Teruntuk Pak Pram, Menyapu Ikan Sapu-sapu Saja Tak Cukup
Home > Detail

Teruntuk Pak Pram, Menyapu Ikan Sapu-sapu Saja Tak Cukup

Bangun Santoso | Faqih Fathurrahman

Rabu, 15 April 2026 | 19:20 WIB

Suara.com - Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, Pertanian (KPKP) Provinsi DKI, Satpol PP, PPSU dan Gulkarmat Jakarta Pusat, beramai-ramai menjaring ikan sapu-sapu di Kali Cideng, Jakarta Pusat.

Aksi ini tentu memantik perhatian banyak pihak usai ikan sapu-sapu dianggap ikan invasif yang mampu merusak ekosistem.

Aksi tersebut juga mengundang perhatian Gubernur DKI Jakarta, usai dilaksanakan di dekat Plaza Indonesia. Pramono kini justru meminta agar seluruh wilayah melakukan aksi serupa.

Dosen Akuakultur Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (UNAIR), Veryl Hasan mengatakan, menjamurnya ikan sapu-sapu dengan tingkat pencemaran yang tinggi seperti Jakarta karena ikan tersebut memiliki ketahanan di kondisi lingkungan yang buruk.

Pada sungai dengan tingkat kualitas air yang tercemar, banyak ikan-ikan lokal tidak mampu bertahan. Sementara ikan sapu-sapu bisa bertahan.

“Singkatnya, ketika sungai tercemar berat, ikan lain mati, sementara sapu-sapu tetap bertahan. Itu yang membuat populasinya tampak meledak,” kata Veryl, dikutip Rabu (15/4/2026).

Dalam perairan yang sehat, ikan sapu-sapu biasanya tidak terlalu dominan, sebab harus bersaing dengan ikan lokal. Belum lagi, hadirnya predator yang memangsa ikan tersebut.

Sehingga salah satu ‘obat penawar’ agar ikan sapu-sapu populasinya tidak meledak dengan cara melakukan pengendalian pencemaran. Agar ikan predator yang bisa memangsa spesies dengan nama latin Pterygoplichthys pardalis itu bisa ikut hidup dalam aliran yang sama.

Ledakan Populasi

Ikan sapu-sapu bukanlah ikan asli Indonesia, habitat awalnya Sungai Amazon, Amerika. Ledakan ikan sapu-sapu terasa sangat mengkhawatirkan sebab, satu ekor betina bisa menghasilkan telur sebanyak 19 ribu dalam satu siklus, mereka bisa berkembang biang beberapa kali dalam setahun.

Satu ekor jantan biasanya dapat membuahi dua ekor jantan. Setelahnya pejantan bakal menjaga telur-telur tersebut di dalam liang hingga menetas, sehingga tingkat keberhasilannya mencapai 90 persen.

Selain akibat berkembang biak secara masif, ikan ini mampu bertahan hidup cukup tinggi. Sebab ia bisa bertahan meski tingkat pencemaran aliran air tinggi.

Ikan sapu-sapu juga mampu bertahan meski tanpa air selama 30 jam. Ia juga bisa bernafas langsung dari udara, sementara ikan tersebut juga bisa melakukan hibernasi di lumpur saat kekeringan.

Ikan sapu-sapu juga disebut sebagai ikan ‘pembersih’ lantaran memakan segala, mulai dari alga, lumut, hingga sisa organik di dasar perairan.

Paradoks Menyapu Ikan Sapu-sapu

Operasi penangkapan ikan sapu-sapu di Jakarta. (Dok. Suara.com)
Operasi penangkapan ikan sapu-sapu di Jakarta. (Dok. Suara.com)

Pegiat dan pemerhati isu lingkungan, founder Kararas, Rejeki Wulandari dalam tulisannya sebagaimana dikutip dari Antara, memaparkan bawah operasi penangkapan ikan sapu-sapu ini berisiko menciptakan persepsi keliru di publik, seolah-olah sumber persoalan utama memang berada pada keberadaan ikan tersebut.

"Padahal, akar masalah yang lebih mendasar justru terletak pada kualitas air dan lemahnya tata kelola limbah," tulisnya.

Menurutnya, ketika persepsi publik bergeser ke arah yang keliru, maka arah kebijakan pun berpotensi ikut terseret. Akibatnya, solusi yang lahir bukan berbasis kebutuhan struktural, melainkan sekadar merespons apa yang tampak di permukaan.

Dalam konteks itu, penting untuk melihat bahwa sungai-sungai di Jakarta telah lama berada di bawah tekanan lingkungan yang berat.

Laju urbanisasi yang tinggi membawa konsekuensi meningkatnya beban pencemaran, sementara kepadatan penduduk mempercepat degradasi kualitas air.

Operasi penangkapan ikan sapu-sapu seharusnya ditempatkan sebagai bagian dari strategi yang lebih besar. Ia penting sebagai langkah pengendalian. Namun, ini bukan solusi utama.

"Pada akhirnya, sungai adalah cermin dari cara kota dikelola. Ia merekam setiap keputusan dan setiap kelalaian kita. Apa yang terjadi di dalamnya bukan kebetulan. Ia adalah hasil dari proses panjang," katanya.

Dominasi Limbah

Data limbah di Jakarta didominasi oleh sampah rumah tangga. Pemukiman penduduk menyumbang 60 persen sampah, berdasarkan hasil jurnal riset Jakarta pada tahun 2023.

