UMP Aceh Berpotensi Tak Naik untuk 2026, Bakal Tambah Beban Masyarakat Pascabencana?
Home > Detail

UMP Aceh Berpotensi Tak Naik untuk 2026, Bakal Tambah Beban Masyarakat Pascabencana?

Dwi Bowo Raharjo | Bagaskara Isdiansyah

Minggu, 28 Desember 2025 | 06:26 WIB

Suara.com - Kabar kurang sedap menghampiri para pekerja di Tanah Rencong. Di saat provinsi lain sudah mengumumkan kepastian upah, buruh di Provinsi Aceh nampaknya masih harus mengelus dada menunggu kepastian Upah Minimum Provinsi (UMP) untuk tahun 2026.

Bukan tanpa alasan, serangkaian bencana alam mulai dari banjir bandang hingga tanah longsor yang melumpuhkan sebagian wilayah Aceh menjadi faktor utama pemerintah belum mengetok palu besaran upah tahun depan.

Satu dari Dua Provinsi yang Tercecer

Berdasarkan instruksi Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 51 Tahun 2025, para Gubernur seharusnya mengumumkan kenaikan UMP 2026 paling lambat pada 24 Desember 2025 lalu.

Namun, dari 38 provinsi di Indonesia, sebanyak 36 provinsi telah menyetorkan angka mereka.

Menariknya, hanya dua provinsi yang hingga kini masih "absen": Aceh dan Papua Pegunungan.

Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja Kemenaker, Indah Anggoro Putri, memberikan sinyal kuat bahwa upah di Aceh kemungkinan besar tidak akan bergerak dari angka tahun 2025, yakni Rp3.685.615 per bulan.

"Kalau Aceh, kemungkinan akan tetap menggunakan UMP 2025 karena kondisi pasca bencana," tegas Indah kepada wartawan.

Fokus Darurat Bencana Jadi Alasan Utama

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk (Disnakermobduk) Aceh, Akmil Husen, mengakui bahwa saat ini pemerintah daerah masih berjibaku dengan penanganan masa tanggap darurat.

Pihaknya pun telah melayangkan permohonan dispensasi kepada pemerintah pusat agar diberikan tenggat waktu hingga akhir Desember 2025.

Infografis daftar kenaikan UMP 2026 di Indonesia. (Suara.com/Aldie)
Infografis daftar kenaikan UMP 2026 di Indonesia. (Suara.com/Rochmat)

Lantas, mengapa bencana alam bisa membuat upah "jalan di tempat"?

Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, menilai langkah pemerintah yang sangat hati-hati ini sudah tepat.

Secara matematis, rumus UMP sangat bergantung pada pertumbuhan ekonomi dan inflasi. Bencana alam, menurutnya, adalah hantaman telak bagi ekonomi daerah.

"Nah kondisi bencana yang ada di Aceh memang mempengaruhi terutama pertumbuhan ekominya menurut saya. Jadi akan ada koreksi besar, akan mempengaruhi tingkat upah juga," ujar Faisal saat dihubungi Suara.com, dikutip Sabtu (27/12/2025).

Faisal menambahkan, kondisi pelaku usaha di Aceh saat ini sedang berada di titik terendah.

"Bahkan tak sedikit juga yang alami kerugian. Jadi bayangkan kalau upah itu meningkat kondisi pelaku usaha sedang berdarah-darah begini, jadi tentu akan semakin membuat jadi buruk kondisinya dan bahkan bisa dikhawatirkannya memPHK-kan," kata dia.

Dilema Kebutuhan Hidup Layak (KHL)

Di sisi lain, Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, membeberkan fakta lain dari sisi teknis.

Ia menyebutkan bahwa rata-rata Kebutuhan Hidup Layak (KHL) di Aceh sebenarnya masih berada di bawah angka UMP saat ini.

Mengutip data Kemenaker, rata-rata upah minimum kabupaten/kota di Aceh tahun 2025 adalah Rp3.696.293, sementara angka KHL-nya berada di Rp3.654.466.

"Memang selisihnya hanya sekitar Rp42 ribu, 42 ribu tapi rata-rata upah minimumnya sudah lebih tinggi," jelas Timboel.

Ia menilai secara sosiologis, meskipun tidak naik, standar upah di Aceh sebenarnya sudah melampaui perhitungan KHL pemerintah.

Jalan Tengah: Kenaikan Selektif & Subsidi

Agar beban masyarakat pascabencana tidak semakin berat, para ahli mengusulkan "Jalan Tengah".

Timboel menyarankan agar pemerintah tidak memukul rata kebijakan tersebut.

Ilustrasi rupiah (Pixabay/Iqbal Nuril Anwar )
Ilustrasi rupiah (Pixabay/Iqbal Nuril Anwar )

"Kalau yang terkena bencana itu bisa kita sepakati untuk tidak naik gitu ya (UMP). Tapi kalau untuk daerah-daerah lain kabupaten/kota lain itu yang dinaikan," saran Timboel.

Selain itu, ia mendesak pemerintah memberikan stimulus nyata lewat APBN/APBD.

"Mendorong kepada pemerintah memberikan insentif kepada pelaku usaha dan juga mendukung subsidi pembelanjaan kepada si pekerja dan keluarganya. Jadi baik pengusaha dan pekerja itu harus disubsidi harus dari APBD atau APBN," ujarnya.

Senada dengan itu, Mohammad Faisal dari CORE Indonesia menekankan bahwa program bantuan sosial (bansos) adalah kunci untuk menjaga daya beli buruh yang upahnya tidak naik.

