Ramai-ramai Berburu Anggaran di Senayan, Efisiensi Prabowo Cuma Omon-omon?
Home > Detail

Ramai-ramai Berburu Anggaran di Senayan, Efisiensi Prabowo Cuma Omon-omon?

Bangun Santoso | Lilis Varwati

Jum'at, 19 Juni 2026 | 21:10 WIB

Suara.com - "Potong perjalanan dinas, kurangi kegiatan seremonial, dan lakukan efisiensi", pesan Presiden Prabowo Subianto itu berulang kali disampaikan kepada jajaran kabinetnya di tengah tekanan ekonomi global dan kebutuhan menjaga kesehatan fiskal negara.

Namun menjelang penyusunan APBN 2027, pemandangan berbeda justru terlihat di Senayan.

Sejumlah kementerian dan lembaga berbondong-bondong mengajukan tambahan anggaran kepada DPR RI. Nilainya tidak kecil, mulai dari ratusan miliar hingga puluhan triliun rupiah.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan. Apakah agenda efisiensi yang digaungkan pemerintah tidak berjalan efektif, atau justru pagu anggaran yang ditetapkan sejak awal memang belum mencerminkan kebutuhan riil kementerian?

APBN 2026 sendiri dirancang cukup ekspansif. Pemerintah menargetkan pendapatan negara Rp3.153,6 triliun dan belanja negara Rp3.842,7 triliun, dengan defisit Rp689,1 triliun atau setara 2,68 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Belanja negara difokuskan untuk mendukung program Asta Cita, mulai dari Makan Bergizi Gratis (MBG), ketahanan pangan dan energi, pendidikan, kesehatan hingga perlindungan sosial.

Kebutuhan Riil atau Perencanaan yang Kurang Matang?

Daftar kementerian yang meminta tambahan anggaran terus bertambah. Kementerian Perindustrian mengusulkan tambahan Rp1,59 triliun untuk memperkuat hilirisasi, pengembangan industri kecil menengah, hingga pendidikan vokasi.

Kementerian Pertanian meminta tambahan Rp22,43 triliun guna mendukung target swasembada dan kedaulatan pangan.

Kementerian Kelautan dan Perikanan bahkan mengusulkan tambahan Rp30 triliun untuk pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih, revitalisasi tambak dan pemberdayaan masyarakat pesisir.

Di sektor pendidikan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mengajukan tambahan Rp40,75 triliun karena pagu indikatif sebesar Rp58,24 triliun dinilai belum cukup membiayai berbagai program prioritas.

Fenomena serupa juga terlihat pada instansi penegak hukum. Polri yang memperoleh pagu indikatif Rp118 triliun mengaku kebutuhan idealnya mencapai Rp178,6 triliun. Sementara KPK menaikkan usulan tambahan anggaran menjadi Rp989 miliar.

Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai kondisi tersebut tidak terlepas dari cara pemerintah menyusun APBN dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut dia, sejak awal pagu anggaran kementerian dan lembaga lebih banyak disesuaikan dengan program prioritas Presiden dibanding kebutuhan riil masing-masing instansi.

"Program prioritas presiden menjadi patokan K/L lainnya membuat anggaran. Program MBG ditetapkan terlebih dahulu, baru anggaran K/L disusun. Akibatnya ketika tahun depan diminta membuat program yang ideal, ada tambahan dana yang cukup besar nilainya," kata Huda.

Ia menilai sejumlah kementerian bahkan kesulitan menjalankan program pokoknya karena keterbatasan anggaran.

Beberapa kementerian, kata dia, terkesan tidak memiliki ruang gerak yang cukup akibat fokus anggaran yang terlalu besar pada program prioritas pemerintah.

Layanan Dasar Sulit Dipangkas

Di sisi lain, tidak semua tambahan anggaran dapat dipandang sebagai bentuk pemborosan.

Komisi VIII DPR RI misalnya telah menyetujui usulan tambahan anggaran sejumlah mitra kerjanya.

Kementerian Agama mendapat persetujuan tambahan Rp41,8 triliun di luar pagu indikatif Rp87,6 triliun.

