Korupsi 'Level Baru', Kasus Fadia Arafiq Bongkar Modus Canggih Pejabat Raup Duit Negara
Home > Detail

Korupsi 'Level Baru', Kasus Fadia Arafiq Bongkar Modus Canggih Pejabat Raup Duit Negara

Bangun Santoso | Dea Hardiningsih Irianto

Sabtu, 07 Maret 2026 | 13:38 WIB

Suara.com - Operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap Bupati Pekalongan Fadia Arafiq membuka babak baru dalam pemberantasan korupsi di Indonesia.

Kasus ini bukanlah sekadar suap atau pemerasan biasa, melainkan cerminan dari metamorfosis korupsi yang kini jauh lebih terstruktur, canggih, dan sulit diendus.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah operasi senyap, KPK menjerat seorang kepala daerah menggunakan pasal benturan kepentingan, sebuah modus yang dinilai jauh lebih berbahaya.

Bukan Suap Biasa

Berbeda dengan OTT pada umumnya yang menangkap pelaku saat transaksi suap, kasus Fadia Arafiq membongkar praktik di mana pejabat tidak lagi pasif menerima fee dari pengusaha. Sebaliknya, mereka secara aktif menciptakan mesin uangnya sendiri.

Deputi Penindakan KPK, Asep Guntur Rahayu, menjelaskan bahwa Fadia dijerat dengan Pasal 12 huruf i UU Tipikor. Pasal ini menyasar pejabat yang secara sengaja, langsung atau tidak langsung, ikut serta dalam pengadaan yang seharusnya mereka awasi.

"Ini sudah lebih maju (dari suap). Kenapa? Dia membuat perusahaan, si pejabat ini membuat perusahaan sehingga perusahaan itulah yang mengerjakan proyek, kerugiannya lebih besar," ujar Asep.

Modus ini memungkinkan pejabat mengontrol penuh keuntungan proyek dari hulu ke hilir, bukan lagi sekadar menerima persenan. Keuntungan yang didapat pun menjadi jauh lebih masif dibandingkan suap konvensional.

Jejaring Keluarga dan Bukti di Grup WA

Untuk melancarkan aksinya, Fadia Arafiq diduga mendirikan PT Raja Nusantara Berjaya (RNB) bersama suami dan anaknya. Perusahaan keluarga inilah yang kemudian dimenangkan untuk mengerjakan berbagai proyek pengadaan jasa outsourcing di lingkungan Pemkab Pekalongan.

Jejak kejahatan ini justru tidak ditemukan dalam bentuk tumpukan uang tunai, melainkan dalam bukti digital. KPK menyita ponsel yang berisi percakapan WhatsApp di grup bernama ‘Belanja RSUD’.

"Pengelolaan dan distribusi uang tersebut diatur oleh FAR (Fadia Arafiq). Setiap pengambilan uang untuk Bupati, staf selalu melaporkan, mendokumentasikan, dan mengirimkannya melalui WA Grup tersebut," jelas Asep.

Selama periode 2023-2026, PT RNB menerima transaksi senilai Rp46 miliar dari kontrak pemerintah. Dari jumlah itu, Rp19 miliar atau sekitar 40% diduga kuat dinikmati dan dibagikan langsung kepada Fadia dan keluarganya.

KPK Didesak Terapkan Pasal Pencucian Uang

Evolusi modus korupsi di kasus Fadia Arafiq. (Dok. Suara.com)
Evolusi modus korupsi di kasus Fadia Arafiq. (Dok. Suara.com)

Melihat kompleksitas kasus ini, Koordinator Masyarakat Antikorupsi (MAKI) Boyamin Saiman mendorong KPK untuk menerapkan pasal Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Langkah ini penting untuk menjerat seluruh pihak yang terlibat, termasuk keluarga Fadia yang diduga turut menikmati aliran dana.

"Harusnya kan nilai wajar dan keuntungan wajar, kalau ini kan nilainya saja sudah mahal, keuntungannya juga amat tinggi," kata Boyamin.

Dengan TPPU, KPK bisa menelusuri dan menyita aset hasil korupsi yang mungkin telah disamarkan. Boyamin menegaskan bahwa peran keluarga Fadia bukan lagi sekadar penerima pasif.

"Karena mendirikan perusahaannya kan bersama-sama juga. Jadi bukan hanya sekedar pasif kalau saya sih, tapi minimal memang bisa dikenakan pencucian uang pasif," tegasnya.

Dalih 'Penyanyi Dangdut' Tak Paham Birokrasi

Dalam pemeriksaan, Fadia Arafiq sempat memberikan alibi bahwa dirinya tidak memahami hukum dan tata kelola pemerintahan karena berlatar belakang sebagai musisi dangdut. Ia mengaku hanya menjalankan fungsi seremonial.

Namun, dalih ini dimentahkan oleh KPK dan pengamat. Asep Guntur menegaskan bahwa Fadia adalah penyelenggara negara selama dua periode bupati dan satu periode wakil bupati, sehingga seharusnya ia memahami prinsip tata kelola pemerintahan yang baik.

Boyamin Saiman juga menilai alasan tersebut tidak masuk akal dan hanya sebagai upaya untuk meringankan hukuman.

"Banyak Bupati yang berasal dari yang nggak ngerti apa-apa, pintar, banyak kok. Apalagi kalau korupsi lebih pintar lagi. Jadi itu hanya dalih untuk meringankan saja," tegas Boyamin.


