Suara.com - Jakarta Timur punya sebuah wajah yang ganjil di Jalan Raya Bogor. Di sana berdiri GOR Ciracas, sebuah monumen olahraga yang megah dengan pilar-pilar beton yang kokoh dan atap tinggi yang menantang langit.
Di siang hari, tempat itu adalah simbol kesehatan, prestasi, dan energi muda. Suara derit sepatu kets di atas lantai kayu dan sorak-sorai penonton basket menjadi napas utamanya.
Namun, tepat di sebelah dinding-dinding kokoh tersebut, seolah terselip dalam lipatan kota yang luput dari perhatian sapu bersih peradaban, sebuah dunia bernama Gang Boker.
Wajah Kontras Gang Boker Dulu dan Kini
Jauh sebelum dikenal sebagai kawasan remang-remang, tempat ini adalah rumah bagi seorang saudagar sayur yang sangat populer di masanya. Karena kesuksesannya, nama sang pedagang diabadikan oleh masyarakat sebagai identitas wilayah tersebut.
Sayangnya, perjalanan waktu membawa Gang Boker ke arah yang berbeda, menjadikannya salah satu pusat lokalisasi di Jalan Raya Bogor.
Hanya butuh beberapa langkah dari keriuhan sehat di dalam GOR untuk sampai ke sebuah kawasan yang seolah memiliki hukum alamnya sendiri.
Ketika matahari tergelincir ke ufuk barat dan lampu-lampu sorot lapangan mulai padam, "kehidupan" di Gang Boker justru baru menggeliat.
Gelapnya bibir gang dari raungan lalu lalang kendaraan di Jalan Raya Bogor menjadi penanda awal langkahku menuju Gang Boker pada Selasa malam, 6 Januari 2026.
Kontrasnya begitu tajam, hingga terasa seperti sebuah ironi yang dipahat dengan sengaja.
Jika di GOR orang-orang datang untuk mengolah fisik dan mencari kemenangan, di Gang Boker, orang-orang datang untuk melupakan kekalahan hidup.
Dari dalam kegelapan, senyuman ramah sang penjaga menyapa, seakan sudah paham betul apa yang dibutuhkan orang yang datang ke wilayahnya.
"Di sini, tarifnya sekitar Rp250 ribu sampai Rp300 ribu," papar lelaki paruh baya itu.
Masuk ke dalam Gang Boker layaknya melewati gerbang dimensi yang berbeda dari dunia yang selama ini kujalani.

Bau asap rokok yang pekat bercampur dengan aroma parfum murah yang menusuk hidung. Kegelapan berangsur tergantikan oleh temaram lampu-lampu neon, yang menggantung di depan pintu-pintu bedeng dalam sebuah lorong sempit di sisi kiri gang.
Di sana, berjajar perempuan-perempuan berbalut busana seksi yang menanti peruntungan malam. Temaram lampu memberikan rona yang tidak wajar pada wajah-wajah yang menunggu di bawahnya.
Mimpi Besar yang Terkubur di Lorong Sempit
Bagi warga sekitar atau mereka yang sekadar melintas, Gang Boker adalah "rahasia umum" yang tak pernah benar-benar bisa dihapuskan.
Meski sempat digusur pada 2003 dan berkali-kali ditertibkan, meski pembangunan di sekelilingnya semakin modern, ia tetap bertahan seperti parasit yang menempel di balik inangnya yang megah.
Ia adalah tempat di mana ekonomi kecil berputar di atas tawar-menawar harga diri, dan di mana tawa yang terdengar seringkali hanya topeng dari rasa lelah yang mendalam.
Salah satunya bagi Lia, janda dua anak asal Cikeas yang ditemui di sana. Dia memasang tarif Rp250 ribu untuk sebuah "kencan" singkat.
Jabat tangan penuh kehangatan mengawali perkenalan kami di sebuah kamar bedeng. Sebatang rokok lalu Lia nyalakan, sembari mempersilakanku duduk di sebelahnya.
"Nyantai dulu saja ya," ucap Lia sebelum berkisah.
Cerita berawal dari 5 tahun lalu, kala seorang kawan membawa Lia ke lorong sempit Gang Boker semenjak menjanda.
Bukan semata tergiur penghasilan instan, alasannya menerima ajakan sang kawan cukup untuk membuat batinku mencelos.
"Buat jajan anak a', anak-anakku nunggu di rumah," kisah Lia di balik embusan asap rokoknya.
Sulit bagi Lia kala itu berpikir jernih. Kedua anaknya butuh asupan gizi, sedang kakek nenek mereka juga tak mampu berbuat banyak karena keterbatasan finansial.
"Mau gimana lagi kan?," tuturnya seakan pasrah.
Lia bukannya tak berupaya melepaskan diri dari geliat Gang Boker. Pada 2023, ia sempat enggan datang lagi ke lorong sempit itu.
"Ya aku juga pengin, kerja yang bener buat anak," akunya sembari membayangkan jaminan gaji tetap setiap bulan, walau mungkin tak sebesar yang kini bisa ia hasilkan.

Namun di 2024, langkah kaki Lia membawanya kembali ke sana, seiring isi rekening yang kian menipis. Upaya mencari pekerjaan layak terbentur rekam jejak pendidikannya yang cuma tamatan SMA.
