Siapa Aktor Di Balik Pembubaran Nobar Film Pesta Babi?
Home > Detail

Siapa Aktor Di Balik Pembubaran Nobar Film Pesta Babi?

Bangun Santoso | Faqih Fathurrahman

Jum'at, 15 Mei 2026 | 17:33 WIB

Suara.com - Sejumlah kegiatan nonton bareng atau nobar film dokumenter Pesta Babi dibubarkan (diduga aparat) di sejumlah kampus Nusa Tenggara Barat (NTB).

Film karya Dandhy Laksono dkk itu dibubarkan saat hendak diputar di Universitas Mataram, pada Kamis (7/5) dan Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, pada Jumat (8/5/2026).

Pada bulan sebelumnya, pemutaran film Pesta Babi juga sempat dibubarkan saat diputar di Universitas Pendidikan Mataram pada Senin (27/4/2026).

Kegiatan pembubaran nobar ini justru kontras bertentangan dengan pernyataan Menko Kumham dan Imipas Yusril Ihza Mahendra yang menyatakan, jika pemerintah tidak pernah mengeluarkan arahan ataupun kebijakan pelarangan pemutaran maupun kegiatan nobar film Pesta Babi tersebut.

Apa Itu Film Pesta Babi?

Untuk diketahui, judul film dokumenter Pesta Babi merupakan metafora. Judul film pesta babi diambil dari tradisi ritual adat suku Muyu bernama Awon Atatbon.

Ini menjadi metafora bahwa kerusakan hutan adat mengancam identitas budaya dan kelangsungan hidup masyarakat lokal, karena tanpa hutan tidak ada babi, dan tanpa babi tidak ada pesta atau kehidupan sosial.

Dokumenter ini menyoroti dampak proyek pangan dan bioetanol skala besar di Merauke, Boven Digoel, dan Mappi, yang membuat warga adat kehilangan tanah leluhur mereka.

Film ini memicu perhatian publik karena banyak pemutaran filmnya dibubarkan secara paksa oleh aparat di berbagai tempat, seperti di Ternate dan Mataram, dengan alasan izin atau muatan yang dianggap provokatif.

Film berdurasi 90-95 menit ini memiliki pesan utama, selain menunjukkan hilangnya tanah adat, film ini menyoroti keterlibatan aktor-aktor berkepentingan (militer dan perusahaan) dalam pengamanan proyek investasi tersebut.

Tak Perlu Takut pada Film

Membedah film Pesta Babi yang ramai dilarang. (Dok. Suara.com)
Membedah film Pesta Babi yang ramai dilarang. (Dok. Suara.com)

Direktur Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno mengatakan jika negara seharusnya tidak perlu takut dengan film. Film merupakan produk karya seni.

Ia menilai, film dokumenter Pesta Babi sama seperti dengan film-film lainnya. Sehingga tidak perlu ada kekhawatiran yang berlebihan.

“Enggak usahlah takut sama film, gitu kan. Film itu apa sih? Ya kayak film-film biasa gitu, nggak perlu dikhawatirkan secara berlebihan lah,“ kata Adi Prayitno, saat dihubungi Suara.com, Jumat (15/5/2026).

Adi berpendapat, jika film seharusnya bisa menjadi konsumsi publik. Sebab, itu merupakan produk seni yang menyangkut dengan kebebasan berekspresi.

“Saya kira itu mestinya secara terbuka diperbolehkan untuk dikonsumsi, seperti ditonton oleh seluruh rakyat Indonesia,” ujarnya.

Kemudian, kekhawatiran yang berlebihan tentang film ini, hanya akan membuat citra pemerintah kurang baik.

Padahal Menko Yusril selaku pihak yang mewakili pemerintah menegaskan, soal bubar membubarkan itu tidak ada urusannya dengan pemerintah.

Seharusnya, pelaku pembubaran membuka ruang dialog dan menjelaskan alasan mereka soal penyebab pembubaran pemutaran film tersebut.

“Yusril itu mewakili wajah pemerintah yang menganggap soal bubar membubarkan itu nggak ada urusannya dengan pemerintah. Karenanya, pihak-pihak tertentu yang mungkin, apa namanya, membubarkan nonton film itu, sebisa mungkin adakan ruang dialog dan tabayyun,” katanya

“Apa yang kemudian menjadi alasan pembubaran, kira-kira begitu. Di mana letak tidak benernya, di mana letak sesuatu yang dianggap menimbulkan kegaduhan, sebelum dibubarkan,” tambahnya.

Pembubaran kegiatan nobar film dokumenter di negara demokrasi seharusnya tidak perlu terjadi. Terlebih saat ini pemerintah secara tegas mengatakan jika tidak pernah mengeluarkan larangan.

“Pihak-pihak yang membubarkan itu atas nama siapa gitu loh? Iya kan? Yang membubarkan itu atas nama warga negara biasa, atau atas organisasi tertentu, atau mewakili siapa?,” ujarnya.

“Karena pemerintah secara terbuka, secara resmi tidak pernah memberikan larangan apapun terkait dengan film-film,” imbuhnya.


