Nyawa Seharga Buku: Tragedi Siswa SD di NTT, Sesuram Itukah Pendidikan Indonesia?
Home > Detail

Nyawa Seharga Buku: Tragedi Siswa SD di NTT, Sesuram Itukah Pendidikan Indonesia?

Bangun Santoso | Lilis Varwati

Rabu, 04 Februari 2026 | 18:24 WIB

Suara.com - Sebuah surat lusuh bertulis tangan menjadi saksi bisu tragedi yang menyayat hati dari Dusun Sawasina, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).

YBS, seorang bocah laki-laki berusia 10 tahun, ditemukan tak bernyawa di sebuah pohon cengkeh. Di dekatnya, secarik kertas berisi pesan pilu untuk sang ibu menjadi penanda akhir perjalanannya yang diduga dipicu oleh ketidakmampuan membeli buku dan pena.

Peristiwa yang terjadi pada akhir Januari 2026 ini bukan sekadar berita duka. Ia adalah sebuah tamparan keras yang membongkar potret kelam ketimpangan dan kegagalan sistemik dalam dunia pendidikan Indonesia.

Di saat pemerintah pusat sibuk memamerkan megahnya angka pertumbuhan ekonomi, nyawa seorang anak justru melayang karena kebutuhan sekolah yang paling mendasar.

Surat Terakhir YBS: "Mama Jangan Menangis"

Kisah YBS adalah cerminan pergulatan batin seorang anak yang terhimpit oleh keadaan. Sebelum ditemukan meninggal, ibunya, MGT, mengaku telah menasihati YBS agar tetap rajin sekolah meski kondisi ekonomi keluarga sedang sulit.

Namun, beban itu tampaknya terlalu berat untuk dipikul pundak kecilnya.

Dalam surat terakhirnya, YBS menulis pesan yang menusuk kalbu, mencerminkan keputusasaan sekaligus cinta yang mendalam kepada ibunya.

"Mama molo Ja'o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah, kalau saya meninggal mama jangan menangis)," tulis YBS dalam suratnya, sebuah kalimat yang kini viral dan memicu gelombang duka di media sosial.

Pesan sederhana ini menjadi simbol tragis betapa persoalan ekonomi dapat meretakkan psikologi seorang anak, memaksanya memahami penderitaan orang dewasa jauh sebelum waktunya.

Gagapnya Respons Pemerintah di Tengah Duka

Tragedi ini sontak memicu respons dari berbagai pejabat tinggi negara, namun terkesan lamban dan reaktif. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti awalnya mengaku belum mengetahui informasi tersebut dan berjanji akan melakukan penyelidikan.

"Nanti coba kita selidiki ya. Saya belum tahu informasinya," ujarnya singkat.

Sementara itu, Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menyampaikan keprihatinan dan menegaskan bahwa kasus ini menjadi atensi serius.

"Tentu ini menjadi perhatian, menjadi atensi kita bersama," kata Gus Ipul, sembari menyoroti pentingnya perbaikan data untuk menjangkau keluarga yang membutuhkan.

Dari parlemen, Wakil Ketua DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal menyebut insiden ini sebagai sebuah "pukulan berat" bagi semua pihak dan meminta Komisi X untuk segera menelusuri penyebabnya.

Alarm Lumpuhnya Perlindungan Hak Pendidikan

Tragedi siswa SD di Ngada, NTT diduga mengakhiri hidup karena tak mampu beli buku dan pena. (Dok. Suara.com)
Tragedi siswa SD di Ngada, NTT diduga mengakhiri hidup karena tak mampu beli buku dan pena. (Dok. Suara.com)

Bagi para pengamat dan aktivis, kasus YBS adalah puncak gunung es dari masalah yang jauh lebih besar. Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menyebut tragedi ini sebagai sinyal lumpuhnya perlindungan hak anak atas pendidikan.

"Di tengah klaim pemerintah tentang anggaran pendidikan yang terus naik, realitas di lapangan justru menunjukkan bahwa nyawa seorang anak bisa melayang hanya karena harga sebuah buku," tegas Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji kepada Suara.com, Rabu (4/2/2026).

JPPI menyoroti pengabaian negara terhadap amanat konstitusi yang mewajibkan pemerintah membiayai pendidikan dasar tanpa pungutan.

Kenyataannya, beban biaya masih sering dialihkan kepada orang tua murid, terutama mereka yang hidup dalam garis kemiskinan.

Kritik lebih tajam datang dari pengamat politik Rocky Gerung. Melui kanal YouTubenya, ia menilai tragedi ini membatalkan semua klaim prestasi pemerintah.

Menurutnya, pemerintah sibuk memamerkan proyek strategis nasional dan hilirisasi, namun abai pada "kepekaan terhadap kepapaan warga negara" di tingkat bawah.

Bukan Sekadar Kemiskinan: Faktor Pengasuhan dan Psikologis

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta agar kasus ini tidak dilihat dari satu sisi saja. Menurut Komisioner KPAI Diyah Puspitarini, faktor ekonomi seringkali berkelindan dengan masalah lain seperti pola pengasuhan dan tekanan psikologis.

"Di kasus Ngada ini, kami melihat memang faktor ekonomi menjadikan anak mengakhiri hidup itu ada beberapa, bahkan setiap tahun selalu ada seperti ini," ujar Diyah.

KPAI menyoroti fakta bahwa YBS, seperti beberapa kasus serupa lainnya, tidak tinggal bersama orang tua kandungnya secara penuh.

Pola pengasuhan oleh pihak ketiga (nenek) ditambah tekanan ekonomi dan potensi perundungan di sekolah karena tidak memiliki buku, bisa menjadi kombinasi mematikan bagi kesehatan mental seorang anak.

