Prabowo-Gibran Dianggap Berhasil Berantas Korupsi? Ada Fakta Pahit di Baliknya!
Home > Detail

Prabowo-Gibran Dianggap Berhasil Berantas Korupsi? Ada Fakta Pahit di Baliknya!

Erick Tanjung | Yaumal Asri Adi Hutasuhut

Senin, 16 Juni 2025 | 21:49 WIB

Suara.com - Upaya pemberantasan korupsi era Pemerintahan Prabowo-Gibran mendapatkan sentimen positif dari masyarakat. Survei Litbang Kompas terbaru menunjukkan tingginya tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemberantasan korupsi di masa pemerintahan sekarang.

Kendati begitu, hasil survei itu tak serta merta dapat dijadikan alat ukur keberhasilan pemberantasan korupsi. Sebab masih banyak masalah yang harus dituntaskan, seperti upaya pemulihan keuangan negara hasil korupsi yang masih minim, dan rendahnya hukuman terhadap koruptor.

HASIL SURVEI Litbang Kompas yang dirilis pada 13 Juni 2025, menunjukkan 73,6 persen responden mengaku puas dengan pemberantasan korupsi pada era Prabowo-Gibran. Tingkat kepuasan itu terdiri dari 9,9 persen menjawab sangat puas, dan 63,7 persen mengaku puas. Sisanya, 22,4 persen responden mengaku tidak puas, 1,1 persen sangat tidak puas, dan 2,9 persen tidak memberikan jawaban.

Bersamaan dengan itu, tingkat keyakinan masyarakat terhadap upaya pemberantasan korupsi pada pemerintahan Prabowo-Gibran juga tergolong tinggi. Setidaknya, 78,3 persen responden menyatakan yakin Prabowo-Gibran mampu menuntaskan berbagai kasus korupsi. Tingkat keyakinan itu terdiri dari 7,0 persen sangat yakin, dan 71,3 persen menyatakan yakin. Sementara sisanya 17,7 persen tidak yakin, 1,1 persen sangat tidak yakin, dan 3,0 persen tidak menjawab.

Adapun kasus korupsi yang menarik perhatian publik yang ditindak selama masa pemerintahan Prabowo-Gibran seperti kasus BBM oplosan Pertamina sebanyak 85,7 persen, kasus minyak goreng 74,9 persen, kasus logam 35,4 persen, kasus korupsi bank daerah 26,9 persen. Dari empat kasus ini, mayoritas responden meyakini pemerintahan Prabowo-Gibran akan menuntaskannya.

Survei digelar Litbang Kompas pada 7-13 April 2025, melibatkan 1.200 responden dari 38 provinsi di Indonesia dengan cara tatap muka. Sampel diambil menggunakan metode multistage random sampling.

Presiden Prabowo Subianto saat hendak bertolak ke Singapura, Minggu (15/6/2025). (Ist)
Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. (Ist)

Peneliti Pusat Kajian Antikorupsi Universitas Gadjah Mada (Pukat UGM), Zaenur Rohman menilai, tingginya tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemberantasan korupsi pada pemerintahan Prabowo-Gibran tak bisa dipisahkan dari upaya pencitraan yang dilakukan Prabowo.

"Antara persepsi dengan realita itu berjarak sangat biasa. Karena persepsi itu dibangun dengan pencitraan dan seterusnya," kata Zaenur kepada Suara.com, Senin 17 Juni 2025.

Hal itu dikaitkan Zaenur dengan sejumlah pidato Prabowo yang menunjukkan komitmennya dalam upaya pemberantasan korupsi. Seperti rencana Prabowo yang akan membangun penjara khusus koruptor di pulau terpencil agar tidak kabur.

"Saya akan bikin penjara yang sangat kokoh di suatu tempat yang terpencil. Mereka enggak bisa keluar malam hari. Kita akan cari pulau. Kalau mereka mau keluar, biar ketemu sama hiu," ujar Prabowo pada 13 Maret lalu.

Selain itu dalam pidatonya dihadapan ribuan pekerja pada peringatan Hari Buruh pada 1 Mei lalu, Prabowo menyatakan dukungan terhadap pengesahan rancangan Undang-Undang Perampasan Aset.

"Saudara-saudara, dalam rangka juga pemberantasan korupsi, saya mendukung undang-undang perampasan aset. Saya mendukung. Enak saja sudah nyolong enggak mau kembalikan aset. Gue tarik sajalah itu. Setuju?" ujar Prabowo kala itu.

