Niat Bantu Teman, Malah Diteror Pinjol: Kisah Mahasiswa Jogja Jadi Korban Kepercayaan
Home > Detail

Niat Bantu Teman, Malah Diteror Pinjol: Kisah Mahasiswa Jogja Jadi Korban Kepercayaan

Agung Pratnyawan

Jum'at, 31 Oktober 2025 | 13:18 WIB

Suara.com - Telepon itu datang saat ia baru saja bersiap ke kampus. Suara di ujung sana menagih cicilan pinjaman yang tak pernah ia ajukan.

Begitulah awal dari kisah tragis seorang mahasiswa di Yogyakarta, yang mendapati dirinya terjebak akibat data pribadinya disalahgunakan oleh teman sendiri. 

Peristiwa ini mengubah kesehariannya menjadi mahasiswa Jogja, di mana rasa percaya yang selama ini dijaga, kini berubah menjadi ketakutan dan kecemasan.

Hidup Sederhana di Kota Pelajar

Mahasiswa tersebut, sebut saja Arif, berasal dari sebuah desa kecil di Yogyakarta. Ia kuliah di Salah satu universitas di Yogyakarta, menjalani kehidupan yang normal seperti mahasiswa lainnya. 

Arif dikenal sebagai sosok yang ramah dan selalu siap membantu teman-temannya. 

Hubungan baik dengan teman-temannya, terutama dengan si pelaku, membuatnya merasa nyaman dan mempercayai semua permintaan yang datang. 

Situasi sebelum masalah ini muncul cukup damai; Arif aktif dalam kuliah dan sering berkumpul dengan teman-teman.

Ketika Kepercayaan Menjadi Senjata Makan Tuan

Permasalahan dimulai saat temannya, Rudi, meminta bantuan untuk meminjam nama dan data pribadi Arif. 

"Aku butuh KTP untuk syarat pinjaman motor. Ini hanya sementara, nanti aku yang bayar," ujarnya. 

Arif merasa sungkan untuk menolak permintaan tersebut, mengingat hubungan baik mereka. Akhirnya, ia menyerahkan datanya dengan harapan tidak ada yang salah.

Namun, semua itu ternyata menjadi awal dari masalah besar yang tidak pernah ia duga.

Terjebak dan Tak Percaya: Tagihan yang Bukan Miliknya

Beberapa minggu setelah memberikan data pribadinya, Arif mulai menerima telepon dan pesan dari debt collector. 

Ponselnya bergetar hampir tiap jam. Nomor-nomor tak dikenal muncul dengan nama aneh di WhatsApp. "Tim Penagihan Pinjol", begitu nama kontak yang muncul di WhatsApp. 

Ia terkejut dan tidak percaya, merasa hidupnya berubah menjadi mimpi buruk. Penagih bahkan menghubungi dosen dan pihak kampus, membuatnya semakin panik dan tertekan. 

Mencari Nafas di Tengah Kepanikan

Mengetahui situasi yang semakin parah, Arif tidak tinggal diam. Ia mulai mencari tahu cara menyelesaikan masalah ini. 

Menghubungi Rudi tidak ada hasil temannya itu menghilang tanpa kabar. Beruntungnya, Arif mendapat dukungan dari orang tua dan dosen yang membantu memahami hak-haknya sebagai korban.

Ia mendatangi pihak pinjol dan melaporkan kejadian tersebut. Proses yang panjang dan melelahkan ini menjadikannya belajar untuk mengambil kendali atas hidupnya.

Belajar Melawan, Bukan Lari

Setelah beberapa bulan, situasi mulai membaik. Arif tidak lagi menerima teror dari pihak pinjol. Ia bisa kembali fokus pada kuliahnya dan berinteraksi dengan teman-teman tanpa rasa was-was. 

Arif menyadari pentingnya menjaga data pribadi dan berani berkata "tidak" meski kepada teman sendiri. 