"Kami khawatir bukan hanya persoalan miskin ekstrim saja, tetapi juga bisa jadi faktor pengasuhan... jangan-jangan anak ini dibully karena dia tidak punya buku," kata Diyah.

KPAI mendorong penyelidikan mendalam untuk mengungkap semua faktor penyebab, karena menurutnya, "hak anak yang sudah meninggal adalah mendapatkan kejelasan penyebab kematiannya."


Terkait

DPR Soroti Tragedi Siswa SD NTT, Dorong Evaluasi Sisdiknas dan Investigasi Menyeluruh
Rabu, 04 Februari 2026 | 18:14 WIB

DPR Soroti Tragedi Siswa SD NTT, Dorong Evaluasi Sisdiknas dan Investigasi Menyeluruh

Wakil Ketua DPR Cucun minta tragedi siswa SD di NTT jadi evaluasi Sisdiknas, dorong peran guru, pencegahan bullying, dan investigasi menyeluruh oleh pemerintah.

Siswa SD Akhiri Hidup: Menko PM Minta Pejabat Peka, Masyarakat Lapor Bila Sulit Ekonomi
Rabu, 04 Februari 2026 | 16:47 WIB

Siswa SD Akhiri Hidup: Menko PM Minta Pejabat Peka, Masyarakat Lapor Bila Sulit Ekonomi

Menko PMK minta pejabat peka & responsif atas kondisi masyarakat pasca siswa SD NTT bunuh diri. Minta warga sampaikan masalah ekonomi/bantuan.

Lama Sekolah di Luar Negeri, Stella Christie Belajar Membaca Perbedaan Sistem Pendidikan Global
Rabu, 04 Februari 2026 | 16:42 WIB

Lama Sekolah di Luar Negeri, Stella Christie Belajar Membaca Perbedaan Sistem Pendidikan Global

Wamen Stella Christie jadikan pengalaman studi luar negeri dasar kebijakan Dikti, fokus adaptasi lulusan & potensi Indonesia jadi pemain global.

Wamen Stella Christie: Indonesia Punya Kesempatan Pimpin Pendidikan Dunia
Rabu, 04 Februari 2026 | 15:13 WIB

Wamen Stella Christie: Indonesia Punya Kesempatan Pimpin Pendidikan Dunia

Wamen Diktisaintek: Indonesia berpeluang pimpin pendidikan global berkat populasi besar & kesiapan ubah ekosistem. Dorong kebijakan "game changer" via G2G, contohnya kerja sama dengan Inggris.

Terbaru
Ramai-ramai Berburu Anggaran di Senayan, Efisiensi Prabowo Cuma Omon-omon?
polemik

Ramai-ramai Berburu Anggaran di Senayan, Efisiensi Prabowo Cuma Omon-omon?

Jum'at, 19 Juni 2026 | 21:10 WIB

Sejumlah kementerian dan lembaga berbondong-bondong mengajukan tambahan anggaran kepada DPR RI. Nilainya tidak kecil, mulai dari ratusan miliar hingga puluhan triliun rupiah

Siapa di Balik BEM Bersatu? Mengaku Kelompok Mahasiswa, Tapi Dicap Gaib Oleh Kampus polemik

Siapa di Balik BEM Bersatu? Mengaku Kelompok Mahasiswa, Tapi Dicap Gaib Oleh Kampus

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:38 WIB

Semua diawali saat sekelompok muda mengatasnamakan diri BEM Bersatu secara tiba-tiba menggelar konferensi pers pada Selasa, 16 Juni 2026

Kedok Pemulihan Hutan: Benarkah Satgas PKH Hanya Membuka Jalan Bisnis Sawit Agrinas? polemik

Kedok Pemulihan Hutan: Benarkah Satgas PKH Hanya Membuka Jalan Bisnis Sawit Agrinas?

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41 WIB

Barita Simanjuntak membantah anggapan bahwa lahan hasil penertiban otomatis akan dialihkan menjadi perkebunan sawit.

Geger Isu '98 Jilid 2', Benarkah Situasi Politik Saat Ini Mirip Era Reformasi? polemik

Geger Isu '98 Jilid 2', Benarkah Situasi Politik Saat Ini Mirip Era Reformasi?

Senin, 08 Juni 2026 | 20:04 WIB

Noel memberikan penekanan khusus bahwa situasi saat ini berisiko menyerupai peristiwaReformasi 1998jika tidak segera diantisipasi oleh Kepala Negara

Nyawa Lebih Murah dari Harga Ikan? Kisah Pahit Awak Kapal di Balik Perjuangan Ratifikasi ILO K-188 polemik

Nyawa Lebih Murah dari Harga Ikan? Kisah Pahit Awak Kapal di Balik Perjuangan Ratifikasi ILO K-188

Senin, 08 Juni 2026 | 10:26 WIB

Trauma puluhan tahun itu mengkristal menjadi sebuah ketegasan: laut bukan tempat untuk masa depan anaknya.

Motif di Balik Riset Fiktif Peneliti WNI di Denmark polemik

Motif di Balik Riset Fiktif Peneliti WNI di Denmark

Kamis, 28 Mei 2026 | 20:51 WIB

Nama-nama yang disebut dan diduga lakukan pemalsuan itu di antaranya Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti

Negara Tak Boleh Jadi Algojo, Mengapa Menteri Pigai Larang Polisi Tembak Mati Begundal? polemik

Negara Tak Boleh Jadi Algojo, Mengapa Menteri Pigai Larang Polisi Tembak Mati Begundal?

Senin, 25 Mei 2026 | 22:02 WIB

Kondisi ekonomi yang sulit dan ketimpangan yang tajam di wilayah aglomerasi menciptakan lahan subur bagi tindak kejahatan

×
Zoomed