Kementerian Sosial juga memperoleh dukungan atas tambahan anggaran Rp22,4 triliun di luar pagu indikatif Rp84,7 triliun.

Tambahan anggaran tersebut sebagian besar berkaitan dengan layanan dasar yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, mulai dari pendidikan keagamaan, peningkatan kesejahteraan guru, bantuan sosial, hingga berbagai program perlindungan sosial.

Ketua Komisi VIII DPR RI Marwan Dasopang menegaskan tambahan anggaran bukan sesuatu yang mudah diperoleh.

Sejumlah kementerian dan lembaga ramai-ramai mengajukan tambahan anggaran ke DPR RI. (Dok. Suara.com)
Sejumlah kementerian dan lembaga ramai-ramai mengajukan tambahan anggaran ke DPR RI. (Dok. Suara.com)

Karena itu kementerian dan lembaga harus mampu menyampaikan argumentasi yang kuat untuk meyakinkan pemerintah mengenai urgensi kebutuhan tersebut.

"Tambahan anggaran yang kita butuhkan itu tidak mudah. Kita perlu menyampaikan alasan yang dibutuhkan untuk meyakinkan pemerintah," kata Marwan saat rapat di Gedung DPR, Rabu (17/6) lalu.

Dalam kondisi tertentu, tambahan anggaran justru dianggap diperlukan untuk menjaga kualitas layanan publik dan stabilitas sosial masyarakat.

Terlebih di tengah kondisi daya beli yang belum sepenuhnya pulih, pengurangan anggaran bantuan sosial maupun pendidikan dinilai berisiko menimbulkan dampak yang lebih luas terhadap kelompok rentan.

Efisiensi atau Sekadar Geser Anggaran?

Meski demikian, kritik terhadap kebijakan efisiensi pemerintah tetap muncul.

Huda menilai efisiensi yang dilakukan pemerintah sejauh ini belum menyentuh seluruh pos belanja secara merata.

Ia menyebut terdapat kesan bahwa penghematan hanya terjadi pada sebagian kementerian dan program tertentu.

"Efisiensi yang dilakukan pun seolah tidak menyentuh anggaran prioritas dan K/L tertentu. Efisiensi tebang pilih jika saya bisa ibaratkan," ujarnya.

Menurut dia, ketimpangan alokasi anggaran juga berdampak pada pemerintah daerah karena dana transfer ke daerah ikut mengalami tekanan.

Kondisi tersebut dinilai dapat mengurangi ruang daerah untuk menjalankan program pembangunan sesuai kebutuhan masing-masing.

Perdebatan mengenai tambahan anggaran kementerian pada akhirnya memperlihatkan tantangan terbesar pemerintahan Prabowo dalam mengelola APBN.

Di satu sisi pemerintah dituntut melakukan efisiensi dan menjaga defisit tetap terkendali. Di sisi lain, kebutuhan pendanaan untuk menjalankan program prioritas dan layanan publik terus meningkat.

Karena itu ukuran keberhasilan efisiensi tidak semata-mata dilihat dari berapa banyak anggaran yang dipangkas.

Yang lebih penting adalah memastikan setiap rupiah yang dibelanjakan menghasilkan manfaat yang terukur bagi masyarakat.


Terkait

Alasan KPK Minta Tambahan Anggaran ke DPR Rp898 Miliar
Jum'at, 19 Juni 2026 | 18:21 WIB

Alasan KPK Minta Tambahan Anggaran ke DPR Rp898 Miliar

Budi Prasetyo menegaskan bahwa KPK berkomitmen untuk mengelola anggaran negara secara efektif, efisien, dan berorientasi pada hasil

Menpar Widi Minta Anggaran Rp709 Miliar, Keponakan Prabowo: Sudah Lapor Presiden? Belum?
Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:56 WIB

Menpar Widi Minta Anggaran Rp709 Miliar, Keponakan Prabowo: Sudah Lapor Presiden? Belum?

Legislator tersebut meminta agar Kementerian Pariwisata segera melaporkan usulan anggaran tersebut kepada Presiden sekaligus menyampaikan respons yang diberikan.

