Suara.com - Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, Pertanian (KPKP) Provinsi DKI, Satpol PP, PPSU dan Gulkarmat Jakarta Pusat, beramai-ramai menjaring ikan sapu-sapu di Kali Cideng, Jakarta Pusat.
Aksi ini tentu memantik perhatian banyak pihak usai ikan sapu-sapu dianggap ikan invasif yang mampu merusak ekosistem.
Aksi tersebut juga mengundang perhatian Gubernur DKI Jakarta, usai dilaksanakan di dekat Plaza Indonesia. Pramono kini justru meminta agar seluruh wilayah melakukan aksi serupa.
Dosen Akuakultur Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (UNAIR), Veryl Hasan mengatakan, menjamurnya ikan sapu-sapu dengan tingkat pencemaran yang tinggi seperti Jakarta karena ikan tersebut memiliki ketahanan di kondisi lingkungan yang buruk.
Pada sungai dengan tingkat kualitas air yang tercemar, banyak ikan-ikan lokal tidak mampu bertahan. Sementara ikan sapu-sapu bisa bertahan.
“Singkatnya, ketika sungai tercemar berat, ikan lain mati, sementara sapu-sapu tetap bertahan. Itu yang membuat populasinya tampak meledak,” kata Veryl, dikutip Rabu (15/4/2026).
Dalam perairan yang sehat, ikan sapu-sapu biasanya tidak terlalu dominan, sebab harus bersaing dengan ikan lokal. Belum lagi, hadirnya predator yang memangsa ikan tersebut.
Sehingga salah satu ‘obat penawar’ agar ikan sapu-sapu populasinya tidak meledak dengan cara melakukan pengendalian pencemaran. Agar ikan predator yang bisa memangsa spesies dengan nama latin Pterygoplichthys pardalis itu bisa ikut hidup dalam aliran yang sama.
Ledakan Populasi
Ikan sapu-sapu bukanlah ikan asli Indonesia, habitat awalnya Sungai Amazon, Amerika. Ledakan ikan sapu-sapu terasa sangat mengkhawatirkan sebab, satu ekor betina bisa menghasilkan telur sebanyak 19 ribu dalam satu siklus, mereka bisa berkembang biang beberapa kali dalam setahun.
Satu ekor jantan biasanya dapat membuahi dua ekor jantan. Setelahnya pejantan bakal menjaga telur-telur tersebut di dalam liang hingga menetas, sehingga tingkat keberhasilannya mencapai 90 persen.
Selain akibat berkembang biak secara masif, ikan ini mampu bertahan hidup cukup tinggi. Sebab ia bisa bertahan meski tingkat pencemaran aliran air tinggi.
Ikan sapu-sapu juga mampu bertahan meski tanpa air selama 30 jam. Ia juga bisa bernafas langsung dari udara, sementara ikan tersebut juga bisa melakukan hibernasi di lumpur saat kekeringan.
Ikan sapu-sapu juga disebut sebagai ikan ‘pembersih’ lantaran memakan segala, mulai dari alga, lumut, hingga sisa organik di dasar perairan.
Paradoks Menyapu Ikan Sapu-sapu

Pegiat dan pemerhati isu lingkungan, founder Kararas, Rejeki Wulandari dalam tulisannya sebagaimana dikutip dari Antara, memaparkan bawah operasi penangkapan ikan sapu-sapu ini berisiko menciptakan persepsi keliru di publik, seolah-olah sumber persoalan utama memang berada pada keberadaan ikan tersebut.
"Padahal, akar masalah yang lebih mendasar justru terletak pada kualitas air dan lemahnya tata kelola limbah," tulisnya.
Menurutnya, ketika persepsi publik bergeser ke arah yang keliru, maka arah kebijakan pun berpotensi ikut terseret. Akibatnya, solusi yang lahir bukan berbasis kebutuhan struktural, melainkan sekadar merespons apa yang tampak di permukaan.
Dalam konteks itu, penting untuk melihat bahwa sungai-sungai di Jakarta telah lama berada di bawah tekanan lingkungan yang berat.
Laju urbanisasi yang tinggi membawa konsekuensi meningkatnya beban pencemaran, sementara kepadatan penduduk mempercepat degradasi kualitas air.
Operasi penangkapan ikan sapu-sapu seharusnya ditempatkan sebagai bagian dari strategi yang lebih besar. Ia penting sebagai langkah pengendalian. Namun, ini bukan solusi utama.
"Pada akhirnya, sungai adalah cermin dari cara kota dikelola. Ia merekam setiap keputusan dan setiap kelalaian kita. Apa yang terjadi di dalamnya bukan kebetulan. Ia adalah hasil dari proses panjang," katanya.
Dominasi Limbah
Data limbah di Jakarta didominasi oleh sampah rumah tangga. Pemukiman penduduk menyumbang 60 persen sampah, berdasarkan hasil jurnal riset Jakarta pada tahun 2023.
Air limbah domestik dari rumah tangga juga cukup tinggi mencapai 70 persen terhadap beban polutan organik di sungai Jakarta, disusul limbah perkantoran 14 persen.
Sebagian besar limbah domestik belum diolah, dan masih dibuang ke saluran drainase atau sungai. Sementara, sebanyak 95–98 persen limbah tinja atau black water dilaporkan telah terolah dengan baik pada 2024.
Pemprov DKI perbaiki sistem aplikasi JAKI usai petugas PPSU gunakan foto AI untuk laporan fiktif. Lurah dan Kasi terkait dicopot, petugas PPSU diberi SP1 sebagai peringatan keras.
Ikan sapu sapu merupakan ikan yang kerap dijadikan "pembersih" sungai atau parit.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meminta pemangkasan dan perapian pohon sebagai langkah antisipasi El Nino, guna mencegah risiko pohon tumbang di ibu kota.
Fenomena ikan sapu-sapu masih ada walaupun sudah diberantas sehingga memunculkan pertanyaan: benarkah ikannya yang salah atau justru manusia yang sejak awal membuat masalah?
Kerry Riza dituding berperan sebagai pengatur skema fiktif dalam penyewaan kapal dan Terminal BBM Merak bersama sejumlah pejabat dan perusahaan
polemik
Di tengah kebuntuan antrean yang mengular panjang, sebuah wacana radikal mencuat ke permukaan, pemerintah mempertimbangkan sistem war tiket haji
polemik
Konflik anatara Iran dengan AS ini bukan merupakan babak baru. Hubungan antara AS dan Iran adalah salah satu konflik geopolitik paling rumit dan berkepanjangan di dunia
polemik
Saiful Mujani menilai bahwa setelah lebih dari satu tahun pemerintahan berjalan, ruang kritik terhadap pemerintah semakin tertutup
polemik
Amsal Sitepu dituntut pidana dua tahun penjara, denda Rp 50 juta, serta kewajiban membayar uang pengganti
polemik
Sentimen positif masyarakat Indonesia terhadap China naik tajam berkat faktor ekonomi, strategi soft power, serta narasi pro-Beijing yang masif di media sosial.
polemik
Keempat prajurit yang kini berstatus tersangka tersebut memiliki inisial NDP, SL, BHW, dan ES. Saat ini, mereka telah ditahan di Pomdam Jaya