Hari Buruh Dihantui PHK Massal, Mampukah Satgas Membendung?
Home > Detail

Hari Buruh Dihantui PHK Massal, Mampukah Satgas Membendung?

Bimo Aria Fundrika | Yaumal Asri Adi Hutasuhut

Jum'at, 02 Mei 2025 | 09:03 WIB

Suara.com - Pada peringatan Hari Buruh 1 Mei 2025, buruh di Indonesia bukan hanya turun ke jalan menuntut keadilan, tapi juga dihadapkan pada gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang makin masif. Alih-alih perlindungan konkret, pemerintah justru mewacanakan pembentukan Satgas PHK sebagai respons. Satgas ini diklaim akan fokus pada mitigasi dan pencegahan. Namun, muncul pertanyaan: benarkah ini solusi, atau sekadar manuver meredam kegelisahan publik?

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto akan membentuk Satuan Tugas (Satgas) khusus untuk menangani persoalan pemutusan hubungan kerja (PHK). Langkah ini muncul di tengah lonjakan angka PHK dan dampak ekonomi global, termasuk kebijakan tarif impor dari Presiden AS Donald Trump.

Fungsi Satgas ini belum dijelaskan secara rinci. Namun sejumlah menteri di Kabinet Merah Putih menyebut Satgas akan bertugas melakukan mitigasi, mencegah PHK, dan mendampingi pekerja terdampak agar hak-haknya dipenuhi sesuai aturan hukum.

Tak hanya itu. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi bahkan menyebut Satgas juga akan menciptakan lapangan kerja baru.

"Sesegera mungkin bagaimana kita mengatasi dengan menciptakan lapangan-lapangan pekerjaan baru,” ujarnya di Jakarta, Rabu (30/4/2025), seperti dikutip dari Antara.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi. (Suara.com/Novian)
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi. (Suara.com/Novian)

Usulan pembentukan Satgas PHK sebenarnya bukan hal baru. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli sudah mengangkat isu ini sejak 26 November 2024. Kala itu, ia menyatakan usulan telah disampaikan ke Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Desakan itu tak lepas dari meningkatnya angka PHK. Berdasarkan data Kemnaker, sepanjang Januari–Oktober 2024, sebanyak 63.947 pekerja terkena PHK. Angka ini naik dari tahun sebelumnya yang tercatat 45.576 pekerja.

Wacana ini kembali mencuat pada 1 Desember 2024 lewat Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. Saat itu, pembentukan Satgas disebut sebagai respons atas kenaikan upah minimum provinsi (UMP) sebesar 6,5 persen.

Puncaknya terjadi pada 8 April 2025. Dalam sebuah sarasehan ekonomi bertema "Memperkuat Daya Tahan Ekonomi Indonesia di Tengah Gelombang Tarif Perdagangan", Presiden Prabowo menginstruksikan pembentukan Satgas PHK. Instruksi itu merupakan respons atas usulan Presiden KSPI, Said Iqbal.

Prabowo meminta agar Satgas melibatkan pemerintah, serikat buruh, akademisi, hingga BPJS Ketenagakerjaan.

"Saya kira bentuk Satgas PHK, segera libatkan pemerintah, libatkan serikat buruh, libatkan dunia akademi, libatkan rektor-rektor, libatkan BPJS, dan sebagainya,” ucapnya.

Said Iqbal menyebut Satgas akan dibentuk melalui instruksi presiden (Inpres). KSPI, menurutnya, akan menjadi salah satu pihak yang terlibat langsung.

"Kami sudah ada kata sepakat untuk menjalankan perintah tersebut. Bentuknya mungkin berupa Inpres," katanya, 24 April 2025.

Namun, gelombang PHK terus berlanjut. Hanya dalam dua bulan pertama 2025, jumlah pekerja terdampak melonjak. Januari mencatat 3.325 orang, dan pada Februari melonjak jadi 18.610—naik enam kali lipat.

Pertanyaannya: apakah Satgas ini akan benar-benar menyelesaikan masalah? Atau hanya jadi alat penenang di tengah gejolak ketenagakerjaan yang belum juga reda?

Harus Fokus ke Pencegahan

Pengunjuk rasa dari berbagai elemen masyarakat berunjuk rasa memperingati Hari Buruh Internasional di depan kantor Gubernur Kalimantan Timur, Samarinda, Kamis (1/5/2025). [ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/YU]
Pengunjuk rasa dari berbagai elemen masyarakat berunjuk rasa memperingati Hari Buruh Internasional di depan kantor Gubernur Kalimantan Timur, Samarinda, Kamis (1/5/2025). [ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/YU]

Pakar hukum ketenagakerjaan dari Universitas Gadjah Mada, Nabiyla Risfa Izzati, menilai rencana pembentukan Satgas PHK merupakan langkah yang cukup baik. Menurutnya, Satgas ini bisa menjadi forum tripartit antara pekerja, perusahaan, dan pemerintah untuk mencegah PHK.