Terkait

Film Pesta Babi tentang Apa? Tuai Kontroversi hingga Pembubaran Acara Nobar
Jum'at, 15 Mei 2026 | 15:24 WIB

Film Pesta Babi tentang Apa? Tuai Kontroversi hingga Pembubaran Acara Nobar

Melalui trailer yang diunggah di kanal YouTube Indonesia Baru, penonton diperlihatkan suasana hutan Papua yang dibabat menggunakan alat berat.

Bantah Pemerintah Larang Nobar Film Pesta Babi, Menko Yusril: Silakan Tonton dan Debat!
Kamis, 14 Mei 2026 | 17:39 WIB

Bantah Pemerintah Larang Nobar Film Pesta Babi, Menko Yusril: Silakan Tonton dan Debat!

Pembubaran yang sempat terjadi di sejumlah daerah bukan arahan pemerintah, melainkan dinamika lokal yang berkaitan dengan prosedur di masing-masing instansi.

Menonton Pesta Babi di Sidrap: Tentang Literasi dan Larangan yang Ironis
Kamis, 14 Mei 2026 | 09:00 WIB

Menonton Pesta Babi di Sidrap: Tentang Literasi dan Larangan yang Ironis

Pesta Babi karya Dandhy Laksono. Menyingkap ironi PSN di Papua Selatan yang mengancam kedaulatan pangan lokal dan tantangan kebebasan literasi di tengah tekanan daerah.

Soal Pembubaran Nobar 'Pesta Babi', TB Hasanuddin: Tidak Ada Bukti Film Itu Melanggar UU
Rabu, 13 Mei 2026 | 14:42 WIB

Soal Pembubaran Nobar 'Pesta Babi', TB Hasanuddin: Tidak Ada Bukti Film Itu Melanggar UU

Pasal 28F UUD 1945 secara tegas menjamin hak setiap warga negara untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi

Terbaru
Motif di Balik Riset Fiktif Peneliti WNI di Denmark
polemik

Motif di Balik Riset Fiktif Peneliti WNI di Denmark

Kamis, 28 Mei 2026 | 20:51 WIB

Nama-nama yang disebut dan diduga lakukan pemalsuan itu di antaranya Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti

Negara Tak Boleh Jadi Algojo, Mengapa Menteri Pigai Larang Polisi Tembak Mati Begundal? polemik

Negara Tak Boleh Jadi Algojo, Mengapa Menteri Pigai Larang Polisi Tembak Mati Begundal?

Senin, 25 Mei 2026 | 22:02 WIB

Kondisi ekonomi yang sulit dan ketimpangan yang tajam di wilayah aglomerasi menciptakan lahan subur bagi tindak kejahatan

Ekonomi Pancasila Prabowo, Kemandirian Bangsa atau Monopoli? polemik

Ekonomi Pancasila Prabowo, Kemandirian Bangsa atau Monopoli?

Jum'at, 22 Mei 2026 | 16:35 WIB

Prabowo menegaskan arah kebijakan fiskal ke depan akan berlandaskan pada mazhab Ekonomi Pancasila

Heboh Pernyataan Prabowo 'Rakyat Desa Tak Pakai Dolar', Strategi Tenangkan Warga atau Gaslighting? polemik

Heboh Pernyataan Prabowo 'Rakyat Desa Tak Pakai Dolar', Strategi Tenangkan Warga atau Gaslighting?

Rabu, 20 Mei 2026 | 13:26 WIB

Pernyataan sang Kepala Negara itu disampaikan pertama kali di momen pidato sambutannya saat peresmian Museum dan Rumah Singgah Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur

Ketika Aktor Asing Bermain di Narasi "Antek Asing" polemik

Ketika Aktor Asing Bermain di Narasi "Antek Asing"

Senin, 18 Mei 2026 | 22:10 WIB

Peristiwa besar nasional dikaitkan dengan "peran" asing di baliknya, mungkin bukan hal baru. Tapi ini soal operasi FIMI di balik demonstrasi Agustus-September 2025 lalu.

Polemik Laut China Selatan Kini Jadi Perang Dingin Digital, Bagaimana Nasib Natuna? video

Polemik Laut China Selatan Kini Jadi Perang Dingin Digital, Bagaimana Nasib Natuna?

Sabtu, 16 Mei 2026 | 17:27 WIB

Laut China Selatan yang adalah kawasan strategis jalur dagang itu belakangan tidak lagi sekadar jadi lahan pertikaian fisik, tapi juga perang informasi digital.

Polemik Laut China Selatan Masuki Babak Baru Lewat Perang Propaganda Digital, Bagaimana Indonesia? polemik

Polemik Laut China Selatan Masuki Babak Baru Lewat Perang Propaganda Digital, Bagaimana Indonesia?

Jum'at, 15 Mei 2026 | 23:55 WIB

Bukan lagi sekadar arena adu otot kapal perang atau saling klaim wilayah, polemik Laut China Selatan (LCS) belakangan sudah memasuki medan perang digital. Seperti apa?

×
Zoomed