Geger Seruan Gulingkan Prabowo dari Saiful Mujani, Kritik Keras atau Ajakan Makar?
Home > Detail

Geger Seruan Gulingkan Prabowo dari Saiful Mujani, Kritik Keras atau Ajakan Makar?

Bangun Santoso | Bagaskara Isdiansyah

Rabu, 08 April 2026 | 18:59 WIB

Suara.com - Jagad maya media sosial dihebohkan dengan adanya potongan video yang memperlihatkan pendiri SMRC, Saiful Mujani dalam sebuah diskusi bicara upaya menggulingkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Pernyataan Saiful Mujani tersebut disampaikan dalam forum diskusi di Jakarta Timur belum lama ini. Hal itu langsung menyulut perhatian publik dan menjadi viral di media sosial, memicu perdebatan panas di berbagai kalangan.

Dalam pernyataannya itu ia menilai bahwa setelah lebih dari satu tahun pemerintahan berjalan, ruang kritik terhadap pemerintah semakin tertutup.

Ia juga menyebut perubahan dari dalam sistem sulit terjadi, sehingga mendorong gagasan bahwa tekanan dari luar menjadi satu-satunya jalan yang realistis.

Pandangan ini pun memunculkan kekhawatiran akan potensi ketegangan politik yang semakin meningkat. Di sisi lain, seruan tersebut menuai pro dan kontra, apakah pernyataan Saiful tersebut merupakan bentur makar? mengapa pernyataan itu dikeluarkan? apa dampaknya?

Siapa Saiful Mujani

Sosok Saiful Mujani sendiri bisa disebut sebagai ilmuwan politik paling berpengaruh di Indonesia. Ia dikenal sebagai pionir dalam penggunaan metodologi survei opini publik yang ilmiah untuk memetakan perilaku pemilih di Indonesia.

Dari latar belakang akademiknya, ia menempuh pendidikan sarjana di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia kemudian meraih gelar Ph.D dalam Ilmu Politik dari Ohio State University, Amerika Serikat, pada tahun 2003. Di sana, ia dibimbing oleh profesor kenamaan R. William Liddle.

Ia juga bisa dibilang sebagai sosok yang memopulerkan "survei politik ilmiah" di Indonesia. Dirinya pun mendirikan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), salah satu lembaga riset dan konsultan politik terkemuka di Indonesia.

Makna 'Menggulingkan'

Saiful sendiri usai pernyataannya upaya menjatuhkan Presiden Prabowo menjadi pamai diperbincangkan, dirinya langsung memberikan klarifikasinya.

Ia menyebut kalau apa yang disampaikannya tersebut bukan lah bentuk upaya makar. Ia menjelaskan pernyataan tersebut ia sampaikan di acara halalbihalal dengan tema “halal bihalal pengamat sebelum ditertibkan.”

Dalam acara itu ia menilai bahwa ucapannya bukan merupakan makar, melainkan political engagement.

"Pertanyaannya apakah ucapan saya itu “bisa disebut makar”? Saya tegaskan itu bukan makar, tapi “political engagement”, yakni sikap politik atau sikap yang dinyatakan tentang isu politik di hadapan orang banyak. Politiknya dalam acara itu terutama berkaitan dengan kinerja Presiden Prabowo," kata Saiful dalam keterangannya.

Menurutnya, sikap politik berada satu tingkat di bawah partisipasi politik atau tindakan politik, dan partisipasi politik adalah inti dari demokrasi. Ia berujar tidak ada demokrasi tanpa partisipasi politik.

Sementara itu, meski sudah menyampaikan klarifikasi, pernyataan Saiful tersebut menuai reaksi terutama dari Partai-Partai Politik pendukung pemerintahan Prabowo.

Sebut saja seperti tanggapan dari Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Idrus Marham yang menilai, ucapan Saiful Mujani itu provokatif dan inkonstitusional.

Kemudian Sekjen Partai Golkar,M Sarmuji juga memberikan responsnya. Ia memperingatkan agar tidak ada pihak yang mencoba mengganggu stabilitas kepemimpinan nasional yang tengah berjalan.

Pasalnya, kata dia, menggunakan perumpamaan kereta api untuk menggambarkan kondisi pemerintahan saat ini, menilai kepemimpinan Prabowo Subianto sudah berada di jalur yang benar menuju cita-cita bangsa.

Partai Gerindra sebagai pendukung utama Presiden Prabowo belum memberikan komentar apa-apa mengenai hal tersebut.

Termasuk Makar atau Tidak?

Kontroversi seruan gulingkan Prabowo. (Dok. Suara.com)
Kontroversi seruan gulingkan Prabowo. (Dok. Suara.com)

Lantas bagaimana menurut pakar pidana soal pernyataan Saiful Mujani tersebut apakah masuk kategori makar atau tidak?

Pakar Hukum Pidana, Abdul Fickar Hadjar, menilai pernyataan ilmuwan politik Saiful Mujani terkait wacana penggulingan presiden tidak dapat dikategorikan sebagai tindakan pidana makar.

Menurutnya, pernyataan tersebut masih berada dalam koridor opini dan kebebasan akademik yang dijamin oleh konstitusi di era demokrasi.