Terkait

Pusaran Korupsi Fadia Arafiq Seret Suami yang Anggota DPR dan Anak, Begini Respons Golkar
Sabtu, 07 Maret 2026 | 10:55 WIB

Pusaran Korupsi Fadia Arafiq Seret Suami yang Anggota DPR dan Anak, Begini Respons Golkar

Ketiganya diduga ikut terseret dalam pusaran aliran dana hasil proyek pengadaan di Pemkab Pekalongan.

Saksi Ahli KPK Justru Sebut Pimpinan KPK Tak Berwenang Tetapkan Gus Yaqut Tersangka, Begini Jelasnya
Sabtu, 07 Maret 2026 | 10:21 WIB

Saksi Ahli KPK Justru Sebut Pimpinan KPK Tak Berwenang Tetapkan Gus Yaqut Tersangka, Begini Jelasnya

Pernyataan itu muncul saat tim kuasa hukum Gus Yaqut mempertanyakan kewenangan penetapan tersangka yang dilakukan oleh pimpinan KPK.

Ahli BPK Bongkar Dugaan Penyimpangan di Sidang Praperadilan Kasus Kuota Haji
Jum'at, 06 Maret 2026 | 22:32 WIB

Ahli BPK Bongkar Dugaan Penyimpangan di Sidang Praperadilan Kasus Kuota Haji

Kepala Auditorat BPK ungkap ada dugaan penyimpangan (dana, penjualan kuota) kasus korupsi haji Gus Yaqut. Detail ada di LHP & akan diuji di sidang pokok perkara.

Sosok 2 Anak Fadia Arafiq yang Diduga Terlibat Korupsi, Jadi Direktur Dadakan Tilap Miliaran
Jum'at, 06 Maret 2026 | 19:06 WIB

Sosok 2 Anak Fadia Arafiq yang Diduga Terlibat Korupsi, Jadi Direktur Dadakan Tilap Miliaran

Semuanya berawal dari operasi tangkap tangan (OTT) KPK terhadap Fadia Arafiq di Semarang.

Terbaru
Di Balik "Pesona" Beijing Ada Strategi Klasik "Soft Power" hingga Gelombang Video Hoaks
polemik

Di Balik "Pesona" Beijing Ada Strategi Klasik "Soft Power" hingga Gelombang Video Hoaks

Jum'at, 06 Maret 2026 | 23:55 WIB

Salah satu pilar unik dalam strategi China di Indonesia adalah pendekatannya terhadap komunitas Muslim, mulai dari "diplomasi santri", hingga pemanfaatan isu Gaza Palestina.

Operasi Informasi di Balik Video Hoaks Viral "China Bantu Gaza" video

Operasi Informasi di Balik Video Hoaks Viral "China Bantu Gaza"

Jum'at, 06 Maret 2026 | 17:15 WIB

Sejak awal Mei hingga setidaknya Oktober 2025, ditemukan ratusan konten viral hoaks "bantuan udara China ke Gaza" yang telah memperdaya banyak netizen Indonesia.

Ironi Berdarah Gajah Tesso Nilo: Dibantai di Hutan, Berakhir di Tangan Mafia Solo polemik

Ironi Berdarah Gajah Tesso Nilo: Dibantai di Hutan, Berakhir di Tangan Mafia Solo

Kamis, 05 Maret 2026 | 19:42 WIB

Gajah berusia 40 tahun dieksekusi secara keji demi menyuplai komoditas mewah yang dipotong-potong, diperdagangkan secara estafet

Geger OTT Bupati Pekalongan: Sudah Kaya dan Terkenal, Kenapa "Rakus" Pejabat Tak Ada Obatnya? polemik

Geger OTT Bupati Pekalongan: Sudah Kaya dan Terkenal, Kenapa "Rakus" Pejabat Tak Ada Obatnya?

Kamis, 05 Maret 2026 | 08:26 WIB

Dalam rentang 2023-2026, PT RNB yang didirikan suami Fadia Arafiq menerima total transaksi Rp46 miliar dari Pemkab Pekalongan

Dunia di Ambang Perang Dunia III, Apa yang Mesti Kita Lakukan? polemik

Dunia di Ambang Perang Dunia III, Apa yang Mesti Kita Lakukan?

Selasa, 03 Maret 2026 | 20:41 WIB

Dalam ekonomi global yang saling terhubung, percikan konflik di satu kawasan dapat memicu gelombang tekanan hingga ke tiap kabupaten dan kota di Indonesia tanpa terkecuali

Niat Prabowo Jadi Juru Damai Iran dengan AS-Israel Diragukan: Misi "Bunuh Diri Politik" polemik

Niat Prabowo Jadi Juru Damai Iran dengan AS-Israel Diragukan: Misi "Bunuh Diri Politik"

Senin, 02 Maret 2026 | 19:03 WIB

"Lah kalau anda (presiden) yang pernah dianggap melanggar HAM bilang orang lain 'jangan melanggar HAM', siapa yang mau percaya?"

Membongkar Operasi Informasi dari Gelombang Video Hoaks 'China Bantu Gaza' polemik

Membongkar Operasi Informasi dari Gelombang Video Hoaks 'China Bantu Gaza'

Sabtu, 28 Februari 2026 | 19:12 WIB

Riset mengungkap video hoaks 'bantuan udara China ke Gaza' viral di TikTok, disebar terkoordinasi dari konten lama, memengaruhi opini publik Indonesia.

×
Zoomed