Menerka Langkah Politik Jokowi Usai Batal Maju Ketum PSI
Home > Detail

Menerka Langkah Politik Jokowi Usai Batal Maju Ketum PSI

Erick Tanjung | Muhammad Yasir

Senin, 23 Juni 2025 | 19:47 WIB

Suara.com - MANTAN Presiden Joko Widodo atau Jokowi batal mencalonkan diri sebagai calon ketua umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Kepastian itu disampaikan langsung oleh putra bungsu Jokowi, Kaesang Pangarep.

“Nggak mungkin anak sama bapak saling berkompetisi,” kata Kaesang usai mendaftarkan diri sebagai calon ketua umum PSI di Basecamp DPP PSI, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu, 21 Juni 2025.

Kaesang kembali maju setelah mengantongi dukungan dari 10 Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) dan 75 Dewan Pimpinan Daerah (DPD). Sebagai petahana, ia akan bersaing dengan Wakil Ketua I PSI DPW Jawa Barat, Ronald Aristone Sinaga dan juru bicara DPP PSI Agus Mulyono Herlambang.

Ronald Aristone Sinaga yang karib disapa Bro Ron mendaftarkan diri sebagai calon ketua umum PSI pada 18 Juni 2025. Berdasar berkas yang diserahkan ke DPP PSI, ia tercatat mengantongi dukungan dari 6 DPW dan 36 DPD PSI.

Sementara Agus baru mendaftar sebagai calon ketua umum PSI pada 23 Juni 2025 hari ini. Ia mengantongi dukungan dari 6 DPW dan 24 DPD PSI.

Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) itu mengungkap alasan mendaftar di hari terakhir karena ingin memastikan tidak akan bertarung dengan Jokowi.

“Saya sengaja mendaftar hari terakhir, memastikan guru saya Jokowi tidak mendaftar,” kata Agus di Basecamp DPP PSI, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin, 23 Juni 2025.

Jokowi saat berbincang dengan putra bungsunya yang juga Ketum PSI Kaesang Pangarep. (Ist)
Jokowi saat berbincang dengan putra bungsunya yang juga Ketum PSI Kaesang Pangarep. (Ist)

Kepastian Jokowi tidak akan mencalonkan diri sebagai ketua umum PSI sebelumnya disampaikan Kaesang setelah ia menemui ayahnya langsung di Solo, Jawa Tengah. Dalam pertemuan yang berlangsung pada pekan lalu tersebut, Kaesang meyakinkan Jokowi agar memberikan kesempatan kepada anak muda.

“Itu sudah kami obrolkan di seminggu terakhir ini,” ungkap Kaesang.

Replika Politik Jokowi

Dosen ilmu politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno menilai keputusan Presiden ke-7 RI itu batal maju dapat dimaknai sebagai bentuk restu kepada Kaesang. Hal itu menurut Adi wajar diberikan kepada Kaesang selaku putra bungsu sekaligus ‘replika politik’ Jokowi.

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia itu juga meyakini setelah Jokowi batal mendaftar, Pemilu Raya PSI dapat dipastikan akan dimenangkan Kaesang.

“Sudah bisa dipastikan 4.000 persen Kaesang pasti jadi ketua PSI untuk yang kedua kalinya,” kata Adi kepada Suara.com, Senin, 23 Juni 2025.

Pemilu Raya PSI dijadwalkan berlangsung pada 12-19 Juli 2025. Hasilnya akan diumumkan pada 19 Juli 2025 dalam Kongres PSI di Solo, Jawa Tengah.

PSI mengusung konsep partai perorangan yang terinspirasi dari gagasan partai super Tbk Jokowi. Lewat konsep tersebut, proses pemilihan ketua umum akan digelar lewat Pemilihan Raya dengan sistem pemilihan suara elektronik atau e-voting.

Adi menilai konsep one man one vote itu hanya sebatas gimik politik semata. Di mana tujuannya agar seolah-olah PSI dipandang sebagai partai demokratis.

“Publik juga tahu, kalau Kaesang maju tidak mungkin ada figur lain yang bisa memenangi pertarungan itu,” ungkapnya.

Terlebih, kata Adi, sejak awal PSI sudah menunjukkan kecenderungan ideologis dan politik yang sejalan dengan Jokowi. Sekalipun Jokowi bukan bagian dari kader partai berlogo bunga mawar tersebut.

“Jadi bagaimana mungkin Kaesang mau dikalahkan oleh kandidat lain sementara kiblat politik PSI itu Jokowi, kan kira-kira begitu,” jelasnya.

Langkah Jokowi Setelah Batal Maju

Meski batal mencalonkan diri sebagai ketua umum, peluang Jokowi bergabung dengan PSI dinilai masih terbuka lebar. Terutama untuk mengisi posisi Ketua Dewan Pembina PSI.

Presiden ke-7 Jokowi saat menemui warga dan relawan yang datang ke kediamannya, Sabtu (21/6/2025). [Suara.com/Ari Welianto]
Mantan Presiden Jokowi saat menemui warga dan relawan yang datang ke kediamannya di Solo, Jawa Tengah, pada Sabtu (21/6/2025). [Suara.com/Ari Welianto]

Terlebih, Kaesang juga sempat menjanjikan akan menarik tokoh-tokoh besar nasional ke dalam PSI jika kembali terpilih sebagai ketua umum. Walau tidak secara eksplisit menyebut tokoh-tokoh tersebut.

“Tokoh besar itu bukan hanya satu, tapi Insya Allah akan sangat-sangat besar, banyak tokoh yang bergabung dengan PSI,” katanya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis, Agung Baskoro menilai peluang Jokowi menjadi Ketua Dewan Pembina PSI sangat terbuka lebar. Terlebih jika Kaesang kembali terpilih menjadi ketua umum.

“Peluang Jokowi menjadi Ketua Dewan Pembina PSI sangat terbuka,” kata Agung kepada Suara.com.

Agung lantas membandingkan potensi peran Jokowi di PSI dengan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY di Partai Demokrat yang menjabat sebagai Ketua Majelis Tinggi. Posisi tersebut tidak kalah kuat dibanding ketua umum dalam hal pengambilan kebijakan strategis partai.

“Peran Pak Jokowi ini mengingatkan saya dengan posisi Pak SBY di Partai Demokrat sebagai Ketua Majelis Tinggi Partai yang punya peranan strategis menentukan kebijakan partai, sama seperti ketua umum,” ujarnya.

Di sisi lain, Agung menilai kehadiran Jokowi sebagai ketua dewan pembina PSI bisa memberi keuntungan secara elektoral. Sebab, sebagai mantan presiden Jokowi masih memiliki basis dukungan yang kuat secara personal.

Agung mencontohkan, dalam Pilkada 2024 misalnya, calon-calon kepala daerah yang mendapat dukungan Jokowi mencatatkan tingkat kemenangan tinggi.

Sementara dari sisi Jokowi, keterlibatan di PSI, kata Agung, juga bukan tanpa keuntungan. Masuknya Jokowi ke PSI setidaknya dapat menjadi kendaraan politik untuk merawat pengaruh dan menjaga legacy.

“Ini simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan antara Pak Jokowi dengan PSI,” tuturnya.

Pandangan serupa juga disampaikan dosen ilmu politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno. Menurut Adi, kemungkinan Jokowi menjadi ketua dewan pembina PSI sangat besar. Namun semua itu tergantung pada keinginan Jokowi mau menerima atau tidak.

“Apakah Jokowi mau jadi ketua dewan pembina atau tidak? Itu kuncinya,” ujar Adi.

"Kalau Jokowi mau jadi Ketua Dewan Pembina PSI, merem aja jadi. PSI ini sangat kelihatan sekali semua pintunya dibuka selebar-lebarnya hanya untuk Jokowi,” imbuhnya.

Adi juga sependapat dengan Agung. Ia menilai bergabungnya Jokowi ke PSI akan memberikan keuntungan besar. Terutama untuk menyambut Pemilu 2029.

"PSI akan menang banyak. Sudah punya Kaesang sebagai ketum, lalu punya Jokowi misalnya sebagai Ketua Dewan Pembina,” pungkasnya.


Terkait

Ahli Hukum: Jokowi Harus Bersaksi di Sidang Tom Lembong! Ungkap Kebenaran Impor Gula
Senin, 23 Juni 2025 | 19:00 WIB

Ahli Hukum: Jokowi Harus Bersaksi di Sidang Tom Lembong! Ungkap Kebenaran Impor Gula

Sidang korupsi impor gula Tom Lembong, saksi ahli sebut arahan Jokowi ke INKOPOL perlu dikonfirmasi. Jika ada, Jokowi bertanggung jawab atas perintah tersebut.

Alergi Kulit Jokowi Usai dari Vatikan, Epidemiolog: Bisa Dipicu Paparan Baru yang Tak Dirasakan
Senin, 23 Juni 2025 | 18:13 WIB

Alergi Kulit Jokowi Usai dari Vatikan, Epidemiolog: Bisa Dipicu Paparan Baru yang Tak Dirasakan

Dicky Budiman, menyatakan bahwa paparan baru selama perjalanan lintas negara memang dapat memicu gejala alergi yang sebelumnya tidak pernah dialami.

Ahli Sebut Perlu Ada Kesaksian Jokowi Dalam Sidang Kasus Impor Gula, Tom Lembong: Komentar Menarik
Senin, 23 Juni 2025 | 17:53 WIB

Ahli Sebut Perlu Ada Kesaksian Jokowi Dalam Sidang Kasus Impor Gula, Tom Lembong: Komentar Menarik

, Tom tidak menjawab secara gamblang saat ditanya apakah dia berharap agar Jokowi bisa hadir di ruang persidangan.

Terbaru
Gentengisasi Prabowo, Solusi Adem untuk Indonesia atau Mimpi yang Terlalu Berat?
polemik

Gentengisasi Prabowo, Solusi Adem untuk Indonesia atau Mimpi yang Terlalu Berat?

Kamis, 05 Februari 2026 | 18:54 WIB

Gentengisasi, di satu sisi menjanjikan estetika dan ekonomi kerakyatan, di sisi lain terbentur masalah teknis, budaya, dan anggaran

Ada Apa di Balik Ngototnya Jokowi Suarakan Prabowo-Gibran Dua Periode? polemik

Ada Apa di Balik Ngototnya Jokowi Suarakan Prabowo-Gibran Dua Periode?

Kamis, 05 Februari 2026 | 12:47 WIB

Pernyataan tegas Jokowi ini ditegaskan kala menanggapi isu Gibran disebut-sebut berpotensi besar jadi calon presiden (capres) 2029.

Nyawa Seharga Buku: Tragedi Siswa SD di NTT, Sesuram Itukah Pendidikan Indonesia? polemik

Nyawa Seharga Buku: Tragedi Siswa SD di NTT, Sesuram Itukah Pendidikan Indonesia?

Rabu, 04 Februari 2026 | 18:24 WIB

Sebelum ditemukan meninggal, sang ibu mengaku telah menasihati YBS agar tetap rajin sekolah meski kondisi ekonomi keluarga sedang sulit

Siasat Jokowi Mati-matian untuk PSI, Ambisi Tiga Periode atau Sekoci Politik Keluarga? polemik

Siasat Jokowi Mati-matian untuk PSI, Ambisi Tiga Periode atau Sekoci Politik Keluarga?

Selasa, 03 Februari 2026 | 18:41 WIB

Di hadapan ratusan kader PSI di Makassar, retorika Jokowi terdengar bak proklamasi. Tak hanya memberi motivasi, tetapi juga janji keterlibatan luar biasa dari seorang presiden

Menyingkap Tabir Pertemuan Jumat Malam Prabowo Jamu 'Tamu Oposisi' di Kertanegara polemik

Menyingkap Tabir Pertemuan Jumat Malam Prabowo Jamu 'Tamu Oposisi' di Kertanegara

Senin, 02 Februari 2026 | 15:59 WIB

Kabar pertemuan Prabowo dengan tokoh oposisi pertama kali diembuskan oleh Menhan Sjafrie Sjamsoeddin

Belajar dari Kasus Hogi, Bagaimana Aturan Membela Diri dari Penjahat Dalam Hukum RI? polemik

Belajar dari Kasus Hogi, Bagaimana Aturan Membela Diri dari Penjahat Dalam Hukum RI?

Jum'at, 30 Januari 2026 | 21:44 WIB

Ada batasan tipis antara menjadi pahlawan dan pelaku kriminal di mata hukum Indonesia

Rahasia Tepung Hunkwe, Bahan Sehat di Balik Tekstur Es Gabus Mirip Spons polemik

Rahasia Tepung Hunkwe, Bahan Sehat di Balik Tekstur Es Gabus Mirip Spons

Kamis, 29 Januari 2026 | 18:58 WIB

Viral es gabus dituding terbuat dari spons berbahaya, jajanan jadul ini ternyata dibuat dari tepung hunkwe yang aman dan sehat

×
Zoomed