Baru Sebatas Janji

Sebagai peneliti pemberantasan korupsi, Zaenur mengaku menjadi salah satu pihak tidak puas dengan pemberantasan korupsi pada era pemerintahan Prabowo-Gibran. Sebab, menurutnya Prabowo tidak memiliki arah yang jelas dalam upaya pemberantasan korupsi.

Hal itu juga tergambar dari pernyataan Prabowo sendiri, misalnya mengirimkan koruptor ke pulau terpencil dan akan mengampuni koruptor--yang sempat dilontarkannya pada Desember 2024 lalu.

Presiden Prabowo Subianto. (ist)
Presiden Prabowo Subianto. (ist)

"Nah sejauh ini saya melihat pemerintahan Prabowo itu belum punya prestasi apapun yang signifikan dalam pemberantasan korupsi. Baru semangat pidato dan janji. Belum berupa tindakan-tindakan nyata," kata Zaenur.

Sejumlah kasus besar yang diungkap pada masa pemerintahan Prabowo, tak bisa dijadikan tolak ukur keberhasilan pemberantasan korupsi.

Pada masa pemerintahan sebelumnya, juga terdapat kasus besar yang diungkap aparat penegak hukum, seperti kasus korupsi BTS 4G di Kementerian Komunikasi dan Informatika senilai Rp 8 triliun, dan kasus korupsi PT Jiwasraya yang merugikan keuangan negara Rp 16,81 triliun.

Selain itu, upaya pemberantasan korupsi juga masih menyisakan banyak pekerjaan rumah. Di antaranya Indeks Persepsi Korupsi atau IPK yang skornya masih memprihatinkan.

Berdasarkan laporan Transparency International Indonesia (TII) indeks persepsi korupsi pada 2024 berada di angka 37 poin, meningkat tiga poin dibanding pada 2023 dan menempatkan Indonesia di urutan ke 99 dari 190 negara. Namun angka itu tidak signifikan, sebab skor tersebut mengalami kemerosotan dibanding dengan skor tertinggi yang pernah diraih Indonesia sebesar 40 poin pada 2019.

Dari sisi pemulihan kerugian negara akibat tindakan pidana korupsi juga belum optimal. Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan atau PPATK mencatat perputaran uang terkait tindak pidana korupsi pada tahun 2024 mencapai Rp 984 triliun. Namun yang berhasil dipulihkan masih jauh dari harapan, KPK misalnya pada 2024 hanya berhasil memulihkan keuangan negara senilai Rp 637,99 miliar.

Sementara menurut catatan ICW pada 2023 kerugian negara akibat korupsi mencapai Rp 56 triliun, tapi dipulihkan aparat penegak hukum hanya Rp 7,3 triliun.

Upaya penghukuman juga masih jauh dari harapan. Masih merujuk pada laporan ICW pada 2023, hukuman yang dijatuhkan kepada 898 terdakwa dari 866 kasus korupsi, rata-rata hanya 3 tahun 4 bulan penjara.

Untuk merespons situasi itu, sekaligus menjawab tingginya tingkat keyakinan masyarakat terhadap upaya pemberantasan korupsi, Prabowo dapat mengambil langkah konkret seperti segera mendesak DPR mengesahkan rancangan Undang-Undang Perampasan Aset, dan rancangan Undang-Undang Pembatasan Transaksi Uang Kartal. Kemudian, mengembalikan independensi KPK setelah dilemahkan lewat revisi Undang-Undang KPK.

Zaenur pun menyebut keberhasilan pemberantasan korupsi di bawah pemerintahan Prabowo-Gibran akan terjawab setelah lima tahun nanti, dan berapa tingkat indeks persepsi korupsi yang berhasil diraih.


Terkait

Prabowo Dinilai Mesti Kesampingkan Jasa Politik Jokowi untuk Selesaikan Konflik 4 Pulau Aceh-Sumut
Senin, 16 Juni 2025 | 20:23 WIB

Prabowo Dinilai Mesti Kesampingkan Jasa Politik Jokowi untuk Selesaikan Konflik 4 Pulau Aceh-Sumut

Prabowo segara mengambil keputusan terkait polemik batas administrasi antara Provinsi Aceh dan Sumatera Utara.

