Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Home > Detail

Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo

Tim Liputan Khusus

Kamis, 30 Juli 2026 | 16:00 WIB

Suara.com - Di balik sunyinya Desa Wlahar, kematian Sutrimo—orang kepercayaan eks Jampidsus Febrie Adriansyah—menyimpan misteri gelap. Dari pengawasan CCTV hingga intaian sosok asing, rahasia besar di balik insiden ini seolah sengaja dikunci rapat di perbukitan terpencil tersebut.

Jauh dari hiruk-pikuk pusat Kota Purwokerto, tim investigasi Suara.com melakukan penelusuran mendalam di kampung halaman Sutrimo, yakni Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Rabu (29/7/2026).

Perjalanan sejauh 40 kilometer ke arah barat ini, membawa kami ke wilayah perbukitan yang sunyi namun menyimpan ketegangan tersendiri pascakepergian almarhum Sutrimo, kepala rumah tangga (Karumga) eks Jampidsus Febrie Adriansyah.

Akses menuju jantung desa ini bukanlah perkara mudah. Terletak sekitar satu kilometer dari jalan provinsi jalur Wangon–Ajibarang—urat nadi yang menghubungkan arah selatan Jawa Tengah menuju Gerbang Tol Pejagan via Bumiayu.

Kediaman almarhum Sutrimo terletak sekitar 3 kilometer dari Kantor Desa Wlahar. Jalanan yang dilalui didominasi oleh tanjakan dan turunan curam yang menguji nyali.

Rumah tersebut tersembunyi di ujung gang sempit, berjarak sekitar 200 meter dari jalan utama desa. Meski jalan utamanya bisa dilalui dua mobil, gang menuju rumah itu memiliki kondisi permukaan yang tidak rata dengan kemiringan yang cukup ekstrem.

Kematian Janggal Sutrimo, Ada Kaitannya dengan Kasus Eks Jampidsus? (Dok. Suara.com)
Kematian Janggal Sutrimo, Ada Kaitannya dengan Kasus Eks Jampidsus? (Dok. Suara.com)

Kontras Dua Bangunan dan Pengawasan CCTV

Di sanalah orang tua Sutrimo yang telah lanjut usia, keduanya diperkirakan berumur lebih dari 70 tahun, menghabiskan hari-harinya.

Dari pengamatan langsung di lokasi, tampak bangunan utama rumah orang tua Sutrimo baru saja direnovasi dengan gaya minimalis modern. Namun, kesan "setengah jadi" terlihat pada lantai dua yang pengerjaannya tampak belum tuntas.

Satu detail yang cukup mencolok adalah keberadaan kamera pengawas (CCTV) yang terpasang di teras rumah. Pemandangan ini kontras dengan rumah adik Sutrimo yang terletak tepat di sebelahnya.

Bangunan sang adik terlihat jauh lebih sederhana; di pelatarannya hanya tampak tumpukan kayu bakar dan kulit kelapa yang berserakan, mencerminkan suasana pedesaan yang kental.

Perwakilan dari Jakarta (jaket hijau) saat memberikan uang santunan kepada keluarga Sutrimo di Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas. (Ist)
Perwakilan dari Jakarta (jaket hijau) saat memberikan uang santunan kepada keluarga Sutrimo di Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas. (Ist)

Benteng Penolakan Pihak Keluarga

Sejak jenazah Sutrimo dimakamkan, rumah ini seolah menjadi benteng yang tertutup rapat bagi orang luar, terutama awak media. Gelombang wartawan yang terus berdatangan selalu disambut dengan penolakan keras.

Pihak keluarga secara tegas menyatakan tidak berkenan menemui siapa pun yang membawa kamera atau catatan jurnalistik.

Ketegangan ini bahkan dirasakan oleh perangkat desa.

Saat tim Suara.com mencoba mendekat, sejumlah perangkat desa yang mendampingi memilih untuk berhenti dan hanya mengantar sampai di depan mulut gang.

Mereka enggan memicu kemarahan keluarga lebih lanjut. Hal ini diamini oleh Kepala Desa Wlahar, Narsim.

Saat ditemui di kantornya, ia mengungkapkan posisi sulit yang dihadapi pihak desa di tengah tekanan keluarga dan pencarian informasi oleh media.

"Keluarga tidak mau ketemu media, mereka marah dan pasti akan protes ke saya serta perangkat desa lain. Pak Kades saja yang ketemu sama media, tolong media jangan ke sini, itu kata keluarga dengan nada agak sedikit marah ke saya," ungkap Narsim, dengan nada serius.

Hingga kekinian, suasana di sekitar kediaman almarhum masih tampak tertutup, menyisakan tanya di balik dinding minimalis yang dijaga ketat oleh kamera pengawas tersebut.

