Niat Prabowo Jadi Juru Damai Iran dengan AS-Israel Diragukan: Misi "Bunuh Diri Politik"
Home > Detail

Niat Prabowo Jadi Juru Damai Iran dengan AS-Israel Diragukan: Misi "Bunuh Diri Politik"

Bangun Santoso | Novian Ardiansyah

Senin, 02 Maret 2026 | 19:03 WIB

Suara.com - Di tengah eskalasi panas antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel, pemerintah Indonesia melontarkan sebuah manuver diplomatik yang mengejutkan. Presiden Prabowo Subianto menyatakan kesiapannya untuk menjadi juru damai dan terbang langsung ke Teheran.

Langkah ini diumumkan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) tepat saat AS-Israel melancarkan serangan ke Iran.

Namun, niat baik ini justru disambut badai keraguan dari para diplomat senior hingga akademisi yang menyebutnya sebagai misi yang "sangat tidak realistis".

Lantas, apa yang membuat gagasan ini begitu dipertanyakan?

Tawaran di Tengah Gempuran

Pernyataan resmi pemerintah datang di momen yang sangat krusial. Iran baru saja menutup Selat Hormuz, jalur arteri perdagangan energi global, sebagai respons atas serangan.

Situasi ini berpotensi memicu krisis ekonomi dunia yang juga akan berdampak pada Indonesia.

Di tengah ketidakpastian itu, Kemlu mengumumkan kesiapan Presiden untuk memfasilitasi dialog.

"Apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi," tulis akun resmi Kemlu di platform X.

Dino Patti Djalal: Ide Mustahil dan Berisiko

Gagasan ini langsung dikritik tajam oleh mantan Duta Besar Indonesia untuk AS, Dino Patti Djalal.

Ia mempertanyakan mengapa ide tersebut tidak disaring terlebih dahulu sebelum diumumkan ke publik. Menurutnya, ada beberapa alasan mengapa mediasi ini mustahil dilakukan.

Pertama, ego AS sebagai negara adidaya sangat jarang tunduk pada mediasi pihak ketiga.

"Ego Amerika sebagai negara superpower terlalu tinggi untuk menerima itu," tegas Dino.

Ia juga menambahkan bahwa hubungan Indonesia dengan Iran saat ini tidak cukup dekat untuk peran sebesar itu.

Lebih jauh, Dino menyoroti risiko politik domestik yang sangat besar. Upaya mediasi kemungkinan akan menuntut Presiden Prabowo bertemu dengan PM Israel, Benjamin Netanyahu.

"Secara politik diplomatik dan juga logistik tidak mungkin terjadi. Ini akan menjadi bunuh diri politik bagi Presiden Prabowo di dalam negeri," jelasnya.

Jusuf Kalla: Posisi Tawar Indonesia Tak Setara

Menimbang modal Presiden Prabowo Subianto jadi juru damai perang Iran vs AS-Israel . (Dok. Suara.com)
Menimbang modal Presiden Prabowo Subianto jadi juru damai perang Iran vs AS-Israel . (Dok. Suara.com)

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menyoroti persoalan dari sudut pandang yang berbeda: posisi tawar Indonesia.

Menurutnya, sulit bagi Prabowo untuk menjadi penengah yang setara, terutama setelah Indonesia terikat perjanjian dagang dengan AS.

"Sayangnya, Indonesia telah mengadakan perjanjian yang tidak seimbang... Itu saja kita tidak setara Amerika. Bagaimana mendamaikan orang yang tidak setara dalam keadaan ini?" kata JK sebagaimana dikutip BBC Indonesia.

Baginya, niat tersebut baik, namun situasinya jauh lebih besar dan rumit.

Kredibilitas Mediator Dipertanyakan

Analisis lebih dalam datang dari pengamat Hubungan Internasional UGM, Dafri Agussalim. Ia meragukan kredibilitas Indonesia dan Prabowo sebagai mediator netral.

Menurutnya, syarat utama seorang juru damai adalah netralitas dan tidak punya rekam jejak keberpihakan.

Dafri menilai posisi Indonesia sudah tidak lagi netral setelah bergabung dengan Board of Peace (BoP), yang dianggap skema geopolitik AS.

"Setidak-tidaknya kita sudah meninggalkan posisi dasar kita sebagai negara non-blok, bebas aktif," kata Dafri kepada Suara.com, Senin (2/3/2026).

Ia juga menyinggung faktor kredibilitas personal pemimpin. Menurutnya, seorang mediator harus punya legitimasi moral yang kuat agar didengar, mencontohkan figur Nelson Mandela.

"Lah kalau anda (presiden) yang pernah dianggap melanggar HAM bilang orang lain 'jangan melanggar HAM', siapa yang mau percaya?" tanyanya secara retoris.

Respons Diplomatik dari Iran

Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, memberikan respons yang sangat hati-hati.

