Perempuan Tangguh di Balik Setir Taksi: Kisah Ivany Menembus Ragu dan Bertahan Demi Nafkah Keluarga
Home > Detail

Perempuan Tangguh di Balik Setir Taksi: Kisah Ivany Menembus Ragu dan Bertahan Demi Nafkah Keluarga

Vania Rossa | Lilis Varwati

Selasa, 21 April 2026 | 09:00 WIB

Suara.com - Langit belum sepenuhnya terang ketika Ivany Rosaline (45) menyalakan mesin mobilnya. Jalanan mungkin masih lengang, namun pikirannya sudah riuh. Di kepala pengemudi taksi perempuan itu, ia mulai menghitung target setoran hari ini, kebutuhan dapur, hingga satu kekhawatiran yang tak pernah benar-benar lekang: kondisi sang anak yang menunggu di rumah.

Menjadi pengemudi taksi mungkin adalah rutinitas biasa bagi laki-laki. Namun, bagi seorang perempuan, profesi ini adalah medan tempur yang jauh lebih menantang.

Ivany adalah ibu dari dua anak sekaligus tulang punggung tunggal keluarga. Di balik kemudi taksinya, tersimpan cerita yang jauh lebih panjang dari sekadar perjalanan mengantar penumpang dari satu titik ke titik lain.

“Cobain Dulu Sini, Saya Setirin”

Menjadi perempuan di balik setir tak selamanya mulus. Ivany mengakui sering menghadapi tatapan ragu hingga komentar meremehkan dari penumpang laki-laki yang skeptis akan kemampuan mengemudi seorang perempuan.

Namun, Ivany tak pernah membalas dengan emosi. Ia justru menantang dengan ketenangan yang berwibawa.

“Cobain dulu sini, saya setirin,” ujar Ivany setiap kali berhadapan dengan penumpang yang meragukan keahliannya.

Kalimat itu sederhana, namun di jalanan, itu adalah bentuk perlawanan sekaligus pertahanan diri. Ia tidak sedang mencoba membuktikan bahwa dirinya lebih hebat dari laki-laki; ia hanya ingin menunjukkan bahwa ia mampu dan setara. Ivany sendiri sudah terbiasa menyetir sejak SMA, namun ia sadar dunia jalanan profesional jauh lebih keras, lebih cepat, dan sering kali tidak ramah terhadap gender.

Bertahan di Tengah Sektor Informal

Di Indonesia, jalanan bukanlah ruang yang netral. Data menunjukkan sekitar 64 persen perempuan pekerja berada di sektor informal, sebuah ruang kerja yang minim perlindungan dan penuh ketidakpastian. Secara keseluruhan, lebih dari 59 persen tenaga kerja Indonesia atau sekitar 86 juta orang, menggantungkan hidup di sektor ini.

Di dalamnya, profesi pengemudi taksi, ojek, hingga pekerja lepas menjadi realitas sehari-hari. Namun, di sektor transportasi yang kental dengan maskulinitas, jumlah perempuan masih sangat sedikit. Mereka ada, namun sebagai minoritas yang keberadaannya kerap dipertanyakan.

Ivany mengaku tak pernah memiliki rencana besar atau mimpi masa kecil untuk menjadi sopir taksi. Bergabung sebagai pengemudi taksi pada 2024, keputusan ini diambil murni karena desakan kebutuhan hidup demi kedua anaknya.

“Butuh uang cepat. Karena dengan menarik taksi hari itu, hari itu juga langsung dapat uang,” ungkapnya, saat ditemui Suara.com di kantor Bluebird, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Keputusan itu lahir setelah perjalanan panjang mencoba berbagai usaha, mulai dari berjualan baju bekas (thrifting), membuat kue, membuka jasa laundry, usaha ayam, hingga warung kopi. Namun, tak ada yang bertahan lama. Jalanan akhirnya menjadi pilihan terakhir sekaligus tumpuan utamanya.