Presiden Prabowo dan Wong Bersatu Serukan Gencatan Senjata di Gaza dan Perang Iran-Israel
Senin, 16 Juni 2025 | 19:42 WIB

Presiden Prabowo dan Wong Bersatu Serukan Gencatan Senjata di Gaza dan Perang Iran-Israel

Indonesia dan Singapura prihatin atas eskalasi konflik di Gaza & Iran-Israel, serukan gencatan senjata dan penyelesaian damai.

Sikap Tegas RI Soal Perang Iran-Israel: Presiden Prabowo Serukan 3 Hal Mendesak
Senin, 16 Juni 2025 | 18:37 WIB

Sikap Tegas RI Soal Perang Iran-Israel: Presiden Prabowo Serukan 3 Hal Mendesak

Indonesia kecam agresi, dorong deeskalasi dan solusi diplomatik Iran-Israel. PDIP desak RI aktif di PBB, usul sanksi serta keluarkan Israel dari PBB.

Terbaru
Membongkar 'Jalur Cepat' Haji: Bagaimana Eks Menag Yaqut Terjerat Korupsi?
polemik

Membongkar 'Jalur Cepat' Haji: Bagaimana Eks Menag Yaqut Terjerat Korupsi?

Senin, 16 Maret 2026 | 19:29 WIB

Upaya Gus Yaqut lolos dari jerat hukum sempat kandas setelah permohonan praperadilannya ditolak Pengadilan Negeri Jakarta Selatan

Membaca Rencana Taklimat Prabowo, Rakyat Diminta Siap-siap Susah? polemik

Membaca Rencana Taklimat Prabowo, Rakyat Diminta Siap-siap Susah?

Kamis, 12 Maret 2026 | 16:33 WIB

Dalam tradisi komunikasi, khususnya di lingkungan militer, taklimat adalah sebuah instruksi yang bersifat teknis, padat, dan sangat strategis

Algoritma Manipulatif hingga Ancaman VPN, Mengapa Anak di Bawah 16 Tahun Dilarang Punya Medsos? polemik

Algoritma Manipulatif hingga Ancaman VPN, Mengapa Anak di Bawah 16 Tahun Dilarang Punya Medsos?

Senin, 09 Maret 2026 | 19:36 WIB

Dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas anak di internet semakin tinggi, sementara risiko yang mereka hadapi juga semakin kompleks

Korupsi 'Level Baru', Kasus Fadia Arafiq Bongkar Modus Canggih Pejabat Raup Duit Negara polemik

Korupsi 'Level Baru', Kasus Fadia Arafiq Bongkar Modus Canggih Pejabat Raup Duit Negara

Sabtu, 07 Maret 2026 | 13:38 WIB

Kasus ini bukanlah sekadar suap atau pemerasan biasa, melainkan cerminan dari metamorfosis korupsi yang kini jauh lebih terstruktur, canggih, dan sulit diendus

Di Balik "Pesona" Beijing Ada Strategi Klasik "Soft Power" hingga Gelombang Video Hoaks polemik

Di Balik "Pesona" Beijing Ada Strategi Klasik "Soft Power" hingga Gelombang Video Hoaks

Jum'at, 06 Maret 2026 | 23:55 WIB

Salah satu pilar unik dalam strategi China di Indonesia adalah pendekatannya terhadap komunitas Muslim, mulai dari "diplomasi santri", hingga pemanfaatan isu Gaza Palestina.

Operasi Informasi di Balik Video Hoaks Viral "China Bantu Gaza" video

Operasi Informasi di Balik Video Hoaks Viral "China Bantu Gaza"

Jum'at, 06 Maret 2026 | 17:15 WIB

Sejak awal Mei hingga setidaknya Oktober 2025, ditemukan ratusan konten viral hoaks "bantuan udara China ke Gaza" yang telah memperdaya banyak netizen Indonesia.

Ironi Berdarah Gajah Tesso Nilo: Dibantai di Hutan, Berakhir di Tangan Mafia Solo polemik

Ironi Berdarah Gajah Tesso Nilo: Dibantai di Hutan, Berakhir di Tangan Mafia Solo

Kamis, 05 Maret 2026 | 19:42 WIB

Gajah berusia 40 tahun dieksekusi secara keji demi menyuplai komoditas mewah yang dipotong-potong, diperdagangkan secara estafet

×
Zoomed