"Tapi perlu dipastikan lebih lanjut, secara teknis tindakan apa saja yang bisa mereka lakukan?" ujarnya kepada Suara.com.

Jika Satgas bertugas mencegah PHK, itu adalah langkah positif. Perusahaan seharusnya wajib melapor sebelum melakukan PHK, sehingga Satgas bisa menyusun langkah mitigasi bersama.

Namun, jika Satgas baru bergerak setelah PHK terjadi, perannya bisa tumpang tindih dengan Dinas Ketenagakerjaan. Dinas selama ini sudah memfasilitasi mediasi antara pekerja dan perusahaan dalam kasus PHK.

Nabiyla menegaskan tugas Satgas harus jelas. Fokus utamanya adalah pencegahan, bukan reaksi.

Ketua Umum Federasi Serikat Buruh Persatuan Indonesia (FSBPI), Jumisih, sependapat. Menurutnya, pencegahan PHK adalah prioritas. Meski begitu, ia belum yakin Satgas PHK bisa menjadi solusi efektif, terutama jika melihat kondisi pengawasan ketenagakerjaan saat ini yang belum optimal.

"Kalau Dinas Ketenagakerjaan mau bekerja maksimal, sebenarnya banyak persoalan bisa dicegah. Tapi ya itu tadi, pengawasan mereka lemah," kata Jumisih.

FSBPI berharap, Satgas PHK memiliki pengawasan yang kuat dan dijalankan oleh orang-orang yang kompeten. Mereka harus berpihak pada hak-hak buruh, bukan menjadikannya ajang cari keuntungan.

"Kalau diisi orang yang tidak bertanggung jawab, justru menimbulkan masalah baru," tegasnya.

Jika Satgas juga membuka lapangan kerja, maka pihak yang dilibatkan pun harus selektif. Jangan hanya melibatkan pengusaha yang mengejar keuntungan semata.

"Jangan sampai ujung-ujungnya hanya menguntungkan pemilik modal. Pekerja tetap tidak mendapatkan haknya," katanya.

Aksi KASBI dalam Peringatan Hari Buruh Internasional yang digelar di Kawasan Patung Kuda, Jalan Medan Merdeka, Jakarta, Rabu (1/5/2024). [Suara.com/Faqih]
Aksi KASBI dalam Peringatan Hari Buruh Internasional yang digelar di Kawasan Patung Kuda, Jalan Medan Merdeka, Jakarta, Rabu (1/5/2024). [Suara.com/Faqih]

Sementara itu, Koordinator Dewan Buruh Nasional KASBI, Nining Elitos, menekankan pentingnya keberadaan Satgas untuk memperkuat peran kementerian dan dinas dalam melindungi hak buruh. Ia juga menilai lemahnya pengawasan negara sebagai penyebab memburuknya kondisi ketenagakerjaan.

"Masih banyak perusahaan yang tidak patuh hukum dan memperlakukan buruh semena-mena. Negara wajib memastikan agar pengusaha tidak terus melakukan pembiaran," ujar Nining.

Seberapa Efektif Kerja Satgas?

Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, menilai Satgas PHK bisa jadi solusi atas gelombang PHK yang terus terjadi. Namun, menurutnya, efektivitas Satgas bergantung pada tugas dan kewenangan yang jelas.

"Satgas harus mulai dari pendataan. Selama ini, perusahaan yang hendak PHK tidak pernah terdata. Begitu juga pekerja yang terdampak, apalagi di sektor informal," ujar Bhima kepada Suara.com.

Ia menekankan pentingnya basis data yang akurat dan rinci by name, by address. Data PHK selama ini tidak valid karena banyak perusahaan tak melapor ke Kementerian Ketenagakerjaan.

Selain itu, Satgas harus memastikan semua hak pekerja terpenuhi: gaji terakhir, pesangon, dan jaminan sosial. Ia juga menyarankan agar Satgas menjembatani korban PHK dengan perusahaan baru untuk peluang kerja langsung.

Bhima menambahkan, korban PHK perlu diberi stimulus berupa bantuan tunai saat menganggur. "Minimal empat hingga lima bulan, Rp1–2 juta per bulan," katanya.