Ia mengapresiasi niat baik pemerintah Indonesia, namun menegaskan belum ada langkah konkret atau komunikasi lanjutan yang dilakukan.

Boroujerdi juga secara terbuka menyatakan keraguannya.

"Kami masih belum mengetahui, apakah langkah seperti ini dapat berdampak atau berpengaruh atau tidak," ujarnya.

Ia menegaskan tidak bisa memastikan apakah mediasi bisa membuahkan hasil dalam situasi saat ini.


Terkait

Iran Terancam Mundur dari Piala Dunia 2026, FIFA Siapkan 3 Opsi Darurat
Senin, 02 Maret 2026 | 18:57 WIB

Iran Terancam Mundur dari Piala Dunia 2026, FIFA Siapkan 3 Opsi Darurat

Serangan militer AS-Israel ke Iran sejak akhir pekan memicu ketegangan regional yang berpotensi memengaruhi partisipasi Iran di Piala Dunia 2026.

Dubes Iran Respons Niat Prabowo Jadi Juru Damai, Begini Katanya
Senin, 02 Maret 2026 | 18:37 WIB

Dubes Iran Respons Niat Prabowo Jadi Juru Damai, Begini Katanya

Boroujerd menegaskan pemerintah Iran terbuka jika Indonesia ingin berkomunikasi

Konflik Iran-Amerika, Atlet dan Ofisial Anggar Timur Tengah Tertahan di Indonesia
Senin, 02 Maret 2026 | 18:19 WIB

Konflik Iran-Amerika, Atlet dan Ofisial Anggar Timur Tengah Tertahan di Indonesia

Atlet dan ofisial anggar Timur Tengah tertahan di Indonesia akibat konflik Iran-AS/Israel. Penerbangan mereka batal karena penutupan rute udara.

Perang AS-Israel vs Iran 2026: Daftar Negara Terdampak dan Berstatus Siaga Tinggi
Senin, 02 Maret 2026 | 17:58 WIB

Perang AS-Israel vs Iran 2026: Daftar Negara Terdampak dan Berstatus Siaga Tinggi

Berikut daftar negara yang berstatus siaga tinggi dan terdampak langsung serangan rudal serta eskalasi militer di Timur Tengah.

Terbaru
Song Wat, Sisi Lain Bangkok yang Bikin Teringat Blok M
polemik

Song Wat, Sisi Lain Bangkok yang Bikin Teringat Blok M

Rabu, 26 Agustus 2026 | 12:28 WIB

Menyusuri Song Wat di Bangkok, dengan suasana yang mengingatkan pada Blok M, tempat masa lalu dan gaya hidup baru bertemu.

Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo polemik

Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo

Kamis, 30 Juli 2026 | 16:00 WIB

Mengungkap kejanggalan di balik kematian Sutrimo, Karumga eks Jampidsus Febrie Adriansyah di Desa Wlahar, Banyumas. Dari pengawasan CCTV mendadak hingga pengintai misterius.

Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman polemik

Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman

Kamis, 30 Juli 2026 | 15:38 WIB

Tidak seorang pun dari rombongan pengantar jenzah Sutrimo memperkenalkan identitas ataupun menjelaskan dari instansi mana.

Kami Ireng Tapi Bukan Londo, Menjawab Cap Antek Asing dari Podium Kekuasaan polemik

Kami Ireng Tapi Bukan Londo, Menjawab Cap Antek Asing dari Podium Kekuasaan

Senin, 27 Juli 2026 | 18:33 WIB

MTI menilai persoalan mendasar dari pernyataan Prabowo bukan semata pada legalitas ucapan, melainkan implikasinya yang sangat destruktif bagi kualitas demokrasi

Gratis Tapi Mahal, Mengapa RI Nekat Terima Hibah Kapal Induk Tua Italia? polemik

Gratis Tapi Mahal, Mengapa RI Nekat Terima Hibah Kapal Induk Tua Italia?

Jum'at, 24 Juli 2026 | 18:36 WIB

Meski keputusan ini diambil secara bulat, proses persetujuan sebelumnya sempat diwarnai kritik tajam terkait prosedur yang mendadak serta kekhawatiran akan beban anggaran

Misteri Emas 74 Kg di Rumah Eks Jampidsus, Benarkah Barang Titipan? polemik

Misteri Emas 74 Kg di Rumah Eks Jampidsus, Benarkah Barang Titipan?

Rabu, 15 Juli 2026 | 17:20 WIB

Pernyataan Febrie Adriansyah yang menyebut emas tersebut sudah ada pemiliknya justru menjadi titik penting dalam proses pembuktian

Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo polemik

Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:59 WIB

Di balik narasi hijau menyelamatkan Taman Nasional Tesso Nilo, ribuan warga kecil kini kehilangan segalanyamulai dari rumah, kebun, hingga anggota keluarga dipenjara.

×
Zoomed