Peta Dukungan Pilkada Lewat DPRD di Senayan, Siapa Ingin Ganti Suara Rakyat?
Home > Detail

Peta Dukungan Pilkada Lewat DPRD di Senayan, Siapa Ingin Ganti Suara Rakyat?

Bangun Santoso | Bagaskara Isdiansyah

Jum'at, 09 Januari 2026 | 22:46 WIB

Suara.com - Wacana untuk mengembalikan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) ke tangan DPRD kembali menjadi bola panas di Senayan. Isu yang kerap disebut sebagai "hantu Reformasi" ini dihidupkan lagi dengan dorongan kuat dari sejumlah partai besar, memicu perdebatan sengit tentang masa depan demokrasi lokal di Indonesia.

Di satu sisi, argumen efisiensi dan penghematan biaya digulirkan. Di sisi lain, kekhawatiran akan terampasnya hak kedaulatan rakyat menggema keras. Lantas, bagaimana sebenarnya peta kekuatan politik di DPR saat ini? Siapa saja yang pro dan siapa yang kontra?

Pilkada Langsung vs. Pilihan DPRD: Mengingat Kembali Bedanya

Sebelum membedah peta politik, penting untuk memahami perbedaan mendasar antara dua sistem ini. Pilkada langsung, yang kita kenal sejak 2005, adalah sistem di mana rakyat secara individu datang ke bilik suara untuk memilih gubernur, bupati, atau wali kota.

Ini adalah buah dari Reformasi 1998 yang bertujuan memberikan kedaulatan penuh kepada rakyat.

Sebaliknya, Pilkada via DPRD adalah sistem yang berlaku di era Orde Baru. Dalam model ini, rakyat hanya memilih anggota legislatif. Kemudian, para anggota DPRD inilah yang melakukan pemilihan untuk menentukan siapa yang akan menjadi kepala daerah.

Pilkada langsung adalah perwujudan kedaulatan rakyat, sementara Pilkada via DPRD adalah demokrasi perwakilan di mana elite partai yang menentukan.

Peta Kekuatan: Barisan Pro-DPRD Menguat, PDIP Melawan Sendirian

Dorongan untuk mengubah sistem ini datang dari koalisi partai yang gemuk. Sejumlah argumen yang sama terus diulang: Pilkada langsung dianggap berbiaya mahal, memicu polarisasi tajam di masyarakat, dan ongkos politiknya membebani calon.

Berikut adalah peta kekuatan fraksi-fraksi di DPR berdasarkan pernyataan resmi mereka:

Blok Pro-Pilkada via DPRD:

Partai Golkar: Menjadi yang paling vokal. Ketua Umum Bahlil Lahadalia hingga Sekjen M Sarmuji kompak menyuarakan perlunya kembali ke sistem DPRD untuk efisiensi.

Partai Gerindra: Sekjen Sugiono menegaskan partainya mendukung penuh rencana ini dengan pertimbangan utama efisiensi anggaran dan pemangkasan ongkos politik.

PKB: Mengklaim ide ini sudah lama digagas oleh Muhaimin Iskandar (Cak Imin) untuk menekan biaya politik yang sangat tinggi.

PAN dan NasDem: Keduanya menilai Pilkada via DPRD tidak melanggar konstitusi dan sejalan dengan nilai Pancasila, merujuk pada Pasal 18 ayat (4) UUD 1945 yang menyebut kepala daerah "dipilih secara demokratis".

Partai Demokrat: Menunjukkan sikap pragmatis dan terbuka, menyatakan akan mengikuti arahan dari Presiden Prabowo Subianto.

Blok Hati-hati:

PKS: Belum mengambil sikap tegas. Sekjen M. Kholid menyatakan partainya masih melakukan kajian mendalam dan menyerap aspirasi dari berbagai kalangan sebelum memutuskan.

Blok Kontra:

PDI Perjuangan: Menjadi satu-satunya partai di parlemen yang secara lantang dan konsisten menolak wacana ini. PDIP memandang langkah ini sebagai kemunduran demokrasi dan perampasan hak rakyat.

"Hak demokrasi yang sudah diberikan kepada rakyat ini mau diambil kembali? Saya kira rakyat akan marah," tegas Ketua DPP PDIP, Andreas Hugo Pareira.

Dampak dan Peluang: Mundur ke Belakang atau Solusi?

Para pengamat dan aktivis pro-demokrasi memperingatkan dampak serius jika wacana ini lolos. Direktur Eksekutif Perludem, Heroik Pratama, menyebutnya sebagai langkah mundur yang menggerus kedaulatan hak politik warga negara.

"Upaya mengubah mekanisme pilkada ke DPRD tidak sejalan dengan sistem pemerintahan presidensial di Indonesia," kata Heroik kepada Suara.com, Jumat (9/1/2026) malam.

Ia menambahkan, politik uang tidak akan hilang, melainkan hanya berpindah arena dari masyarakat luas ke ruang-ruang tertutup di DPRD.

Dengan peta kekuatan saat ini, di mana mayoritas fraksi cenderung mendukung, peluang wacana ini lolos di DPR secara voting sangat besar.

Analis Politik dari Universitas Andalas, Asrinaldi, memprediksi jika PDIP berjuang sendirian di parlemen, mereka akan kalah dalam mekanisme voting.