Tak kalah penting, revisi UU Cipta Kerja. "PHK sepihak terhadap pekerja outsourcing terlalu mudah dilakukan. Ini harus dikoreksi."


Terkait

10 Perusahaan Dunia Umumkan PHK di Bulan April, Ini Daftarnya
Jum'at, 02 Mei 2025 | 07:39 WIB

10 Perusahaan Dunia Umumkan PHK di Bulan April, Ini Daftarnya

Pemutusan hubungan kerja (PHK) banyak dilakukan perusahan besar untuk bisa bertahan dalam persaingan bisnis.

May Day 2025: Prabowo Beri Sinyal RUU Perampasan Aset, Momentum Emas Berantas Korupsi?
Jum'at, 02 Mei 2025 | 06:51 WIB

May Day 2025: Prabowo Beri Sinyal RUU Perampasan Aset, Momentum Emas Berantas Korupsi?

Prabowo menekankan bahwa tidak boleh ada kompromi terhadap pelaku korupsi yang enggan mengembalikan hasil kejahatannya

Hari Buruh, Sinergi PalmCo dan Serikat Pekerja Berbuah Transformasi Mumpuni
Jum'at, 02 Mei 2025 | 07:38 WIB

Hari Buruh, Sinergi PalmCo dan Serikat Pekerja Berbuah Transformasi Mumpuni

Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 1 Mei tahun ini dimaknai oleh Subholding Perkebunan PTPN III (Persero), PTPN IV PalmCo dan SPBUN PTPN IV.

Terbaru
Kedok Pemulihan Hutan: Benarkah Satgas PKH Hanya Membuka Jalan Bisnis Sawit Agrinas?
polemik

Kedok Pemulihan Hutan: Benarkah Satgas PKH Hanya Membuka Jalan Bisnis Sawit Agrinas?

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41 WIB

Barita Simanjuntak membantah anggapan bahwa lahan hasil penertiban otomatis akan dialihkan menjadi perkebunan sawit.

Geger Isu '98 Jilid 2', Benarkah Situasi Politik Saat Ini Mirip Era Reformasi? polemik

Geger Isu '98 Jilid 2', Benarkah Situasi Politik Saat Ini Mirip Era Reformasi?

Senin, 08 Juni 2026 | 20:04 WIB

Noel memberikan penekanan khusus bahwa situasi saat ini berisiko menyerupai peristiwaReformasi 1998jika tidak segera diantisipasi oleh Kepala Negara

Nyawa Lebih Murah dari Harga Ikan? Kisah Pahit Awak Kapal di Balik Perjuangan Ratifikasi ILO K-188 polemik

Nyawa Lebih Murah dari Harga Ikan? Kisah Pahit Awak Kapal di Balik Perjuangan Ratifikasi ILO K-188

Senin, 08 Juni 2026 | 10:26 WIB

Trauma puluhan tahun itu mengkristal menjadi sebuah ketegasan: laut bukan tempat untuk masa depan anaknya.

Motif di Balik Riset Fiktif Peneliti WNI di Denmark polemik

Motif di Balik Riset Fiktif Peneliti WNI di Denmark

Kamis, 28 Mei 2026 | 20:51 WIB

Nama-nama yang disebut dan diduga lakukan pemalsuan itu di antaranya Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti

Negara Tak Boleh Jadi Algojo, Mengapa Menteri Pigai Larang Polisi Tembak Mati Begundal? polemik

Negara Tak Boleh Jadi Algojo, Mengapa Menteri Pigai Larang Polisi Tembak Mati Begundal?

Senin, 25 Mei 2026 | 22:02 WIB

Kondisi ekonomi yang sulit dan ketimpangan yang tajam di wilayah aglomerasi menciptakan lahan subur bagi tindak kejahatan

Ekonomi Pancasila Prabowo, Kemandirian Bangsa atau Monopoli? polemik

Ekonomi Pancasila Prabowo, Kemandirian Bangsa atau Monopoli?

Jum'at, 22 Mei 2026 | 16:35 WIB

Prabowo menegaskan arah kebijakan fiskal ke depan akan berlandaskan pada mazhab Ekonomi Pancasila

Heboh Pernyataan Prabowo 'Rakyat Desa Tak Pakai Dolar', Strategi Tenangkan Warga atau Gaslighting? polemik

Heboh Pernyataan Prabowo 'Rakyat Desa Tak Pakai Dolar', Strategi Tenangkan Warga atau Gaslighting?

Rabu, 20 Mei 2026 | 13:26 WIB

Pernyataan sang Kepala Negara itu disampaikan pertama kali di momen pidato sambutannya saat peresmian Museum dan Rumah Singgah Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur

×
Zoomed