Luka Menahun di Nadi Utara Jawa: Bukan Sekadar Bencana Alam, Apa yang Harus Dilakukan?
Home > Detail

Luka Menahun di Nadi Utara Jawa: Bukan Sekadar Bencana Alam, Apa yang Harus Dilakukan?

Bangun Santoso | Adiyoga Priyambodo

Rabu, 21 Januari 2026 | 19:56 WIB

Suara.com - Aspal hitam yang biasanya menderu oleh deru mesin truk-truk logistik itu kini lenyap, berganti menjadi bentang air keruh yang diam namun mematikan. Jalur Pantura, khususnya di ruas Demak hingga Kudus, telah bermutasi menjadi "sungai" raksasa yang memutus urat nadi ekonomi Pulau Jawa.

Di sepanjang mata memandang, hanya terlihat atap-atap rumah yang menyembul malu-malu, menjadi satu-satunya daratan yang tersisa bagi warga untuk sekadar berpijak atau meletakkan sisa harta benda.

Suasana mencekam menyelimuti jalur yang biasanya tak pernah tidur ini. Truk-truk kontainer besar terjebak, berjejer kaku seperti bangkai logam di tengah kepungan banjir setinggi dada orang dewasa.

Suara klakson yang biasa memekakkan telinga digantikan oleh suara mesin perahu karet petugas penyelamat dan tangis balita di tenda-tenda darurat.

Data mencatat, luas rendaman banjir kali ini mencapai ribuan hektare, menutup akses utama penghubung Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pantura bukan lagi sekadar jalan raya, ia telah menjadi monumen kegagalan manusia dalam menjinakkan air.

Di balik kabut hujan, pemandangan ini tampak seperti sebuah kiamat kecil yang diputar berulang-ulang, menghancurkan martabat jalur logistik nasional yang selama ini diagung-agungkan.

Pertanyaannya kemudian, sampai kapan siklus kehancuran ini akan terus kita tonton sebagai "rutinitas" tahunan? Apakah pemandangan pilu di Demak dan Kudus ini murni merupakan amukan alam akibat cuaca ekstrem yang tak terelakkan?

Ataukah ini sebenarnya adalah manifestasi dari "dosa" kolektif kita, mulai dari alih fungsi lahan besar-besaran di hulu, rusaknya ekosistem mangrove di hilir, hingga fenomena penurunan muka tanah (land subsidence) yang membuat pesisir Jawa kian merapuh dan tenggelam?

Kita dipaksa menghadapi kenyataan pahit, bahwa teknologi bendungan dan tanggul raksasa sekalipun tak akan pernah cukup jika kita terus memunggungi keseimbangan ekologi.

Lantas, apa yang bisa dan harus kita lakukan sekarang? Tetap bertahan dengan solusi jangka pendek yang bersifat "tambal sulam", atau berani melakukan audit ekologis besar-besaran sebelum Jawa benar-benar kehilangan pesisir utaranya untuk selamanya?

Tiga Biang Keladi Luka Abadi

Setiap kali awan mendung menggelayut rendah di atas jalur Pantai Utara (Pantura), ada rasa cemas yang merayap di hati jutaan warga.

Banjir bukan lagi tamu yang datang sekali sepuluh tahun, melainkan penghuni tetap yang singgah setiap musim hujan. Mengapa Jawa, pulau yang dulu begitu hijau, kini seolah tak berdaya melawan air?

1. Langit yang "Meledak"

Banjir hebat yang melanda kawasan Pantura pada awal 2026 merupakan dampak dari "simfoni" gangguan atmosfer yang terjadi secara simultan. BMKG menjelaskan bahwa kehadiran Bibit Siklon Tropis 97S di Samudra Hindia, yang berpadu dengan penguatan Monsun Asia dan fenomena seruakan dingin, telah memicu pertumbuhan awan hujan masif di sepanjang pesisir utara Jawa.

Kondisi itu diperparah oleh aktifnya gelombang atmosfer MJO dan Rossby Ekuatorial yang membawa pasokan uap air berlebih, sehingga menciptakan cuaca ekstrem dengan intensitas hujan yang melampaui batas normal.

Situasi kian kritis karena hujan ekstrem ini terjadi tepat pada puncak musim hujan dan bersamaan dengan fase bulan baru yang memicu banjir rob.

Pasang air laut yang tinggi mengunci aliran air dari daratan, sehingga limpasan hujan dari wilayah seperti Demak, Kudus, hingga Pekalongan tidak dapat mengalir ke laut dan merendam pemukiman lebih lama.