Namun, jalan tidak akan mulus begitu saja. Asrinaldi mengingatkan adanya potensi perlawanan dari publik.

"Aksi-aksi massa turun ke jalan dan ini akan jadi persoalan besar di pemerintahan Prabowo," ujarnya.

Selain itu, jika UU ini disahkan, Mahkamah Konstitusi (MK) diprediksi akan dibanjiri gugatan uji materi dari masyarakat sipil.


Terkait

Tanggapi Soal Pilkada Langsung dan Tidak Langsung, Menko Yusril: Keduanya Konstitusional
Jum'at, 09 Januari 2026 | 19:38 WIB

Tanggapi Soal Pilkada Langsung dan Tidak Langsung, Menko Yusril: Keduanya Konstitusional

Yusril: Pilih langsung/tidak langsung kepala daerah konstitusional. Ia nilai tidak langsung lebih filosofis, Pilkada langsung biayanya tinggi & rentan politik uang.

Alarm 84 Persen: Penolakan Gen Z Pilkada Lewat DPRD dan Bahaya Krisis Legitimasi
Jum'at, 09 Januari 2026 | 07:55 WIB

Alarm 84 Persen: Penolakan Gen Z Pilkada Lewat DPRD dan Bahaya Krisis Legitimasi

Angka ini tidak bisa dibaca sekadar sebagai preferensi generasional. Ia adalah indikator perubahan sumber legitimasi politik.

Lobi Prabowo-SBY Bikin Demokrat Ubah Sikap Soal Pilkada? Ini Kata Gerindra
Kamis, 08 Januari 2026 | 18:49 WIB

Lobi Prabowo-SBY Bikin Demokrat Ubah Sikap Soal Pilkada? Ini Kata Gerindra

Bagaimana sikap Gerindra perihal keputusan Partai Demokrat, Pras menegaskan tidak ada masalah

Terbaru
Mimpi Haji Tanpa Antre Lewat 'War Tiket', Memang Bisa?
polemik

Mimpi Haji Tanpa Antre Lewat 'War Tiket', Memang Bisa?

Jum'at, 10 April 2026 | 17:37 WIB

Di tengah kebuntuan antrean yang mengular panjang, sebuah wacana radikal mencuat ke permukaan, pemerintah mempertimbangkan sistem war tiket haji

Gencatan Senjata AS-Iran, Apa Dampaknya Bagi Indonesia? polemik

Gencatan Senjata AS-Iran, Apa Dampaknya Bagi Indonesia?

Kamis, 09 April 2026 | 19:42 WIB

Konflik anatara Iran dengan AS ini bukan merupakan babak baru. Hubungan antara AS dan Iran adalah salah satu konflik geopolitik paling rumit dan berkepanjangan di dunia

Geger Seruan Gulingkan Prabowo dari Saiful Mujani, Kritik Keras atau Ajakan Makar? polemik

Geger Seruan Gulingkan Prabowo dari Saiful Mujani, Kritik Keras atau Ajakan Makar?

Rabu, 08 April 2026 | 18:59 WIB

Saiful Mujani menilai bahwa setelah lebih dari satu tahun pemerintahan berjalan, ruang kritik terhadap pemerintah semakin tertutup

Ide Kreatif Dinilai Rp 0, Bedah Kasus Amsal Sitepu Jadi Terdakwa Gegara Video Profil Desa polemik

Ide Kreatif Dinilai Rp 0, Bedah Kasus Amsal Sitepu Jadi Terdakwa Gegara Video Profil Desa

Selasa, 31 Maret 2026 | 17:51 WIB

Amsal Sitepu dituntut pidana dua tahun penjara, denda Rp 50 juta, serta kewajiban membayar uang pengganti

Menavigasi Pergeseran Pengaruh: Kenapa Orang Indonesia Mulai "Jatuh Cinta" pada China? polemik

Menavigasi Pergeseran Pengaruh: Kenapa Orang Indonesia Mulai "Jatuh Cinta" pada China?

Senin, 30 Maret 2026 | 23:50 WIB

Sentimen positif masyarakat Indonesia terhadap China naik tajam berkat faktor ekonomi, strategi soft power, serta narasi pro-Beijing yang masif di media sosial.

4 Prajurit BAIS Tersangka Penyiram Air Keras ke Aktivis Kontras, Apa Motifnya? polemik

4 Prajurit BAIS Tersangka Penyiram Air Keras ke Aktivis Kontras, Apa Motifnya?

Rabu, 18 Maret 2026 | 18:42 WIB

Keempat prajurit yang kini berstatus tersangka tersebut memiliki inisial NDP, SL, BHW, dan ES. Saat ini, mereka telah ditahan di Pomdam Jaya

Teror Air Keras ke Pembela HAM, Siapa di Balik Serangan Brutal Aktivis KontraS? polemik

Teror Air Keras ke Pembela HAM, Siapa di Balik Serangan Brutal Aktivis KontraS?

Rabu, 18 Maret 2026 | 16:17 WIB

Banyak pihak meyakini ini adalah serangan teror yang ditujukan langsung untuk membungkam suara kritis Andrie dan para pembela hak asasi manusia

×
Zoomed