Lia bahkan pernah punya mimpi besar, sebelum realita membenamkan angannya ke sebuah kamar sempit minim penerangan, yang kini jadi "ruang kerjanya" setiap malam.
"Aku dulu pengin jadi Polwan. Tapi sekolahnya kan mahal ya a', aku nggak ada uang," kenangnya sembari tertawa kecut.
Kini, asa mencari nafkah di wadah yang lebih lazim kian tergerus, seiring kondisi perekonomian negeri yang tak kunjung memberikan secercah harapan bagi para pencari kerja.
Suka tidak suka, Lia harus menelan pil pahit lagi, lewat datangnya "rezeki" dari mereka yang terkadang ia sendiri pun tak nyaman meladeninya.
"Kadang ada yang badannya bau banget. Tapi yang penting kan duitnya wangi," kelakarnya sembari menepuk bahuku, sebelum bercerita tentang salah satu kisah manis meraup jutaan Rupiah di satu malam lewat lima kencan.
Keseharian Lia jelas bukan tanpa resiko. Meski keberadaannya disambut baik warga, perlakuan serupa tentu kecil kemungkinan untuk ia dapati di luar "zona nyaman" Gang Boker.
Perjalanan pulang Lia ke Cikeas sesekali menghadirkan nuansa mencekam. Selalu menyudahi "pekerjaan" setiap jam 12 malam, hasrat untuk kembali ke pelukan anak-anak pernah dihantui bayang-bayang para lelaki hidung belang yang menjadikannya target buruan.
Ya, tak sedikit kaum Adam yang ingin melampiaskan nafsu bejat mereka secara cuma-cuma dengan mengincar setiap perempuan yang keluar dari Gang Boker saat langit malam masih menggantung.
"Emang udah resikonya a', tapi ya takut juga," aku Lia, yang dalam hati kecilnya masih ingin dimanusiakan di luar 'jam kerja'.
Malam yang kian larut jadi penanda berakhirnya pertemuanku dengan Lia. Sudah ada pelanggan setia yang menanti di ujung lorong untuk ia temani.
"Aku emang cuma ambil di sini a', nggak ngerti yang kayak MiChat gitu," bebernya.
Potret Kota Besar Menyimpan Lukanya
Ada semacam kesepakatan tak tertulis yang canggung di sana. Tembok samping GOR Ciracas seolah menjadi perbatasan antara dua dunia yang tak mau saling kenal.
Di satu sisi ada keringat atlet yang jujur, di sisi lain ada keringat kehidupan malam yang penuh kepalsuan.
Gang Boker bukan sekadar tempat lokalisasi. Itu adalah potret bagaimana sebuah kota besar menyimpan luka-lukanya.
Termasuk bagi Lia yang mimpinya mengusung panji Tribrata terkubur realita, termasuk bagi beberapa warga yang terpaksa menggantungkan nasibnya di sana.
Ia bersembunyi di balik megahnya fasilitas publik, seolah ingin mengingatkan siapa pun yang lewat bahwa di balik setiap kemajuan, selalu ada sudut-sudut gelap yang belum tersentuh cahaya, tempat di mana hidup hanya tentang bagaimana caranya bertahan sampai esok pagi.
Saat fajar mulai menyingsing, Gang Boker kembali redup. Lampu-lampu neon dimatikan, dan pintu-pintu kayu tertutup rapat.
Sementara itu, di sebelahnya, GOR Ciracas kembali bersiap menyambut derap langkah para pelari pagi. Dua dunia yang berdampingan, namun tak pernah benar-benar bersatu.
Pada zaman penjajahan Jepang, salah satu bentuk kekerasan seksual adalah Jugun Ianfu.
Anies Baswedan melakukan kampanye Pilpres 2024 di hari pertama dengan menyapa warga di GOR Ciracas Jakarta Timur.
Berlatarkan bilik kecil sederhana, fakta di balik foto lawas wanita dan prajurit Belanda jadi sorotan.
Aksi pencurian yang dilakukan seorang ibu-ibu di sebuah area kolam renang.
Demokrat dinilai sedang membingkai narasi dengan melapor, mereka memposisikan diri sebagai korban kampanye hitam dan pejuang kebenaran
polemik
Terlilit utang kripto dan divonis kanker stadium 3, seorang pria nekat merampok rumah politisi PKS Maman Suherman
polemik
KUHP baru resmi berlaku, pahami pasal-pasal krusial yang paling banyak dibicarakan, mulai dari kohabitasi, perzinaan, hingga penghinaan presiden
nonfiksi
Hujan telah lama berhenti di Aceh Tamiang, tetapi banjir seperti belum benar-benar pergi. Ia tinggal dalam bau lumpur yang mengering, dalam kayu-kayu patah yang masih berserak
polemik
Bagaimana politik simbol dan populisme kanan membentuk narasi kepemimpinan yang memikat publik namun menyisakan rapor merah bagi kualitas demokrasi substantif Indonesia?
polemik
KPK kala itu menaksir kerugian negara mencapai angka fantastis: Rp2,7 triliun.
polemik
Kemungkinan besar UMP Aceh tetap menggunakan angka tahun 2025.