2. Spons yang Menjadi Plastik

Mari kita lihat perjalanan air itu saat menyentuh tanah. Dahulu kala, Pulau Jawa adalah sebuah spons raksasa. Hutan-hutan lebat di pegunungan (hulu) dan hutan mangrove di sepanjang pesisir bertugas menyerap air hujan, menahannya di dalam tanah, dan melepaskannya perlahan.

Namun, narasi dari WALHI menceritakan perubahan yang pahit. Spons hijau itu kini telah dilapisi oleh "plastik" raksasa berupa aspal, beton, dan bangunan permanen. Hutan di gunung gundul berganti menjadi vila dan perkebunan, sementara mangrove di pantai dibabat habis untuk industri.

Akibatnya, saat hujan ekstrem tadi jatuh, air tidak punya jalan untuk masuk ke dalam tanah. Ia tertahan di permukaan, meluncur deras tanpa hambatan, dan langsung menuju ke pemukiman warga. Daratan kita kehilangan kemampuannya untuk "meminum" air, mengubah berkah hujan menjadi musibah aliran permukaan.

3. Jawa yang Perlahan Ambles

Data terkini banjir di Pulau Jawa awal 2026. (Dok. Suara.com)
Data terkini banjir di Pulau Jawa awal 2026. (Dok. Suara.com)

Inilah babak yang paling sunyi namun paling mematikan. Di balik hiruk-pikuk pembangunan di Pantura, daratannya sebenarnya sedang sekarat. Di bawah tanah, ribuan "sedotan" raksasa berupa sumur-sumur industri dan pemukiman terus menyedot air tanah tanpa henti.

Data WALHI menunjukkan sebuah tragedi yang tak terlihat, Tanah Pantura sedang ambles. Analoginya seperti balon yang dikempiskan secara perlahan atau kasur busa yang terus-menerus diduduki.

Karena air di dalam pori-pori tanah terus dikuras, butiran tanah memadat dan permukaan daratan pun turun beberapa sentimeter setiap tahunnya.

Hasilnya? Daratan Pantura kini menjadi lebih rendah dari permukaan laut. Saat hujan besar datang dari langit dan air laut pasang (rob) naik dari depan, warga Pantura terjebak di tengah-tengah sebuah "cekungan raksasa" yang tak punya jalan keluar. Air tidak bisa mengalir ke laut karena laut kini lebih tinggi dari halaman rumah mereka.

Panduan Bertahan Hidup

Berdasarkan panduan resmi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Kementerian Kesehatan (Kemenkes), ada tiga langkah siaga banjir yang wajib diterapkan:

1. Pra-Bencana (Sebelum Banjir)

  • Pahami Risiko dan Informasi: Ketahui apakah wilayah Anda rawan banjir. Pantau informasi cuaca dari BMKG dan pahami status peringatan dini (Siaga IV hingga Siaga I).
  • Siapkan Tas Siaga Bencana (TSB): Siapkan tas berisi pakaian, dokumen penting (ijazah, sertifikat, surat berharga) dalam wadah kedap air, obat-obatan pribadi, senter, makanan instan, dan air minum.
  • Mitigasi Rumah: Letakkan peralatan elektronik dan barang berharga di tempat yang lebih tinggi. Pastikan saluran air dan sumur resapan di sekitar rumah berfungsi dengan baik.
  • Rencana Evakuasi: Tentukan jalur evakuasi dan tempat pertemuan keluarga jika terjadi banjir mendadak.
  • Kesehatan: Pastikan anggota keluarga sudah mendapatkan vaksinasi jika diperlukan dan menjaga kebersihan lingkungan untuk mencegah sarang nyamuk.

2. Saat Bencana (Saat Terjadi Banjir)

  • Matikan Listrik dan Gas: Segera matikan aliran listrik dari saklar pusat (meteran) dan cabut regulator gas untuk mencegah korsleting atau ledakan.
  • Pantau Informasi Resmi: Terus update informasi dari radio, TV, atau media sosial resmi BNPB. Jangan mudah percaya hoaks.
  • Evakuasi Mandiri: Jika air mulai naik, segera evakuasi ke tempat yang lebih tinggi. Prioritaskan anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas.
  • Hindari Air Mengalir: Jangan berjalan atau berkendara di arus air yang deras karena air setinggi 15 sentimeter saja bisa menjatuhkan orang dewasa.
  • Protokol Kesehatan: Gunakan sepatu boot dan sarung tangan jika harus bersentuhan dengan air banjir untuk menghindari luka atau infeksi. Gunakan air bersih untuk kebutuhan minum dan makan.

