Pigai dan Budi Arie Konsisten Dapat Rapor Merah, Berlakukah Ultimatum Presiden Prabowo?
Home > Detail

Pigai dan Budi Arie Konsisten Dapat Rapor Merah, Berlakukah Ultimatum Presiden Prabowo?

Chandra Iswinarno | Yaumal Asri Adi Hutasuhut

Rabu, 04 Juni 2025 | 15:14 WIB

Suara.com - Presiden Prabowo Subianto mengultimatum kepada pejabat negara yang tidak becus bekerja. Dengan tegas, dia meminta pejabatnya untuk mundur, sebelumnya dirinya turun tangan memecatnya langsung. 

Pernyataan itu disampaikan Prabowo dalam pidatonya  saat peringatan Hari Lahir Pancasila yang digelar di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri pada Senin, 2 Juni 2025. 

Saat berpidato,  Prabowo awalnya menekankan bahwa Pancasila jangan hanya dijadikan slogan belaka, harus diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dia kemudian menegaskan kekayaan negara harus dinikmati seluruh rakyat. 

"Semua penyelewengan, semua kebocoran harus berhenti. Semua pejabat yang tidak mampu melaksanakan tugas, lebih baik mundur,  sebelum saya berhentikan," tegasnya.

Terkait pernyataan Prabowo itu, Indonesia Political Opinion (IPO) baru saja merilis hasil surveinya terhadap 1.200 responden yang dilaksanakan pada 22-28 Mei 2025. 

Survei menunjukkan sebanyak 52 persen responden menyatakan perlu dilakukan pergantian menteri atau setingkat menteri, sementara 48 persen responden menyatakan tidak perlu. 

Survei yang dilakukan menggunakan teknik stratified multistage random sampling dengan margin error 2,90 dan tingkat akurasi 95 persen. 

Setidaknya ada delapan menteri atau setingkatnya yang dinyatakan layak untuk dipecat dari Kabinet Merah Putih.

Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai menempati posisi paling atas yang diganjar layak diganti. 

Survei menunjukkan ada 43,9 persen responden yang menyatakan bahwa Pigai pantas di-reshuffle. Pejabat selanjutnya yang layak diganti, yakni Budi Arie Setiadi.

Berdasarkan hasil survei yang sama, 35,8 persen responden menilai bahwa menteri koperasi itu layak digeser. 

Kemudian pada urutan ketiga ditempati Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana dengan jumlah responden 17,2 persen. 

Pun berturut-turut nama berikutnya yang layak diganti, yakni Menteri Pemuda dan Olahraga Ario Bimo Nandito Ariotedjo sebesar 16,6 persen; Kepala Kantor Kepresiden Hasan Nasbi 15,2 persen; Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie 11,8 persen; Menteri Kehutanan Raja Uli Antoni 7,5 persen; dan Menteri Ketenagakerjaan Yassierli 4,8 persen. 

Menteri HAM, Natalius Pigai dalam Rapat Kerja Komisi XIII DPR RI di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (5/2/2025). (bidik layar video)
Menteri HAM Natalius Pigai menjadi salah satu menteri yang dinilai layak untuk digantikan dalam Kabinet Prabowo-Gibran. (bidik layar video)

Catatan menarik tertuju pada dua menteri teratas yang disebut-sebut wajib untuk di-reshuffle Presiden Prabowo, Natalius Pigai dan Budi Arie Setiadi. Sebab, bukan kali pertama dua nama tersebut menerima rapor merah dari publik. 

Sebelumnya berdasarkan survei yang dilakukan Center of Economic and Law Studies atau Celios pada momentum 100 hari pemerintahan Prabowo-Gibran, dua nama tersebut saling berurutan menempati posisi atas sebagai menteri dengan kinerja terburuk dan layak untuk diganti. 

Survei yang dirilis Celios pada Januari 2025,menggunakan metodologi berbasis expert judgment. Dengan jumlah responden 95 jurnalis dari 44 lembaga pers kredibel. 

Nama Pigai menempati posisi pertama dengan nilai minus 113 poin, sedangkan Budi pada urutan kedua mendapatkan nilai minus 61 poin. 

Selain nama keduanya, terdapat juga nama Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, dan Menteri Desa Yandri Susanto yang dinilai memiliki kinerja terburuk dan layak diganti.

