Suara.com - Langit belum sepenuhnya terang ketika Ivany Rosaline (45) menyalakan mesin mobilnya. Jalanan mungkin masih lengang, namun pikirannya sudah riuh. Di kepala pengemudi taksi perempuan itu, ia mulai menghitung target setoran hari ini, kebutuhan dapur, hingga satu kekhawatiran yang tak pernah benar-benar lekang: kondisi sang anak yang menunggu di rumah.
Menjadi pengemudi taksi mungkin adalah rutinitas biasa bagi laki-laki. Namun, bagi seorang perempuan, profesi ini adalah medan tempur yang jauh lebih menantang.
Ivany adalah ibu dari dua anak sekaligus tulang punggung tunggal keluarga. Di balik kemudi taksinya, tersimpan cerita yang jauh lebih panjang dari sekadar perjalanan mengantar penumpang dari satu titik ke titik lain.
“Cobain Dulu Sini, Saya Setirin”
Menjadi perempuan di balik setir tak selamanya mulus. Ivany mengakui sering menghadapi tatapan ragu hingga komentar meremehkan dari penumpang laki-laki yang skeptis akan kemampuan mengemudi seorang perempuan.
Namun, Ivany tak pernah membalas dengan emosi. Ia justru menantang dengan ketenangan yang berwibawa.
“Cobain dulu sini, saya setirin,” ujar Ivany setiap kali berhadapan dengan penumpang yang meragukan keahliannya.
Kalimat itu sederhana, namun di jalanan, itu adalah bentuk perlawanan sekaligus pertahanan diri. Ia tidak sedang mencoba membuktikan bahwa dirinya lebih hebat dari laki-laki; ia hanya ingin menunjukkan bahwa ia mampu dan setara. Ivany sendiri sudah terbiasa menyetir sejak SMA, namun ia sadar dunia jalanan profesional jauh lebih keras, lebih cepat, dan sering kali tidak ramah terhadap gender.
Bertahan di Tengah Sektor Informal
Di Indonesia, jalanan bukanlah ruang yang netral. Data menunjukkan sekitar 64 persen perempuan pekerja berada di sektor informal, sebuah ruang kerja yang minim perlindungan dan penuh ketidakpastian. Secara keseluruhan, lebih dari 59 persen tenaga kerja Indonesia atau sekitar 86 juta orang, menggantungkan hidup di sektor ini.
Di dalamnya, profesi pengemudi taksi, ojek, hingga pekerja lepas menjadi realitas sehari-hari. Namun, di sektor transportasi yang kental dengan maskulinitas, jumlah perempuan masih sangat sedikit. Mereka ada, namun sebagai minoritas yang keberadaannya kerap dipertanyakan.
Ivany mengaku tak pernah memiliki rencana besar atau mimpi masa kecil untuk menjadi sopir taksi. Bergabung sebagai pengemudi taksi pada 2024, keputusan ini diambil murni karena desakan kebutuhan hidup demi kedua anaknya.
“Butuh uang cepat. Karena dengan menarik taksi hari itu, hari itu juga langsung dapat uang,” ungkapnya, saat ditemui Suara.com di kantor Bluebird, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.
Keputusan itu lahir setelah perjalanan panjang mencoba berbagai usaha, mulai dari berjualan baju bekas (thrifting), membuat kue, membuka jasa laundry, usaha ayam, hingga warung kopi. Namun, tak ada yang bertahan lama. Jalanan akhirnya menjadi pilihan terakhir sekaligus tumpuan utamanya.

Penghasilan yang Tidak Pernah Pasti
Di atas kertas, pekerjaan ini terlihat menjanjikan, namun realitasnya penuh fluktuasi. Pendapatan Ivany tidak pernah tetap, sangat bergantung pada waktu, musim, dan permintaan pasar.
“Rata-rata sekitar Rp7 juta sampai Rp8 juta per bulan, tapi itu kalau kondisi lagi bagus,” tuturnya.
