Inkonsistensi Prabowo Soal Reshuffle: Antara Ultimatum dan Kalkulasi Politik
Home > Detail

Inkonsistensi Prabowo Soal Reshuffle: Antara Ultimatum dan Kalkulasi Politik

Erick Tanjung | Yaumal Asri Adi Hutasuhut

Jum'at, 13 Juni 2025 | 21:30 WIB

Suara.com - PRESIDEN Prabowo Subianto menegaskan belum akan melakukan reshuffle atau perombakan Kabinet Merah Putih. Pernyataan ini menjawab isu reshuffle yang santer dalam beberapa waktu belakangan. Prabowo mengklaim jajaran para menterinya masih bekerja dengan baik.

"Saya tidak ada rencana mau reshuffle. Sementara saya menilai tim saya bekerja dengan baik,” kata Prabowo kepada awak media di JCC, Jakarta pada Kamis, 12 Juni 2025.

Meski demikian, Prabowo tak menampik banyak kritik yang ditujukan terhadap kinerja para menterinya. Dia menganggap hal itu bagian dari demokrasi.

"Dan kita tidak bisa memuaskan semua orang,” ujar Prabowo.

Namun demikian pernyataan Prabowo itu bertolak belakang dengan pernyataan dirinya sebelumnya. Pada peringatan Hari Lahir Pancasila yang digelar pada 2 Juni lalu, Prabowo dalam pidatonya memberikan ultimatum kepada pejabat negara yang tidak becus bekerja. Dia meminta agar mengundurkan diri atau ia yang akan mengambil tindakan tegas.

"Semua pejabat yang tidak mampu melaksanakan tugas lebih baik mundur sebelum saya berhentikan," kata Prabowo kala itu.

Presiden RI Prabowo Subianto mengeluarkan sejumlah kebijakan dalam rapat terbatas (ratas) yang digelar di kediaman pribadinya, Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Jumat (31/1/2025). (Foto dokumen: Biro Pers)
Presiden Prabowo Subianto rapat terbatas atau ratas di kediaman pribadinya, Hambalang, Bogor, Jawa Barat. (Foto dokumen: Biro Pers)

Pernyataan itu disampaikannya di saat isu reshuffle mencuat. Bersamaan itu pula, hasil survei Indonesia Political Opinion (IPO) dirilis. Survei digelar pada 22-28 Mei 2025 terhadap 12.000 responden. Hasilnya, 52 persen responden menyatakan perlu dilakukannya pergantian menteri atau setingkat menteri.

Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai dan Menteri Koperasi Budi Arie menempati posisi teratas sebagai menteri yang layak diganti.

Inkonsistensi Prabowo

Pakar komunikasi politik dari Universitas Esa Unggul Jamiluddin Ritonga menilai Prabowo konsisten.

"Di satu sisi dia pernah lantang bakal menindak tegas, bisa jadi itu bentuk ketidakpuasan beliau. Tetapi ketika mau mengimplementasikannya beliau berpikir panjang," kata Jamiluddin dalam perbincangan dengan Suara.com.

Dia mengatakan sikap Prabowo belum melakukan reshuffle bukan karena penilaian objektif atas kinerja para menterinya yang masih layak untuk dipertahankan, tetapi pertimbangan politis. Menurutnya, jika Prabowo melakukan reshuffle, khususnya kepada para ketua umum partai yang menjabat menteri, maka mengganggu kestabilan koalisinya.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, misalnya, secara objektif sudah sangat layak untuk direshuffle karena berbagai kontroversinya yang justru merugikan pemerintahan Prabowo.

Bahlil belakangan menjadi sorotan publik di tengah isu kerusakan lingkungan di Raja Ampat akibat aktivitas pertambangan nikel. Sebelumnya dia juga menyulut kritikan tajam karena tata kelola gas LPG 3 kilogram yang sempat menyebabkan kelangkaan.

