Hadiah Raja Saudi ke Jokowi Jadi Bancakan, Kisah Skandal Kuota Haji Bermula
Home > Detail

Hadiah Raja Saudi ke Jokowi Jadi Bancakan, Kisah Skandal Kuota Haji Bermula

Bangun Santoso | Dea Hardiningsih Irianto

Selasa, 13 Januari 2026 | 17:40 WIB

Suara.com - Semua bermula dari sebuah kabar gembira di Riyadh pada Oktober 2023. Presiden Joko Widodo (Jokowi) berhasil melobi Kerajaan Arab Saudi untuk memberikan "hadiah" istimewa bagi Indonesia, tambahan 20.000 kuota haji.

Tujuan Jokowi amat mulia, yakni memangkas antrean jemaah haji reguler yang bisa mencapai puluhan tahun.

Namun, anugerah yang disambut suka cita itu kini berujung pada skandal korupsi berskala besar. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membongkar dugaan praktik culas dalam pembagian kuota suci tersebut, yang akhirnya menyeret mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sebagai tersangka. Lantas, bagaimana hadiah dari Raja Salman bisa berubah menjadi bancakan?

Aturan Dilanggar, Celah Korupsi Terbuka

Menurut hukum yang berlaku, pembagian kuota haji memiliki formula yang jelas. Plt Deputi Penindakan KPK, Asep Guntur Rahayu, menjelaskan bahwa aturannya sudah baku untuk memprioritaskan jemaah reguler.

“Jadi kalau ada kuota haji, berapa pun itu, pembagiannya demikian. Kuota regulernya 92 persen, kuota khususnya 8 persen,” kata Asep di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Rabu (5/8/2025).

Dengan formula tersebut, 20.000 kuota tambahan seharusnya dibagi menjadi 18.400 untuk jemaah reguler dan hanya 1.600 untuk haji khusus yang biayanya jauh lebih mahal. Namun, KPK menemukan fakta yang mengejutkan. Aturan itu diduga sengaja ditabrak.

“Tetapi kemudian, ini tidak sesuai, itu yang menjadi perbuatan melawan hukumnya, itu tidak sesuai aturan itu, tapi dibagi dua. 10.000 untuk reguler, 10.000 lagi untuk kuota khusus,” ungkap Asep.

Kebijakan inilah yang menjadi pintu masuk praktik korupsi. Dengan membanjiri pasar haji khusus (yang dikelola biro travel) dengan 10.000 kuota, terbuka ruang rente dan dugaan jual beli jatah antar-travel.

Jejak Bancakan Terendus hingga Arab Saudi

KPK tak main-main dalam mengendus jejak skandal ini. Penyelidikan masif dilakukan dengan menyisir ratusan biro perjalanan haji di berbagai provinsi, mulai dari Jawa Timur, Yogyakarta, Kalimantan Timur, hingga Sulawesi Selatan. Hingga November 2025, lebih dari 350 biro travel telah diperiksa.

Penyidik bahkan terbang langsung ke Arab Saudi untuk melengkapi bukti.

“Penyidik sudah berangkat, sudah berada di sana. Pertama yang dikunjungi itu adalah KBRI, kemudian ke Kementerian Haji Arab Saudi,” kata Asep.

Dari penelusuran ini, KPK menemukan modus operandi lain: praktik jual beli kuota antar-biro travel. Biro yang mendapat jatah besar diduga menjual sebagian kuotanya ke biro lain yang lebih kecil.

“Ada juga ditemukan adanya jual beli kuota khusus dari biro travel ke biro travel lainnya,” kata Juru Bicara KPK Budi Prasetyo.

Kuota hasil jual beli ini kemudian ditawarkan ke calon jemaah dengan iming-iming bisa berangkat tanpa antre.

Menjerat Aktor Utama

Jejak Skandal Kuota Haji 2024. (Dok. Suara.com)
Jejak Skandal Kuota Haji 2024. (Dok. Suara.com)

Seiring menguatnya bukti, KPK mulai mengunci para aktor utama. Pada 11 Agustus 2025, lembaga antirasuah resmi menerbitkan surat larangan bepergian ke luar negeri untuk tiga orang: mantan Menag Yaqut Cholil Qoumas (YCQ), mantan Staf Khusus Menteri Agama Ishfah Abidal Aziz (IAA), dan satu pihak swasta berinisial FHM.

“Keberadaan yang bersangkutan di wilayah Indonesia dibutuhkan dalam rangka proses penyidikan,” ujar Budi.

Puncaknya terjadi pada 9 Januari 2026. Setelah melalui proses panjang, termasuk menghitung kerugian negara yang ditaksir mencapai lebih dari Rp1 triliun, KPK akhirnya menetapkan Yaqut Cholil Qoumas dan staf khususnya, Ishfah Abidal Aziz, sebagai tersangka. Saat dikonfirmasi, jawaban pimpinan KPK singkat dan tegas.

"Benar," ujar Wakil Ketua KPK Fitroh Rohcahyanto.

Titik Awal Korupsi: Kebijakan 50-50

KPK menegaskan bahwa titik awal dari seluruh rangkaian korupsi ini adalah keputusan melawan hukum untuk membagi kuota tambahan menjadi 50:50. Keputusan ini diduga diambil langsung oleh Menteri Agama saat itu.