Ada masa panen saat libur akhir tahun di mana penghasilan bisa melonjak hingga dua kali lipat, namun ada pula masa sepi yang terasa begitu panjang.
“Februari itu paling drop. Saya cuma dapat lima jutaan. Itu pun harus kerja keras sekali,” kenangnya.
Setiap hari adalah ketidakpastian. Setiap perjalanan adalah harapan. Selama satu tahun delapan bulan menjadi pengemudi, Ivany telah bertemu banyak orang—dari mereka yang kemudian menjadi pelanggan tetap, sahabat, hingga penumpang yang datang dalam kondisi paling rapuh.
Salah satu momen yang paling membekas adalah saat ia mengantar seorang lansia yang sedang sakit dan tampak sangat pesimis dengan hidupnya. Di dalam mobil, Ivany tidak sekadar menyetir; ia hadir sebagai pendengar dan pemberi semangat.
“Dia tidak menyangka masih ada orang yang peduli,” kenang Ivany.
Bagi Ivany, itu mungkin hanya satu perjalanan rutin, namun bagi penumpangnya, percakapan itu bisa jadi adalah sebuah titik balik.

"Hanya Saya yang Bisa Diandalkan!"
Meski tantangan di jalanan begitu keras, beban terberat Ivany justru berada di rumah. Salah satu anaknya hidup dengan kebutuhan kesehatan khusus sejak sekolah dasar, yang memerlukan perhatian dan kontrol kesehatan secara rutin.
Saat anak keduanya, Angel, didiagnosis diabetes, dunianya seolah jungkir balik. Ia sempat berada di fase merasa gagal sebagai ibu, ditambah lagi ia harus berjuang sendirian setelah pernikahannya berakhir.
“Intinya, cuma saya yang bisa diandalkan,” ujar Ivany dengan suara yang bergetar setiap kali menceritakan keluarganya.
Kini, kondisinya perlahan membaik. Sebagai pencari nafkah tunggal, ia bersyukur bisa memberikan kehidupan yang layak bagi anak-anaknya. Meski tidak mewah, keikhlasan dan ketangguhannya di balik kemudi telah membuktikan bahwa martabat seorang ibu bisa tegak berdiri, bahkan di tengah debu dan kerasnya aspal jalanan.
Ribuan perempuan berkumpul di Enghelab Square, Teheran, pada 17 April 2026 untuk merayakan Hari Angkatan Darat Iran.
KPPPA soroti risiko perempuan di ruang digital, dari cyberbullying hingga pinjaman online ilegal, serta pentingnya literasi dan kewaspadaan digital.
PPPA ungkap tekanan berlapis yang dihadapi perempuan Indonesia, dari karier hingga peran domestik, serta pentingnya keadilan akses dan dukungan lingkungan.
Hery Susanto baru saja dilantik sebagai Ketua Ombudsman periode 2026-2031 oleh Presiden Prabowo Subianto pada 10 April 2026 lalu
polemik
Persoalan akses pesawat militer Amerika Serikat bukanlah sekadar urusan teknis navigasi atau kepadatan lalu lintas udara semata
polemik
Ikan sapu-sapu bukanlah ikan asli Indonesia, habitat awalnya Sungai Amazon, Amerika
polemik
Kerry Riza dituding berperan sebagai pengatur skema fiktif dalam penyewaan kapal dan Terminal BBM Merak bersama sejumlah pejabat dan perusahaan
polemik
Di tengah kebuntuan antrean yang mengular panjang, sebuah wacana radikal mencuat ke permukaan, pemerintah mempertimbangkan sistem war tiket haji
polemik
Konflik anatara Iran dengan AS ini bukan merupakan babak baru. Hubungan antara AS dan Iran adalah salah satu konflik geopolitik paling rumit dan berkepanjangan di dunia
polemik
Saiful Mujani menilai bahwa setelah lebih dari satu tahun pemerintahan berjalan, ruang kritik terhadap pemerintah semakin tertutup