Ivani, pengemudi taksi perempuan. (Suara.com/Lilis Varwati)
Ivani, pengemudi taksi perempuan. (Suara.com/Lilis Varwati)

Penghasilan yang Tidak Pernah Pasti

Di atas kertas, pekerjaan ini terlihat menjanjikan, namun realitasnya penuh fluktuasi. Pendapatan Ivany tidak pernah tetap, sangat bergantung pada waktu, musim, dan permintaan pasar.

“Rata-rata sekitar Rp7 juta sampai Rp8 juta per bulan, tapi itu kalau kondisi lagi bagus,” tuturnya.

Ada masa panen saat libur akhir tahun di mana penghasilan bisa melonjak hingga dua kali lipat, namun ada pula masa sepi yang terasa begitu panjang.

“Februari itu paling drop. Saya cuma dapat lima jutaan. Itu pun harus kerja keras sekali,” kenangnya.

Setiap hari adalah ketidakpastian. Setiap perjalanan adalah harapan. Selama satu tahun delapan bulan menjadi pengemudi, Ivany telah bertemu banyak orang—dari mereka yang kemudian menjadi pelanggan tetap, sahabat, hingga penumpang yang datang dalam kondisi paling rapuh.

Salah satu momen yang paling membekas adalah saat ia mengantar seorang lansia yang sedang sakit dan tampak sangat pesimis dengan hidupnya. Di dalam mobil, Ivany tidak sekadar menyetir; ia hadir sebagai pendengar dan pemberi semangat.

“Dia tidak menyangka masih ada orang yang peduli,” kenang Ivany.

Bagi Ivany, itu mungkin hanya satu perjalanan rutin, namun bagi penumpangnya, percakapan itu bisa jadi adalah sebuah titik balik.

Ivani bersama anak keduanya, Angel. (Suara.com/Lilis Varwati)
Ivani bersama anak keduanya, Angel. (Suara.com/Lilis Varwati)

"Hanya Saya yang Bisa Diandalkan!"

Meski tantangan di jalanan begitu keras, beban terberat Ivany justru berada di rumah. Salah satu anaknya hidup dengan kebutuhan kesehatan khusus sejak sekolah dasar, yang memerlukan perhatian dan kontrol kesehatan secara rutin.

Saat anak keduanya, Angel, didiagnosis diabetes, dunianya seolah jungkir balik. Ia sempat berada di fase merasa gagal sebagai ibu, ditambah lagi ia harus berjuang sendirian setelah pernikahannya berakhir.

“Intinya, cuma saya yang bisa diandalkan,” ujar Ivany dengan suara yang bergetar setiap kali menceritakan keluarganya.

Kini, kondisinya perlahan membaik. Sebagai pencari nafkah tunggal, ia bersyukur bisa memberikan kehidupan yang layak bagi anak-anaknya. Meski tidak mewah, keikhlasan dan ketangguhannya di balik kemudi telah membuktikan bahwa martabat seorang ibu bisa tegak berdiri, bahkan di tengah debu dan kerasnya aspal jalanan.


Terkait

Ribuan Perempuan Iran Turun ke Jalan, Sumpah Setia ke Mojtaba Khamenei Menggema
Senin, 20 April 2026 | 15:16 WIB

Ribuan Perempuan Iran Turun ke Jalan, Sumpah Setia ke Mojtaba Khamenei Menggema

Ribuan perempuan berkumpul di Enghelab Square, Teheran, pada 17 April 2026 untuk merayakan Hari Angkatan Darat Iran.

Perempuan Kian Rentan di Dunia Digital, KPPPA Ingatkan Bahaya Pelecehan hingga Pinjol Ilegal
Senin, 20 April 2026 | 12:18 WIB

Perempuan Kian Rentan di Dunia Digital, KPPPA Ingatkan Bahaya Pelecehan hingga Pinjol Ilegal

KPPPA soroti risiko perempuan di ruang digital, dari cyberbullying hingga pinjaman online ilegal, serta pentingnya literasi dan kewaspadaan digital.

