Suara.com - Tiga dekade lebih sejak Jurassic Park (1993) karya Steven Spielberg mengubah cara kita memandang film fiksi ilmiah, waralaba dinosaurus paling ikonik ini kembali lewat babak baru bertajuk Jurassic World: Rebirth.
Disutradarai oleh Gareth Edwards, sutradara di balik Godzilla (2014) dan Rogue One: A Star Wars Story (2016), film ini mencoba menghidupkan kembali keajaiban prasejarah dalam format yang lebih modern.
Sayangnya, meski menjanjikan aksi seru dan nostalgia, Rebirth lebih terasa sebagai tontonan popcorn yang menyenangkan di permukaan, tetapi dangkal secara naratif.
Rasanya seperti berwisata ke taman safari dengan koleksi dinosaurus kerennya. Seru, tapi mudah terlupakan.
Plot Usang, Eksekusi Visual Menawan
![Tyrannosaurus Rex, Dinosaurus yang Akan Muncul di Jurassic World Rebirth. [Instagram]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/07/02/18861-tyrannosaurus-rex-dinosaurus-yang-akan-muncul-di-jurassic-world-rebirth.jpg)
Kisah Rebirth dibuka dengan adegan kilas balik di laboratorium InGen 15 tahun lalu, tempat eksperimen silang DNA menciptakan mutasi dinosaurus baru.
Hanya dalam hitungan menit, film sudah menyuguhkan serangan dino pertama, seolah ingin langsung memikat penonton.
Cerita kemudian beralih ke masa kini, lima tahun setelah peristiwa di Jurassic World: Dominion.
Di dunia saat ini, dinosaurus telah dilepaskan ke alam liar, tetapi sebagian besar telah mati akibat degradasi lingkungan.
Namun, tidak di satu pulau terpencil yang iklimnya menyerupai zaman prasejarah. Para dino hidup bebas, berkembang biak, serta saling memangsa.
Di pulau tersebut, sekelompok ilmuwan dan tentara bayaran ditugaskan untuk mengumpulkan DNA dari tiga spesies dinosaurus utama, dari darat, laut, dan udara.
Tujuannya? Kemajuan medis. Pemimpin misi ini adalah Martin Krebs (Rupert Friend), seorang eksekutif farmasi serakah.
Krebs merekrut Zora Bennett (Scarlett Johansson), seorang mantan tentara bayaran, serta Dr. Henry Loomis (Jonathan Bailey), seorang paleontolog muda yang pernah belajar di bawah bimbingan Dr. Alan Grant dari Jurassic Park.
Bergabung pula kapten kapal Duncan (Mahershala Ali) dan tim pelautnya, yang terdiri dari orang-orang tangguh serta kompeten di bidangnya.
Sebagai bumbu tambahan, film ini juga memperkenalkan keluarga sipil yang tidak sengaja terseret ke dalam kekacauan.
Reuben (Manuel Garcia-Rulfo) bersama dua putrinya, Teresa dan Isabella, serta pacar Teresa yang kikuk.
Mereka menjadi kelompok 'rakyat biasa' yang menjadi target empati penonton, dan tentunya sasaran empuk untuk diserang dinosaurus.
Perpaduan kelompok profesional dan keluarga awam ini menjadi dinamika utama di sepanjang film.
Aksi Tanpa Henti, Tapi Minim Inovasi

Secara visual, Jurassic World: Rebirth memang memuaskan. Beberapa kali saya dibuat terkesan oleh tampilan visualnya.
Lanskap pulau yang memukau dan dinosaurus yang ditampilkan dengan detail canggih menghadirkan sensasi yang mendebarkan.
Dari adegan T-Rex yang bangkit dari tidur di tepi sungai hingga pengejaran penuh adrenalin di hutan lebat, Gareth Edwards menunjukkan kepiawaiannya dalam menyutradarai film dengan skala besar.
Sinematografi John Mathieson serta musik dari cuplikan tema orisinal John Williams memperkuat nuansa nostalgia dan ketegangan.
Namun, masalah utama terletak pada naskah. David Koepp, yang sebelumnya sukses dengan Jurassic Park, kali ini menghadirkan cerita yang lemah dan terlalu banyak mengandalkan formula lama.
Korporasi tamak, anak-anak dalam bahaya, ilmuwan idealis, serta tokoh utama perempuan tangguh yang tak terkalahkan.
