Saat Serdik Polri Pilih Sowan ke Jokowi: Apa Kabar Arah Reformasi Polisi?
Home > Detail

Saat Serdik Polri Pilih Sowan ke Jokowi: Apa Kabar Arah Reformasi Polisi?

Bimo Aria Fundrika | Muhammad Yasir

Senin, 21 April 2025 | 19:27 WIB

Suara.com - Kunjungan peserta didik sekolah staf dan pimpinan menengah atau Serdik Sespimmen Polri ke rumah Presiden ke-7 RI Joko Widodo di Solo, Jawa Tengah menuai kritik. Selain dipertanyakan urgensinya, ketidakmampuan calon pimpinan Polri menjaga jarak dengan elite dikhawatirkan akan semakin membuat institusi kepolisian terjebak sebagai alat politik kekuasaan. 

Kunjungan para siswa didik (Serdik) Sespimmen Polri Dikreg ke-65 ke kediaman Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, berlangsung pada Kamis, 17 April 2025. Momen itu sempat diunggah lewat akun Instagram resmi @Sespimmen65 dalam bentuk video.

Namun, unggahan tersebut kini telah dihapus. Diduga, langkah itu diambil setelah muncul reaksi negatif dari publik.

Dalam video yang beredar, terlihat salah satu peserta yang hadir adalah Kompol Syarif Muhammad Fitriansyah. Ia bukan sosok asing. Perwira lulusan Akpol 2012 itu diketahui menjabat sebagai ajudan Presiden Jokowi.

Presiden ke-7 Jokowi saat ditemui di kediaman pribadinya, Senin (21/4/2025). [Suara.com/Ari Welianto]
Presiden ke-7 Jokowi saat ditemui di kediaman pribadinya, Senin (21/4/2025). [Suara.com/Ari Welianto]

Perwira Penuntun (Patun) Pokjar II Serdik Sespimmen, Kombes Denny, menyebut kunjungan tersebut hanya sebatas silaturahmi.

“Bersilaturahmi dengan Bapak Jokowi, sekalian meminta masukan,” ujarnya usai pertemuan.

Menurut Denny, mereka meminta pandangan Jokowi soal tantangan Polri di era digital. Mulai dari kecerdasan buatan (AI), robotik, hingga sinergi dengan TNI.

“Intinya beliau berpesan agar Polri dan TNI ke depan bisa lebih baik, dicintai masyarakat, dan menjadi panutan,” jelasnya.

Namun, tak semua pihak melihat kunjungan itu wajar. Pengamat kepolisian dari ISESS, Bambang Rukminto, menilai pertemuan ini berpotensi menimbulkan asumsi liar. Ia mempertanyakan urgensinya.

“Tradisi seperti itu tak lazim. Belum pernah terlihat siswa Sespim mendatangi mantan presiden lain,” kata Bambang.

Ia juga menyoroti risiko politisasi. Menurutnya, sikap Serdik yang tidak menjaga jarak dari elite bisa membuat mereka terseret dalam pusaran kekuasaan.

“Ini buah dari kultur di tubuh Polri sendiri. Di mana pendekatan politik ke penguasa sering jadi jalan untuk mengincar jabatan,” tegasnya.

“Mereka tak bisa membedakan posisi Polri sebagai aparatur negara, bagian pemerintah, atau bagian politik rezim. Dan itu diteruskan pada junior-juniornya yang masih menjalani Sespimmen seperti yang terjadi saat ini,” ungkapnya. 

Tradisi “sowan”, kata Bambang, memang lazim terjadi di tengah masyarakat yang masih feodal. Namun hal itu menurut tidak elok dilakukan Serdik Sespimmen Polri selaku peserta akademik yang mengedepankan kesetaraan dan pendekatan ilmiah.

“Akan lebih elok bila Serdik Sespimmen Polri ini berkunjung pada senior pimpinan Polri,” jelasnya. 

Bambang Rukminto, mengkritik keras kunjungan Serdik Sespimmen Polri ke rumah Jokowi. Ia menilai tindakan itu menunjukkan ketidakmampuan menjaga jarak dari elite politik.

Menurutnya, sikap seperti itu bisa membuat para perwira muda terseret dalam arus politik kekuasaan.

“Ini bukan soal etika saja. Tapi soal posisi dan peran institusi,” kata Bambang.

Ia menilai kultur semacam ini tumbuh dari level petinggi Polri. Banyak yang melakukan pendekatan ke penguasa demi jabatan.

“Mereka tak bisa membedakan posisi Polri. Apakah sebagai aparatur negara, bagian dari pemerintah, atau alat politik rezim,” ujarnya.

Masalahnya, pola ini terus diwariskan ke junior-juniornya. Termasuk para peserta Sespimmen saat ini.

Bambang menyebut tradisi “sowan” memang masih umum di masyarakat yang feodal. Namun, ia menilai pendekatan seperti itu tidak pantas dilakukan oleh peserta pendidikan yang seharusnya menjunjung nilai ilmiah dan kesetaraan.

“Akan lebih elok jika para Serdik ini menemui senior-senior Polri. Bukan justru mendatangi tokoh politik,” tegasnya.

Alat Politik Kekuasaan

Wakil Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Arif Maulana, sepakat dengan kritik ISESS. Ia menilai, daripada menemui Jokowi, para Serdik Sespimmen Polri seharusnya datang ke lembaga yang lebih relevan—seperti Komnas HAM atau Ombudsman RI.

“Bukan minta saran ke tokoh politik. Tapi ke lembaga yang punya data dan pengalaman soal masalah dalam tubuh Polri,” ujar Arif.

Data Komnas HAM membuktikan itu. Sepanjang 2024, Polri tercatat sebagai institusi paling banyak diadukan atas dugaan pelanggaran HAM. Jumlahnya mencapai 663 laporan dari total 2.305.

Tak hanya itu. Ombudsman juga mencatat Polri sebagai salah satu lembaga paling sering dilaporkan terkait praktik maladministrasi dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut Arif, perwira menengah Polri yang tengah menempuh pendidikan penting untuk memahami akar masalah ini. Dari sana mereka bisa belajar memperbaiki lembaganya sendiri.

“Apalagi kepercayaan publik terhadap Polri terus merosot. Harusnya ini jadi refleksi serius,” tegasnya.

Ia menambahkan, kunjungan ke Jokowi bukan cuma tidak pantas. Tapi juga melanggar TAP MPR Nomor VI dan VII Tahun 2000 yang menegaskan bahwa Polri harus netral dan tidak terlibat politik praktis.

“Ini bentuk kegagalan reformasi kepolisian. Dan itu makin terang benderang,” kata Arif.

Kegagalan itu, menurutnya, juga tak lepas dari pemerintahan Jokowi. Banyak perwira tinggi Polri ditarik masuk ke jabatan-jabatan sipil. Praktik ini kemudian diteruskan oleh Prabowo, yang mulai melibatkan TNI dalam struktur sipil.

“Saya kira ini berbahaya kalau kemudian dibiarkan. Harus ada evaluasi dan dorongan untuk kembali mendesak reformasi kepolisian dan TNI karena ini sudah jauh keluar dari relnya,” jelas Arif.

Ancam Wibawa Prabowo 

Sedangkan Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah menilai intensitas Jokowi menerima kunjungan menteri hingga Serdik Sespimmen Polri dapat meruntuhkan wibawa Prabowo sebagai presiden. Selain juga berpotensi menimbulkan konflik kepentingan. 

“Semuanya seharusnya lebih intens kepada Presiden Prabowo, bukan kepada Jokowi,” kata Dedi kepada Suara.com. 

Jokowi, kata Dedi, semestinya bisa menahan diri dan menghormati wibawa Prabowo sebagai presiden. Bukan justru terkesan ‘memfestivalisasi’ kunjungan elite hingga Serdik Sespimmen Polri tersebut demi menunjukkan dirinya masih memiliki pengaruh. 

“Jangan sampai ini membuat kecurigaan publik bahwa Jokowi yang melakukan festivalisasi kunjungan-kunjungan semacam ini. Artinya ada semacam post power syndrome,” tuturnya. 

Suara.com telah berupaya menghubungi Kadiv Humas Polri Irjen Sandi Nugroho. Namun hingga berita ini ditayangkan yang bersangkutan belum memberikan penjelasan terkait tujuan kunjungan Serdik Sespimmen Polri ke rumah Jokowi tersebut. 

Sementara mantan Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Poengky Indarti menilai kunjungan Serdik Sespimmen Polri ke rumah Jokowi dalam rangka si dan diskusi sebagai hal yang wajar. Sehingga hal itu tidak perlu disikapi terlalu sensitif dan penuh prasangka.

Sebagai calon pemimpin Polri di masa depan, Poengky menyebut Serdik Sespimmen Polri itu wajib menggali ilmu sekaligus pengalaman kepada masyarakat, serta tokoh yang dianggap dapat memberikan ilmunya. Termasuk Jokowi sebagai tokoh yang pernah memimpin bangsa ini. 

