Hakim Ad Hoc Ancam Mogok Nasional, Siapa Mereka dan Kenapa Gajinya Beda Jauh?
Home > Detail

Hakim Ad Hoc Ancam Mogok Nasional, Siapa Mereka dan Kenapa Gajinya Beda Jauh?

Bangun Santoso | Muhammad Yasir

Jum'at, 16 Januari 2026 | 08:50 WIB

Suara.com - Gelombang protes dari para hakim ad hoc menggema di seluruh negeri. Di Makassar, mereka serentak mogok kerja dan menunda persidangan sebagai puncak kegerahan atas kondisi kesejahteraan mereka yang dinilai timpang dan memprihatinkan.

Aksi ini merupakan bagian dari gerakan nasional yang mengancam kelumpuhan sidang di pengadilan-pengadilan khusus jika tuntutan mereka tak kunjung didengar.

Di balik jubah kebesarannya, para hakim ini membawa persoalan mendasar, mengapa nasib mereka berbeda jauh dengan hakim karier, padahal sama-sama memegang palu keadilan?

Lantas, siapa sebenarnya hakim ad hoc dan apa yang membuat mereka merasa dianaktirikan dalam sistem peradilan Indonesia?

Siapa Sebenarnya Hakim Ad Hoc?

Hakim ad hoc bukanlah hakim yang meniti karier dari bawah sebagai PNS di lingkungan Mahkamah Agung. Mereka adalah para profesional atau ahli dari luar lingkungan peradilan yang diangkat untuk periode waktu tertentu karena memiliki keahlian spesifik.

Tujuan keberadaan mereka adalah untuk memperkuat majelis hakim dalam menangani perkara-perkara khusus, seperti:

  • Hakim Ad Hoc Tipikor: Menangani kasus korupsi, biasanya memiliki latar belakang hukum, akuntansi, atau perbankan.
  • Hakim Ad Hoc PHI (Pengadilan Hubungan Industrial): Berasal dari unsur serikat pekerja dan asosiasi pengusaha untuk menangani sengketa buruh.
  • Hakim Ad Hoc Perikanan dan HAM: Menangani kasus-kasus spesifik di bidangnya.

Kehadiran mereka dianggap sebagai amanat reformasi untuk memastikan putusan pengadilan lebih berkualitas dan berkeadilan. Namun, ironisnya, amanat itu seolah dilupakan.

"Hadirnya Hakim Ad Hoc merupakan amanat reformasi... Tapi ketika sudah jadi, semuanya lupa terhadap eksistensi Hakim Ad Hoc itu," ungkap Ade Darussalam, perwakilan Hakim Ad Hoc, dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi III DPR RI, Rabu (14/1/2025).

Satu Pengadilan, Dua Dunia: Beda Kesejahteraan Hakim Ad Hoc vs Karier

Perbandingan gaji dan tunjangan hakim ad hoc dengan hakim karier. (Dok. Suara.com)
Perbandingan gaji dan tunjangan hakim ad hoc dengan hakim karier. (Dok. Suara.com)

Pemicu utama protes ini adalah jurang kesejahteraan yang menganga antara hakim ad hoc dan hakim karier. Meski sama-sama duduk di meja hijau dan menanggung risiko pekerjaan yang tinggi, hak yang mereka terima sangat berbeda.

Ade Darussalam menyebut kondisi ini sebagai ironi yang getir, di mana hak keuangan mereka terasa seperti belas kasihan.

"Hakim Ad Hoc itu hak keuangannya belas kasihan dari pengusulan lembaga kami," katanya.

Berikut perbandingan rinci kesejahteraan keduanya:

Hakim Ad Hoc (Non-Karier)

  • Dasar Hukum: Perpres No. 5 Tahun 2013
  • Struktur Pendapatan: Menerima Tunjangan Tunggal (All-in-One), tanpa ada gaji pokok.
  • Besaran Tunjangan: Contohnya, Hakim Ad Hoc Tipikor tingkat pertama menerima Rp 20.500.000 per bulan, sementara Hakim Ad Hoc PHI tingkat pertama Rp 17.500.000.
  • Jaminan Hari Tua: Poin paling krusial, mereka Tidak Memiliki Jaminan Pensiun. Di akhir masa jabatan, mereka hanya menerima "uang penghargaan".

Hakim Karier (Status ASN/Pejabat Negara)

  • Dasar Hukum: PP No. 44 Tahun 2024
  • Struktur Pendapatan: Menerima Gaji Pokok + Tunjangan Jabatan.
  • Besaran Pendapatan: Gaji pokoknya memang kecil (berkisar Rp 2,7 juta - Rp 6,3 juta), namun tunjangan jabatannya sangat signifikan, mulai dari Rp 11,9 juta hingga Rp 56 juta.
  • Total take-home pay seorang hakim karier pratama bisa mencapai ~Rp 15 juta, sementara di tingkat banding bisa di atas Rp 45 juta.
  • Jaminan Hari Tua: Mereka Mendapatkan Hak Pensiun yang terjamin oleh negara.

Perbedaan ini tidak hanya soal angka. Hakim ad hoc juga mengeluhkan sulitnya mendapat hak normatif seperti cuti melahirkan, hingga ketiadaan asuransi kecelakaan kerja dan kematian.

"Fakta teman kami di Jayapura, hakim meninggal, kita benar-benar urunan untuk mengembalikan mayat kawan kita itu. Karena kami tidak dilindungi," tutur Ade, menggambarkan betapa rentannya posisi mereka.

Dukungan Parlemen dan Tuntutan Perubahan

Keluh kesah ini mendapat simpati penuh dari Komisi III DPR RI. Mereka berjanji akan memperjuangkan aspirasi para hakim ad hoc ke pemerintah dan Mahkamah Agung, meski mengimbau agar aksi mogok tidak sampai mengorbankan para pencari keadilan.

