Prabowo Bubarkan Satgas Saber Pungli Warisan Jokowi: Tak Efektif atau Ada Maksud Politik?
Home > Detail

Prabowo Bubarkan Satgas Saber Pungli Warisan Jokowi: Tak Efektif atau Ada Maksud Politik?

Erick Tanjung | Muhammad Yasir

Jum'at, 20 Juni 2025 | 13:47 WIB

Suara.com - PRESIDEN Prabowo Subianto membubarkan Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar atau Satgas Saber Pungli warisan Presiden Joko Widodo. Keputusan tersebut tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) RI Nomor 49 Tahun 2025.

“Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2016 tentang Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 202), dicabut dan dinyatakan tidak berlaku,” demikian bunyi Pasal 1 dalam Perpres No. 49/2025 yang ditetapkan Prabowo pada 6 Mei 2025 tersebut.

Satgas Saber Pungli sebelumnya dibentuk Presiden Joko Widodo atau Jokowi lewat Perpres Nomor 87 Tahun 2016. Tujuannya memberantas praktik pungli di tingkat pusat hingga daerah.

Dalam Rakernas Satgas Saber Pungli pada 13 Desember 2022, Kepala Satgas Saber Pungli Komjen Agung Budi Maryoto mengklaim selama enam tahun terbentuk (2016-2022) pihaknya berhasil menyita uang senilai Rp22,2 miliar. Barang bukti tersebut disita dari hasil 59.923 operasi tangkap tangan atau OTT dengan tersangka mencapai 78.523.

Adapun alasan Prabowo membubarkan Satgas Saber Pungli karena keberadaan satuan tugas yang telah berdiri sembilan tahun itu sudah tidak efektif. Pertimbangan tersebut dituangkan dalam poin a Perpres RI Nomor 49 Tahun 2025.

“Keberadaan Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar sudah tidak efektif sehingga perlu membubarkan,” tulisnya.

Presiden Prabowo Subianto saat hendak bertolak ke Singapura, Minggu (15/6/2025). (Ist)
Presiden Prabowo Subianto saat hendak bertolak ke Singapura, Minggu (15/6/2025). (Ist)

Peneliti Pusat Kajian Antikorupsi Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (Pukat UGM), Zaenur Rohman menilai Satgas Saber Pungli memang sejak awal menyimpan persoalan struktural.

Zaenur menyebut pungli merupakan bagian dari tindak pidana korupsi skala kecil atau petty corruption dan maladministrasi. Persoalan itu, kata dia, dapat ditangani oleh aparat penegak hukum, inspektorat dan Ombudsman RI jika peran serta fungsinya benar-benar berjalan.

“Jadi sebenarnya Satgas Saber Pungli ini lahir dari kegagalan sistemik dalam penanganan korupsi kecil di birokrasi,” jelas Zaenur kepada Suara.com, Kamis, 19 Juni 2025.

Oleh karena itu, Zaenur sepakat jika Prabowo kini memutuskan membubarkan Satgas Saber Pungli. Apalagi jika memang keberadaannya dinilai sudah tidak efektif.

“Kalau tidak efektif untuk apa dipertahankan,” ujarnya.

Zaenur lalu menekankan dalam menangani persoalan pungli, kunci utamanya saat ini ada di dua aktor; inspektorat kementerian/lembaga-pemerintah daerah dan aparat penegak hukum.

Menurutnya, perlu revitalisasi menyeluruh terhadap inspektorat, yang selama ini kerap berada dalam posisi sulit karena di bawah pimpinan tertinggi—baik kepala daerah maupun menteri. Sementara aparat penegak hukum juga harus dipastikan benar-benar memberi perhatian serius terhadap kasus korupsi dalam skala kecil atau petty corruption.

“Jadi kuncinya yang pertama ada di inspektorat, kedua di aparat penegak hukum,” jelasnya.

Program Reaktif

Keputusan Prabowo membubarkan Satgas Saber Pungli warisan Jokowi mendapat dukungan dari anggota Komisi III DPR, I Wayan Sudirta. Wayan menilai langkah tersebut tepat.

Menurut dia, banyak satuan tugas —termasuk Satgas Saber Pungli— dibentuk secara reaktif dan spontan semata untuk meredam kegaduhan publik atas isu yang sedang viral, bukan sebagai solusi jangka panjang.