"Pernyataan Saiful Mujani yang dikemukakan mengarah pada satu cara penggulingan presiden dan sebagainya, saya kira itu masih pada level opini dan perdebatan diskusi.

Apalagi itu disampaikan dalam satu forum ilmiah atau forum akademik," ujar Abdul Fickar dalam pernyataannya kepada Suara.com.

Ia menekankan bahwa diskusi mengenai perebutan atau pergantian kekuasaan adalah hal yang wajar dan tidak dilarang kapan pun.

Meskipun secara konstitusional pergantian kekuasaan dilakukan melalui pemilu, mendiskusikan metodenya di ruang akademik bukanlah sebuah kejahatan.

Ia menilai tidak relevan jika pernyataan seorang akademisi di forum ilmiah ditarik ke wilayah politik praktis.

Kecuali, pernyataan tersebut dilontarkan di depan kekuatan politik nyata seperti massa partai, militer, atau kelompok kepentingan yang bertujuan menggerakkan kekuatan di luar konstitusi.

"Menurut saya itu hanya diskusi, perdebatan tentang bagaimana pergantian kekuasaan, yang salah satunya pada kenyataannya sekarang sedang dijabat oleh Pak Prabowo. Ya wajar saja dibicarakan itu karena forumnya adalah forum akademik. Jadi tidak bisa Saiful Mujani kemudian dikualifikasi melakukan perbuatan makar," tegasnya.

Sementara itu dalam perspektif hukum pidana (KUHP), Abdul Fickar memaparkan bahwa unsur makar memiliki kriteria yang sangat ketat dan spesifik.

Secara garis besar, makar mencakup dua hal utama: upaya membunuh kepala negara dan melakukan penggulingan kekuasaan melalui kekuatan politik nyata atau kekuatan fisik.

Ia menggarisbawahi bahwa sebuah pernyataan tidak bisa disebut makar jika tidak disertai dengan "tindakan nyata" atau perbuatan permulaan.

Hukum pidana tidak bisa menyasar seseorang hanya karena melontarkan gagasan dalam sebuah diskusi atau seminar.

"Makar itu ya harus ada persiapannya, harus ada kesiapan orang-orang yang akan melakukan penggulingan. Itu harus dibuktikan secara faktual," katanya.

Makna Secara Politis

Dilihat dari kacamata politik, pernyataan Saiful Mujani juga bisa dilihat secara mendalam, apa maksudnya dan apa dampak psikologis bagi publik.

Analis Politik dari Universitas Parahyangan (Unpar), Kristian Widya Wicaksono, menyampaikan, bahwa dalam tradisi kajian politik, langkah yang diambil Saiful Mujani sangat serius.

Pernyataan tersebut menandakan bahwa seorang aktor politik tidak lagi hanya berbeda pendapat, tetapi sudah sampai pada tahap menyatakan bahwa kekuasaan yang ada tidak layak lagi dipertahankan.

"Pernyataan Saiful Mujani sebaiknya dibaca sebagai eskalasi retorika politik, bukan otomatis sebagai pelanggaran hukum. Ia sudah masuk ke wilayah delegitimasi kepemimpinan," kata Kristian kepada Suara.com.

Lebih lanjut, Kristian melihat ada pesan ganda di balik pernyataan tersebut. Selain memberikan penilaian normatif bahwa pemerintahan saat ini bermasalah, Saiful Mujani dinilai sedang berupaya membangun tekanan kolektif dari masyarakat dan kekuatan politik di luar mekanisme formal.

"Ini bukan sekadar ekspresi kekecewaan, tetapi upaya membangun arus opini bahwa perubahan kekuasaan adalah sesuatu yang sah secara politik. Pernyataan tersebut adalah alat mobilisasi, bukan sekadar komentar," imbuhnya.

Pemilihan kata "menjatuhkan" oleh Saiful Mujani juga dianggap sebagai langkah yang disengaja dan memiliki makna final. Kristian menyebut diksi tersebut sangat berbeda dengan kata "mengkritik" atau "mengoreksi" karena langsung mengarah pada tujuan akhir, yakni mengakhiri kekuasaan.

Dalam kajian komunikasi politik, penggunaan bahasa yang tegas dan konfrontatif seperti ini sangat efektif untuk memperjelas garis pemisah antara kawan dan lawan.

Di sisi lain, Kristian memperingatkan dampak psikologis yang akan muncul di masyarakat. Ia memprediksi terjadinya polarisasi yang tajam; pendukung pemerintah akan bersikap defensif, sementara kelompok oposisi akan merasa memiliki pembenaran untuk bertindak lebih keras.

Dampak paling berbahaya justru mengintai masyarakat di kelompok tengah yang berisiko mengalami "kelelahan politik". Publik bisa melihat politik hanya sebagai arena saling menjatuhkan tanpa solusi nyata.

"Paparan bahasa politik yang menonjolkan konflik dan ancaman berkaitan dengan menurunnya kepercayaan publik. Dalam jangka panjang, hal ini dapat mengikis kepercayaan pada sistem politik itu sendiri, apalagi jika pemerintah meresponsnya dengan cara yang sama konfrontatifnya," pungkas Kristian.