3. Pasca-Bencana (Sesudah Banjir)

  • Cek Keamanan Rumah: Jangan menyalakan listrik sebelum instalasi benar-benar kering dan dinyatakan aman oleh petugas atau PLN. Periksa juga kebocoran gas.
  • Pembersihan Lingkungan: Bersihkan rumah dari lumpur dan sampah dengan menggunakan disinfektan atau antiseptik untuk membunuh kuman.
  • Waspada Binatang Berbisa: Periksa sudut-sudut rumah, lemari, atau tumpukan kain dari kemungkinan adanya ular, kalajengking, atau serangga yang terbawa banjir.
  • Pencegahan Penyakit: Kuras dan bersihkan genangan air sisa banjir untuk mencegah demam berdarah.
  • Air Bersih: Jangan mengonsumsi air sumur yang tercemar. Rebus air hingga mendidih sebelum diminum.
  • Kebersihan Diri: Cuci tangan dengan sabun setelah membersihkan rumah dan sebelum makan.

Mencari Jalan Keluar bagi Pantura

Pengamat Tata Kota, Yayat Supriatna, menggambarkan situasi ini sebagai sebuah konflik ruang yang tajam. Manusia mencoba menetap di tempat air seharusnya parkir.

Masalah semakin pelik karena tanah Pantura kini kian ringkih. Fenomena land subsidence atau penurunan muka tanah membuat daratan semakin amblas, sementara air laut justru semakin sering bertamu lewat fenomena rob.

Saat hujan deras dan laut pasang bertemu, Pantura terjebak dalam kondisi kritis. Air tidak bisa keluar, sementara pompa yang tersedia belum mampu bekerja maksimal.

"Sistem drainasenya stuck, tidak maksimal," kata Yayat kepada Suara.com, Rabu (21/1/2026).

Tragisnya lagi, sistem pengendalian banjir seolah berjalan di tempat. Masterplan pengendalian banjir Jakarta yang disusun oleh Nedeco sejak tahun 1973 kini sudah dianggap tertinggal zaman.

Antara mahalnya pembebasan lahan, risiko sosial relokasi warga, hingga ketidakjelasan tanggung jawab di wilayah perbatasan antarprovinsi membuat normalisasi sungai, seperti yang dialami Ciliwung, seakan menjadi proyek yang tak kunjung usai. "Kendalanya luar biasa panjang," ujar Yayat.

Untuk menyelamatkan Pantura, diperlukan langkah-langkah sistemik yang berani dan terukur, mulai dari sekarang hingga masa depan.

Langkah Pertama: Memperbaiki yang Retak

Dalam jangka pendek, pemerintah tidak punya pilihan selain memperkuat infrastruktur vital. Ibarat menambal perahu yang bocor, tanggul-tanggul sungai harus diperkokoh, pintu air harus dipastikan berfungsi, dan kapasitas rumah pompa harus ditingkatkan berkali-kali lipat. Inilah upaya "pertolongan pertama" agar genangan tidak mengendap terlalu lama di pemukiman warga.

"Pantura itu bisa dikatakan kurang banyak rumah pompa air," tutur Yayat.

Langkah Kedua: Kebijakan Radikal untuk Masa Depan

Untuk jangka panjang, solusi yang diambil haruslah bersifat revolusioner. Penyebab utama penurunan tanah, yakni ekstraksi air tanah yang ugal-ugalan, harus dikendalikan secara radikal. Harus dibangun infrastruktur adaptif yang masif, mulai dari Giant Sea Wall (tanggul laut raksasa), sistem polder yang modern, hingga sumur resapan skala besar untuk mengonservasi air.

Semua infrastruktur megah itu tidak akan berarti tanpa satu kunci utama, penegakan hukum tata ruang tanpa kompromi. Tidak bisa lagi membiarkan kepentingan ekonomi jangka pendek mengalahkan keselamatan ekologis.

"Di sana itu terjadi konflik antara tata ruang untuk air dan tata ruang untuk manusia," kata Yayat.

Menyelamatkan Pantura adalah tentang mendamaikan kembali hubungan antara manusia dan air. Ini bukan sekadar proyek fisik, melainkan perjuangan untuk menormalkan kembali kehidupan jutaan warga yang setiap tahun harus berjibaku dengan lumpur dan air mata.

Pilihan ada di tangan kita, terus tenggelam dalam ego atau mulai membangun peradaban yang mampu berdampingan dengan alam.


Terkait

Kejagung Masih Dalami Dugaan Tindak Pidana 28 Perusahaan yang Izinnya Dicabut Buntut Banjir Sumatra
Rabu, 21 Januari 2026 | 19:26 WIB

Kejagung Masih Dalami Dugaan Tindak Pidana 28 Perusahaan yang Izinnya Dicabut Buntut Banjir Sumatra

Jampidsus Kejaksaan Agung dalami dugaan pidana 28 perusahaan yang izinnya dicabut Presiden Prabowo karena langgar aturan pemanfaatan hutan di Aceh, Sumut, & Sumbar.

