Gentengisasi Prabowo, Solusi Adem untuk Indonesia atau Mimpi yang Terlalu Berat?
Home > Detail

Gentengisasi Prabowo, Solusi Adem untuk Indonesia atau Mimpi yang Terlalu Berat?

Bangun Santoso | Novian Ardiansyah

Kamis, 05 Februari 2026 | 18:54 WIB

Suara.com - Sebuah gagasan ambisius dilontarkan Presiden Prabowo Subianto, mengubah wajah Indonesia dengan program "Gentengisasi" nasional. Visi besarnya adalah mengganti jutaan atap seng yang kusam dan panas dengan genteng tanah liat yang dianggap lebih sejuk, indah, dan tahan lama.

Gagasan ini bukan wacana. Prabowo telah menyiapkan konsep pelaksanaannya, mulai dari pemberdayaan koperasi desa untuk produksi massal hingga inovasi teknologi pencampuran limbah batu bara (fly ash) untuk menghasilkan genteng yang lebih ringan dan kuat.

"Saya ingin semua atap Indonesia pakai genteng... proyeknya adalah proyek gentengisasi seluruh Indonesia," ujar Prabowo dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah baru-baru ini.

Niat baik untuk mempercantik negeri dan meningkatkan kualitas hidup warga ini sontak mendapat sorotan. Namun, di balik visi mulia tersebut, para ahli mengingatkan adanya tembok realita yang kompleks.

Pertanyaannya, apakah gentengisasi adalah solusi jitu atau justru bisa memunculkan masalah baru yang lebih rumit?

Tembok Realita: Deret Masalah Serius yang Mengadang

Meski terdengar menjanjikan, penerapan program gentengisasi secara merata dari Sabang sampai Merauke dihadapkan pada tantangan teknis, budaya, hingga anggaran yang tidak bisa dianggap remeh.

1. Beban Berat dan Risiko Bencana

Ini adalah masalah paling mendasar. Pakar Teknik Sipil UGM, Ashar Saputra, mengingatkan bahwa genteng tanah liat memiliki bobot yang jauh lebih berat dari seng. Mengganti atap tidak bisa sesederhana itu.

"Atap yang tadinya seng diganti genteng nggak bisa karena struktur atapnya juga harus dibuat lebih kuat. Jadi tidak hanya mengganti penutupnya saja," ucap Ashar kepada Suara.com, Kamis (5/2/2026).

Artinya, rumah warga harus diperkuat dengan rangka baja atau kayu yang lebih kokoh. Ini memicu pertanyaan lanjutan, siapa yang akan menanggung biaya perkuatan struktur yang bisa jadi lebih mahal dari harga gentengnya sendiri?

Di daerah rawan gempa, atap yang berat justru menjadi ancaman mematikan saat terjadi guncangan.

2. Benturan Budaya dan Kearifan Lokal

Plus minus gagasan Program Gentengisasi Prabowo. (Dok. Suara.com)
Plus minus gagasan Program Gentengisasi Prabowo. (Dok. Suara.com)

Indonesia adalah mozaik budaya. Pengamat Tata Kota, Yayat Supriatna, dan Pakar Kebijakan Publik, Trubus Rahardianshah, menyoroti adanya hambatan kultural yang serius. Di beberapa daerah, ada kepercayaan bahwa manusia yang masih hidup tidak boleh tinggal "di bawah tanah".

"Genting itu dari tanah. Artinya secara kultural pun mereka belum siap untuk bisa menerima konsep genteng," jelas Yayat.

Ashar Saputra menambahkan, keyakinan lokal seperti di Toraja memandang material tanah identik dengan tempat peristirahatan terakhir. Memaksakan gentengisasi bisa dianggap tidak menghormati kearifan lokal.

"Sebaiknya memang tidak dipukul rata... itu malah bertentangan dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika," tegas Ashar.

3. Mimpi Buruk Logistik dan Anggaran yang Tak Jelas

Mendistribusikan genteng yang berat dan mudah pecah ke seluruh pelosok nusantara adalah tantangan logistik raksasa. Selain itu, Yayat Supriatna secara kritis mempertanyakan kesiapan birokrasi dan anggaran.

"Siapa yang harus bertanggung jawab? Menteri Perumahan, Menteri Pedesaan, Menteri PU? Dan yang paling penting, ada nggak anggarannya di 2026 itu?" tanya Yayat.

Tanpa adanya payung hukum yang jelas seperti Instruksi Presiden (Inpres) dan alokasi anggaran yang konkret, gagasan besar ini berisiko mandek menjadi slogan politik semata.

Bukan Sekadar Ganti Atap, Tapi Mengubah Paradigma

Para ahli sepakat bahwa niat Prabowo untuk meningkatkan kualitas hunian warga patut diapresiasi. Namun, kuncinya ada pada fleksibilitas, bukan pemaksaan satu jenis material.

Yayat Supriatna menekankan bahwa gentengisasi harus diterjemahkan ke dalam program perbaikan rumah yang komprehensif, bukan sekadar tempelan.

"Kalau menggunakan genting pasti rangka baja harus kuat... gentingisasi itu juga harus diterjemahkan dalam bentuk struktur teknisnya," katanya.

Sementara itu, Ashar Saputra menyarankan agar pemerintah mengubah narasi program. Menurutnya, tujuan utamanya adalah menghilangkan kesan kumuh, dan genteng hanyalah salah satu dari banyak pilihan.