Bahkan mutasi dinosaurus baru seperti D-Rex, yang kabarnya berwajah mirip beluga, tidak mampu menyuntikkan kejutan berarti.
Elemen "Rebirth" dalam judul pun terasa ambigu. Apakah yang dimaksud adalah kelahiran kembali dinosaurus mutan? Atau kebangkitan kembali waralaba Jurassic?
Film tidak memberikan jawaban yang memuaskan, dan hanya menyuguhkan aksi tanpa banyak refleksi.
Beberapa adegan mencoba menyinggung isu moral dan etika sains, tetapi semuanya terasa tempelan, tidak dikembangkan lebih dalam.
Kombinasi Nostalgia dan Tropes Usang
![Jurassic World Rebrith. [Instagram]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/05/30/53510-jurassic-world-rebrith.jpg)
Bagi penggemar lama, Jurassic World: Rebirth mungkin terasa sebagai angin segar, terutama setelah dua film sebelumnya (Fallen Kingdom dan Dominion) yang dianggap lemah.
Namun, apresiasi ini lebih karena ekspektasi rendah yang akhirnya terlampaui, bukan karena kualitas naskah yang benar-benar kuat.
Film ini dipenuhi dengan elemen khas waralaba, mulai dari karakter yang sudah bisa ditebak akan menjadi korban, penyelamatan mendadak, serta dialog klise yang diikuti oleh kekacauan total.
Dengan kata lain, Rebirth tidak menawarkan hal baru, melainkan mengulang formula lama dengan kemasan visual yang lebih modern.
Meski begitu, tidak semua hal terasa basi. Beberapa karakter memiliki kedalaman emosional yang lebih dari biasanya.
Chemistry antara para pemain, terutama antara Scarlett Johansson dan Mahershala Ali, cukup terasa alami.
Kehadiran Jonathan Bailey sebagai ilmuwan terkungkung dalam museum, yang akhirnya bisa melihat para dinosaurus secara langsung, juga cukup fresh.
Elemen komedi tipis-tipis yang disuguhkan juga cukup jenaka, membuat saya dan beberapa penonton tergelak.
Sayangnya, karakterisasi tetap kalah dengan ledakan efek visual dan aksi nonstop.
Jika kamu ingin film popcorn yang menghibur, Jurassic World: Rebirth sangat direkomendasikan.
Namun, jika kamu berharap cerita yang kuat dan mengesankan, lebih baik nonton film lain saja.
Kontributor : Chusnul Chotimah
Yama Carlos bercerita bahwa peran sebagai penari ini merupakan tantangan yang benar-benar baru dan menarik baginya.
Pengalaman pribadi Tissa kehilangan sosok ayah, seperti menjadi jalan pintas yang memudahkannya menyelami perasaan karakternya.
Asri Welas memerankan karakter seorang asisten rumah tangga (ART) yang bekerja untuk tokoh utama, Alina.
Bagi Asri Welas yang rumah tangganya kandas dalam perceraian, keluh kesah Alina sebagai istri yang tersakiti tentu pernah ia rasakan juga.
Di balik narasi hijau menyelamatkan Taman Nasional Tesso Nilo, ribuan warga kecil kini kehilangan segalanyamulai dari rumah, kebun, hingga anggota keluarga dipenjara.
polemik
Sejumlah kementerian dan lembaga berbondong-bondong mengajukan tambahan anggaran kepada DPR RI. Nilainya tidak kecil, mulai dari ratusan miliar hingga puluhan triliun rupiah
polemik
Semua diawali saat sekelompok muda mengatasnamakan diri BEM Bersatu secara tiba-tiba menggelar konferensi pers pada Selasa, 16 Juni 2026
polemik
Barita Simanjuntak membantah anggapan bahwa lahan hasil penertiban otomatis akan dialihkan menjadi perkebunan sawit.
polemik
Noel memberikan penekanan khusus bahwa situasi saat ini berisiko menyerupai peristiwaReformasi 1998jika tidak segera diantisipasi oleh Kepala Negara
polemik
Trauma puluhan tahun itu mengkristal menjadi sebuah ketegasan: laut bukan tempat untuk masa depan anaknya.
polemik
Nama-nama yang disebut dan diduga lakukan pemalsuan itu di antaranya Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti