Menavigasi Pergeseran Pengaruh: Kenapa Orang Indonesia Mulai "Jatuh Cinta" pada China?
Home > Detail

Menavigasi Pergeseran Pengaruh: Kenapa Orang Indonesia Mulai "Jatuh Cinta" pada China?

Tim Liputan Khusus

Senin, 30 Maret 2026 | 23:50 WIB

Suara.com - Bayangkan ketika kamu lagi asyik scrolling TikTok, lalu muncul video heroik pesawat militer China yang diklaim menembus blokade udara Israel demi mengirim bantuan ke Gaza. Video itu penuh narasi emosional: "Cuma China yang berani!" atau "Barat cuma bisa retorika!". Kamu mungkin tidak sadar kalau video itu sebenarnya hoaks hasil daur ulang klip lama, tapi ribuan netizen kita sudah telanjur menekan tombol like dan memberikan komentar pujian setinggi langit.

Fenomena ini bukan kejadian acak. Ini adalah potret kecil dari pergeseran besar dalam sentimen masyarakat Indonesia terhadap China (Tiongkok). Kalau dulu narasi tentang China selalu identik dengan ketakutan akan paham komunisme atau ancaman pekerja asing, sekarang anginnya mulai berubah. Data terbaru menunjukkan bahwa banyak orang Indonesia mulai merasa lebih "nyaman" dan bahkan lebih memilih menyandarkan harapan pada Beijing dibandingkan Washington.

Apa sih yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa negara yang dulu hubungannya sempat "beku" selama 23 tahun kini menjadi mitra yang paling dielu-elukan di media sosial kita? Mari kita bedah dinamika ini dengan kacamata yang lebih jernih.

Angka yang Berbicara: China Menyalip Amerika

Kalau kita bicara soal perasaan, mungkin subjektif. Tapi kalau bicara soal data, angkanya cukup bikin kaget. Laporan tahunan The State of Southeast Asia 2024 yang dirilis oleh ISEAS-Yusof Ishak Institute menunjukkan sebuah titik balik bersejarah. Untuk pertama kalinya, China menyalip Amerika Serikat sebagai pilihan utama jika negara-negara di Asia Tenggara dipaksa memilih pihak dalam persaingan global.

Di Indonesia, lonjakannya nggak main-main. Pada tahun 2023, persentase orang Indonesia yang memilih China hanya sekitar 53,7%. Namun, hanya dalam waktu setahun, angka itu melesat menjadi 73,2% di tahun 2024! Di sisi lain, kepercayaan pada Amerika Serikat justru anjlok dari 46,3% menjadi hanya 26,8%.

Kenapa ini terjadi? Ternyata, 54% orang Indonesia melihat China sebagai kekuatan ekonomi yang paling berpengaruh di kawasan ini. Mereka melihat kereta cepat Jakarta-Bandung yang sudah beroperasi, investasi tambang nikel di Sulawesi, hingga bantuan vaksin Sinovac yang dulu paling pertama sampai di lengan kita saat pandemi. Di mata banyak orang, China adalah negara yang "nyata" hasilnya, bukan cuma sekadar bicara soal demokrasi dan hak asasi manusia.

Strategi "Kuasa Lunak" Senilai 10 Miliar Yuan dan "Diplomasi Santri"

Perubahan sentimen ini tentu tidak "gratisan". Beijing punya strategi yang sangat rapi dan didukung modal jumbo. Sejak tahun 2008, pemerintah China diperkirakan mengucurkan dana hingga 10 miliar yuan (sekitar Rp21 triliun) per tahun hanya untuk memperkuat citra mereka di dunia.

Strategi ini disebut para ahli sebagai upaya menjadi "normative power" atau kekuatan yang membentuk norma dan persepsi publik agar selaras dengan keinginan mereka. Di Indonesia, mereka nggak lagi cuma siaran pakai Bahasa Mandarin yang cuma dimengerti kakek-nenek kita di media diaspora. Sekarang, mereka masuk lewat pintu depan dengan Bahasa Indonesia yang sangat lancar.

Coba lihat bagaimana kantor berita resmi China, Xinhua, menjalin kerja sama dengan Kantor Berita Antara dan jaringan televisi swasta seperti Metro TV. Melalui perjanjian berbagi konten yang ditandatangani tahun 2019, berita-berita dari China diterjemahkan dan disajikan langsung ke ruang keluarga kita. Kadang, saking rapinya, berita tersebut diterbitkan ulang oleh media lokal tanpa label sumber yang jelas, membuat kita sulit membedakan mana berita independen dan mana propaganda resmi.

Bahkan, hiburan pun jadi alat. Drama seri China seperti "Feather Flies to the Sky" atau film dokumenter "Miracle China" kini bisa kita tonton di TVRI dengan alih suara Bahasa Indonesia. Ini cara yang sangat halus untuk bilang: "Eh, lihat deh, China itu modern, sukses, dan budayanya keren lho".

Tantangan terbesar China di Indonesia adalah isu Xinjiang dan masyarakat Uyghur. Sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar, isu penganiayaan Muslim tentu sangat sensitif bagi kita. Beijing sadar betul akan hal ini.

Maka, lahirlah apa yang sering disebut sebagai "Diplomasi Santri". Sejak 2019, pemerintah China diketahui secara rutin mensubsidi perjalanan jurnalis, influencer, hingga tokoh-tokoh dari organisasi besar seperti NU dan Muhammadiyah untuk berkunjung langsung ke Xinjiang.

Hasilnya? Banyak dari mereka yang pulang dengan membawa cerita berbeda. Agung Danarto, sekretaris senior Muhammadiyah yang ikut tur tersebut, sempat dikutip mengatakan bahwa asrama dan ruang kelas di sana "sangat nyaman dan tidak terlihat seperti penjara". Begitu juga dengan para santri penerima beasiswa kuliah di China yang kini aktif menulis artikel atau konten media sosial tentang betapa damainya kehidupan Islam di Negeri Tirai Bambu.

Tujuannya jelas: membangun kontra-narasi terhadap laporan media Barat. Dengan memposisikan diri sebagai "sahabat dekat" komunitas Muslim dan pembela Palestina di forum internasional, China berhasil meredam kemarahan publik yang tadinya meledak terkait isu Uyghur.

Senjata Digital Bernama TikTok dan Faktor Ketergantungan Ekonomi

Bagi generasi muda Indonesia, gerbang utama mengenal China bukanlah lewat koran atau berita TV, melainkan lewat genggaman tangan, salah satunya TikTok. Sebagai aplikasi yang paling banyak diunduh di Indonesia pada 2020, TikTok (yang dimiliki oleh ByteDance, perusahaan asal China) menjadi medan tempur informasi yang sangat efektif.

Laporan investigasi sempat mengungkap bahwa antara 2018 hingga 2020, moderator aplikasi agregator berita BaBe (yang juga milik ByteDance) diinstruksikan untuk menghapus konten yang dianggap negatif terhadap otoritas China, seperti referensi ke peristiwa Tiananmen 1989 atau Mao Zedong.

Meskipun TikTok sekarang mengklaim sudah lebih terbuka, dominasi platform digital asal China ini memberikan keuntungan besar bagi penyebaran narasi pro-Beijing. Banyak influencer kita juga dilaporkan pernah diajak kerja sama dengan bayaran tertentu untuk mempromosikan pengalaman positif mereka selama di China. Dengan ribuan pengikut, sekali unggahan foto masjid cantik di Beijing dengan caption "China sangat terbuka dengan semua agama", sentimen anak muda bisa langsung bergeser.

Infografis pergeseran sentimen dan perbandingan pengaruh China dan Amerika Serikat di Indonesia. [Data: Survei ISEAS/Olah grafis: NotebookLM]
Infografis pergeseran sentimen dan perbandingan pengaruh China dan Amerika Serikat di Indonesia. [Data: Survei ISEAS/Olah grafis: NotebookLM]

Perubahan sikap ini juga sangat dipengaruhi oleh faktor "perut". Indonesia punya ketergantungan yang sangat tinggi pada China dalam bidang ekonomi. China adalah sumber impor utama dan pangsa pasar ekspor terbesar kita. Kita bahkan sudah bersepakat menggunakan Yuan dalam transaksi perdagangan untuk mengurangi ketergantungan pada Dolar AS.

Luhut Binsar Pandjaitan, yang sering dianggap sebagai penghubung utama hubungan Jakarta-Beijing, berkali-kali menekankan pentingnya investasi China bagi kemajuan Indonesia. Meskipun sempat ada insiden panas di Laut Natuna di mana kapal-kapal China masuk secara ilegal, pemerintah kita cenderung cepat mendinginkan situasi demi menjaga harmoni kerja sama ekonomi.

Namun, jangan salah sangka. Meski yang "suka" China bertambah, rasa khawatir juga tetap tinggi. Sekitar 67,4% masyarakat kita sebenarnya tetap cemas dengan dominasi ekonomi China yang terlalu besar. Mereka takut proyek-proyek besar seperti kereta cepat justru menjadi "perangkap utang" di masa depan.

Terlepas dari itu, satu hal yang cukup mengkhawatirkan adalah keterbatasan kita dalam memahami China secara mendalam. Meskipun banyak orang bicara soal China, ternyata jumlah ahli di dalam negeri yang benar-benar paham politik domestik dan struktur pemerintahan Beijing sangat terbatas.

Pendidikan Bahasa Mandarin juga belum sepopuler bahasa lain di sekolah-sekolah kita. Akibatnya, sebagian besar liputan media lokal mengenai China hanyalah hasil terjemahan dari sumber internasional atau bahkan langsung dari media pemerintah China tanpa adanya konteks kritis yang memadai.

Kurangnya literasi ini membuat publik kita mudah terombang-ambing oleh narasi-narasi yang sengaja disebar, baik itu hoaks anti-China yang rasis maupun propaganda pro-Beijing yang terlalu manis.

Lalu, pertanyaan besarnya: ke mana perginya Amerika? Sentimen pro-China yang menguat tak lepas dari perasaan bahwa Amerika Serikat mulai "meninggalkan" kawasan ini.

Sekitar 38,2% orang di kawasan ini merasa keterlibatan AS di bawah pemerintahan Biden (sebelum periode kedua Donal Trump -red) justru menurun. Janji-janji ekonomi lewat kerangka IPEF (Indo-Pacific Economic Framework) dianggap kurang nyata manfaatnya bagi masyarakat luas karena tidak memberikan akses pasar yang lebih besar bagi produk kita ke AS.

Di mata generasi muda, AS juga sering dianggap menerapkan "standar ganda". Mereka sangat vokal mengkritik pelanggaran HAM di tempat yang tidak selaras dengan kepentingannya, tapi dianggap diam saja dalam isu lain yang lebih dekat di hati masyarakat Indonesia, seperti konflik di Gaza. Kontras inilah yang dimanfaatkan dengan sangat lihai oleh mesin informasi Beijing untuk memposisikan diri sebagai alternatif yang lebih "adil".

Pada akhirnya, dinamika sentimen masyarakat Indonesia terhadap China adalah sebuah perjalanan panjang dari trauma sejarah menuju realitas ekonomi modern. Memang benar, semakin banyak dari kita yang mulai "naksir" dengan kemajuan teknologi dan kekuatan ekonomi Sang Naga. Beijing pun sudah berhasil masuk ke ruang-ruang paling privat kita melalui HP dan media sosial.

Namun, status Indonesia saat ini menurut laporan Freedom House adalah "Rentan". Kita berada di tengah persaingan dua raksasa, dan cara terbaik untuk tidak menjadi sekadar "pion" adalah dengan memperkuat ketahanan nasional dan profesionalisme media kita.

Bagi para generasi muda, kuncinya adalah keseimbangan informasi. Jangan langsung percaya dengan video viral yang terlalu emosional, baik itu yang mendiskreditkan maupun yang memuji China secara berlebihan. Tetaplah mempertahankan sikap kritis, cari sumber informasi yang bebas dari pengawasan pemerintah negara mana pun, dan ingatlah bahwa dalam politik internasional "tidak ada makan siang yang benar-benar gratis".

Angin mungkin sedang bertiup kencang dari arah Timur. Tapi, pastikan kita tetap punya jangkar yang kuat agar tidak telanjur hanyut dalam arus yang tidak kita pahami.


Terkait

Respons Komentar Trump, China Salahkan Serangan AS dan Israel sebagai Akar Masalah di Selat Hormuz
Kamis, 02 April 2026 | 16:50 WIB

Respons Komentar Trump, China Salahkan Serangan AS dan Israel sebagai Akar Masalah di Selat Hormuz

Di tengah krisis Selat Hormuz, China secara tegas salahkan serangan militer 'ilegal' AS-Israel ke Iran sebagai akar penyebab gangguan pelayaran global.

Adopsi Strategi Mao Zedong, Rahasia 'Pertahanan Mosaik' Iran yang Bikin AS-Israel Pusing
Rabu, 01 April 2026 | 12:36 WIB

Adopsi Strategi Mao Zedong, Rahasia 'Pertahanan Mosaik' Iran yang Bikin AS-Israel Pusing

Menelisik bagaimana Iran mengadopsi teori "Perang Berkepanjangan" Mao Zedong melalui Doktrin Pertahanan Mosaik.

China dan Pakistan Gabung Perang Timur Tengah! Beijing Masih Tahan Diri Kirim Bantuan ke Iran
Rabu, 01 April 2026 | 11:45 WIB

China dan Pakistan Gabung Perang Timur Tengah! Beijing Masih Tahan Diri Kirim Bantuan ke Iran

Pemerintah Tiongkok dan Pakistan bersatu jadi mediator Perang Timur Tengah. Namun, Beijing dipastikan masih menahan diri kirimkan bantuan militer ke Iran.

Terbaru
Polemik Laut China Selatan Kini Jadi Perang Dingin Digital, Bagaimana Nasib Natuna?
video

Polemik Laut China Selatan Kini Jadi Perang Dingin Digital, Bagaimana Nasib Natuna?

Sabtu, 16 Mei 2026 | 17:27 WIB

Laut China Selatan yang adalah kawasan strategis jalur dagang itu belakangan tidak lagi sekadar jadi lahan pertikaian fisik, tapi juga perang informasi digital.

Polemik Laut China Selatan Masuki Babak Baru Lewat Perang Propaganda Digital, Bagaimana Indonesia? polemik

Polemik Laut China Selatan Masuki Babak Baru Lewat Perang Propaganda Digital, Bagaimana Indonesia?

Jum'at, 15 Mei 2026 | 23:55 WIB

Bukan lagi sekadar arena adu otot kapal perang atau saling klaim wilayah, polemik Laut China Selatan (LCS) belakangan sudah memasuki medan perang digital. Seperti apa?

Operasi Plastik Digital: Bagaimana AI dan Citra 'Gemoy' Kini Juga Merambah Asia Tenggara polemik

Operasi Plastik Digital: Bagaimana AI dan Citra 'Gemoy' Kini Juga Merambah Asia Tenggara

Jum'at, 15 Mei 2026 | 22:05 WIB

Inilah realitas baru demokrasi di sekitar kita, tidak saja seperti yang telah berlangsung di Indonesia, tapi kini juga dipraktikkan di negara Asia Tenggara seperti Filipina.

Siapa Aktor Di Balik Pembubaran Nobar Film Pesta Babi? polemik

Siapa Aktor Di Balik Pembubaran Nobar Film Pesta Babi?

Jum'at, 15 Mei 2026 | 17:33 WIB

Padahal, Menko Kumham dan Imipas Yusril Ihza Mahendra menegaskan pemerintah tidak pernah mengeluarkan larangan nobar film Pesta Babi

Nalar yang Hilang di Kamar Kos, Menguak Tabir Tragedi 11 Bayi di Sleman polemik

Nalar yang Hilang di Kamar Kos, Menguak Tabir Tragedi 11 Bayi di Sleman

Selasa, 12 Mei 2026 | 21:25 WIB

Ada 11 bayi yang ditemukan tengah dititipkan. Sebagian besar lahir dari orang tua yang memilih menjauh dari peran pengasuhan sejak awal

Geger Guru Honorer Dilarang Mengajar 2027, Dihapus atau Diangkat? polemik

Geger Guru Honorer Dilarang Mengajar 2027, Dihapus atau Diangkat?

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:32 WIB

Isu guru honorer tak bisa lagi mengajar setelah 31 Desember 2026 sama juga ke telinga Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti

Srikandi Jalanan: Melawan Lelah dan Stigma Demi Masa Depan Buah Hati nonfiksi

Srikandi Jalanan: Melawan Lelah dan Stigma Demi Masa Depan Buah Hati

Jum'at, 01 Mei 2026 | 11:15 WIB

Hari Buruh yang diperingati setiap 1 Mei menjadi pengingat bahwa di balik statistik dan angka-angka itu, ada wajah-wajah seperti Sari, Ira, dan Ivany.

×
Zoomed