Review Thunderbolts*, Ketika Para Antihero Menjadi Harapan Baru MCU
Home > Detail

Review Thunderbolts*, Ketika Para Antihero Menjadi Harapan Baru MCU

Yohanes Endra

Sabtu, 03 Mei 2025 | 07:11 WIB

Suara.com - Marvel Studios akhirnya merilis Thunderbolts*, film yang sejak awal digadang-gadang akan membawa nuansa baru ke dalam semesta Marvel Cinematic Universe (MCU). Dan benar saja, film ini bukan hanya sekadar mengumpulkan karakter random dari sana-sini.

Thunderbolts* adalah eksplorasi emosional yang gelap, penuh luka masa lalu, dan pencarian jati diri oleh para karakter yang sebelumnya hanya menjadi figur pendukung atau bahkan antagonis dalam film-film sebelumnya.

Disutradarai oleh Jake Schreier, Thunderbolts* menjadi langkah berani Marvel untuk menyuguhkan kisah yang lebih dewasa, reflektif, dan bernuansa abu-abu. 

Film ini bukan tentang pahlawan super yang menyelamatkan dunia, melainkan tentang individu-individu rusak yang berusaha menyelamatkan diri mereka sendiri. Terkadang, mereka justru menemukan harapan dalam kekacauan.

Thunderbolts* membuktikan bahwa tak ada Avengers, ternyata bukan masalah yang besar, setidaknya jika lawan mereka bukan Big 3 (alien, android, dan penyihir).

Karakter Rusak Namun Cerita Manusiawi

Keunggulan utama Thunderbolts* terletak pada karakterisasinya yang mendalam. 

Florence Pugh kembali sebagai Yelena Belova, dan sekali lagi membuktikan bahwa dia adalah bintang utama generasi baru MCU. 

Performa Pugh tidak hanya kuat, tapi juga penuh nuansa emosional. Dia memang menjadi poros emosional film ini. 

Di sisi lain, Lewis Pullman tampil mencuri perhatian sebagai Sentry, karakter baru dengan kekuatan luar biasa dan kondisi mental yang rapuh. Dinamika keduanya membentuk inti cerita yang kuat dan menyentuh.

Sebastian Stan sebagai Bucky Barnes juga mendapatkan momen-momen kuat yang menyentuh sisi kemanusiaannya. 

Karakter-karakter lain seperti David Harbour (Red Guardian) memberikan sentuhan humor dan kontras moral yang membuat film ini tetap dinamis.

Chemistry yang Tak Terduga Tapi Efektif

Salah satu daya tarik utama Thunderbolts* adalah interaksi antar karakternya, yang secara tak terduga sangat enak untuk disaksikan.
 
Meskipun mereka datang dari latar belakang berbeda, bahkan saling bertentangan, justru kekacauan inilah yang membentuk chemistry yang kuat.

Film Marvel Thunderbolts*. [Instagram]
Film Marvel Thunderbolts*. [Instagram]

Ini mengingatkan kita pada film-film assemble action 90-an, di mana tim tidak selalu harmonis, tapi justru itulah yang membuat perjalanan mereka menarik.

Film ini memperlihatkan bagaimana masing-masing karakter berproses, bukan hanya dalam misi fisik, tetapi juga dalam perjalanan batin mereka. 

Ada proses tumbuh, saling memahami, dan belajar berkorban demi tim. Progresi ini disajikan secara organik dan menyentuh.

Nada Gelap dengan Aksi yang Terasa Nyata

Berbeda dari mayoritas film MCU yang cenderung penuh warna dan efek bombastis, Thunderbolts* mengadopsi tone visual yang lebih dingin dan kelam, sesuai dengan nuansa narasinya. 

Aksi di sini terasa lebih realistis dan memiliki dampak emosional. Setiap pertarungan dan ledakan tidak sekadar hiasan, melainkan memiliki bobot naratif yang jelas.

Meski demikian, Thunderbolts* tetap memberikan ruang untuk humor yang tidak dipaksakan. 

