Saat Dedi Mulyadi Jadi Sosok Baru Untuk 'Mendisiplinkan' Anak, Mengapa Dikritik Pakar?
Home > Detail

Saat Dedi Mulyadi Jadi Sosok Baru Untuk 'Mendisiplinkan' Anak, Mengapa Dikritik Pakar?

Bimo Aria Fundrika | Yaumal Asri Adi Hutasuhut

Jum'at, 09 Mei 2025 | 10:16 WIB

Suara.com - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kembali menjadi sorotan. Setelah kebijakannya mengirim anak-anak yang dianggap “nakal” ke barak militer menuai kontroversi, kini namanya viral di media sosial. Ia kini jadi sosok baru untuk menakuti anak agar mereka menurut. 

Sejumlah video yang beredar di TikTok memperlihatkan orang tua memutar video Dedi yang mengingatkan anak-anak agar menurut. Video itu digunakan sebagai alat menakut-nakuti.

"Hayo, anak-anak yang enggak mau mandi, makan, tidur, susah bangun pagi, enggak mau sekolah, jajan terus, awas ya kalau sampai melawan orang tua, enggak patuh, awas Pak Gubernur nanti datang ke rumahnya, ngejemput!" ujar Dedi dalam video yang viral itu.

Dalam rekaman lain, tampak balita menangis ketakutan.

"Pak, enggak mau pak. Takut, pak. Enggak mau dijemput," ucap seorang anak sambil terisak.

Fenomena ini pun disambut antusias oleh sebagian orang tua. Mereka menilai pesan Dedi efektif membuat anak-anak menurut.

"Terima kasih Pak Gubernur, anak saya jadi mau makan lagi," tulis salah satu akun.

Dedi kini menggantikan tokoh-tokoh lama yang biasa dipakai untuk menakut-nakuti anak, seperti polisi, kuntilanak, atau wewe gombel. Jika dulu ancamannya “nanti ada polisi,” kini berubah menjadi: “Awas, nanti Pak Gubernur datang!”

Sudah Tak Relevan

Sosiolog Universitas Jenderal Soedirman, Tyas Retno Wulan, menyebut praktik menakut-nakuti anak agar patuh adalah cara yang lazim digunakan orang tua di Indonesia. Tapi, menurut Tyas yang meneliti isu anak cara ini sudah tak relevan lagi.

Ia menjelaskan, orang tua cenderung memilih sosok-sosok tertentu untuk menanamkan ketakutan. Polisi, misalnya, dipersepsikan sebagai figur kuat berpistol, membawa borgol, dan menangkap orang jahat. Sementara itu, makhluk seperti kuntilanak atau wewe gombel muncul dari mitologi. Wujudnya menyeramkan. Ceritanya selalu tentang menculik anak-anak.

“Simbol-simbol ini punya efek sosiologis,” kata Tyas.

Anak-anak melihat polisi sebagai penangkap. Kuntilanak sebagai penculik. Dari situ muncul ketakutan. Dan dari ketakutan itu, orang tua berharap anak mau menurut.

Kini muncul tokoh baru: Dedi Mulyadi. Dalam sejumlah video viral, ia berkata, “Awas ya, nanti Pak Gubernur datang ke rumah, ngejemput.” Bagi anak, ancaman “dijemput” bisa berarti satu hal: dipisahkan dari orang tuanya. Itu cukup membuat mereka takut.

Tyas menilai pendekatan semacam ini berbahaya.

“Ketakutan itu bisa menimbulkan trauma,” ujarnya.

Kepatuhan yang muncul pun semu, bukan hasil dari kesadaran, tapi dari rasa takut.

"Dia mungkin hanya menghindari rasa takut itu gitu ya. Rasa takut  membuat dia mencari aman dengan menurut. Tapi bukan karena dia disiplin, tapi lebih untuk mencari rasa aman," kata Tyas saat dihubungi Suara.com, Kamis (8/5/2025).

Mendisiplinkan anak dengan menakuti, juga bisa membuat anak trauma. Kemudian berpotensi membuat anak tumbuh menjadi seorang yang penakut, selalu khawatir, tidak percaya diri, dan daya kreativitasnya bisa menurun, serta membalasnya mengeksplorasi diri. 

Tidak mengubah perilaku

Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia, Prof. Rose Mini Agoes Salim, menilai perubahan perilaku anak yang didorong lewat ketakutan tidak akan bertahan lama. Anak hanya akan bertindak jika ada ancaman. Tanpa itu, ia tidak punya dorongan untuk melakukannya sendiri.

“Pemahaman dan keinginan anak untuk melakukan hal itu secara mandiri tidak terbentuk. Ini bukan pembiasaan yang baik,” kata Prof. Rose Mini atau yang akrab disapa Bunda Romi, kepada Suara.com.

Menurutnya, kunci perubahan perilaku anak adalah pemahaman. Anak harus tahu kenapa suatu hal penting dilakukan.

Ketika paham, ia bisa merasakannya sendiri. Dan ketika ia merasa nyaman dan senang, perilaku itu akan diulang.

“Misalnya, ‘Oh, bangun pagi itu bikin segar ya. Aku jadi nggak telat ke sekolah.’ Nah, dia rasakan sendiri manfaatnya. Karena itu datang dari dirinya, maka akan diulang.”