"Jadi kalimatnya jangan 'gentengisasi' tapi 'peningkatan estetika hunian'. Nah itu kan pilihannya macam-macam, tapi begitu jadi genteng kan bermasalah karena tidak semua orang cocok, tidak semua wilayah cocok," ujar dia.


Terkait

Prabowo Resmi Lantik Hakim MK Adies Kadir dan Wamenkeu Juda Agung di Istana Negara
Kamis, 05 Februari 2026 | 18:41 WIB

Prabowo Resmi Lantik Hakim MK Adies Kadir dan Wamenkeu Juda Agung di Istana Negara

Presiden Prabowo Subianto melantik Adies Kadir sebagai Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) serta melantik Juda Agung sebagai Wakil Menteri Keuangan.

Pakar Teknik Ingatkan Program Gentengisasi Prabowo Tak Bisa Dipukul Rata
Kamis, 05 Februari 2026 | 18:05 WIB

Pakar Teknik Ingatkan Program Gentengisasi Prabowo Tak Bisa Dipukul Rata

Akademisi UGM nilai program "gentengisasi" Prabowo harus hati-hati. Aspek teknis (struktur), sosial budaya, & keberlanjutan harus dipertimbangkan agar tak merugikan.

Juda Agung Bocorkan Tugas dari Prabowo usai Dilantik Jadi Wamenkeu Baru Pendamping Purbaya
Kamis, 05 Februari 2026 | 17:41 WIB

Juda Agung Bocorkan Tugas dari Prabowo usai Dilantik Jadi Wamenkeu Baru Pendamping Purbaya

Juda Agung baru saja dilantik sebagai Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) oleh Presiden RI Prabowo Subianto.

Eddy Soeparno: Kalau Ditanya Hari Ini, Saya Dukung Pak Zulhas Dampingi Pak Prabowo di 2029
Kamis, 05 Februari 2026 | 17:38 WIB

Eddy Soeparno: Kalau Ditanya Hari Ini, Saya Dukung Pak Zulhas Dampingi Pak Prabowo di 2029

"Kalau ditanyakan hari ini, saya dukung Pak Zulhas mendampingi Pak Prabowo di tahun 2029 tentu,"

Terbaru
Geger Guru Honorer Dilarang Mengajar 2027, Dihapus atau Diangkat?
polemik

Geger Guru Honorer Dilarang Mengajar 2027, Dihapus atau Diangkat?

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:32 WIB

Isu guru honorer tak bisa lagi mengajar setelah 31 Desember 2026 sama juga ke telinga Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti

Srikandi Jalanan: Melawan Lelah dan Stigma Demi Masa Depan Buah Hati nonfiksi

Srikandi Jalanan: Melawan Lelah dan Stigma Demi Masa Depan Buah Hati

Jum'at, 01 Mei 2026 | 11:15 WIB

Hari Buruh yang diperingati setiap 1 Mei menjadi pengingat bahwa di balik statistik dan angka-angka itu, ada wajah-wajah seperti Sari, Ira, dan Ivany.

Pengakuan Anggota Ormas di Balik Horor Perlintasan Rel Bekasi Timur, Benarkah Demi Cuan? polemik

Pengakuan Anggota Ormas di Balik Horor Perlintasan Rel Bekasi Timur, Benarkah Demi Cuan?

Rabu, 29 April 2026 | 18:21 WIB

Andi mengakui perlintasan kereta di Bekasi memang dijaga oleh warga dan beberapa di antaranya anggota ormas

KPK Usul Jabatan Ketum Parpol Maksimal 2 Periode: Demi Cegah Korupsi atau Intervensi Politik? polemik

KPK Usul Jabatan Ketum Parpol Maksimal 2 Periode: Demi Cegah Korupsi atau Intervensi Politik?

Senin, 27 April 2026 | 20:13 WIB

Usulan tersebut tertuang dalam 20 kajian strategis, policy brief, dan corruption risk assessment (CRA) sektor prioritas nasional sepanjang 2025

ART Tak Lagi Sekadar 'Pembantu' Berkat UU PPRT, Bagaimana Nasib Pemberi Kerja? polemik

ART Tak Lagi Sekadar 'Pembantu' Berkat UU PPRT, Bagaimana Nasib Pemberi Kerja?

Kamis, 23 April 2026 | 17:39 WIB

Pengesahan UU PPRT ini menandai babak baru dalam relasi kerja domestik di Indonesia. Apalagi selama ini, PRT seringkali berada di area abu-abu

Jusuf Kalla di Pusaran Kasus Ijazah Jokowi, Murni Hukum atau Manuver Politik? polemik

Jusuf Kalla di Pusaran Kasus Ijazah Jokowi, Murni Hukum atau Manuver Politik?

Rabu, 22 April 2026 | 17:29 WIB

Munculnya nama Wakil Presiden ke-10 dan ke-13 RI tersebut bermula dari potongan video bergambar Rismon Hasiholan Sianipar yang menuding JK berada di balik layar

Lawan Stigma di Jalanan, Kisah Hebat Mantan Perawat Jadi Sopir Bus Transjakarta nonfiksi

Lawan Stigma di Jalanan, Kisah Hebat Mantan Perawat Jadi Sopir Bus Transjakarta

Selasa, 21 April 2026 | 14:21 WIB

Kisah Ira, pramudi Transjakarta yang mulai kerja pukul 3 pagi, menghadapi stigma di jalan, dan menjaga keselamatan ratusan penumpang setiap hari.

×
Zoomed