Dialog-dialog cerdas dan interaksi penuh sarkasme menjadi penyegar di tengah ketegangan. 

Ini adalah contoh sempurna bagaimana Marvel bisa tetap lucu tanpa harus mengorbankan integritas cerita, sesuatu yang sayangnya gagal dicapai di beberapa rilisan sebelumnya seperti Thor: Love and Thunder.

Minim Action, Tak Masalah

Jika ada satu hal yang membuat Thunderbolts* berbeda dari film Marvel lainnya, itu adalah keberaniannya untuk menjadi film yang sangat dialog-driven, bukan hanya menyuguhkan aksi pertarungan seru superhero vs villain. 

Dengan durasi 127 menit, film ini penuh dengan momen percakapan yang intens, penggalian emosi, dan dinamika antar karakter yang dibangun perlahan. 

Film Thunderbolts*. [Instagram]
Film Thunderbolts*. [Instagram]

Memang, ini membuat ritme film terasa sedikit melambat di bagian tengah. Namun bagi penonton yang menghargai kedalaman karakter, ini justru menjadi kekuatan.

Di sinilah kita melihat pengaruh drama yang lebih dekat dengan film-film garapan sutradara Martin Scorsese daripada blockbuster superhero biasa. 

Film ini bukan tontonan yang mengandalkan CGI semata, tapi pengalaman naratif yang lebih mendalam dan reflektif.

Isu Sosial dan Politik yang Disisipkan dengan Cermat

Thunderbolts* juga menyelipkan isu-isu penting seperti manipulasi, korupsi, kontrol pemerintah, dan trauma psikologis. 

Semua ini disajikan bukan secara menggurui, tapi melalui pengalaman dan pilihan karakter. 

Penonton tidak hanya diajak menonton aksi, tapi juga merenungkan tema-tema seperti penerimaan diri, pengampunan, dan pencarian makna hidup setelah kehilangan.

Valentina, misalnya, kini tampak sebagai versi lebih gelap dari Nick Fury, penuh ambiguitas moral dan motivasi terselubung. 

Peran ini memperkaya lapisan politik cerita dan menjanjikan konflik yang lebih kompleks di fase MCU berikutnya.

Sebuah Awal Baru yang Menjanjikan

Pada akhirnya, Thunderbolts* adalah pembuktian bahwa Marvel masih mampu membuat cerita yang berarti, bahkan dari karakter-karakter yang sebelumnya dianggap "kelas dua."

Dengan pendekatan yang lebih dewasa, karakter yang berlapis, dan keberanian untuk melangkah ke arah yang lebih gelap dan manusiawi, film ini sukses menawarkan sesuatu yang segar.

Meskipun tidak sempurna, Thunderbolts* tetap menjadi tontonan yang penting dan menyenangkan. 

Dua post-credit scene yang disajikan pun memberikan petunjuk menarik ke arah masa depan MCU yang lebih kompleks dan menjanjikan.

Bagi penggemar MCU yang merindukan cerita dengan bobot emosional dan kedalaman karakter, Thunderbolts* adalah suguhan wajib. 

Sebuah langkah berani yang akhirnya menunjukkan bahwa Marvel tidak hanya bisa menyelamatkan dunia, tapi juga hati para pahlawan yang hancur.


Terkait

Harapan Baru MCU, 5 Alasan Thunderbolts* Wajib Ditonton!
Rabu, 30 April 2025 | 07:13 WIB

Harapan Baru MCU, 5 Alasan Thunderbolts* Wajib Ditonton!

Sebagaimana diketahui, MCU tengah memasuki fase yang cukup menantang, sekaligus terseok-seok.

Simu Liu Siap Bintangi Film Sleeping Dogs, Proyek Ini Akhirnya Terwujud!
Selasa, 29 April 2025 | 07:30 WIB

Simu Liu Siap Bintangi Film Sleeping Dogs, Proyek Ini Akhirnya Terwujud!

Simu Liu mengungkapkan bahwa ia sedang mengerjakan film Sleeping Dogs, dengan dirinya memerankan Wei Shen, setelah proyek film sebelumnya dibatalkan.

Thunderbolts* Tayang 30 April, Tonton Dulu 5 Film dan Serial MCU Ini!
Sabtu, 26 April 2025 | 08:00 WIB

Thunderbolts* Tayang 30 April, Tonton Dulu 5 Film dan Serial MCU Ini!

Thunderbolts* akan memperkenalkan tim baru yang terdiri dari jajaran superhero tak terduga.

Review Serial Daredevil Born Again: Aksi Epik Melawan Penjahat dan Sistem
Selasa, 22 April 2025 | 11:13 WIB

Review Serial Daredevil Born Again: Aksi Epik Melawan Penjahat dan Sistem

Series ini disutradarai sama beberapa nama, tapi salah satu yang menonjol adalah Michael Cuesta (yang pernah garap Homeland dan Dexter).

Terbaru
Tikungan Terakhir! 30 Kilometer Kebebasan Laras
nonfiksi

Tikungan Terakhir! 30 Kilometer Kebebasan Laras

Kamis, 19 Februari 2026 | 16:42 WIB

Tak semua tahu, 15 kilometer jauhnya, di Gerbang Rumah Tahanan Negara Kelas I Pondok Bambu, Jakarta Timur, kebebasan itu tak langsung diberikan ke Laras.

'Buku Putih' Kaum Anarkis nonfiksi

'Buku Putih' Kaum Anarkis

Rabu, 18 Februari 2026 | 14:15 WIB

Ada hantu bergentayangan di Indonesiahantu Anarkisme! Polisi mencoba menggelar eksorsisme, kaumnya diburu, tapi ia tak mau pergi.

Ijazah Jokowi Tanpa Sensor Akhirnya Dirilis, Drama Berjilid-jilid Segera Berakhir? polemik

Ijazah Jokowi Tanpa Sensor Akhirnya Dirilis, Drama Berjilid-jilid Segera Berakhir?

Jum'at, 13 Februari 2026 | 13:03 WIB

Salinan ijazah terlegalisir yang dipakai Calon Presiden di Pilpres 2014 dan 2019, tulis Bonatua

Cinta dan Jari yang Patah di Utara Jakarta nonfiksi

Cinta dan Jari yang Patah di Utara Jakarta

Kamis, 12 Februari 2026 | 12:13 WIB

Anak-anak, remaja, hingga dewasa ditangkap Polres Jakarta Utara atas tuduhan ikut aksi Agustus 2025. Banyak yang sebenarnya tidak ikut demonstrasi. Mereka dianiaya polisi.

Dilema WNI Bermasalah di Kamboja, Korban Perdagangan Orang atau Operator Penipuan? polemik

Dilema WNI Bermasalah di Kamboja, Korban Perdagangan Orang atau Operator Penipuan?

Selasa, 10 Februari 2026 | 18:33 WIB

Jangan sebut mereka korban jika mereka berangkat secara sadar untuk menipu orang lain demi gaji dolar,

Bocah-bocah di Sarang Polisi: Asal Tangkap Perkara Aksi Agustus nonfiksi

Bocah-bocah di Sarang Polisi: Asal Tangkap Perkara Aksi Agustus

Selasa, 10 Februari 2026 | 16:26 WIB

Polres Magelang Kota diduga melakukan asal tangkap terhadap banyak bocah setelah aksi Agustus 2025. Banyak di antara anak-anak itu mengaku disiksa selama dalam tahanan.

OTT Beruntun Pejabat Pajak-Bea Cukai hingga Hakim: Mengapa Korupsi di RI Jadi Penyakit Menahun? polemik

OTT Beruntun Pejabat Pajak-Bea Cukai hingga Hakim: Mengapa Korupsi di RI Jadi Penyakit Menahun?

Senin, 09 Februari 2026 | 17:02 WIB

Analisis dari akademisi Universitas Airlangga (Listiyono Santoso dkk) menyebutkan bahwa kultur patrimonial dalam birokrasi menjadi penghambat utama

×
Zoomed