“Kami sih tidak punya sangka buruk, tapi fakta menyatakan demikian,” ungkap Wayan kepada Suara.com.

Kepala Satgas Saber Pungli, Komjen Pol Dwi Priyatno (kedua dari kanan), di sela-sela sosialisasi Stop Pungli di momen Car Free Day di Kawasan Jalan Sudirman, Jakarta Pusat, Minggu (12/11/2017). [Suara.com/Erick Tanjung]
Tim Satgas Saber Pungli di sela-sela acara sosialisasi Stop Pungli di momen Car Free Day di Kawasan Jalan Sudirman, Jakarta Pusat. [Suara.com/Erick Tanjung]

Di sisi lain, Wayan turut mengkritik format kelembagaan Satgas yang dinilai tidak ideal sejak awal. Politisi PDI Perjuangan (PDIP) itu menyebut salah satu kelemahan utama adalah soal sumber daya manusia atau SDM yang diambil dari aparat aktif yang masih menjabat di institusi asal. Alhasil, kinerja mereka menjadi tidak fokus.

“Sekarang kita lihat sejak zaman Jokowi itu Satgas apa yang berfungsi dan berjalan efektif?” tuturnya.

Selain mendukung pembubaran Satgas Saber Pungli, Wayan juga mendorong Prabowo turut mengevaluasi satgas-satgas lain. Termasuk Satgas Antimafia Tanah yang selama ini menurutnya juga tidak efektif.

Wayan khawatir banyaknya Satgas yang gagal atau tidak efektif itu akan berdampak pada ketidakpercayaan masyarakat secara luas terhadap seluruh inisiatif pemerintah. Sekalipun, ketika kelak dibentuk Satgas yang memang benar-benar dibutuhkan dan penting.

“Kalau terlalu banyak Satgas yang tidak berfungsi, masyarakat akan menganggap semua Satgas tidak berguna. Ini preseden buruk,” ujarnya.

Hapus Bayang-Bayang Jokowi

Pendapat serupa disampaikan Direktur Eksekutif Citra Institute, Yusak Farhan. Ia menilai keputusan Prabowo membubarkan Satgas Saber Pungli warisan Jokowi tersebut sebagai langkah tepat, lantaran sudah tidak efektif.

Yusak juga melihat pembubaran Satgas Saber Pungli ini sebagai sinyal Prabowo hendak mengarahkan fokus pada agenda baru yang lebih terukur dan terintegrasi. Salah satunya melalui Satgas Khusus Optimalisasi Penerimaan Negara yang baru dibentuk pemerintah.

“Prabowo bisa fokus untuk memperkuat Satgassus Optimalisasi Penerimaan Negara yang baru dibentuk dan mempercepat upaya-upaya reformasi fiskal,” ujar Yusak kepada Suara.com.

Di sisi lain, Yusak menyebut di balik pembubaran Satgas Saber Pungli, Prabowo tidak hanya sedang mempreteli regulasi warisan Jokowi. Tetapi juga mulai mengamputasi ‘orang-orang’ Jokowi di kabinet atau lingkaran pemerintahan.

Apa yang dilakukan Prabowo mengganti ‘pemain’ dan ‘aturan’ itu, kata Yusak, hal yang wajar. Prabowo sebagai penguasa sedang menata ulang agar jangkar-jangkar kekuasaannya bisa terdistribusi secara optimal.

“Pelan tapi pasti, prabowo sedang berupaya keluar dari bayang-bayang Jokowi,” ungkapnya.

Yusak menyebut untuk menghindari gesekan terbuka, Prabowo hingga saat ini memang sengaja tidak mengambil jalan frontal melalui reshuffle. Tetapi mengambil jalan yang lebih halus dengan mengamputasi kekuatan dan kekuasaan orang-orang Jokowi di Kabinet Merah Putih seperti Erick Tohir, Bahlil Lahadalia, Tito Karnavian, dan Budie Arie.

“Jalan amputasi itu bisa dengan cara membuat regulasi baru yang memungkinkan Prabowo bisa lebih powerfull mengendalikan kekuasaan,” pungkasnya.


Terkait

KPK Kemungkinan Panggil Gubernur Jatim Khofifah dalam Kasus Danah Hibah
Jum'at, 20 Juni 2025 | 12:41 WIB

KPK Kemungkinan Panggil Gubernur Jatim Khofifah dalam Kasus Danah Hibah

KPK mengatakan salah seorang saksi mengatakan Khofifah mengetahui dan turut membahas soal penyaluran dana hibah.

