Prabowo Mau Jadi Diktator? Ini Beda Pemimpin Kuat, Otoriter dan Diktator Sejati
Home > Detail

Prabowo Mau Jadi Diktator? Ini Beda Pemimpin Kuat, Otoriter dan Diktator Sejati

Bangun Santoso | Novian Ardiansyah

Kamis, 08 Januari 2026 | 20:33 WIB

Suara.com - Istilah "diktator" kembali menggema di ruang publik setelah Presiden Prabowo Subianto mengaku dituduh ingin menjadi seorang diktator. Label politik yang sarat akan konotasi negatif ini sering kali dilontarkan dalam perdebatan sengit, namun tak jarang maknanya menjadi kabur dan disalahpahami.

Lantas, apa sebenarnya arti diktator? Apakah sama dengan pemimpin yang bergaya tegas atau "pemimpin kuat"? Memahami definisi, sejarah, dan ciri-cirinya menjadi krusial agar kita tidak salah dalam menafsirkan sebuah gaya kepemimpinan.

Asal-Usul Diktator: Jabatan Mulia yang Berubah Menakutkan

Percaya atau tidak, kata diktator tidak selalu berkonotasi buruk. Istilah ini lahir dari Republik Romawi Kuno, di mana dictator adalah sebuah jabatan resmi dan legal yang diberikan Senat kepada seorang individu untuk memegang kekuasaan penuh dalam periode terbatas, biasanya enam bulan, saat negara menghadapi keadaan darurat.

Tujuan utamanya adalah untuk menyelamatkan negara secara cepat dan efektif. Setelah krisis berakhir, sang diktator wajib mengembalikan kekuasaannya.

"Pada awalnya, 'dictator' adalah jabatan resmi dan terhormat di Republik Romawi yang diberikan sementara untuk mengatasi krisis."

Makna kata ini mulai bergeser secara drastis menjadi negatif ketika tokoh seperti Julius Caesar menggunakan kekuatan daruratnya untuk merebut kekuasaan seumur hidup. Sejak saat itu, istilah diktator identik dengan penguasa tiran yang absolut.

Beda Tipis: Pemimpin Kuat, Otoriter, dan Diktator

Anatomi seorang diktator. (Grafis Suara.com/Syahda)
Anatomi seorang diktator. (Grafis Suara.com/Syahda)

Dalam politik modern, penting untuk membedakan tiga konsep yang sering tumpang tindih ini:

Pemimpin Kuat (Strong Leader): Merujuk pada pemimpin yang memerintah dengan visi yang jelas dan ketegasan.

Namun semua itu dilakukan dalam koridor sistem demokrasi. Mereka tetap menghormati konstitusi, pemilu, dan kebebasan pers. Seorang 'pemimpin kuat' memerintah dengan tegas namun tetap tunduk pada konstitusi.

Pemimpin Otoriter: Level di atas pemimpin kuat. Seorang pemimpin otoriter membatasi kebebasan politik dan sipil secara signifikan.

Oposisi ditekan dan media dikontrol, namun sering kali masih berusaha menjaga tampilan institusi demokrasi. Rezim otoriter membatasi kebebasan politik namun seringkali masih beroperasi dalam kerangka hukum.

Diktator: Ini adalah bentuk paling ekstrem. Seorang diktator berada di atas hukum. Kekuasaannya bersifat absolut dan tidak terbatas.

Konstitusi dan lembaga negara hanya menjadi stempel untuk melegitimasi keputusannya. Seorang diktator sejati memegang kekuasaan absolut yang tidak dibatasi oleh hukum.

Pandangan Kritis dari Masyarakat Sipil

Kekhawatiran publik terhadap munculnya gejala kepemimpinan yang menjurus pada penyelewengan kekuasaan dinilai tidak muncul ujug-ujug. Direktur LBH Jakarta, Fadhil Alfathan, menilai tudingan tersebut berangkat dari arah kebijakan yang ada.

"Kekhawatiran publik berangkat dari arah kebijakan dan praktik kekuasaan yang menunjukkan kemunduran demokrasi," ujar Fadhil kepada Suara.com. Kamis (8/1/2026).

Menurutnya, gejala itu terlihat dari menguatnya peran militer di ruang sipil, pola represif terhadap kebebasan berpendapat melalui kriminalisasi dan intimidasi, serta kecenderungan konsolidasi kekuasaan yang minim kontrol.

"Indonesia memang belum menjadi negara diktator, namun tanda-tanda menuju ke arah otoritarianisme nyata dan tidak bisa dianggap wajar dalam negara demokratis," katanta.

Contoh Diktator dalam Sejarah

Sejarah mencatat banyak pemimpin yang masuk dalam kategori diktator, seperti Adolf Hitler (Jerman), Joseph Stalin (Uni Soviet), Benito Mussolini (Italia), hingga Pol Pot (Kamboja).

Di Indonesia, pengalaman era Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto sering dirujuk sebagai contoh rezim otoriter yang memiliki banyak karakteristik kediktatoran, seperti pemusatan kekuasaan dan kontrol militer yang kuat.