Para hakim ad hoc menuntut beberapa hal mendesak:

  • Revisi Perpres No. 5 Tahun 2013 untuk menyesuaikan tunjangan dan fasilitas agar lebih adil dan proporsional.
  • Pemenuhan hak dasar seperti perumahan, transportasi, tunjangan pajak (PPh 21), dan tunjangan purna tugas.
  • Pengesahan RUU Jabatan Hakim dengan memasukkan status hakim ad hoc sebagai pejabat negara.


Terkait

Divonis Bersalah Meski Bebas Bersyarat, Pendukung Laras: Ini Keadilan Setengah Jalan
Kamis, 15 Januari 2026 | 16:07 WIB

Divonis Bersalah Meski Bebas Bersyarat, Pendukung Laras: Ini Keadilan Setengah Jalan

Sejak awal, mereka meyakini bahwa tindakan Laras tidak didasari oleh niat jahat seperti yang dituduhkan selama ini.

Komisi III DPR Perjuangkan Nasib Hakim Ad Hoc dengan Syarat Mutlak Jangan Mogok Sidang
Rabu, 14 Januari 2026 | 19:29 WIB

Komisi III DPR Perjuangkan Nasib Hakim Ad Hoc dengan Syarat Mutlak Jangan Mogok Sidang

Komisi III DPR dukung penuh aspirasi FSAH soal kesejahteraan Hakim Ad Hoc. Akan evaluasi Perpres fasilitas & jaminan hukum. Minta hakim tetap profesional.

Sentilan Keras Peter Gontha: Buat Apa Ada KY Jika Hakim 'Bermasalah' Adili Nadiem?
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:30 WIB

Sentilan Keras Peter Gontha: Buat Apa Ada KY Jika Hakim 'Bermasalah' Adili Nadiem?

Peter Gontha serukan pembubaran Komisi Yudisial (KY) usai hakim yang direkomendasi sanksi etik justru memimpin sidang korupsi Nadiem Makarim

Gaji Pokok Nol Rupiah, Hakim Ad Hoc Curhat Pilu: Meninggal Dunia Pun Harus Urunan
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:14 WIB

Gaji Pokok Nol Rupiah, Hakim Ad Hoc Curhat Pilu: Meninggal Dunia Pun Harus Urunan

Fakta miris terungkap di DPR, Hakim Ad Hoc ternyata tak punya gaji pokok dan hanya andalkan tunjangan yang tak naik 13 tahun

Terbaru
Mendedah Alasan Demokrat Putar Haluan Buka Pintu Pilkada Lewat DPRD
polemik

Mendedah Alasan Demokrat Putar Haluan Buka Pintu Pilkada Lewat DPRD

Rabu, 14 Januari 2026 | 14:52 WIB

Di era periode kedua SBY Presiden, Demokrat getol menolak Pilkada via DPRD, bahkan sampai walk out

Hadiah Raja Saudi ke Jokowi Jadi Bancakan, Kisah Skandal Kuota Haji Bermula polemik

Hadiah Raja Saudi ke Jokowi Jadi Bancakan, Kisah Skandal Kuota Haji Bermula

Selasa, 13 Januari 2026 | 17:40 WIB

Berawal dari lobi Presiden Jokowi yang menghasilkan 20.000 kuota haji tambahan, anugerah berubah jadi bancakan

Peta Dukungan Pilkada Lewat DPRD di Senayan, Siapa Ingin Ganti Suara Rakyat? polemik

Peta Dukungan Pilkada Lewat DPRD di Senayan, Siapa Ingin Ganti Suara Rakyat?

Jum'at, 09 Januari 2026 | 22:46 WIB

Wacana Pilkada via DPRD kembali memanas DPR. Kenali peta kekuatan partai yang mendukung dan menolak

Prabowo Mau Jadi Diktator? Ini Beda Pemimpin Kuat, Otoriter dan Diktator Sejati polemik

Prabowo Mau Jadi Diktator? Ini Beda Pemimpin Kuat, Otoriter dan Diktator Sejati

Kamis, 08 Januari 2026 | 20:33 WIB

Saat 'diktator' dibicarakan, pahami makna sebenarnya. Kenali asal-usul, ciri-ciri, dan beda pemimpin otoriter dan 'strong leader' berdasarkan fakta sejarah dan ilmu politik

Mimpi Besar 'Sang Penghibur' Terkubur Geliat Malam Gang Boker Ciracas nonfiksi

Mimpi Besar 'Sang Penghibur' Terkubur Geliat Malam Gang Boker Ciracas

Kamis, 08 Januari 2026 | 13:37 WIB

Hanya butuh beberapa langkah dari keriuhan sehat di dalam GOR untuk sampai ke sebuah kawasan yang seolah memiliki hukum alamnya sendiri.

SBY dan Hoax Ijazah Jokowi, Manuver Demokrat di Pusaran Politik Digital polemik

SBY dan Hoax Ijazah Jokowi, Manuver Demokrat di Pusaran Politik Digital

Kamis, 08 Januari 2026 | 08:21 WIB

Demokrat dinilai sedang membingkai narasi dengan melapor, mereka memposisikan diri sebagai korban kampanye hitam dan pejuang kebenaran

Tragedi Kripto dan Kanker, Membedah Motif Pembunuhan Sadis Anak Politisi PKS polemik

Tragedi Kripto dan Kanker, Membedah Motif Pembunuhan Sadis Anak Politisi PKS

Selasa, 06 Januari 2026 | 17:06 WIB

Terlilit utang kripto dan divonis kanker stadium 3, seorang pria nekat merampok rumah politisi PKS Maman Suherman

×
Zoomed