KemenPPPA Sorot Tuntutan Sempurna pada Perempuan: Sulit Seimbangkan Karier dan Kehidupan Pribadi
Senin, 20 April 2026 | 11:49 WIB

KemenPPPA Sorot Tuntutan Sempurna pada Perempuan: Sulit Seimbangkan Karier dan Kehidupan Pribadi

PPPA ungkap tekanan berlapis yang dihadapi perempuan Indonesia, dari karier hingga peran domestik, serta pentingnya keadilan akses dan dukungan lingkungan.

Terbaru
Motif di Balik Riset Fiktif Peneliti WNI di Denmark
polemik

Motif di Balik Riset Fiktif Peneliti WNI di Denmark

Kamis, 28 Mei 2026 | 20:51 WIB

Nama-nama yang disebut dan diduga lakukan pemalsuan itu di antaranya Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti

Negara Tak Boleh Jadi Algojo, Mengapa Menteri Pigai Larang Polisi Tembak Mati Begundal? polemik

Negara Tak Boleh Jadi Algojo, Mengapa Menteri Pigai Larang Polisi Tembak Mati Begundal?

Senin, 25 Mei 2026 | 22:02 WIB

Kondisi ekonomi yang sulit dan ketimpangan yang tajam di wilayah aglomerasi menciptakan lahan subur bagi tindak kejahatan

Ekonomi Pancasila Prabowo, Kemandirian Bangsa atau Monopoli? polemik

Ekonomi Pancasila Prabowo, Kemandirian Bangsa atau Monopoli?

Jum'at, 22 Mei 2026 | 16:35 WIB

Prabowo menegaskan arah kebijakan fiskal ke depan akan berlandaskan pada mazhab Ekonomi Pancasila

Heboh Pernyataan Prabowo 'Rakyat Desa Tak Pakai Dolar', Strategi Tenangkan Warga atau Gaslighting? polemik

Heboh Pernyataan Prabowo 'Rakyat Desa Tak Pakai Dolar', Strategi Tenangkan Warga atau Gaslighting?

Rabu, 20 Mei 2026 | 13:26 WIB

Pernyataan sang Kepala Negara itu disampaikan pertama kali di momen pidato sambutannya saat peresmian Museum dan Rumah Singgah Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur

Ketika Aktor Asing Bermain di Narasi "Antek Asing" polemik

Ketika Aktor Asing Bermain di Narasi "Antek Asing"

Senin, 18 Mei 2026 | 22:10 WIB

Peristiwa besar nasional dikaitkan dengan "peran" asing di baliknya, mungkin bukan hal baru. Tapi ini soal operasi FIMI di balik demonstrasi Agustus-September 2025 lalu.

Polemik Laut China Selatan Kini Jadi Perang Dingin Digital, Bagaimana Nasib Natuna? video

Polemik Laut China Selatan Kini Jadi Perang Dingin Digital, Bagaimana Nasib Natuna?

Sabtu, 16 Mei 2026 | 17:27 WIB

Laut China Selatan yang adalah kawasan strategis jalur dagang itu belakangan tidak lagi sekadar jadi lahan pertikaian fisik, tapi juga perang informasi digital.

Polemik Laut China Selatan Masuki Babak Baru Lewat Perang Propaganda Digital, Bagaimana Indonesia? polemik

Polemik Laut China Selatan Masuki Babak Baru Lewat Perang Propaganda Digital, Bagaimana Indonesia?

Jum'at, 15 Mei 2026 | 23:55 WIB

Bukan lagi sekadar arena adu otot kapal perang atau saling klaim wilayah, polemik Laut China Selatan (LCS) belakangan sudah memasuki medan perang digital. Seperti apa?

×
Zoomed