"Sudah ada undang-undangnya, sudah ada aturannya, tetapi kemudian oleh Menteri Agama pada saat itu, saudara YCQ (Yaqut Cholil Qoumas) ini, kemudian dibagilah menjadi 50 persen-50 persen atau 10.000-10.000. Itu tentu tidak sesuai dengan undang-undang yang ada. Itu titik awalnya ya di situ," ujar Asep Guntur.

Asep menambahkan bahwa Ishfah Abidal Aziz sebagai staf ahli diduga turut serta dalam proses pembagian ilegal tersebut. Dari proses inilah KPK menemukan adanya aliran uang haram.

“Dari proses-proses ini kami dalam penyidikan ini ya, menemukan adanya aliran uang kembali gitu, kickback dan lain-lain gitu di sana,” tambah dia.


Terkait

KPK Geledah Kantor DJP, Amankan Dokumen dan Sejumlah Uang
Selasa, 13 Januari 2026 | 17:36 WIB

KPK Geledah Kantor DJP, Amankan Dokumen dan Sejumlah Uang

KPK menggeledah Kantor DJP dan mengamankan dokumen serta uang suap terkait kasus pajak PT Wanatiara Persada.

IKN Nusantara: Narasi Kian Meredup Meski Pembangunan Terus Dikebut?
Selasa, 13 Januari 2026 | 17:24 WIB

IKN Nusantara: Narasi Kian Meredup Meski Pembangunan Terus Dikebut?

IKN ramai dikunjungi saat Nataru 2025/2026, termasuk oleh Wapres Gibran & Presiden Prabowo. Proyek berlanjut, meski isu meredup karena prioritas MBG.

KPK Ungkap Petinggi PBNU Diduga Terima Aliran Uang Korupsi Kuota Haji
Selasa, 13 Januari 2026 | 17:19 WIB

KPK Ungkap Petinggi PBNU Diduga Terima Aliran Uang Korupsi Kuota Haji

KPK periksa Ketua Bidang Ekonomi PBNU soal dugaan terima uang korupsi haji 2023-2024. Kasus ini telah menetapkan Menag Gus Yaqut & stafnya sebagai tersangka.

Dewas KPK Nyatakan Istri Tersangka Kasus K3 Bersalah, Dihukum Minta Maaf Secara Terbuka
Selasa, 13 Januari 2026 | 15:01 WIB

Dewas KPK Nyatakan Istri Tersangka Kasus K3 Bersalah, Dihukum Minta Maaf Secara Terbuka

Fani Febriany merupakan istri dari tersangka korupsi pemerasan sertifikasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Kementerian Ketenagakerjaan, Miki Mahfud

Terbaru
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
polemik

Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:59 WIB

Di balik narasi hijau menyelamatkan Taman Nasional Tesso Nilo, ribuan warga kecil kini kehilangan segalanyamulai dari rumah, kebun, hingga anggota keluarga dipenjara.

Ramai-ramai Berburu Anggaran di Senayan, Efisiensi Prabowo Cuma Omon-omon? polemik

Ramai-ramai Berburu Anggaran di Senayan, Efisiensi Prabowo Cuma Omon-omon?

Jum'at, 19 Juni 2026 | 21:10 WIB

Sejumlah kementerian dan lembaga berbondong-bondong mengajukan tambahan anggaran kepada DPR RI. Nilainya tidak kecil, mulai dari ratusan miliar hingga puluhan triliun rupiah

Siapa di Balik BEM Bersatu? Mengaku Kelompok Mahasiswa, Tapi Dicap Gaib Oleh Kampus polemik

Siapa di Balik BEM Bersatu? Mengaku Kelompok Mahasiswa, Tapi Dicap Gaib Oleh Kampus

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:38 WIB

Semua diawali saat sekelompok muda mengatasnamakan diri BEM Bersatu secara tiba-tiba menggelar konferensi pers pada Selasa, 16 Juni 2026

Kedok Pemulihan Hutan: Benarkah Satgas PKH Hanya Membuka Jalan Bisnis Sawit Agrinas? polemik

Kedok Pemulihan Hutan: Benarkah Satgas PKH Hanya Membuka Jalan Bisnis Sawit Agrinas?

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41 WIB

Barita Simanjuntak membantah anggapan bahwa lahan hasil penertiban otomatis akan dialihkan menjadi perkebunan sawit.

Geger Isu '98 Jilid 2', Benarkah Situasi Politik Saat Ini Mirip Era Reformasi? polemik

Geger Isu '98 Jilid 2', Benarkah Situasi Politik Saat Ini Mirip Era Reformasi?

Senin, 08 Juni 2026 | 20:04 WIB

Noel memberikan penekanan khusus bahwa situasi saat ini berisiko menyerupai peristiwaReformasi 1998jika tidak segera diantisipasi oleh Kepala Negara

Nyawa Lebih Murah dari Harga Ikan? Kisah Pahit Awak Kapal di Balik Perjuangan Ratifikasi ILO K-188 polemik

Nyawa Lebih Murah dari Harga Ikan? Kisah Pahit Awak Kapal di Balik Perjuangan Ratifikasi ILO K-188

Senin, 08 Juni 2026 | 10:26 WIB

Trauma puluhan tahun itu mengkristal menjadi sebuah ketegasan: laut bukan tempat untuk masa depan anaknya.

Motif di Balik Riset Fiktif Peneliti WNI di Denmark polemik

Motif di Balik Riset Fiktif Peneliti WNI di Denmark

Kamis, 28 Mei 2026 | 20:51 WIB

Nama-nama yang disebut dan diduga lakukan pemalsuan itu di antaranya Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti

×
Zoomed