KAI Tinggikan Rel di Pekalongan Usai Terdampak Banjir
Rabu, 21 Januari 2026 | 19:08 WIB

KAI Tinggikan Rel di Pekalongan Usai Terdampak Banjir

KAI akan melakukan penguatan dan peninggian konstruksi rel kereta api yang terdampak banjir di Pekalongan.

Muara Sungai Jadi Kunci Pengendalian Banjir, Kementerian PU Turun Tangan
Rabu, 21 Januari 2026 | 17:23 WIB

Muara Sungai Jadi Kunci Pengendalian Banjir, Kementerian PU Turun Tangan

Kementerian PU tangani 23 muara terdampak bencana di Aceh, Sumut, Sumbar. Mayoritas butuh pengerukan (dredger) pasca-sedimentasi. Perlu desain teknis matang.

Pramono Anung Siap Berlakukan PJJ bagi Siswa jika Jakarta Banjir di Hari Sekolah
Rabu, 21 Januari 2026 | 11:53 WIB

Pramono Anung Siap Berlakukan PJJ bagi Siswa jika Jakarta Banjir di Hari Sekolah

Pemprov DKI siap terapkan WFH/PJJ darurat saat cuaca ekstrem/banjir. Prioritas keselamatan siswa. Dishub siapkan rekayasa lalu lintas & evakuasi.

Terbaru
Dulu Dititipi Jokowi, Sekarang 'Dititipkan' di Gedung KPK, Ironi Kasus Korupsi Maidi-Sudewo
polemik

Dulu Dititipi Jokowi, Sekarang 'Dititipkan' di Gedung KPK, Ironi Kasus Korupsi Maidi-Sudewo

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:02 WIB

Sudewo juga kurang lebih mendapatkan pesan khusus serupa dari Jokowi.

RUU 'Antek Asing': Senjata Lawan Propaganda atau Alat Bungkam Suara Kritis? polemik

RUU 'Antek Asing': Senjata Lawan Propaganda atau Alat Bungkam Suara Kritis?

Senin, 19 Januari 2026 | 20:30 WIB

RUU kontroversial untuk melawan propaganda asing tengah digodok pemerintah

Hakim Ad Hoc Ancam Mogok Nasional, Siapa Mereka dan Kenapa Gajinya Beda Jauh? polemik

Hakim Ad Hoc Ancam Mogok Nasional, Siapa Mereka dan Kenapa Gajinya Beda Jauh?

Jum'at, 16 Januari 2026 | 08:50 WIB

Kenali siapa hakim ad hoc, apa bedanya dengan hakim karier, dan lihat perbandingan tunjangan mereka yang timpang

Mendedah Alasan Demokrat Putar Haluan Buka Pintu Pilkada Lewat DPRD polemik

Mendedah Alasan Demokrat Putar Haluan Buka Pintu Pilkada Lewat DPRD

Rabu, 14 Januari 2026 | 14:52 WIB

Di era periode kedua SBY Presiden, Demokrat getol menolak Pilkada via DPRD, bahkan sampai walk out

Hadiah Raja Saudi ke Jokowi Jadi Bancakan, Kisah Skandal Kuota Haji Bermula polemik

Hadiah Raja Saudi ke Jokowi Jadi Bancakan, Kisah Skandal Kuota Haji Bermula

Selasa, 13 Januari 2026 | 17:40 WIB

Berawal dari lobi Presiden Jokowi yang menghasilkan 20.000 kuota haji tambahan, anugerah berubah jadi bancakan

Peta Dukungan Pilkada Lewat DPRD di Senayan, Siapa Ingin Ganti Suara Rakyat? polemik

Peta Dukungan Pilkada Lewat DPRD di Senayan, Siapa Ingin Ganti Suara Rakyat?

Jum'at, 09 Januari 2026 | 22:46 WIB

Wacana Pilkada via DPRD kembali memanas DPR. Kenali peta kekuatan partai yang mendukung dan menolak

Prabowo Mau Jadi Diktator? Ini Beda Pemimpin Kuat, Otoriter dan Diktator Sejati polemik

Prabowo Mau Jadi Diktator? Ini Beda Pemimpin Kuat, Otoriter dan Diktator Sejati

Kamis, 08 Januari 2026 | 20:33 WIB

Saat 'diktator' dibicarakan, pahami makna sebenarnya. Kenali asal-usul, ciri-ciri, dan beda pemimpin otoriter dan 'strong leader' berdasarkan fakta sejarah dan ilmu politik

×
Zoomed