Jadi Tanda Tanya Besar, Viral Penerima MBG Diberi Bahan Makanan Mentah
Jum'at, 20 Juni 2025 | 05:00 WIB

Jadi Tanda Tanya Besar, Viral Penerima MBG Diberi Bahan Makanan Mentah

Jika sebelumnyaMBGdiberikan dalam bentuk makanan matang yang siap santap, kini program Makan Bergizi Gratis tersebut diberikan hanyabahan mentahsaja.

Momen Pertemuan Prabowo dan Putin saat Lawatan ke Rusia
Jum'at, 20 Juni 2025 | 13:07 WIB

Momen Pertemuan Prabowo dan Putin saat Lawatan ke Rusia

Putin menyambut Prabowo dengan hangat dan mengaku senang bertemu dengan Prabowo.

Terbaru
4 Prajurit BAIS Tersangka Penyiram Air Keras ke Aktivis Kontras, Apa Motifnya?
polemik

4 Prajurit BAIS Tersangka Penyiram Air Keras ke Aktivis Kontras, Apa Motifnya?

Rabu, 18 Maret 2026 | 18:42 WIB

Keempat prajurit yang kini berstatus tersangka tersebut memiliki inisial NDP, SL, BHW, dan ES. Saat ini, mereka telah ditahan di Pomdam Jaya

Teror Air Keras ke Pembela HAM, Siapa di Balik Serangan Brutal Aktivis KontraS? polemik

Teror Air Keras ke Pembela HAM, Siapa di Balik Serangan Brutal Aktivis KontraS?

Rabu, 18 Maret 2026 | 16:17 WIB

Banyak pihak meyakini ini adalah serangan teror yang ditujukan langsung untuk membungkam suara kritis Andrie dan para pembela hak asasi manusia

Membongkar 'Jalur Cepat' Haji: Bagaimana Eks Menag Yaqut Terjerat Korupsi? polemik

Membongkar 'Jalur Cepat' Haji: Bagaimana Eks Menag Yaqut Terjerat Korupsi?

Senin, 16 Maret 2026 | 19:29 WIB

Upaya Gus Yaqut lolos dari jerat hukum sempat kandas setelah permohonan praperadilannya ditolak Pengadilan Negeri Jakarta Selatan

Membaca Rencana Taklimat Prabowo, Rakyat Diminta Siap-siap Susah? polemik

Membaca Rencana Taklimat Prabowo, Rakyat Diminta Siap-siap Susah?

Kamis, 12 Maret 2026 | 16:33 WIB

Dalam tradisi komunikasi, khususnya di lingkungan militer, taklimat adalah sebuah instruksi yang bersifat teknis, padat, dan sangat strategis

Algoritma Manipulatif hingga Ancaman VPN, Mengapa Anak di Bawah 16 Tahun Dilarang Punya Medsos? polemik

Algoritma Manipulatif hingga Ancaman VPN, Mengapa Anak di Bawah 16 Tahun Dilarang Punya Medsos?

Senin, 09 Maret 2026 | 19:36 WIB

Dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas anak di internet semakin tinggi, sementara risiko yang mereka hadapi juga semakin kompleks

Korupsi 'Level Baru', Kasus Fadia Arafiq Bongkar Modus Canggih Pejabat Raup Duit Negara polemik

Korupsi 'Level Baru', Kasus Fadia Arafiq Bongkar Modus Canggih Pejabat Raup Duit Negara

Sabtu, 07 Maret 2026 | 13:38 WIB

Kasus ini bukanlah sekadar suap atau pemerasan biasa, melainkan cerminan dari metamorfosis korupsi yang kini jauh lebih terstruktur, canggih, dan sulit diendus

Di Balik "Pesona" Beijing Ada Strategi Klasik "Soft Power" hingga Gelombang Video Hoaks polemik

Di Balik "Pesona" Beijing Ada Strategi Klasik "Soft Power" hingga Gelombang Video Hoaks

Jum'at, 06 Maret 2026 | 23:55 WIB

Salah satu pilar unik dalam strategi China di Indonesia adalah pendekatannya terhadap komunitas Muslim, mulai dari "diplomasi santri", hingga pemanfaatan isu Gaza Palestina.

×
Zoomed