"Dulu aku pikir bantu teman itu selalu hal baik. Sekarang aku tahu, nolak juga bisa jadi bentuk peduli," tuturnya dengan penuh penyesalan. 

Pengalaman ini telah mengajarkan banyak hal, termasuk tentang kepercayaan yang harus dijaga.

Menurut salah satu dosen kampus yang menangani kasus ini, mahasiswa seharusnya lebih kritis dan hati-hati sebelum mengambil keputusan. 

"Awalnya memang terlihat mudah, tetapi di balik itu risikonya bisa jauh lebih besar," ujarnya. 

Ia menekankan bahwa kepercayaan dan rasa sungkan sering membuat mahasiswa terburu-buru mengiyakan permintaan teman tanpa mempertimbangkan konsekuensinya.

Dosen ini juga mengingatkan bahwa jika mahasiswa benar-benar membutuhkan dana, tersedia banyak alternatif yang lebih aman. 

"Bisa melalui beasiswa, program bantuan kampus, atau kerja paruh waktu. Harapannya, generasi saat ini bisa lebih bijak dalam mengelola keuangan," tutupnya.

Perspektif Hukum: Ketika Data Pribadi Bukan Sekadar Formalitas

Kasus seperti yang dialami Arif bukanlah hal baru. Di sisi hukum, kasus seperti ini juga memiliki implikasi serius.

Menurut Mata Lintang Hinanjalu, SP, SH, Dampak dari penyalahgunaan data KTP ini bersifat ganda yaitu yuridis dan sosial. 

Secara yuridis bahwa tindakan ini memenuhi unsur pidana-kejahatan dalam Pasal 65 dan 67 UU 27 / 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP), yakni memperoleh dan menggunakan data pribadi secara melawan hukum untuk menguntungkan diri sendiri dan merugikan subjek data, dengan ancaman pidana penjara hingga 6 tahun.

Harapan dari Sebuah Luka yang Sembuh

Sekarang, Arif telah pulih dan lebih bijak dalam mengambil keputusan. Meski masih menyimpan trauma kecil, ia bersyukur bisa melewati masa sulit ini.

Dengan pengalaman yang telah dilaluinya, ia berharap agar kasus seperti ini tidak terulang. 

Ia tak lagi takut jika ponselnya berdering. Kini ia tahu, bukan semua permintaan tolong harus dijawab dengan 'iya'.

Kini, hidupnya kembali tenang. Namun rasa hati-hati itu tetap tinggal, menjadi pengingat bahwa kepercayaan punya batas dan data pribadi adalah sesuatu yang harus dijaga setara dengan diri sendiri.

Kontributor : Laili Nur Fajar Firdayanti


Terkait

Tentang Waktu yang Berjalan Pelan dan Aroma Kopi yang Menenangkan
Jum'at, 24 Oktober 2025 | 13:06 WIB

Tentang Waktu yang Berjalan Pelan dan Aroma Kopi yang Menenangkan

Di sebuah kafe kecil, waktu seolah berhenti di antara aroma kopi dan tawa hangat, tersimpan pelajaran sederhana. Bagaimana caranya benar-benar di Buaian Coffee & Service.

Kuku Kecil Mimpi Besar: Cerita Vio, Mahasiswa yang Menyulap Hobi Jadi Harapan
Jum'at, 17 Oktober 2025 | 13:12 WIB

Kuku Kecil Mimpi Besar: Cerita Vio, Mahasiswa yang Menyulap Hobi Jadi Harapan

Di tengah padatnya kuliah, mahasiswa Jogja bernama Vio menyulap hobi nail art menjadi bisnis. Bagaimana ia mengukir kesuksesan dengan kuku, kreativitas, dan tekad baja?

Mengenal Adrem, Kuliner Unik Bantul yang Populer di Pasar Kangen Jogja
Kamis, 25 September 2025 | 13:48 WIB

Mengenal Adrem, Kuliner Unik Bantul yang Populer di Pasar Kangen Jogja

Pasar Kangen Jogja 2025 menghadirkan berbagai kuliner tradisional yang unik. Salah satunya adrem atau tolpit, jajanan manis dari Bantul.