Bunda Romi menjelaskan bahwa metode menakuti anak sejatinya bagian dari pendekatan reward dan punishment. Jika anak patuh, ia mendapat hadiah. Jika tidak, ia dihukum. Masalahnya, anak jadi tergantung pada siapa yang mengawasi. Bukan bertindak dari kesadaran sendiri.

“Itu artinya kontrolnya eksternal, bukan dari dalam dirinya. Kalau pengontrolnya hilang, perilakunya bisa ikut hilang.”

Ia menyarankan pendekatan sebaliknya, berikan pemahaman lebih dulu. Biarkan anak mencoba dan merasakannya. Kalau ia merasa nyaman, suka, dan menikmati, maka akan muncul dorongan dari dalam diri untuk melakukannya lagi.

"Dan ini kalau terus dipupuk lama-lama dia jadi paham. Dan ini menurut saya akan lebih bertahan lama, dibandingkan kalau hanya dapat reward atau punishment," sambungnya.


Terkait

Kementerian PPPA Dukung Sederhanakan Wisuda dan Study Tour: Jangan Bebani Orang Tua
Jum'at, 09 Mei 2025 | 00:00 WIB

Kementerian PPPA Dukung Sederhanakan Wisuda dan Study Tour: Jangan Bebani Orang Tua

Kementerian PPPA mendukung larangan study tour dan wisuda oleh Gubernur Jabar Dedi Mulyadi karena membebani orang tua. Sekolah disarankan cari metode lain yang inklusif.

Siswa Tawuran dan Pegawai Malas Siap-Siap! Dedi Mulyadi Siapkan Program Baru di Barak Militer
Kamis, 08 Mei 2025 | 22:08 WIB

Siswa Tawuran dan Pegawai Malas Siap-Siap! Dedi Mulyadi Siapkan Program Baru di Barak Militer

Dedi Mulyadi menegaskan, bahwa para pegawai Pemprov yang sering bolos, atau tidak produktif, sehingga malas-malasan bekerja.

Pro Kontra Kebijakan Dedi Mulyadi: Vasektomi Jadi Syarat Terima Bansos
Jum'at, 09 Mei 2025 | 09:58 WIB

Pro Kontra Kebijakan Dedi Mulyadi: Vasektomi Jadi Syarat Terima Bansos

Ia menilai, cara ini akan mendorong keluarga untuk lebih bertanggung jawab dalam mengatur jumlah anak, sehingga kualitas hidup meningkat.

Terbaru
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
polemik

Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo

Kamis, 30 Juli 2026 | 16:00 WIB

Mengungkap kejanggalan di balik kematian Sutrimo, Karumga eks Jampidsus Febrie Adriansyah di Desa Wlahar, Banyumas. Dari pengawasan CCTV mendadak hingga pengintai misterius.

Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman polemik

Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman

Kamis, 30 Juli 2026 | 15:38 WIB

Tidak seorang pun dari rombongan pengantar jenzah Sutrimo memperkenalkan identitas ataupun menjelaskan dari instansi mana.

Kami Ireng Tapi Bukan Londo, Menjawab Cap Antek Asing dari Podium Kekuasaan polemik

Kami Ireng Tapi Bukan Londo, Menjawab Cap Antek Asing dari Podium Kekuasaan

Senin, 27 Juli 2026 | 18:33 WIB

MTI menilai persoalan mendasar dari pernyataan Prabowo bukan semata pada legalitas ucapan, melainkan implikasinya yang sangat destruktif bagi kualitas demokrasi

Gratis Tapi Mahal, Mengapa RI Nekat Terima Hibah Kapal Induk Tua Italia? polemik

Gratis Tapi Mahal, Mengapa RI Nekat Terima Hibah Kapal Induk Tua Italia?

Jum'at, 24 Juli 2026 | 18:36 WIB

Meski keputusan ini diambil secara bulat, proses persetujuan sebelumnya sempat diwarnai kritik tajam terkait prosedur yang mendadak serta kekhawatiran akan beban anggaran

Misteri Emas 74 Kg di Rumah Eks Jampidsus, Benarkah Barang Titipan? polemik

Misteri Emas 74 Kg di Rumah Eks Jampidsus, Benarkah Barang Titipan?

Rabu, 15 Juli 2026 | 17:20 WIB

Pernyataan Febrie Adriansyah yang menyebut emas tersebut sudah ada pemiliknya justru menjadi titik penting dalam proses pembuktian

Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo polemik

Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:59 WIB

Di balik narasi hijau menyelamatkan Taman Nasional Tesso Nilo, ribuan warga kecil kini kehilangan segalanyamulai dari rumah, kebun, hingga anggota keluarga dipenjara.

Ramai-ramai Berburu Anggaran di Senayan, Efisiensi Prabowo Cuma Omon-omon? polemik

Ramai-ramai Berburu Anggaran di Senayan, Efisiensi Prabowo Cuma Omon-omon?

Jum'at, 19 Juni 2026 | 21:10 WIB

Sejumlah kementerian dan lembaga berbondong-bondong mengajukan tambahan anggaran kepada DPR RI. Nilainya tidak kecil, mulai dari ratusan miliar hingga puluhan triliun rupiah

×
Zoomed