Review Panji Tengkorak, Tetap Worth It Ditonton Meski Meski Penuh Cacat
Home > Detail

Review Panji Tengkorak, Tetap Worth It Ditonton Meski Meski Penuh Cacat

Sumarni

Sabtu, 30 Agustus 2025 | 08:00 WIB
Baca 10 detik
  • Panji Tengkorak tampil berani dengan cerita gelap dan animasi lokal yang cukup menjanjikan, meski belum sempurna.
  • Kelemahan menonjol ada pada voice acting yang kurang merata dan penempatan musik yang tidak mendukung suasana.
  • Meski penuh kekurangan, film ini layak ditonton dan menjadi langkah maju untuk animasi dewasa Indonesia.

Suara.com - Panji Tengkorak dirilis tak lama setelah film viral dan kontroversial, Merah Putih: One for All.

Rasanya seperti menyantap hidangan lezat setelah disuguhi mi instan yang masih mentah.

Film animasi produksi Falcon ini terlihat sangat lumayan dari segala aspek, mulai dari kualitas visual, teknis hingga plot ceritanya.

Kembali ke Panji Tengkorak, judulnya mungkin tidak asing, karena diangkat dari komik legendaris karya Hans Jaladara.

Jangan membayangkan animasi anak-anak dengan cerita ringan dan karakter-karakter ceria..

Film ini justru hadir dengan nuansa kelam, penuh darah, dan sarat pertarungan.

Dari awal, Panji Tengkorak sudah memberikan janji bahwa dia bukan tontonan ringan.

Dan benar saja, pengalaman menontonnya menghadirkan rasa kagum meski tak sepenuhnya sempurna.

Cerita yang Gelap dan Sarat Dendam

Kisah film ini berfokus pada Panji (Denny Sumargo), seorang pendekar yang kehidupannya berantakan setelah kekasih hatinya tewas secara tragis.

Dalam amarah dan keputusasaan, Panji nekat menjual jiwanya kepada ilmu hitam untuk membalaskan dendam.

Setelah dendamnya tuntas, dia tidak bisa bebas. Jiwanya kini terikat dengan kekuatan gelap yang menolak melepaskannya.

Mungkin terdengar seperti aksi balas dendam biasa. Premisnya juga template.

Namun, cerita yang disuguhkan sebenarnya memiliki banyak layer dan kompleks.

Karakter-karakternya menarik. Mereka ada untuk membuat kita mempertanyakan batas antara baik dan jahat.

Awalnya saya merasa bosan, nyaris ngantuk, karena ceritanya seperti tak tahu harus dibawa ke mana.

Masuk ke babak dua, ceritanya mulai seru dengan adegan-adegan pertarungan cukup menegangkan.

Animasinya Mengingatkan pada Avatar, Tapi Tetap Lokal

Secara visual, Panji Tengkorak menampilkan animasi dengan gaya yang cukup khas.

Gaya geraknya dengan serial Avatar: The Legend of Aang atau Ben 10.

Gerakan karakternya terkadang mulus, tetapi di beberapa bagian masih terlihat kaku.

Meski begitu, pertarungan-pertarungan besar yang ditampilkan tetap cukup mengesankan.

Adegan jurus supranatural, ledakan energi, dan duel antar-pendekar menghadirkan sensasi menonton film fantasi Asia, khususnya yang kental dengan mitologi.

Dari sisi eksekusi, film ini sudah menunjukkan usaha maksimal meski masih perlu banyak peningkatan.

Kenapa Harus Nonton Panji Tengkorak? Film Animasi Didukung Wapres Gibran (imdb)
Kenapa Harus Nonton Panji Tengkorak? (imdb)

Selain Kuwuk, Voice Aktingnya Kurang

Di tengah nuansa cerita yang berat, kehadiran Kuwuk (Candra Mukti) terasa sebagai angin segar.

Dialognya yang sesekali menggunakan bahasa Jawa serta tingkahnya yang jenaka memberikan keseimbangan pada film yang cenderung serius.