Dalam keterangannya kepada Suara.com, Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah menyebut bahwa konsistennya posisi Budi dan Pigai dalam hasil suvei sebagai menteri yang layak dicopot tak bisa dipisahkan dari pernyataan dan sosok kontroversi keduanya. 

"Budi Arie misalnya yang mulai terseret dalam skandal judi online dan kasus korupsi," kata Kurnia saat dihubungi Suara.com, Selasa, 3 Juni 2025.

Sebagaimana diketahui, dugaan keterlibatan Budi Arie pada skandal judi online semakin menguat sejak namanya disebut pada persidangan perkara tersebut. 

Dalam sidang skandal pengamanan judi online di Kementerian Komunikasi dan Informatika (saat ini Kementerian Komunikasi dan Digital), nama Budi Arie disebut dalam surat dakwaan. 

Ketika menjabat sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika, Budi Arie disebut menerima jatah 50 persen dari hasil pengamanan ribuan situs judi online. Meski begitu, Budi Arie sudah membantahnya, dan menyatakan tidak terlibat dalam skandal tersebut. 

Sementara Pigai, menurut Kurnia, layak untuk diganti karena  tidak memiliki program dan rencana penegakan HAM yang jelas. 

Ketidakjelasan program Pigai sebagai Menteri HAM, sebelumnya  pernah disinggung Koordinator Komisi untuk Orang dan Korban Tindak Kekerasan atau KontraS Dimas Bagus Arya pada Januari lalu.

Bahkan, menurut KontraS, rencana program yang dibuat terkesan ilusif, seperti akan membangun rumah sakit HAM dan laboratorium HAM.

Meski mendapat rapor merah publik, namun Presiden Prabowo hingga saat ini masih belum ada tanda mengganti mereka berdua bahkan terkesan mempertahankannya di dalam Kabinet Merah Putih. 

Menteri Budi Arie Setiadi. [Ist]
Menteri Budi Arie Setiadi menjadi salah satu menteri yang dinilai layak untuk digantikan dalam Kabinet Prabowo-Gibran. [Ist]

Menurut analisis Kurnia, ada persoalan pelik yang dihadapi bagi Presiden Prabowo apabila mendepak dua Menteri tersebut. Dari pandangan Kurnia, faktor paling menonjol lantaran Pigai dan Budi merupakan bagian tim pemenangan Prabowo-Gibran pada pemilihan presiden 2024 lalu. 

Terkhusus Budi Arie, dinilai Kurnia, masih dipertahankan karena pengaruh Presiden ke-7 Joko Widodo atau Jokowi. Selama ini, sosok Budi Arie dikenal sebagai loyalis Jokowi yang juga Ketua Umum ProJo, kelompok relawan pendukung Jokowi di pilpres terdahulu.

"Dan tentu saat ini mendampingi kekuasaan Gibran sebagai wapres, itu beberapa indikasi mengapa keduanya masih bertahan," kata Kurnia. 

Sementara itu, pengamat politik sekaligus Peneliti senior Populi Center, Usep Saepul Ahyar juga mengungkapkan hal serupa. 

Dia menilai, Budi Arie tetap dipertahankan karena ada faktor Prabowo ingin tetap menjaga hubungan baik dengan Jokowi. Kehadiran Budi Arie di Pemerintahan Prabowo sekaligus menjadi representasi Jokowi.

"Karena Budi Arie ini kuat sekali sebagai representasi dari kepentingan Jokowi, karena dia juga kan-yang memimpin ProJo," kata Usep kepada Suara.com.

Sedangkan alasan Pigai tetap dipertahankan, menurut Usep, karena menjadi representasi masyarakat Papua di Kabinet Merah Putih. Apalagi, Pigai dikenal sebagai aktivis dan pernah menjabat sebagai Komisioner Komnas HAM. 

Selain itu, sebelum Prabowo menjabat sebagai presiden, Pigai sering membela Ketua Umum Gerindra tersebut. Khususnya, ketika Prabowo dikaitkan dengan isu pelanggaran HAM.

Namun, Usep mengemukakan bahwa konsistensi Budi Arie dan Pigai sebagai menteri dengan reputasi yang buruk di mata publik, berdasarkan dua hasil survei, seharusnya menjadi dasar pertimbangan Presiden Prabowo untuk segera melakukan evaluasi terhadap keduanya. 