Namun, karena Bahlil merupakan ketua umum Golkar, Prabowo jadi berpikir panjang. Sebab jika dia dicopot berpotensi kehilangan satu partai besar yang menyokong pemerintahannya.

Sementara Budi Arie diketahui merupakan orang dekat mantan Presiden Joko Widodo. Bagaimanapun, kata Jamiluddin, Jokowi masih memiliki pengaruh besar di pemerintahan Prabowo. Meskipun, Budie Ari saat ini terseret dalam skandal kasus pengamanan situs judi online ketika menjabat Menteri Komunikasi dan Informatika.

Presiden Prabowo Subianto saat bersama dengan kabinet Merah Putih di Akmil, Magelang. [Istimiewa]
Presiden Prabowo Subianto saat bersama dengan kabinet Merah Putih di Akmil, Magelang. [Istimiewa]

Sedangkan Pigai karena merupakan representasi masyarakat Papua di Kabinet Merah Putih. Pigai dibutuhkan sebagai perpanjangan tangan Prabowo terkait isu pelanggaran HAM di Papua.

Jamiluddin berpendapat, jika Prabowo pada akhirnya melakukan reshuffle tidak akan menyasar ketua umum partai pendukungnya. Tetapi orang yang tidak memiliki daya tawar politik di pemerintahan Prabowo. Apalagi Prabowo pada pemerintahannya menganut politik mengakomodir semua pihak.

"Satu sisi secara objektif itu beberapa menteri memang harus direshuffle. Tapi secara politik ini menyulitkan Pak Prabowo karena dia khawatir, jangan sampai koalisi ini retak apalagi ini pecah," ujar Jamiluddin.

Kendati demikian, lanjutnya, bukan tak mungkin bagi Prabowo menyasar ketua umum partai, seperti Bahlil. Hal itu akan terjadi bila Prabowo sudah mendapatkan kepastian PDIP akan bergabung dengan koalisinya. Jika Bahlil yang merupakan Ketua Umum Golkar memilih keluar dari pemerintahannya, PDIP bisa menjadi pengganti.

"Tapi kalau PDIP di luar terus, kemudian dia melakukan reshuffle, Golkar keluar, itu kan akan memperkuat oposisi. Yang sebetulnya Pak Prabowo selama ini kan tidak menginginkan oposisi yang kuat," tuturnya.

Sementara pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno memandang sikap Prabowo yang menyatakan belum akan melakukan reshuffle karena ingin memberikan kesempatan kepada para menterinya untuk memperbaiki kinerja.

"Saya kira itu wajar kalau Prabowo sehari dua hari ini mengatakan tidak akan melakukan reshuffle. Itu semacam toleransi politik yang diberikan Prabowo kepada para menterinya, sekali lagi ini kesempatan yang kedua," kata Adi kepada Suara.com.

Ihwal, pernyataan Prabowo sebelumnya yang bakal menindak pejabat yang tidak bisa bekerja dinilai Adi sebagai bentuk peringatan agar para menteri tidak main-main dengan jabatan yang diberikan.

"Jadi harus ada pembuktian bahwa mereka para pembantu itu wajib hukumnya bekerja secara tuntas, wajib hukumnya harus serius bekerja untuk rakyat. Berinovasi, dan berimprovisasi," ujarnya.

Namun, jika nanti kesempatan tersebut tidak dimanfaatkan dengan baik, tidak menutup kemungkinan Prabowo mengambil sikap tegas dengan mendepak menteri yang tidak bisa bekerja.


Terkait

Prabowo 'Sentil' Pramono Soal Giant Sea Wall: DKI Siap Ikuti Arahan Pusat!
Jum'at, 13 Juni 2025 | 20:27 WIB

Prabowo 'Sentil' Pramono Soal Giant Sea Wall: DKI Siap Ikuti Arahan Pusat!

"Saya rasa kalau kita tonton video terkait pidato Pak Prabowo kemarin sudah cukup jelas ya," ujar Chico.