Penjelasan Keluarga dan Kehadiran Pengintai

Tim Suara.com akhirnya berhasil bertemu dengan pihak keluarga almarhum Sutrimo.

Saat ditemui, ayah sambung Sutrimo yaitu Sumeri mengenakan baju koko dan bersarung.

Ia sedang bersiap menerima para tamu yang akan menggelar tahlilan dan yasinan yang digelar selama 7 hari kematian.

Sumeri mengungkapkan, Sutrimo sempat pulang ke rumah seminggu sebelum dikabarkan meninggal.

Ketika di rumah, Sutrimo sendiri tidak menceritakan apa pun terkait pekerjaan atau kondisi kehidupannya selama di perantauan.

"Ya sempat pulang sebentar empat hari terus berangkat lagi. Ceritanya sama ibu terus, katanya di Jakarta tidurnya sampai jam 4. Trimo tidak mengeluhkan apa apa, walaupun memang sudah lama sakit diabetes," ungkapnya.

Tidak banyak hal yang disampaikan Sumeri dan juga ibu kandung almarhum Sutrimo yang kami temui.

Sumeri lebih terlihat tenang dan bersikap ramah, tetapi ibu kandung Sutrimo lebih banyak diam dan justru berbicara dengan nada agak sedikit meninggi, serta tatapan curiga. Seakan tidak berkenan bertemu dengan tim kami.

Tak lama, rombongan tamu yang akan menggelar pengajian mulai berdatangan.

"Trimo sakit gula dan yang penting saya sudah ikhlas," katanya singkat.

Berdasarkan penuturan warga sekitar lokasi rumah keluarga Sutrimo, sejak hari pemakaman, ada beberapa orang tak dikenal bukan warga sekitar yang seolah olah mengamati aktivitas orang yang akan bertamu ke rumah Sutrimo.

Bahkan, ada seseorang warga desa lain yang pada saat itu akan bermain, sempat ditanya terkait apa keperluannya.

"Ya memang sempat ada orang yang bukan warga sini, kadang berseliweran mas. Tetapi kita juga tidak tanya, hanya kata teman saya yang mau ngambil burung, sempat ditanya-tanya, keperluannya apa, kepentingannya apa. Karena orangnya ketakutan akhirnya tak jadi ke sini. Kita sendiri sempat kebingungan, ya karena warga desa jadi milih diam aja kita mas," ungkapnya

Keberadaan orang yang seolah-olah memantau rumah orang tua Sutrimo, ternyata terbukti ketika tim Suara.com akan meninggalkan lokasi rumah.

Saat berada jalan persis depan rumah, orang tak dikenal menggunakan helm tertutup melintas pelan dengan motor matic merah.

Orang tersebut diam-diam merekam tim Suara.com dengan cara memegang ponsel di paha sebelah kiri, posisi kamera depan dalam mode recording.

Saat dipanggil, orang tersebut langsung tancap gas tanpa menoleh sedikit pun.

Tim Suara.com kemudian mencoba menanyakan insiden tersebut ke warga sekitar, mereka menyatakan bahwa tidak mungkin orang asli desa atau lingkungan mengendari motor menggunakan helm di lingkungan desa. Motor tersebut juga jarang terlihat melintas di gang kecil ini.

Tim Forensik Angkut Barang Bukti dari Klinik Lokasi Penemuan Penjaga Rumah Febrie Adriansyah [Suara.com/Cornelius]
Tim Forensik Angkut Barang Bukti dari Klinik Lokasi Penemuan Penjaga Rumah Febrie Adriansyah, Sutrimo. [Suara.com/Cornelius]

"Kelihatan banget bukan orang sekitar sini, tak ada yang punya Motor PCX merah. Warga sini kalau motoran di desa, ya tak ada yang pakai helm full face kayak tadi," ungkapnya.

Selain itu, keberadaan kamera pengawas yang berada di rumah orang tua Sutrimo sebenarnya juga mengundang tanda tanya warga sekitar.

Terlebih, melihat dari kondisi lingkungan desa yang cenderung aman, jalan setapak.

"Kaitannya CCTV, saya tak tau persis kapan ada kamera CCTV, tapi sepertinya baru sih. Karena seingat saya waktu ada acara bedah rumah dari desa dua minggu yang lalu, belum terpasang," katanya.

Sebagai informasi, Sutrimo sebelumnya ditemukan sekarat di depan Klinik Mordent di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada, Kamis (23/7/2026) malam. Nyawanya tak tertolong saat tiba di Rumah Sakit (RS) Muhammadiyah, Taman Puring, Jakarta.

Belakangan terungkap kalua Sutrimo merupakan pembantu rumah tangga (ART) dari eks Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah.