Air limbah domestik dari rumah tangga juga cukup tinggi mencapai 70 persen terhadap beban polutan organik di sungai Jakarta, disusul limbah perkantoran 14 persen.

Sebagian besar limbah domestik belum diolah, dan masih dibuang ke saluran drainase atau sungai. Sementara, sebanyak 95–98 persen limbah tinja atau black water dilaporkan telah terolah dengan baik pada 2024.


Terkait

Usai Kasus Foto AI PPSU, Pramono Benahi Sistem JAKI dan Batasi Akses Laporan ASN
Rabu, 15 April 2026 | 16:11 WIB

Usai Kasus Foto AI PPSU, Pramono Benahi Sistem JAKI dan Batasi Akses Laporan ASN

Pemprov DKI perbaiki sistem aplikasi JAKI usai petugas PPSU gunakan foto AI untuk laporan fiktif. Lurah dan Kasi terkait dicopot, petugas PPSU diberi SP1 sebagai peringatan keras.

Awas Logam Berat! Ini 7 Deretan Risiko Kesehatan Jika Mengonsumsi Ikan Sapu-Sapu
Rabu, 15 April 2026 | 15:33 WIB

Awas Logam Berat! Ini 7 Deretan Risiko Kesehatan Jika Mengonsumsi Ikan Sapu-Sapu

Ikan sapu sapu merupakan ikan yang kerap dijadikan "pembersih" sungai atau parit.

Pramono Wanti-Wanti Dampak El Nino, Pemangkasan Pohon Bakal Dikebut
Rabu, 15 April 2026 | 15:05 WIB

Pramono Wanti-Wanti Dampak El Nino, Pemangkasan Pohon Bakal Dikebut

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meminta pemangkasan dan perapian pohon sebagai langkah antisipasi El Nino, guna mencegah risiko pohon tumbang di ibu kota.

Misteri Ikan Sapu-Sapu yang Tak Pernah Habis Dibasmi, Ternyata Biang Keroknya Kita Sendiri?
Rabu, 15 April 2026 | 13:32 WIB

Misteri Ikan Sapu-Sapu yang Tak Pernah Habis Dibasmi, Ternyata Biang Keroknya Kita Sendiri?

Fenomena ikan sapu-sapu masih ada walaupun sudah diberantas sehingga memunculkan pertanyaan: benarkah ikannya yang salah atau justru manusia yang sejak awal membuat masalah?

Terbaru
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
polemik

Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:59 WIB

Di balik narasi hijau menyelamatkan Taman Nasional Tesso Nilo, ribuan warga kecil kini kehilangan segalanyamulai dari rumah, kebun, hingga anggota keluarga dipenjara.

Ramai-ramai Berburu Anggaran di Senayan, Efisiensi Prabowo Cuma Omon-omon? polemik

Ramai-ramai Berburu Anggaran di Senayan, Efisiensi Prabowo Cuma Omon-omon?

Jum'at, 19 Juni 2026 | 21:10 WIB

Sejumlah kementerian dan lembaga berbondong-bondong mengajukan tambahan anggaran kepada DPR RI. Nilainya tidak kecil, mulai dari ratusan miliar hingga puluhan triliun rupiah

Siapa di Balik BEM Bersatu? Mengaku Kelompok Mahasiswa, Tapi Dicap Gaib Oleh Kampus polemik

Siapa di Balik BEM Bersatu? Mengaku Kelompok Mahasiswa, Tapi Dicap Gaib Oleh Kampus

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:38 WIB

Semua diawali saat sekelompok muda mengatasnamakan diri BEM Bersatu secara tiba-tiba menggelar konferensi pers pada Selasa, 16 Juni 2026

Kedok Pemulihan Hutan: Benarkah Satgas PKH Hanya Membuka Jalan Bisnis Sawit Agrinas? polemik

Kedok Pemulihan Hutan: Benarkah Satgas PKH Hanya Membuka Jalan Bisnis Sawit Agrinas?

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41 WIB

Barita Simanjuntak membantah anggapan bahwa lahan hasil penertiban otomatis akan dialihkan menjadi perkebunan sawit.

Geger Isu '98 Jilid 2', Benarkah Situasi Politik Saat Ini Mirip Era Reformasi? polemik

Geger Isu '98 Jilid 2', Benarkah Situasi Politik Saat Ini Mirip Era Reformasi?

Senin, 08 Juni 2026 | 20:04 WIB

Noel memberikan penekanan khusus bahwa situasi saat ini berisiko menyerupai peristiwaReformasi 1998jika tidak segera diantisipasi oleh Kepala Negara

Nyawa Lebih Murah dari Harga Ikan? Kisah Pahit Awak Kapal di Balik Perjuangan Ratifikasi ILO K-188 polemik

Nyawa Lebih Murah dari Harga Ikan? Kisah Pahit Awak Kapal di Balik Perjuangan Ratifikasi ILO K-188

Senin, 08 Juni 2026 | 10:26 WIB

Trauma puluhan tahun itu mengkristal menjadi sebuah ketegasan: laut bukan tempat untuk masa depan anaknya.

Motif di Balik Riset Fiktif Peneliti WNI di Denmark polemik

Motif di Balik Riset Fiktif Peneliti WNI di Denmark

Kamis, 28 Mei 2026 | 20:51 WIB

Nama-nama yang disebut dan diduga lakukan pemalsuan itu di antaranya Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti

×
Zoomed