"Akan halnya masalah daya beli dan juga pendapatan yang turun daripada buruh ini (di Aceh) mestinya bisa menjembatani oleh pemerintah dengan berbagai macam program baik bansos maupun pemulihan ekonomi," pungkas Faisal.

Kini, para pekerja di Aceh hanya bisa menunggu keputusan final di penghujung tahun: apakah pemerintah akan memberikan kado pahit atau solusi yang meringankan beban mereka pascabencana?


Terkait

Said Iqbal Tolak Kenaikan UMP Jakarta 2026 Rp5,73 Juta, Nilai Tak Cukupi Kebutuhan Hidup Layak
Kamis, 25 Desember 2025 | 11:08 WIB

Said Iqbal Tolak Kenaikan UMP Jakarta 2026 Rp5,73 Juta, Nilai Tak Cukupi Kebutuhan Hidup Layak

Berdasarkan perhitungan buruh, angka 100 persen KHL seharusnya membawa UMP Jakarta ke angka Rp5,89 juta.

Pemerintah Tetapkan Formula UMP Baru, Buruh atau Pengusaha yang Diuntungkan?
Senin, 22 Desember 2025 | 16:08 WIB

Pemerintah Tetapkan Formula UMP Baru, Buruh atau Pengusaha yang Diuntungkan?

Formula UMP baru ini memicu penolakan buruh karena dinilai tidak menjamin Kebutuhan Hidup Layak, sementara pengusaha khawatir beban usaha meningkat.

Percepat Pemulihan Pascabencana, Mendagri Instruksikan Pendataan Hunian Rusak di Tapanuli Utara
Minggu, 21 Desember 2025 | 21:25 WIB

Percepat Pemulihan Pascabencana, Mendagri Instruksikan Pendataan Hunian Rusak di Tapanuli Utara

Pendataan rumah rusak ringan hingga hilang jadi dasar bantuan renovasi relokasi korban bencana Tapanuli Utara pascabencana daerah.

Rumus Baru UMP 2026, Mampukah Penuhi Kebutuhan Hidup Layak?
Kamis, 18 Desember 2025 | 20:45 WIB

Rumus Baru UMP 2026, Mampukah Penuhi Kebutuhan Hidup Layak?

Rumus baru UMP 2026 menuai kritik buruh. Kenaikan upah dinilai belum mampu memenuhi Kebutuhan Hidup Layak dan berpotensi tekan daya beli.

Terbaru
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
polemik

Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:59 WIB

Di balik narasi hijau menyelamatkan Taman Nasional Tesso Nilo, ribuan warga kecil kini kehilangan segalanyamulai dari rumah, kebun, hingga anggota keluarga dipenjara.

Ramai-ramai Berburu Anggaran di Senayan, Efisiensi Prabowo Cuma Omon-omon? polemik

Ramai-ramai Berburu Anggaran di Senayan, Efisiensi Prabowo Cuma Omon-omon?

Jum'at, 19 Juni 2026 | 21:10 WIB

Sejumlah kementerian dan lembaga berbondong-bondong mengajukan tambahan anggaran kepada DPR RI. Nilainya tidak kecil, mulai dari ratusan miliar hingga puluhan triliun rupiah

Siapa di Balik BEM Bersatu? Mengaku Kelompok Mahasiswa, Tapi Dicap Gaib Oleh Kampus polemik

Siapa di Balik BEM Bersatu? Mengaku Kelompok Mahasiswa, Tapi Dicap Gaib Oleh Kampus

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:38 WIB

Semua diawali saat sekelompok muda mengatasnamakan diri BEM Bersatu secara tiba-tiba menggelar konferensi pers pada Selasa, 16 Juni 2026

Kedok Pemulihan Hutan: Benarkah Satgas PKH Hanya Membuka Jalan Bisnis Sawit Agrinas? polemik

Kedok Pemulihan Hutan: Benarkah Satgas PKH Hanya Membuka Jalan Bisnis Sawit Agrinas?

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41 WIB

Barita Simanjuntak membantah anggapan bahwa lahan hasil penertiban otomatis akan dialihkan menjadi perkebunan sawit.

Geger Isu '98 Jilid 2', Benarkah Situasi Politik Saat Ini Mirip Era Reformasi? polemik

Geger Isu '98 Jilid 2', Benarkah Situasi Politik Saat Ini Mirip Era Reformasi?

Senin, 08 Juni 2026 | 20:04 WIB

Noel memberikan penekanan khusus bahwa situasi saat ini berisiko menyerupai peristiwaReformasi 1998jika tidak segera diantisipasi oleh Kepala Negara

Nyawa Lebih Murah dari Harga Ikan? Kisah Pahit Awak Kapal di Balik Perjuangan Ratifikasi ILO K-188 polemik

Nyawa Lebih Murah dari Harga Ikan? Kisah Pahit Awak Kapal di Balik Perjuangan Ratifikasi ILO K-188

Senin, 08 Juni 2026 | 10:26 WIB

Trauma puluhan tahun itu mengkristal menjadi sebuah ketegasan: laut bukan tempat untuk masa depan anaknya.

Motif di Balik Riset Fiktif Peneliti WNI di Denmark polemik

Motif di Balik Riset Fiktif Peneliti WNI di Denmark

Kamis, 28 Mei 2026 | 20:51 WIB

Nama-nama yang disebut dan diduga lakukan pemalsuan itu di antaranya Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti

×
Zoomed