Terkait

Prabowo Wanti-wanti Atlet Jangan Pakai Bonus untuk Hal Negatif
Kamis, 08 Januari 2026 | 17:11 WIB

Prabowo Wanti-wanti Atlet Jangan Pakai Bonus untuk Hal Negatif

Prabowo beri bonus atlet SEA Games 2025 sebagai penghargaan atas perjuangan, bukan upah. Minta atlet menabung bonus untuk masa depan.

Bonus Rp465 Miliar Atlet SEA Games Cair, Pemerintah Kasih Literasi Keuangan 1,5 Jam
Kamis, 08 Januari 2026 | 16:30 WIB

Bonus Rp465 Miliar Atlet SEA Games Cair, Pemerintah Kasih Literasi Keuangan 1,5 Jam

Prabowo beri bonus Rp465,25 M ke atlet/pelatih SEA Games 2025. Indonesia raih peringkat 2 (91 emas). Bonus disertai literasi keuangan.

Bamsoet: Prabowo Capai Swasembada Beras 'Gaya' Soeharto-SBY Dalam Setahun
Kamis, 08 Januari 2026 | 13:58 WIB

Bamsoet: Prabowo Capai Swasembada Beras 'Gaya' Soeharto-SBY Dalam Setahun

Menurut Bambang Soesatyo, keberhasilan ini bukan sekadar angka statistik, melainkan sebuah tonggak sejarah yang membuktikan kekuatan komitmen politik seorang pemimpin

Menuju Nol Kasus Keracunan, BGN Perketat Pengawasan Makan Bergizi Gratis di 2026
Kamis, 08 Januari 2026 | 13:48 WIB

Menuju Nol Kasus Keracunan, BGN Perketat Pengawasan Makan Bergizi Gratis di 2026

Presiden Prabowo dalam retret kabinet beberapa waktu lalu, agar pelaksanaan program tidak dilakukan secara memaksa.

Terbaru
Jokowi Lempar Bola Panas, Mungkinkah KPK Kembali Sakti?
polemik

Jokowi Lempar Bola Panas, Mungkinkah KPK Kembali Sakti?

Senin, 23 Februari 2026 | 19:55 WIB

Lontaran isu ini berawal dari permintaan mantan Ketua KPK Abraham Samad kepada Presiden Prabowo Subianto

Tikungan Terakhir! 30 Kilometer Kebebasan Laras nonfiksi

Tikungan Terakhir! 30 Kilometer Kebebasan Laras

Kamis, 19 Februari 2026 | 16:42 WIB

Tak semua tahu, 15 kilometer jauhnya, di Gerbang Rumah Tahanan Negara Kelas I Pondok Bambu, Jakarta Timur, kebebasan itu tak langsung diberikan ke Laras.

'Buku Putih' Kaum Anarkis nonfiksi

'Buku Putih' Kaum Anarkis

Rabu, 18 Februari 2026 | 14:15 WIB

Ada hantu bergentayangan di Indonesiahantu Anarkisme! Polisi mencoba menggelar eksorsisme, kaumnya diburu, tapi ia tak mau pergi.

Ijazah Jokowi Tanpa Sensor Akhirnya Dirilis, Drama Berjilid-jilid Segera Berakhir? polemik

Ijazah Jokowi Tanpa Sensor Akhirnya Dirilis, Drama Berjilid-jilid Segera Berakhir?

Jum'at, 13 Februari 2026 | 13:03 WIB

Salinan ijazah terlegalisir yang dipakai Calon Presiden di Pilpres 2014 dan 2019, tulis Bonatua

Cinta dan Jari yang Patah di Utara Jakarta nonfiksi

Cinta dan Jari yang Patah di Utara Jakarta

Kamis, 12 Februari 2026 | 12:13 WIB

Anak-anak, remaja, hingga dewasa ditangkap Polres Jakarta Utara atas tuduhan ikut aksi Agustus 2025. Banyak yang sebenarnya tidak ikut demonstrasi. Mereka dianiaya polisi.

Dilema WNI Bermasalah di Kamboja, Korban Perdagangan Orang atau Operator Penipuan? polemik

Dilema WNI Bermasalah di Kamboja, Korban Perdagangan Orang atau Operator Penipuan?

Selasa, 10 Februari 2026 | 18:33 WIB

Jangan sebut mereka korban jika mereka berangkat secara sadar untuk menipu orang lain demi gaji dolar,

Bocah-bocah di Sarang Polisi: Asal Tangkap Perkara Aksi Agustus nonfiksi

Bocah-bocah di Sarang Polisi: Asal Tangkap Perkara Aksi Agustus

Selasa, 10 Februari 2026 | 16:26 WIB

Polres Magelang Kota diduga melakukan asal tangkap terhadap banyak bocah setelah aksi Agustus 2025. Banyak di antara anak-anak itu mengaku disiksa selama dalam tahanan.

×
Zoomed