Suara.com - Penangkapan HA, seorang perampok di Cilegon, Banten, tidak hanya menghentikan aksi kejahatannya, tetapi juga membuka misteri dari sebuah tragedi yang mengguncang panggung politik lokal.
HA adalah terduga pelaku di balik perampokan brutal yang menewaskan anak berusia 9 tahun dari politisi PKS, Maman Suherman, pada 16 Desember 2025 lalu.
Kasus ini menjadi sorotan bukan hanya karena status sang ayah, tetapi juga karena kekejiannya, bocah malang itu ditemukan tewas dengan 22 luka tusukan.
Kini, tabir di balik motif pelaku yang sempat buron selama beberapa minggu akhirnya tersingkap, mengungkap kisah kelam tentang kehancuran finansial, utang, dan penyakit mematikan.
Mengapa Pelaku Begitu Nekat?
Di balik topeng perampok sadis, HA ternyata adalah seorang pria yang hidupnya hancur lebur. Berdasarkan penyidikan mendalam oleh Polda Banten, motif utama kejahatannya adalah himpitan ekonomi ekstrem yang dipicu oleh tiga faktor utama:
Awalnya, HA sempat merasakan manisnya dunia kripto. Dengan modal tabungan bersama istri sebesar Rp400 juta, ia berhasil meraup keuntungan fantastis hingga Rp4 miliar. Namun, keserakahan membuatnya terus bermain hingga akhirnya rugi besar dan kehilangan semua modalnya.
Untuk menutupi kerugian dan kembali mencoba peruntungan di kripto, HA menggali lubang utang yang dalam.
Ia meminjam Rp700 juta dari bank, Rp70 juta dari koperasi tempatnya bekerja, dan Rp50 juta dari pinjaman online (pinjol). Semua uang itu kembali ludes di pasar kripto.
Di tengah kehancuran finansial, HA juga harus berjuang melawan penyakit kanker stadium 3. Rekam medis di ponselnya menunjukkan ia rutin menjalani kemoterapi. Kondisi ini semakin menambah beban psikologis dan finansialnya.
Dirreskrimum Polda Banten, Kombes Dian Setyawan, menegaskan bahwa kombinasi inilah yang mendorong HA ke jalan pintas kriminal.
“Karena himpitan ekonomi inilah mendorong yang bersangkutan untuk melakukan tindakan pidana ini,” kata Dian.
Bagaimana Perampokan Berujung Pembunuhan Sadis?

Menurut rekonstruksi kejadian, aksi HA di rumah Maman Suherman adalah debutnya sebagai penjahat. Ia beraksi seorang diri di siang hari saat hujan deras, memilih targetnya secara acak.
Setelah memastikan rumah kosong dengan menekan bel empat kali, ia masuk dengan mencongkel jendela kamar pembantu.
Mengenakan masker, helm full face, dan sarung tangan, HA menemukan sebuah brankas di lantai satu namun gagal membukanya.
Di sinilah tragedi dimulai. Ia naik ke lantai atas dan menemukan anak korban yang baru berusia 9 tahun di dalam kamarnya.
HA menanyakan kunci brankas, namun korban yang ketakutan justru membentak dan menyuruhnya keluar. Saat pelaku mencoba membawa korban ke balik lemari untuk diikat dan dijadikan sandera, korban melawan.
Panik, HA menikam korban dengan pisau yang telah ia siapkan. Teriakan korban justru dibalas dengan tikaman berulang kali hingga tewas.
Ironisnya, setelah melakukan pembunuhan keji itu, HA sempat kembali ke brankas dan mencoba membukanya lagi, terlihat dari bercak darah yang menempel di tombol-tombolnya, namun usahanya tetap sia-sia.
Tertangkap Saat Beraksi untuk Ketiga Kalinya
Pelarian HA tidak berlangsung lama. Ia tertangkap basah oleh warga saat mencoba melakukan perampokan ketiganya di kediaman mantan anggota DPRD Cilegon, Roisyudin Sayuti.
Dalam aksi tersebut, ia terjebak di dalam garasi mobil, memberinya nasib sial yang justru menyelamatkan calon korban berikutnya. Warga yang sigap langsung melaporkannya ke polisi, mengakhiri rentetan kejahatan brutalnya.
Pesan Terakhir untuk Istri
Fakta lain yang terungkap dari ponsel pelaku adalah sebuah pesan yang ia kirimkan kepada istrinya, hanya empat jam sebelum melakukan pembunuhan. Pesan itu seolah menjadi firasat dan sinyal akan niat jahatnya.
“Pada chat HP pelaku dengan dengan istrinya ‘apabila keadaan semakin amblas’... yang bersangkutan akan melakukan aksi kriminal,” ujar Dian.
Pesan mengerikan itu hanya dibalas dengan istigfar oleh sang istri, yang tak menyangka suaminya akan mewujudkan ancaman tersebut dengan cara yang begitu tragis.
Budi menegaskan bahwa peran perempuan asal Jambi ini bukanlah saksi kunci atau saksi mahkota dalam peristiwa maut.
Polisi mengungkap alasan penetapan pelaku pencurian di rumah mantan anggota DPRD Kota Cilegon.
Nana digugat balik oleh pelaku perampokan bersenjata di rumahnya. Agensi SUBLIME menegaskan itu pembelaan diri dan siap tempuh jalur hukum.
Tim dari Puslabfor sudah datang untuk mengambil sampel benda-benda di TKP yang diperlukan untuk pengecekan lebih lanjut, kata Seno.
KUHP baru resmi berlaku, pahami pasal-pasal krusial yang paling banyak dibicarakan, mulai dari kohabitasi, perzinaan, hingga penghinaan presiden
nonfiksi
Hujan telah lama berhenti di Aceh Tamiang, tetapi banjir seperti belum benar-benar pergi. Ia tinggal dalam bau lumpur yang mengering, dalam kayu-kayu patah yang masih berserak
polemik
Bagaimana politik simbol dan populisme kanan membentuk narasi kepemimpinan yang memikat publik namun menyisakan rapor merah bagi kualitas demokrasi substantif Indonesia?
polemik
KPK kala itu menaksir kerugian negara mencapai angka fantastis: Rp2,7 triliun.
polemik
Kemungkinan besar UMP Aceh tetap menggunakan angka tahun 2025.
polemik
Jakarta darurat lahan makam. Dengan rata-rata 100 jenazah per hari, 69 dari 80 TPU telah penuh
nonfiksi
Warga Gampong Kubu, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Kabupaten Bireuen, Aceh, kesulitan air bersih. Mereka bingung untuk BAB. Air lumpur pun dikonsumsi.