Menyusuri Jejak Rasa Kuliner Tradisional di Pasar Kangen Jogja 2025
Kamis, 25 September 2025 | 12:57 WIB

Menyusuri Jejak Rasa Kuliner Tradisional di Pasar Kangen Jogja 2025

Pasar Kangen 2025 kembali hadir dari 18 September-24 September 2025. Pagelaran ini menjadi tempat bagi masyarakat untuk mengenal makanan tradisional Yogyakarta.

Terbaru
Belajar dari Kasus Hogi, Bagaimana Aturan Membela Diri dari Penjahat Dalam Hukum RI?
polemik

Belajar dari Kasus Hogi, Bagaimana Aturan Membela Diri dari Penjahat Dalam Hukum RI?

Jum'at, 30 Januari 2026 | 21:44 WIB

Ada batasan tipis antara menjadi pahlawan dan pelaku kriminal di mata hukum Indonesia

Rahasia Tepung Hunkwe, Bahan Sehat di Balik Tekstur Es Gabus Mirip Spons polemik

Rahasia Tepung Hunkwe, Bahan Sehat di Balik Tekstur Es Gabus Mirip Spons

Kamis, 29 Januari 2026 | 18:58 WIB

Viral es gabus dituding terbuat dari spons berbahaya, jajanan jadul ini ternyata dibuat dari tepung hunkwe yang aman dan sehat

Tragedi Es Gabus: Trauma Sudrajat dan Wajah Arogan Aparat polemik

Tragedi Es Gabus: Trauma Sudrajat dan Wajah Arogan Aparat

Kamis, 29 Januari 2026 | 11:24 WIB

Sudrajat menjadi cermin pahit tentang betapa mudahnya asumsi dan penghakiman sepihak menghancurkan hidup seorang pedagang kecil.

Adies Kadir Jadi Hakim MK, Benteng Konstitusi Dikepung Kepentingan Politik? polemik

Adies Kadir Jadi Hakim MK, Benteng Konstitusi Dikepung Kepentingan Politik?

Rabu, 28 Januari 2026 | 21:57 WIB

DPR tunjuk politisi Golkar Adies Kadir jadi Hakim MK lewat proses kilat. Pakar dan ICW cium bau 'amis' kepentingan politik

Geger Saldo Jumbo Rp32 M di Rekening Istri Pejabat Kemenag, Dari Mana Asalnya? polemik

Geger Saldo Jumbo Rp32 M di Rekening Istri Pejabat Kemenag, Dari Mana Asalnya?

Selasa, 27 Januari 2026 | 17:25 WIB

MAKI membongkar dugaan rekening gendut Rp32 miliar milik istri pejabat Kemenag yang hanya seorang ibu rumah tangga

Oleh-oleh Suara.com dari Swiss: Hidup Tenang Tanpa Klakson, Begini Rasanya Slow Living di Zurich nonfiksi

Oleh-oleh Suara.com dari Swiss: Hidup Tenang Tanpa Klakson, Begini Rasanya Slow Living di Zurich

Selasa, 27 Januari 2026 | 17:03 WIB

Bukan berarti tidak ramai. Lalu lalang kendaraan masih melintas di antara trem yang melaju di tengah jalan.

Bela Diri vs Kelalaian: Mengurai Kasus Suami Lawan Jambret di Sleman Jadi Tersangka polemik

Bela Diri vs Kelalaian: Mengurai Kasus Suami Lawan Jambret di Sleman Jadi Tersangka

Senin, 26 Januari 2026 | 18:11 WIB

Niat hati mengambil kembali tas istri yang dirampas jambret, Hogi justru ditetapkan jadi tersangka, tapi polisi memiliki alasan kuat

×
Zoomed