PDIP Dinilai Hati-hati Hadapi Tawaran Gabung Pemerintah, Bakal Terima Kursi Kabinet?
Jum'at, 13 Juni 2025 | 20:22 WIB

PDIP Dinilai Hati-hati Hadapi Tawaran Gabung Pemerintah, Bakal Terima Kursi Kabinet?

PDIP perlu hati-hati jika gabung kabinet Prabowo-Gibran, kata pengamat. Pemilih loyal bisa kecewa karena beda narasi.

Legislator PKB Minta Para Menteri Kerja Keras, Jangan Sibuk Komentar Kontroversi
Jum'at, 13 Juni 2025 | 16:53 WIB

Legislator PKB Minta Para Menteri Kerja Keras, Jangan Sibuk Komentar Kontroversi

Prabowo menegaskan bahwa tidak ada niatan dari diirnya untuk melakukan perombakan kabinet atau reshuffle.

Terbaru
Siapa di Balik BEM Bersatu? Mengaku Kelompok Mahasiswa, Tapi Dicap Gaib Oleh Kampus
polemik

Siapa di Balik BEM Bersatu? Mengaku Kelompok Mahasiswa, Tapi Dicap Gaib Oleh Kampus

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:38 WIB

Semua diawali saat sekelompok muda mengatasnamakan diri BEM Bersatu secara tiba-tiba menggelar konferensi pers pada Selasa, 16 Juni 2026

Kedok Pemulihan Hutan: Benarkah Satgas PKH Hanya Membuka Jalan Bisnis Sawit Agrinas? polemik

Kedok Pemulihan Hutan: Benarkah Satgas PKH Hanya Membuka Jalan Bisnis Sawit Agrinas?

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41 WIB

Barita Simanjuntak membantah anggapan bahwa lahan hasil penertiban otomatis akan dialihkan menjadi perkebunan sawit.

Geger Isu '98 Jilid 2', Benarkah Situasi Politik Saat Ini Mirip Era Reformasi? polemik

Geger Isu '98 Jilid 2', Benarkah Situasi Politik Saat Ini Mirip Era Reformasi?

Senin, 08 Juni 2026 | 20:04 WIB

Noel memberikan penekanan khusus bahwa situasi saat ini berisiko menyerupai peristiwaReformasi 1998jika tidak segera diantisipasi oleh Kepala Negara

Nyawa Lebih Murah dari Harga Ikan? Kisah Pahit Awak Kapal di Balik Perjuangan Ratifikasi ILO K-188 polemik

Nyawa Lebih Murah dari Harga Ikan? Kisah Pahit Awak Kapal di Balik Perjuangan Ratifikasi ILO K-188

Senin, 08 Juni 2026 | 10:26 WIB

Trauma puluhan tahun itu mengkristal menjadi sebuah ketegasan: laut bukan tempat untuk masa depan anaknya.

Motif di Balik Riset Fiktif Peneliti WNI di Denmark polemik

Motif di Balik Riset Fiktif Peneliti WNI di Denmark

Kamis, 28 Mei 2026 | 20:51 WIB

Nama-nama yang disebut dan diduga lakukan pemalsuan itu di antaranya Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti

Negara Tak Boleh Jadi Algojo, Mengapa Menteri Pigai Larang Polisi Tembak Mati Begundal? polemik

Negara Tak Boleh Jadi Algojo, Mengapa Menteri Pigai Larang Polisi Tembak Mati Begundal?

Senin, 25 Mei 2026 | 22:02 WIB

Kondisi ekonomi yang sulit dan ketimpangan yang tajam di wilayah aglomerasi menciptakan lahan subur bagi tindak kejahatan

Ekonomi Pancasila Prabowo, Kemandirian Bangsa atau Monopoli? polemik

Ekonomi Pancasila Prabowo, Kemandirian Bangsa atau Monopoli?

Jum'at, 22 Mei 2026 | 16:35 WIB

Prabowo menegaskan arah kebijakan fiskal ke depan akan berlandaskan pada mazhab Ekonomi Pancasila

×
Zoomed