Bahkan, banyak penonton menilai bahwa voice acting Kuwuk adalah yang paling baik dibandingkan karakter lain.

Suaranya hidup, ekspresif, dan mampu memberi warna berbeda di sepanjang film.

Voice acting Kuwuk berhasil menutup karakter-karakter lain yang terdengar kurang menjiwai.

Bahkan, saya agak merasa terganggu dengan suara Denny Sumargo yang kadang overact alias berlebihan.

Aghniny Haque juga masih harus banyak belajar menjadi voice actor yang bagus.

Penempatan Sountrack yang Kurang Tepat

Salah satu kelemahan paling mencolok dari film ini adalah pemilihan dan penempatan musik.

Lagu Bunga Terakhir yang digunakan di momen pertarungan besar terasa tidak pas dengan suasana yang sedang dibangun.

Alih-alih memperkuat emosi, justru musik ini merusak intensitas adegan. Penonton yang seharusnya fokus pada ketegangan malah merasa terganggu.

Lagunya bagus, tapi kalau didengarkan terpisah tanpa melihat adegan dalam film.

Ada Adegan yang Hilang, Dialog Terlalu Baku

Film ini sebenarnya berani menampilkan adegan berdarah, tapi ada bagian yang cukup mengecewakan.

Salah satunya adalah adegan "pembantaian desa" yang sebelumnya ditampilkan dalam trailer.

Sayangnya, dalam film versi lengkap, adegan itu tidak ditunjukkan sepenuhnya, melainkan hanya lewat narasi.

Hal ini membuat momen yang seharusnya kuat terasa kurang berdampak.

Selain itu, dialog film ini juga terdengar terlalu kaku. Banyak percakapan yang menggunakan bahasa baku seperti dalam sinetron kolosal.

Meskipun mungkin dimaksudkan untuk menjaga nuansa klasik, bagi sebagian penonton modern, gaya bahasa ini justru terasa canggung.

Worth It Ditonton Meski Penuh Cacat

Meski kekurangannya cukup nyata, Panji Tengkorak tetap layak diapresiasi.

Film ini menjadi bukti bahwa animasi Indonesia bisa berani tampil berbeda dan menyajikan sesuatu yang lebih dewasa.

Jika dibandingkan dengan karya animasi lokal lain yang sempat muncul dalam beberapa tahun terakhir, Panji Tengkorak jelas memiliki kualitas lebih baik.

Film ini menunjukkan arah baru yang bisa membawa industri animasi Indonesia ke level lebih tinggi, asalkan terus mendapat dukungan penonton.

Memang, masih ada banyak PR yang harus diperbaiki, mulai dari voice acting, animasi yang belum konsisten, hingga musik yang tidak sinkron dengan adegan.

Namun, terlepas dari itu semua, film ini tetap worth it untuk ditonton, terutama oleh mereka yang ingin melihat perkembangan animasi tanah air.

Panji Tengkorak membuktikan bahwa animasi Indonesia tidak melulu harus ringan atau lucu.

Kalau kamu penasaran seperti apa kualitas animasi 2D buatan lokal, nonton saja. Nggak akan menyesal, kok.

Kontributor : Chusnul Chotimah


Terkait

Kenapa Harus Nonton Panji Tengkorak? Film Animasi Didukung Wapres Gibran
Kamis, 28 Agustus 2025 | 21:45 WIB

Kenapa Harus Nonton Panji Tengkorak? Film Animasi Didukung Wapres Gibran

Didukung langsung oleh Wapres Gibran, film Panji Tengkorak hadir dengan visual memukau, cerita epik, dan nostalgia komik legendaris karya Hans Jaladara.

Film Next: Nicolas Cage Bisa Lihat Masa Depan dalam 2 Menit, Tayang Malam Ini di Trans TV
Kamis, 28 Agustus 2025 | 19:40 WIB

Film Next: Nicolas Cage Bisa Lihat Masa Depan dalam 2 Menit, Tayang Malam Ini di Trans TV

Next mencoba mengeksplorasi konsep precognition atau kemampuan melihat masa depan, namun dengan batasan waktu yang unik,

Film Siapa Dia Tayang Hari Ini, Penasaran Lihat Nicholas Saputra Nyanyi Sambil Bergoyang?
Kamis, 28 Agustus 2025 | 19:15 WIB

Film Siapa Dia Tayang Hari Ini, Penasaran Lihat Nicholas Saputra Nyanyi Sambil Bergoyang?

Siapa Dia siap mengajak penonton bernostalgia sekaligus merasakan pengalaman sinematik yang baru.

Sinopsis The Thursday Murders Club: Kuartet Pensiunan Cerdas Ungkap Misteri Pembunuhan di Netflix
Kamis, 28 Agustus 2025 | 19:30 WIB

Sinopsis The Thursday Murders Club: Kuartet Pensiunan Cerdas Ungkap Misteri Pembunuhan di Netflix

Penonton diajak untuk menebak siapa pembunuhnya, sambil menikmati dialog-dialog cerdas dan akting memukau dari para pemeran utamanya.

Terbaru
'Sudahlah Tertindas, Dilindas Pula', Kesaksian Teman Affan Kurniawan yang Dilindas Rantis Brimob
polemik

'Sudahlah Tertindas, Dilindas Pula', Kesaksian Teman Affan Kurniawan yang Dilindas Rantis Brimob

Jum'at, 29 Agustus 2025 | 13:04 WIB

Affa Kurniawan, driver ojol yang baru berusia 21 tahun tewas dilindas rantis Brimob Polda Jaya yang menghalau demonstran, Kamis (28/8) malam. Semua bermula dari arogansi DPR.

Review Film Tinggal Meninggal: Bukan Adaptasi Kisah Nyata tapi Nyata di Sekitar Kita nonfiksi

Review Film Tinggal Meninggal: Bukan Adaptasi Kisah Nyata tapi Nyata di Sekitar Kita

Sabtu, 23 Agustus 2025 | 09:00 WIB

Film Tinggal Meninggal lebih banyak mengajak penonton merenungi hidup ketimbang tertawa?

80 Tahun Indonesia Merdeka; Ironi Kemerdekaan Jurnalis di Antara Intimidasi dan Teror polemik

80 Tahun Indonesia Merdeka; Ironi Kemerdekaan Jurnalis di Antara Intimidasi dan Teror

Minggu, 17 Agustus 2025 | 15:38 WIB

Di usia 80 tahun kemerdekaan Indonesia, jurnalis masih menghadapi intimidasi, teror, hingga kekerasan.

Review Jujur Merah Putih One for All: Film yang Seharusnya Tidak Dibuat polemik

Review Jujur Merah Putih One for All: Film yang Seharusnya Tidak Dibuat

Sabtu, 16 Agustus 2025 | 11:46 WIB

Efek suaranya minim, mixing audionya berantakan, dan dubbing-nya seperti orang membaca teks sambil menunggu pesanan makanan datang.

Review Weapons, Horor Intelektual yang Mengguncang Pikiran nonfiksi

Review Weapons, Horor Intelektual yang Mengguncang Pikiran

Sabtu, 09 Agustus 2025 | 09:05 WIB

Weapons adalah film horor yang berani, cerdas, dan penuh emosi.

Rumah Hantu Jenderal Dudung: Gaji Prajurit Dikuliti, Sengkarut Dana Setengah Triliun Rupiah nonfiksi

Rumah Hantu Jenderal Dudung: Gaji Prajurit Dikuliti, Sengkarut Dana Setengah Triliun Rupiah

Senin, 04 Agustus 2025 | 18:10 WIB

Di balik derita para prajurit, terbentang sebuah skandal besar yang berpusat pada program ambisius era KSAD Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman.

Review Film Ghost Train, Cari Hantu demi Konten Berujung Petaka nonfiksi

Review Film Ghost Train, Cari Hantu demi Konten Berujung Petaka

Sabtu, 02 Agustus 2025 | 09:15 WIB

Seperti apa sebuah kereta menghantui para penumpang di Korea? Jawabannya ada di film Ghost Train.