Geruduk DPR, Mahasiswa Desak Evaluasi Program MBG dan Kebijakan Anggaran
Jum'at, 19 Juni 2026 | 16:34 WIB

Geruduk DPR, Mahasiswa Desak Evaluasi Program MBG dan Kebijakan Anggaran

Aksi mahasiswa di depan DPR RI kian masif. Massa dari PB HMI dan Mercu Buana berunjuk rasa menuntut evaluasi program pemerintah, stabilitas harga BBM, serta kesejahteraan guru honorer.

Bawa Jelangkung Hitam ke Gedung DPR, Massa PB HMI: Prabowo atau Pertamax Turun!
Jum'at, 19 Juni 2026 | 15:51 WIB

Bawa Jelangkung Hitam ke Gedung DPR, Massa PB HMI: Prabowo atau Pertamax Turun!

Massa juga membawa spanduk yang isinya meminta pemerintah menurunkan harga bahan bakar minyak atau BBM.

Terbaru
Siapa di Balik BEM Bersatu? Mengaku Kelompok Mahasiswa, Tapi Dicap Gaib Oleh Kampus
polemik

Siapa di Balik BEM Bersatu? Mengaku Kelompok Mahasiswa, Tapi Dicap Gaib Oleh Kampus

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:38 WIB

Semua diawali saat sekelompok muda mengatasnamakan diri BEM Bersatu secara tiba-tiba menggelar konferensi pers pada Selasa, 16 Juni 2026

Kedok Pemulihan Hutan: Benarkah Satgas PKH Hanya Membuka Jalan Bisnis Sawit Agrinas? polemik

Kedok Pemulihan Hutan: Benarkah Satgas PKH Hanya Membuka Jalan Bisnis Sawit Agrinas?

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41 WIB

Barita Simanjuntak membantah anggapan bahwa lahan hasil penertiban otomatis akan dialihkan menjadi perkebunan sawit.

Geger Isu '98 Jilid 2', Benarkah Situasi Politik Saat Ini Mirip Era Reformasi? polemik

Geger Isu '98 Jilid 2', Benarkah Situasi Politik Saat Ini Mirip Era Reformasi?

Senin, 08 Juni 2026 | 20:04 WIB

Noel memberikan penekanan khusus bahwa situasi saat ini berisiko menyerupai peristiwaReformasi 1998jika tidak segera diantisipasi oleh Kepala Negara

Nyawa Lebih Murah dari Harga Ikan? Kisah Pahit Awak Kapal di Balik Perjuangan Ratifikasi ILO K-188 polemik

Nyawa Lebih Murah dari Harga Ikan? Kisah Pahit Awak Kapal di Balik Perjuangan Ratifikasi ILO K-188

Senin, 08 Juni 2026 | 10:26 WIB

Trauma puluhan tahun itu mengkristal menjadi sebuah ketegasan: laut bukan tempat untuk masa depan anaknya.

Motif di Balik Riset Fiktif Peneliti WNI di Denmark polemik

Motif di Balik Riset Fiktif Peneliti WNI di Denmark

Kamis, 28 Mei 2026 | 20:51 WIB

Nama-nama yang disebut dan diduga lakukan pemalsuan itu di antaranya Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti

Negara Tak Boleh Jadi Algojo, Mengapa Menteri Pigai Larang Polisi Tembak Mati Begundal? polemik

Negara Tak Boleh Jadi Algojo, Mengapa Menteri Pigai Larang Polisi Tembak Mati Begundal?

Senin, 25 Mei 2026 | 22:02 WIB

Kondisi ekonomi yang sulit dan ketimpangan yang tajam di wilayah aglomerasi menciptakan lahan subur bagi tindak kejahatan

Ekonomi Pancasila Prabowo, Kemandirian Bangsa atau Monopoli? polemik

Ekonomi Pancasila Prabowo, Kemandirian Bangsa atau Monopoli?

Jum'at, 22 Mei 2026 | 16:35 WIB

Prabowo menegaskan arah kebijakan fiskal ke depan akan berlandaskan pada mazhab Ekonomi Pancasila

×
Zoomed