Terkait

Prabowo: Jangan Anggap Presiden Pekerjaan yang Enak
Rabu, 08 April 2026 | 18:40 WIB

Prabowo: Jangan Anggap Presiden Pekerjaan yang Enak

"Jadi berdiri di sini Saudara-saudara jangan anggap ini pekerjaan yang enak, yang mau jadi presiden selamet, bener-bener aku udah terlanjur," kata Prabowo

PAN Sebut Kritik Saiful Mujani Hanya 'Buih' di Lautan, Bukan Gelombang
Rabu, 08 April 2026 | 18:32 WIB

PAN Sebut Kritik Saiful Mujani Hanya 'Buih' di Lautan, Bukan Gelombang

Waketum PAN Viva Yoga meminta publik tak khawatir soal wacana Saiful Mujani menjatuhkan Prabowo, menyebutnya hanya riak kecil yang tak mengganggu stabilitas nasional.

Prabowo Cerita Temukan Video AI Diri Sendiri: Pandai Nyanyi, Pidato Bahasa Mandarin dan Arab
Rabu, 08 April 2026 | 18:27 WIB

Prabowo Cerita Temukan Video AI Diri Sendiri: Pandai Nyanyi, Pidato Bahasa Mandarin dan Arab

Presiden Prabowo mewaspadai bahaya AI yang disalahgunakan untuk manipulasi informasi, hoaks, dan fitnah yang berpotensi memecah belah negara. Beliau meminta masyarakat tetap waspada.

Buntut Seruan Gulingkan Prabowo, Saiful Mujani dan Islah Bahrawi Mau Dilaporkan ke Polisi
Rabu, 08 April 2026 | 18:18 WIB

Buntut Seruan Gulingkan Prabowo, Saiful Mujani dan Islah Bahrawi Mau Dilaporkan ke Polisi

"Saudara Saiful Munjani dan Islah Bahrawi, ya. Karena mereka inilah yang paling getol menyuarakan, mengajak, menghasut dan menyebarkan kebencian,"

Terbaru
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
polemik

Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:59 WIB

Di balik narasi hijau menyelamatkan Taman Nasional Tesso Nilo, ribuan warga kecil kini kehilangan segalanyamulai dari rumah, kebun, hingga anggota keluarga dipenjara.

Ramai-ramai Berburu Anggaran di Senayan, Efisiensi Prabowo Cuma Omon-omon? polemik

Ramai-ramai Berburu Anggaran di Senayan, Efisiensi Prabowo Cuma Omon-omon?

Jum'at, 19 Juni 2026 | 21:10 WIB

Sejumlah kementerian dan lembaga berbondong-bondong mengajukan tambahan anggaran kepada DPR RI. Nilainya tidak kecil, mulai dari ratusan miliar hingga puluhan triliun rupiah

Siapa di Balik BEM Bersatu? Mengaku Kelompok Mahasiswa, Tapi Dicap Gaib Oleh Kampus polemik

Siapa di Balik BEM Bersatu? Mengaku Kelompok Mahasiswa, Tapi Dicap Gaib Oleh Kampus

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:38 WIB

Semua diawali saat sekelompok muda mengatasnamakan diri BEM Bersatu secara tiba-tiba menggelar konferensi pers pada Selasa, 16 Juni 2026

Kedok Pemulihan Hutan: Benarkah Satgas PKH Hanya Membuka Jalan Bisnis Sawit Agrinas? polemik

Kedok Pemulihan Hutan: Benarkah Satgas PKH Hanya Membuka Jalan Bisnis Sawit Agrinas?

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41 WIB

Barita Simanjuntak membantah anggapan bahwa lahan hasil penertiban otomatis akan dialihkan menjadi perkebunan sawit.

Geger Isu '98 Jilid 2', Benarkah Situasi Politik Saat Ini Mirip Era Reformasi? polemik

Geger Isu '98 Jilid 2', Benarkah Situasi Politik Saat Ini Mirip Era Reformasi?

Senin, 08 Juni 2026 | 20:04 WIB

Noel memberikan penekanan khusus bahwa situasi saat ini berisiko menyerupai peristiwaReformasi 1998jika tidak segera diantisipasi oleh Kepala Negara

Nyawa Lebih Murah dari Harga Ikan? Kisah Pahit Awak Kapal di Balik Perjuangan Ratifikasi ILO K-188 polemik

Nyawa Lebih Murah dari Harga Ikan? Kisah Pahit Awak Kapal di Balik Perjuangan Ratifikasi ILO K-188

Senin, 08 Juni 2026 | 10:26 WIB

Trauma puluhan tahun itu mengkristal menjadi sebuah ketegasan: laut bukan tempat untuk masa depan anaknya.

Motif di Balik Riset Fiktif Peneliti WNI di Denmark polemik

Motif di Balik Riset Fiktif Peneliti WNI di Denmark

Kamis, 28 Mei 2026 | 20:51 WIB

Nama-nama yang disebut dan diduga lakukan pemalsuan itu di antaranya Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti

×
Zoomed