"Survei itu opini dari masyarakat, yang ditangkap masyarakat, dan harus ditindaklanjuti dengan evaluasi yang lebih teknokratik. Karena hasil survei menjadi sangat penting, karena (menjadi) alat legitimasi dan bentuk dukungan dari masyarakat,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi saat menanggapi soal isu reshuffle di Kabinet Merah Putih, menyatakan bahwa pergantian menteri merupakan hak prerogatif presiden. Prabowo menurutnya memiliki penilaian yang objektif terhadap para menterinya. 

"Apa kelebihan dan kekurangannya? Masih dibutuhkan atau tidak? Ini masih bisa dipertahankan atau tidak? Presiden tentu punya penilaian yang lebih menyeluruh. Dan hanya presiden yang tahu karena ini hak prerogatif presiden," kata Hasan.


Terkait

Minta Rakyat Lapor Pejabat jika Melanggar, Ucapan Prabowo Dinilai Cuma Imbauan, Kenapa?
Rabu, 04 Juni 2025 | 11:52 WIB

Minta Rakyat Lapor Pejabat jika Melanggar, Ucapan Prabowo Dinilai Cuma Imbauan, Kenapa?

"...maka bisa saja aparat penegak hukum hanya menganggap itu sekadar imbauan, bukan hal yang perlu dijadikan prioritas karena bernilai keputusan dari presiden.."

Terbaru
Nyawa Lebih Murah dari Harga Ikan? Kisah Pahit Awak Kapal di Balik Perjuangan Ratifikasi ILO K-188
polemik

Nyawa Lebih Murah dari Harga Ikan? Kisah Pahit Awak Kapal di Balik Perjuangan Ratifikasi ILO K-188

Senin, 08 Juni 2026 | 10:26 WIB

Trauma puluhan tahun itu mengkristal menjadi sebuah ketegasan: laut bukan tempat untuk masa depan anaknya.

Motif di Balik Riset Fiktif Peneliti WNI di Denmark polemik

Motif di Balik Riset Fiktif Peneliti WNI di Denmark

Kamis, 28 Mei 2026 | 20:51 WIB

Nama-nama yang disebut dan diduga lakukan pemalsuan itu di antaranya Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti

Negara Tak Boleh Jadi Algojo, Mengapa Menteri Pigai Larang Polisi Tembak Mati Begundal? polemik

Negara Tak Boleh Jadi Algojo, Mengapa Menteri Pigai Larang Polisi Tembak Mati Begundal?

Senin, 25 Mei 2026 | 22:02 WIB

Kondisi ekonomi yang sulit dan ketimpangan yang tajam di wilayah aglomerasi menciptakan lahan subur bagi tindak kejahatan

Ekonomi Pancasila Prabowo, Kemandirian Bangsa atau Monopoli? polemik

Ekonomi Pancasila Prabowo, Kemandirian Bangsa atau Monopoli?

Jum'at, 22 Mei 2026 | 16:35 WIB

Prabowo menegaskan arah kebijakan fiskal ke depan akan berlandaskan pada mazhab Ekonomi Pancasila

Heboh Pernyataan Prabowo 'Rakyat Desa Tak Pakai Dolar', Strategi Tenangkan Warga atau Gaslighting? polemik

Heboh Pernyataan Prabowo 'Rakyat Desa Tak Pakai Dolar', Strategi Tenangkan Warga atau Gaslighting?

Rabu, 20 Mei 2026 | 13:26 WIB

Pernyataan sang Kepala Negara itu disampaikan pertama kali di momen pidato sambutannya saat peresmian Museum dan Rumah Singgah Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur

Ketika Aktor Asing Bermain di Narasi "Antek Asing" polemik

Ketika Aktor Asing Bermain di Narasi "Antek Asing"

Senin, 18 Mei 2026 | 22:10 WIB

Peristiwa besar nasional dikaitkan dengan "peran" asing di baliknya, mungkin bukan hal baru. Tapi ini soal operasi FIMI di balik demonstrasi Agustus-September 2025 lalu.

Polemik Laut China Selatan Kini Jadi Perang Dingin Digital, Bagaimana Nasib Natuna? video

Polemik Laut China Selatan Kini Jadi Perang Dingin Digital, Bagaimana Nasib Natuna?

Sabtu, 16 Mei 2026 | 17:27 WIB

Laut China Selatan yang adalah kawasan strategis jalur dagang itu belakangan tidak lagi sekadar jadi lahan pertikaian fisik, tapi juga perang informasi digital.

×
Zoomed