desember 2025 | 10:50 WIB

KPK SP3 Perkara Eks Bupati Konawe Utara, ICW Tagih Penjelasan Kasus Korupsi Tambang

ICW mempertanyakan pernyataan KPK mengenai SP3 yang dikeluarkan pada Desember 2024.

Terbaru
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
polemik

Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:59 WIB

Di balik narasi hijau menyelamatkan Taman Nasional Tesso Nilo, ribuan warga kecil kini kehilangan segalanyamulai dari rumah, kebun, hingga anggota keluarga dipenjara.

Ramai-ramai Berburu Anggaran di Senayan, Efisiensi Prabowo Cuma Omon-omon? polemik

Ramai-ramai Berburu Anggaran di Senayan, Efisiensi Prabowo Cuma Omon-omon?

Jum'at, 19 Juni 2026 | 21:10 WIB

Sejumlah kementerian dan lembaga berbondong-bondong mengajukan tambahan anggaran kepada DPR RI. Nilainya tidak kecil, mulai dari ratusan miliar hingga puluhan triliun rupiah

Siapa di Balik BEM Bersatu? Mengaku Kelompok Mahasiswa, Tapi Dicap Gaib Oleh Kampus polemik

Siapa di Balik BEM Bersatu? Mengaku Kelompok Mahasiswa, Tapi Dicap Gaib Oleh Kampus

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:38 WIB

Semua diawali saat sekelompok muda mengatasnamakan diri BEM Bersatu secara tiba-tiba menggelar konferensi pers pada Selasa, 16 Juni 2026

Kedok Pemulihan Hutan: Benarkah Satgas PKH Hanya Membuka Jalan Bisnis Sawit Agrinas? polemik

Kedok Pemulihan Hutan: Benarkah Satgas PKH Hanya Membuka Jalan Bisnis Sawit Agrinas?

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41 WIB

Barita Simanjuntak membantah anggapan bahwa lahan hasil penertiban otomatis akan dialihkan menjadi perkebunan sawit.

Geger Isu '98 Jilid 2', Benarkah Situasi Politik Saat Ini Mirip Era Reformasi? polemik

Geger Isu '98 Jilid 2', Benarkah Situasi Politik Saat Ini Mirip Era Reformasi?

Senin, 08 Juni 2026 | 20:04 WIB

Noel memberikan penekanan khusus bahwa situasi saat ini berisiko menyerupai peristiwaReformasi 1998jika tidak segera diantisipasi oleh Kepala Negara

Nyawa Lebih Murah dari Harga Ikan? Kisah Pahit Awak Kapal di Balik Perjuangan Ratifikasi ILO K-188 polemik

Nyawa Lebih Murah dari Harga Ikan? Kisah Pahit Awak Kapal di Balik Perjuangan Ratifikasi ILO K-188

Senin, 08 Juni 2026 | 10:26 WIB

Trauma puluhan tahun itu mengkristal menjadi sebuah ketegasan: laut bukan tempat untuk masa depan anaknya.

Motif di Balik Riset Fiktif Peneliti WNI di Denmark polemik

Motif di Balik Riset Fiktif Peneliti WNI di Denmark

Kamis, 28 Mei 2026 | 20:51 WIB

Nama-nama yang disebut dan diduga lakukan pemalsuan itu di antaranya Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti

×
Zoomed