“Ketika saya dulu masih aktif di LSM Imparsial yang fokus di bidang Hak Asasi Manusia dan Reformasi Sektor Keamanan, kami juga menerima kunjungan peserta didik Sespimmen dan Sespimti, dan berdiskusi kritis dengan mereka," jelas Poengky. 


Terkait

Update Terkini Laporan Ridwan Kamil Terkait Postingan Lisa Mariana, Begini Kata Bareskrim
Senin, 21 April 2025 | 19:24 WIB

Update Terkini Laporan Ridwan Kamil Terkait Postingan Lisa Mariana, Begini Kata Bareskrim

Laporan tersebut ditujukan kepada akun atas nama Lisa Mariana yang diduga menyebarkan informasi pribadi tanpa dasar hukum yang jelas dan sempat viral di dunia maya

Kenali Perbedaan Ijazah Asli dan Palsu
Senin, 21 April 2025 | 18:33 WIB

Kenali Perbedaan Ijazah Asli dan Palsu

Nampaknya, hingga kini isu ijazah palsu Jokowi itu belum menemukan ujungnya sama sekali. Kasus itu masih bergulir detik ini dan jadi sorotan publik.

Jokowi Jawab Isu Matahari Kembar Usai Digeruduk Menteri di Solo: Silaturahmi Biasa?
Senin, 21 April 2025 | 16:42 WIB

Jokowi Jawab Isu Matahari Kembar Usai Digeruduk Menteri di Solo: Silaturahmi Biasa?

Jokowi pun dengan tegas menyampaikan tidak ada yang namanya matahari kembar. Matahari itu hanya ada satu.

Terbaru
Luka Menahun di Nadi Utara Jawa: Bukan Sekadar Bencana Alam, Apa yang Harus Dilakukan?
polemik

Luka Menahun di Nadi Utara Jawa: Bukan Sekadar Bencana Alam, Apa yang Harus Dilakukan?

Rabu, 21 Januari 2026 | 19:56 WIB

Data mencatat, luas rendaman banjir kali ini mencapai ribuan hektare, menutup akses utama penghubung Jawa Tengah dan Jawa Timur

Dulu Dititipi Jokowi, Sekarang 'Dititipkan' di Gedung KPK, Ironi Kasus Korupsi Maidi-Sudewo polemik

Dulu Dititipi Jokowi, Sekarang 'Dititipkan' di Gedung KPK, Ironi Kasus Korupsi Maidi-Sudewo

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:02 WIB

Sudewo juga kurang lebih mendapatkan pesan khusus serupa dari Jokowi.

RUU 'Antek Asing': Senjata Lawan Propaganda atau Alat Bungkam Suara Kritis? polemik

RUU 'Antek Asing': Senjata Lawan Propaganda atau Alat Bungkam Suara Kritis?

Senin, 19 Januari 2026 | 20:30 WIB

RUU kontroversial untuk melawan propaganda asing tengah digodok pemerintah

Hakim Ad Hoc Ancam Mogok Nasional, Siapa Mereka dan Kenapa Gajinya Beda Jauh? polemik

Hakim Ad Hoc Ancam Mogok Nasional, Siapa Mereka dan Kenapa Gajinya Beda Jauh?

Jum'at, 16 Januari 2026 | 08:50 WIB

Kenali siapa hakim ad hoc, apa bedanya dengan hakim karier, dan lihat perbandingan tunjangan mereka yang timpang

Mendedah Alasan Demokrat Putar Haluan Buka Pintu Pilkada Lewat DPRD polemik

Mendedah Alasan Demokrat Putar Haluan Buka Pintu Pilkada Lewat DPRD

Rabu, 14 Januari 2026 | 14:52 WIB

Di era periode kedua SBY Presiden, Demokrat getol menolak Pilkada via DPRD, bahkan sampai walk out

Hadiah Raja Saudi ke Jokowi Jadi Bancakan, Kisah Skandal Kuota Haji Bermula polemik

Hadiah Raja Saudi ke Jokowi Jadi Bancakan, Kisah Skandal Kuota Haji Bermula

Selasa, 13 Januari 2026 | 17:40 WIB

Berawal dari lobi Presiden Jokowi yang menghasilkan 20.000 kuota haji tambahan, anugerah berubah jadi bancakan

Peta Dukungan Pilkada Lewat DPRD di Senayan, Siapa Ingin Ganti Suara Rakyat? polemik

Peta Dukungan Pilkada Lewat DPRD di Senayan, Siapa Ingin Ganti Suara Rakyat?

Jum'at, 09 Januari 2026 | 22:46 WIB

Wacana Pilkada via DPRD kembali memanas DPR. Kenali peta kekuatan partai yang mendukung dan menolak

×
Zoomed