Terkait

Febri Diansyah Tantang Kejagung Buktikan Pemilik Emas 74 Kg: Jangan Cuma Andalkan Pengakuan Tesangka
Kamis, 30 Juli 2026 | 13:28 WIB

Febri Diansyah Tantang Kejagung Buktikan Pemilik Emas 74 Kg: Jangan Cuma Andalkan Pengakuan Tesangka

Febri mengatakan bahwa penyidik juga harus bisa menjelaskan terkait predicate crime atau tindak pidana asal yang menjadi dasar penetapan tersangka

Kuasa Hukum Febrie Adriansyah Bungkam Ditanya Soal Kematian Sutrimo
Kamis, 30 Juli 2026 | 10:29 WIB

Kuasa Hukum Febrie Adriansyah Bungkam Ditanya Soal Kematian Sutrimo

Febri Diansyah menjelaskan bahwa tak ada pembahasan soal kematian pria bernama Sutrimo.

Kematian Janggal Sutrimo, Benarkah Terkait Kasus Eks Jampidsus?
Rabu, 29 Juli 2026 | 20:31 WIB

Kematian Janggal Sutrimo, Benarkah Terkait Kasus Eks Jampidsus?

Sutrimo sempat dibawa ke Rumah Sakit Muhammadiyah Taman Puring, Jakarta Selatan, namun saat ditangani petugas medis, kondisinya sudah meninggal dunia

Klaim Dikriminalisasi Febrie Adriansyah Dipertanyakan, Jangan Semua Tersangka Mengaku Jadi Korban
Rabu, 29 Juli 2026 | 15:57 WIB

Klaim Dikriminalisasi Febrie Adriansyah Dipertanyakan, Jangan Semua Tersangka Mengaku Jadi Korban

Akademisi Binus menilai klaim kriminalisasi eks Jampidsus Febrie Adriansyah perlu dikaji. Jika ada bukti cukup dan kerugian negara, proses hukum harus dihormati.

Terbaru
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
polemik

Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman

Kamis, 30 Juli 2026 | 15:38 WIB

Tidak seorang pun dari rombongan pengantar jenzah Sutrimo memperkenalkan identitas ataupun menjelaskan dari instansi mana.

Kami Ireng Tapi Bukan Londo, Menjawab Cap Antek Asing dari Podium Kekuasaan polemik

Kami Ireng Tapi Bukan Londo, Menjawab Cap Antek Asing dari Podium Kekuasaan

Senin, 27 Juli 2026 | 18:33 WIB

MTI menilai persoalan mendasar dari pernyataan Prabowo bukan semata pada legalitas ucapan, melainkan implikasinya yang sangat destruktif bagi kualitas demokrasi

Gratis Tapi Mahal, Mengapa RI Nekat Terima Hibah Kapal Induk Tua Italia? polemik

Gratis Tapi Mahal, Mengapa RI Nekat Terima Hibah Kapal Induk Tua Italia?

Jum'at, 24 Juli 2026 | 18:36 WIB

Meski keputusan ini diambil secara bulat, proses persetujuan sebelumnya sempat diwarnai kritik tajam terkait prosedur yang mendadak serta kekhawatiran akan beban anggaran

Misteri Emas 74 Kg di Rumah Eks Jampidsus, Benarkah Barang Titipan? polemik

Misteri Emas 74 Kg di Rumah Eks Jampidsus, Benarkah Barang Titipan?

Rabu, 15 Juli 2026 | 17:20 WIB

Pernyataan Febrie Adriansyah yang menyebut emas tersebut sudah ada pemiliknya justru menjadi titik penting dalam proses pembuktian

Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo polemik

Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:59 WIB

Di balik narasi hijau menyelamatkan Taman Nasional Tesso Nilo, ribuan warga kecil kini kehilangan segalanyamulai dari rumah, kebun, hingga anggota keluarga dipenjara.

Ramai-ramai Berburu Anggaran di Senayan, Efisiensi Prabowo Cuma Omon-omon? polemik

Ramai-ramai Berburu Anggaran di Senayan, Efisiensi Prabowo Cuma Omon-omon?

Jum'at, 19 Juni 2026 | 21:10 WIB

Sejumlah kementerian dan lembaga berbondong-bondong mengajukan tambahan anggaran kepada DPR RI. Nilainya tidak kecil, mulai dari ratusan miliar hingga puluhan triliun rupiah

Siapa di Balik BEM Bersatu? Mengaku Kelompok Mahasiswa, Tapi Dicap Gaib Oleh Kampus polemik

Siapa di Balik BEM Bersatu? Mengaku Kelompok Mahasiswa, Tapi Dicap Gaib Oleh Kampus

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:38 WIB

Semua diawali saat sekelompok muda mengatasnamakan diri BEM Bersatu secara tiba-tiba menggelar konferensi pers pada Selasa, 16 Juni 2026

×
Zoomed